SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

27 April 2008

PERTAMA : AMBANG MIMPI BURUK

Setelah selama hampir sebulan aku dan kawan-kawan bekerja untuk aksi massa dengan para buruh pabrik kawasan Simo Pomahan dan Tanjungsari pada tanggal 8 dan 9 Juli 1996. Namun semua itu akhirnya bisa kami lewati bersama, meski akhirnya beberapa kawanku ditangkap saat aksi massa tersebut berlangsung lalu dijebloskan ke penjara Polwiltabes (Kepolisian wilayah kota besar) Surabaya oleh aparat keamanan. Mereka adalah; Dita Sari, Coen Pontoh, dan Oleng (nama julukan Moh.Soleh).

Ketiga kawanku yang ter-bui itu tampak tegar. Aku hanya merasa prihatin terutama pada Oleng. Aku masih ingat betul bahwa malam hari pada tanggal 8 Juli 1996, seusai aksi, kami segera mengadakan rapat untuk menindaklanjuti aksi siang tadi yang berakhir dengan tertangkapnya Dita dan Coen. Aku dan beberapa kawan, dengan berbagai pertimbangan, menolak untuk diadakan aksi lanjutan. Hingga aku walk out dari rapat tersebut. Rapat yang digelar di sekretariat SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) jalan Kedung Tarukan II/22 Surabaya itu, akhirnya menyepakati untuk mengadakan aksi lanjutan pada tanggal 9 Juli 1996. Oleng pun terpilih sebagai Korlap (Koordinator Lapangan) atau pemimpin aksi massa tersebut. Alhasil, aksi massa yang diadakan sehari setelah 8 juli 1996 tersebut, dapat dengan mudah dipatahkan oleh aparat keamanan dan Oleng pun ditangkap tanpa kesulitan. Andaikata pada tanggal 9 Juli 1996 tidak diadakan aksi lanjutan, tentu Oleng tak perlu menambah jumlah kawan yang masuk penjara. Lagipula saat itu dia masih belum ‘matang’ benar dalam hal strategi taktik gerakan massa. Wajarlah, karena kala itu dia masih berkutat di SMID komisariat kampus Wijaya Kusuma. Sehingga dia belum memiliki banyak peran di dalam organisasi.

Beberapa kali aku menjenguk mereka bersama beberapa kawan-kawanku, seperti; Dandik, Icha, Heru atau Handoko. Namun tetaplah aku harus kembali berkonsentrasi pada tugas berat akademikku, yakni; ujian skripsiku yang tak lama lagi bakal kuhadapi, 17 Juli 1996. Maka itulah, seusai aksi massa bersama buruh tersebut, aku agak jarang datang ke sekretariat SMID Surabaya. Itu pula yang membuatku terkadang disindir kawan-kawan, “ Berjuang…..kok masih inget kuliah…?!”. Tapi tentunya tak semua kawan begitu adanya. Toh beberapa kawan masih bisa memahami kondisiku, bahwa aku memang harus mempersiapkan fisik mental untuk menghadapi ujian skripsi kelak.

Akhirnya, ujian skripsi pun mampu kulewati dengan mudahnya tanpa aral. Hasilnya sungguh membuatku gembira bercampur bangga. Aku mendapat nilai B atas skripsi ku, sungguh tak sia-sia upayaku menuntaskan skripsi setebal 270 halaman itu.

Tetapi toh aku masih belum bisa sering-sering datang ke sekretariat, sebab aku masih harus menyelesaikan beberapa revisi skripsiku. Ditambah pula, rumahku sedang direnovasi sehingga aku harus pula mengawasi kerja perbaikan rumahku tersebut. Kesibukan itulah yang pula membuatku urung untuk pergi ke Jakarta (beberapa hari sebelumnya aku memang dikontak oleh kawan-kawan di pusat-Jakarta agar aku berangkat ke Jakarta untuk membikin acara kesenian di mimbar bebas PDI dan sekaligus di acara deklarasi PRD-Persatuan Rakyat Demokratik yang bakal segera digelar). Hingga tibalah aku mendapat berita bahwa deklarasi PRD telah dideklarasikan pada 22 Juli 1996 di kantor YLBHI-Jakarta. Kini organisasi Persatuan Rakyat Demokratik telah berubah menjadi sebuah partai politik yang legal informal di Indonesia dengan nama Partai Rakyat Demokratik, yang keduanya memiliki singkatan nama yang sama yakni; PRD. Akhirnya organisasi perjuangan rakyat yang turut aku rancang bersama kawan-kawan di Sleman-Kaliurang Yogyakarta pada tanggal 15 April 1996 dalam sebuah konggres luar biasa, telah berdiri menjadi sebuah partai politik dengan keberanian yang kami miliki bersama.

Aku paham bahwa aku pun menjadi jauh dengan berbagai persoalan di sekretariat. Aku hanya mendapat kabar dari beberapa kawan bahwa di sekeratariat ada persoalan, diantaranya; kepergian Sardiyoko yang tanpa pamit, dan kejengkelan Herman akibat ulah beberapa kawan sehingga pintu-pintu kamar terpaksa dibongkarnya. Meski begitu tugas organisasi tetap kulakukan, yakni kerja-kerja mengkonsolidasikan kawan-kawan di organ kampus/mahasiswa di Surabaya; Inyo, Verrie, Dwi, Handoko, Arindra, Chris, Yayan, Wulan, Rouf, dan Widodo. Dari merekalah aku mengetahui kondisi dan segala persoalan politis di berbagai kampus di Surabaya. Aku pun tak lupa mengingatkan mereka agar kerja-kerja pengorganisiran di kampus-kampus mereka tak terpengaruh dengan ‘keributan’ yang sedang terjadi di sekretariat.

No comments: