SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

1 June 2008

Pesta Kekerasan Dan Penyiksaan Dimulai (2)

“Memang PKI kamu…! Anak SD saja hapal, kamu tidak hapal…!” ucap salah seorang intelejen lain yang berada tak jauh dariku.

Sementara sesekali salah satu dari mereka mengguyur wajahku dengan segayung air, mungkin agar aku bisa sedikit segar.

“Ayo..terus..! Sampai kamu hapal…..!” bentak si intelejen yang sedari tadi menginjak perutku dengan sepatu larsnya.

Amarahnya justru membuat aku semakin tidak karuan membaca sila demi sila.

“Pancasila…! Ketuhanan Yang Maha Esa…!

“Heh…! Mana satu-nya….?!” Si intelejen itu makin marah pula ketika mendengar aku tidak menyebutkan angka ‘satu’.

Akhirnya, salah seorang dari mereka menyuruhku agar aku melihat di balik tembok pembatas antar ruang depan dengan halaman, yang terdapat ukiran sila demi sila dari Pancasila. Saat itulah aku bisa menghapal sila demi sila dengan baik.

Lalu sekitar hampir pukul 15.00, aku disuruh berdiam di sebuah pohon yang terletak di sisi kanan halaman itu. Tiba-tiba datanglah Syanie (mahasiswa Univ. Wijaya Kusuma Surabaya, yang memiliki kedekatan aktifitas dengan SMID/PRD) yang menuju ke tengah halaman dan lalu dia berdiri terpaku di sana. Rupanya dia kena hukuman. Kemudian datang seseorang membawa nasi bungkus dan sebotol air minum. Aku disuruhnya untuk segera makan. Belum habis makananku, datanglah seorang bertubuh tinggi besar dan berkumis lebat menuju ke arahku.

“Kau David Kris….?” Ucapnya dengan aksen bicara Tapanuli. Aku mengiyakan dengan kepala yang tetap menunduk.

“Brewok itu anak buahmu, kan…?” tanyanya sekali lagi.

Aku diam tak menjawab.

Lalu dia menendang-nendang ulu hatiku. Meski tak terlalu keras, bagiku tetaplah sakit.

“Kamu nanti harus bicara jujur. Buka semuanya yang kamu tahu. Jangan tubuhmu hancur lalu baru kamu bicara jujur…,” ucapnya sambil kakinya tetap menendang-nendang ulu hatiku.

Sesaat kemudian lelaki itu berjalan menuju ke arah Syanie yang masih berdiri di tengah halaman.

Di kemudian hari barulah kutahu bahwa lelaki yang barusan menghampiriku tadi biasa dipanggil dengan nama Pak Enos. Lelaki berpangkat Letnan Dua Infanteri itu, adalah pula komandan interogator untukku nantinya.

Saat waktu beranjak pukul 16.00, aku pun diperintahkan menuju ke lantai atas, menuju ruang interogasi. Ruangan itulah yang nanti akan menjadi ‘hotel’ku selama hampir dua minggu lamanya.

No comments: