Hari ini, Sabtu petang tanggal 27 Juli 1996, aku masih disibukkan oleh tugas revisi skripsiku. Saat waktu mendekati pukul 18.30, kakak perempuanku memanggilku agar aku segera menyaksikan suatu tayangan berita di televisi. Rasa ingin tahu, membuatku segera beranjak menuju ruang depan untuk menyaksikan tayangan berita tersebut. Ternyata yang kusaksikan adalah sebuah tayangan kerusuhan di Jakarta yang disiarkan oleh acara Seputar Indonesia (prod; RCTI). Huru-hara besar di Jakarta tersebut sungguh hebat meski mengerikan. Beratus-ratus warga sipil di Jakarta berhadapan saling tegang dengan aparat militer, mobil-mobil terjungkir balik dengan kobaran api, sebuah bis umum hangus terbakar, gedung-gedung megah pun ikut dilumat api, disertai hujan batu yang bertubi-tubi dari massa yang mengamuk. Begitu banyak orang turun ke jalanan. Mereka berteriak, marah, merusak, dan menghancurkan setiap penghalang yang dibencinya. Degup jantungku seolah mengikuti gema kemarahan mereka. Tetapi getar was-was mulai terasa dalam darahku, akan dampak politik yang bakal menimpa perjuanganku bersama kawan-kawan selama ini, sebab pembaca berita itu menyebut sedikit tentang sebuah nama yang tak asing bagiku; PRD !
Kerusuhan itu kemudian disebut dengan berbagai sebutan, antara lain; Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli), G27J (Gerakan 27 Juli), atau pula Maduli (Malapetaka 27 Juli). Kerusuhan tersebut telah diketahui banyak pihak, bermula dari konflik dalam tubuh PDI (Partai Demokrasi indonesia) yang bertarung antara kubu Megawati (kelompok yang mengakui keputusan musyawarah nasional PDI) dengan kubu Soerjadi (kelompok yang mengakui keputusan kongres PDI di Medan). Kemelut PDI yang sengaja diciptakan oleh pihak kekuasaan Orde Baru untuk menjegal Megawati menuju kandidat kursi kepresidenan, sebenarnya telah terbaca sejak akhir Mei 1996. Kemudian memuncak saat digelarnya kongres PDI di Medan tanggal 20 Juni sampai 22 Juni 1996 yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI. Konflik ciptaan Orde Baru ini pun berlanjut hingga kian memecah belah PDI menjadi 2 kubu tersebut. Kedua kubu tersebut sama bersikeras untuk merasa berhak dan sah menempati kantor DPP PDI di jalan Diponegoro, Jakarta. Kedua kubu tersebut pun sama bersikeras untuk mengakui ‘pimpinan’ kubu masing-masing sebagai pimpinan PDI yang sah.
Tetapi kantor DPP PDI tersebut, sejak dilangsungkannya kongres Medan telah ditempati oleh kubu Megawati. Bahkan kubu Megawati menggelar mimbar bebas yang disebut Mimbar Demokrasi, di halaman kantor tersebut. Pada panggung itulah, massa rakyat menyuarakan segala ketimpangan hukum dan pemerintahan yang ada di Indonesia. Mimbar bebas itu merupakan sebuah manifestasi kejengkelan kubu Megawati atas diselenggarakannya kongres Medan yang notabene bahwa kongres tersebut secara terang-terangan didukung penuh oleh pihak pemerintah dan ABRI (Kini TNI dan Polri).
Kemelut dalam tubuh partai berlambang kepala banteng tersebut, merupakan sebuah skenario besar dan operasi pelibasan kekuatan Megawati untuk gagal dicalonkan menjadi presiden pada Pemilu 1997 mendatang, dari kesewenangan kekuasaan Orde Baru. Itulah kenapa kedua kubu di dalam PDI tersebut diciptakan untuk tak bisa lagi duduk berunding dalam satu meja. Maka Buttu Hutapea, sekjend PDI kubu Soerjadi segera mengerahkan kekuatan untuk merebut paksa kantor DPP PDI . Sementara kubu Megawati tentunya akan mempertahankan DPP PDI tersebut sampai titik darah penghabisan. Maka terjadilah serentetan peristiwa kemarahan massa akibat cara kasar dan ‘telanjang’ yang digunakan oleh pemerintah dan ABRI untuk menghancurkan kekuatan kubu Megawati. Pertarungan yang besar 27 Juli 1996 itulah yang akhirnya melahirkan lembaran hitam sejarah demokratisasi di negeri. Kobaran api kemarahan massa secara vertikal (melawan kekuasaan; pemerintah dan ABRI) inilah yang justru melahirkan image kerusuhan. Setelah sekian lama kita mungkin telah melupakan dua kerusuhan besar yang terjadi sebelumnya; Malapetaka 15 Januari 1974 dan Insiden lapangan banteng 1982; yang terjadi di Ibukota negara.
Malam tanggal 27 Juli 1996, aku berulang kali menyaksikan tayangan perisitiwa kerusuhan besar itu di televisi (baik stasiun tv swasta atau TVRI). Tayangan kerusuhan itu kerap kali dimunculkan di setiap acara laporan berita. Perlahan, kesemua berita tentang kerusuhan itu mulai terekam rapi dalam benak dan pikiranku.
No comments:
Post a Comment