SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

20 May 2008

KEDUA : CENGKERAMAN MIMPI BURUK


Para serdadu kegelapan telah berbaris-baris dengan berbekal segumpal ambisi busuk siap bergerak memporak-porandakan sarang-sarang musuh yang diincar, dan mulailah perangkap-perangkap dipasang tersebar di segala tempat dan arah untuk mencengkeram para kambing hitam, sesuai titah Paduka Penguasa Kegelapan. Alam kelaliman yang kelam ini semakin menghembuskan dengus kekejamannya untuk segera menyeret para kambing hitam, dan kemudian akan ditelentangkan di atas altar persembahan. Darah para kambing hitam inilah yang nantinya akan menjadi tumbal segar bagi keabadian kekuasaan Paduka Penguasa Kegelapan beserta seluruh penghuni alam kelaliman.

Maka, di benak para kambing hitam hanya ada pikiran untuk segera berlarian, bersembunyi, menyelamatkan diri, supaya tidak menjadi tumbal sesembahan alam kelaliman. Para kambing hitam tunggang langgang mencari tempat yang aman untuk berlindung, dan terpaksa harus tercerai berai antar kawannya. Mereka tak bisa lagi berkumpul di padang rerumputan yang dulu menjadi tempat mereka bicara tentang sejarah dan cita-cita akan sebuah kemerdekaan dari penindasan. Sementara tumpukan dosa-dosa Paduka Penguasa Kegelapan menertawakan ketakutan para kambing hitam yang berlarian bingung tak tentu arah. Tawanya keras, dan kian keras, hingga mulutnya terbuka lebar sembari menyeringaikan taring-taring giginya yang tajam mengkilat.

Sementara itu, para serdadu kegelapan berderap-derap menurunkan para brahmana dari singgasananya, dan menyingkirkan dari umatnya. Sehingga Paduka Penguasa Kegelapan tak lagi memiliki lawan bagi kekuasaan tahtanya. Tak jauh dari singgasana Paduka Penguasa Kegelapan, terdengar para pengikut dan para penasehatnya melantunkan lagu-lagu kengerian. Dialunkan syair-syair oleh mereka, untuk membangkitkan jasad-jasad yang telah terkubur selama tiga dasawarsa di tanah penghinaan yang bernisankan fitnah. Hantu baru diciptakan dari ambisi kekuasaan nista, kemudian dikabarkan aromanya di rumah-rumah penduduk yang masih bodoh.

Tiada lagi tempat untuk memperoleh secercah harapan rasa aman, apalagi terbebas dari ketakutan. Bagi para kambing hitam, setiap tempat adalah bahaya. Setiap detik selalu dibayangi oleh tetesan darah, gemertak tulang, dan lolongan kesakitan, yang menghiasi altar persembahan tempat mereka ditelentangkan dengan paksa. Ketakutan yang diderita para kambing hitam itu bukan ketakutan akan sebuah kesalahan yang harus dipertanggung jawabkan. Tetapi ketakutan terhadap kebengisan, kebiadaban, dan kegilaan ambisi kekuasaan para serdadu kegelapan beserta pengikut-pengikut Paduka Penguasa Kegelapan

Alam raya ini sontak menjadi hamparan tanah hitam dan gelap, menyelimuti setiap petak jiwa penduduknya. Mimpi buruk itulah yang kini menjadi nyata, menyebar, mengancam tiap sudut ruang gerak para aktivis pejuang demokrasi, dan menjajah setiap guratan keberanian dalam nurani para pejuang pembebasan manusia, di negeri ini.

No comments: