Peristiwa itu, pada intinya bermula dari pengambilalihan secara paksa kantor DPP PDI di jalan Diponegoro 58 Jakarta, yang dilakukan oleh sekelompok orang yang datang sebagai pendukung Soerjadi terhadap massa kubu Megawati yang bertahan menempati kantor tersebut. Penyerbuan terhadap kantor DPP PDI, awalnya sekitar pukul 06.00 oleh sekitar 200 orang yang mengaku pro-Soerjadi dengan melakukan pelemparan batu terhadap kelompok pro-Megawati yang mempertahankan kantor tersebut dengan sekuat daya. Tak lama kemudian para penyerbu tersebut pergi meninggalkan lokasi. Kemudian para wakil kubu Megawati berupaya melakukan negosiasi dengan pihak aparat keamanan yang tampak berjaga-jaga di sekitar lokasi kantor tersebut, yakni agar pengambilalihan kantor tersebut dilakukan melalui prosedur hukum yang sah. Namun ternyata negosiasi itu tak bermakna apa-apa, karena ternyata pukul 08.30, pasukan penyerbu dari kubu Soerjadi kembali menyerbu kantor tersebut (untuk yang kedua kalinya). Kekuatan pasukan penyerbu itu kini telah bertambah, sebab ditambah dengan para personil aparat keamanan (baik yang berseragam atau tidak). Lokasi di sekitar kantor tersebut kian memanas, dan seolah semuanya telah dipersiapkan dengan ‘dipinggirkannya’ semua saksi mata (khususnya pihak pers). Mulailah lempar-lemparan batu sekepal tangan hingga akhirnya mendesak dan jebollah pintu pagar kantor. Pertarungan yang tak seimbang pun terjadilah. Dikarenakan kekuatan kubu Megawati yang bertahan di kantor tersebut jelas-jelas minim untuk menghadapi jumlah pasukan penyerbu yang demikian banyak (dari kubu Soerjadi dan disusul oleh aparat keamanan). Menurut saksi mata di sebuah media massa bahwa pihak aparat keamanan membawa bayonet selain tameng dan pentungan rotan. Massa kubu Megawati tercerai berai. Ada yang berhasil menyelamatkan diri melalui halaman belakang kantor, tetapi ada pula yang tak bisa lolos dan tertangkap (atau dibunuh di tempat kejadian, seperti yang disaksikan oleh beberapa saksi mata yang selamat).
Di kemudian hari, aku baca dari Suara independen edisi Agustus 1996, dan info internet bersubject: Di balik Peristiwa 27 Juli, serta buku berjudul Gerakan Pro Demokrasi Digebuk terbitan Human Rights Watch Asia, yang pada pokoknya; serbuan kedua tersebut bisa dikatakan telah terjadi pembantaian massal terhadap massa pendukung Megawati. Paling tidak korban yang tewas mengerikan (luka tusuk atau luka gorok) sebanyak 40 sampai 60 orang. Tetapi mereka yang dinyatakan tewas tersebut, tidak diketahui keberadaan jasadnya (itulah yang kemudian dikonfirmasikan oleh beberapa pihak sebagai korban yang dinyatakan ‘hilang’).
Setelah markas DPP PDI berhasil diduduki oleh kubu Soerjadi tepat sekitar pukul 09.00, segeralah pihak aparat keamanan yang terdiri dari polisi dan tentara menjaga ketat lokasi di sekitarnya. Buttu Hutapea, yang mengaku menjadi komandan penyerbuan tersebut segera pula dielu-elukan oleh para pendukung Soerjadi. Buttu pun berpidato dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh ‘pasukan penyerbu’ itu adalah benar adanya sebab kantor tersebut telah disalahgunakan menjadi kegiatan yang ditunggangi kelompok-kelompok yang melawan pemerintahan.
Saat itulah pihak satgas kubu Megawati menerima info sadapan percakapan antar polisi dari handy talkie, bahwa penyerbuan yang ‘liar’ itu telah menyebabkan para pendukung Megawati sebanyak; 124 orang luka-luka, 80 orang ditahan, dan 49 orang tewas. Informasi itu segera menyebar pada massa pendukung Megawati yang banyak berkerumun di sekitar jalan Menteng, Salemba, dan Kramat. Mereka akhirnya mendekati kantor DPP PDI yang telah dijaga ketat oleh sekian banyak pasukan ABRI, mereka diblokade untuk tidak menuju ke arah kantor tersebut meski hanya untuk memastikan nasib para pendukung Megawati yang mempertahankan kantor DPP PDI. Penghadangan ini akhirnya membuat emosi mereka memuncak. Maka terjadilah letupan amarah dari massa pendukung megawati yang saat itu berjumlah sekitar 2.000 orang, yang tak mungkin lagi diredakan.
Kerusuhan besar pun terjadilah. Sungguh, ini tak diduga sedikitpun oleh para ‘pembuat skenario’ penyerbuan kantor DPP PDI. Sekitar pukul 11.00, kemarahan massa makin menjadi. Mereka melempari batu, dan sebagian baku hantam melawan aparat keamanan. Namun kekuatan aparat keamanan yang semula telah terpukul mundur, kembali bertambah kuat dengan didatangkannya panser-panser untuk memukul mundur amuk massa. Massa yang marah tersebut menyebar ke seluruh jalanan; Proklamasi, Cikini, Diponegoro, Salemba, dan sebagainya. Massa pun bertambah banyak dan kian sulit diredupkan kemarahannya. Hingga menjelang petang pukul 15.00, kemarahan massa masih berkobar. Kini bukan lagi bertujuan untuk merebut kantor DPP PDI. Tetapi untuk menghancurkan simbol-simbol kemapanan, pemerintahan, dan kemiliteran. Kebencian mereka terhadap simbol-simbol tersebut diluapkan. 3 bus PPD di depan RSCM dibakar, mess angkatan darat dibakar, BHS bank dirusak, gedung direktorat peternakan dibakar, 4 mobil dibakar, bank Mayapada dibakar pula, dealer Auto 2000 dirusak dan dijarah, mobil-mobil di show room dijungkir balik lalu dibakar, supermarket di jalan Proklamasi dijarah dan dibakar, bank BCA dibakar, toko alat musik dirusak dan dijarah, bank Kesawan dibakar, 9 gedung di jalan Proklamasi dibakar, 2 mobil pribadi dan beberapa sepeda motor dibakar secara berantai, jalur kereta api layang di Cikini dirusak (relnya dicopot) sehingga arus transportasi kereta api kota terganggu. Paling tidak dari hasil laporan kepolisian diketahui, pada siang hingga malam pukul 22.00 di tanggal 27 Juli 1996, jumlah kendaraan bermotor yang hancur adalah; 5 bus hangus terbakar dan 27 mobil pribadi hancur dan rusak berat. Semua informasi mengenai kerusakan dan kehancuran material tersebut, aku ketahui dari pemberitaan majalah Gatra edisi 3 Agustus 1996. Bagiku, ini sebuah huru-hara yang paling mengerikan, paling tidak untuk kota Jakarta kala itu.
Kerugian material jelas melebihi angka rupiah juta, tetapi bermilyar-milyar rupiah. Aku membaca di majalah Tiras edisi 8 Agustus 1996, bahwa; pihak Dirjen Peternakan dilanda kerugian tak kurang dari 14,5 milyar rupiah, Auto 2000 dirugikan dengan terbakarnya 34 mobil di show room, Wisma Darmex yang ditempati 20 perusahaan dirugikan 10 milyar rupiah, Swasarindo International dirugikan 58 juta rupiah, dan masih banyak lagi. Kemudian yang dideteksi oleh pihak kepolisian bahwa 22 bangunan dan 91 kendaraan hangus terbakar.
Malam itu, 27 Juli 1996, masih tak terbersit sedikitpun dalam firasatku tentang kesewenangan yang bakal menimpa diriku dan kawan-kawanku. Adapun hari-hari kelak yang terus bergulir telah membawaku dengan jelas mengenai peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 tersebut, yang ternyata pula menyeretku pada sebuah mimpi buruk yang tak pernah kualami sebelumnya dalam seumur hidupku.
No comments:
Post a Comment