Dalam waktu dua hari, aku telah menerima kabar tentang kedua kawanku yang ditangkap aparat keamanan. Bayanganku pun menerawang jauh bahwa kawan-kawan di kota lain pun satu persatu telah ditangkap oleh aparat keamanan. Aku kian bergayut dalam kekalutan. Kendati aku belum bisa memastikan tindakan apa yang harus kulakukan lebih dulu. Lari ! Ah…tak semudah yang diucapkan. Aku masih dibebani tugas akademik, terlebih persoalan tentang bagaimana aku harus bercerita pada Ibu. Aku tak tega mengusik keseharian Ibu yang dengan tenang melakukan pekerjaan rumah tangga. Sementara uang yang kupunya tak lebih dari dua puluh ribu. Sementara uang tabungan tinggal seratus ribu, itu pun telah kupersiapkan untuk pembayaran biaya penjilidan skripsi yang tinggal beberapa hari lagi. Aku kian bingung.
Minggu sore 4 Agustus 1996, Heru datang ke rumah dengan membawa tas ransel yang tampak berisikan beban yang banyak dan sesak. Di kamarku, kami berdua saling bicara tentang kebingungan yang sama. Tak tahu harus berbuat apa. Sementara keyakinan kami mengatakan bahwa kawan-kawan di berbagai kota telah ditangkap satu demi satu. Heru hanya pasrah untuk pulang ke Jawa Tengah. Aku pun cuma berharap semoga keputusan yang diambilnya adalah jalan yang menyelamatkan dia dari cengkeraman para aparat keamanan yang sedang menggila untuk berburu kambing-kambing hitam. Namun sebenarnya dia berat untuk meninggalkan Surabaya, sebab dia masih meyimpan sebongkah kekhawatiran akan nasib Icha.
“Aku juga khawatir sama Icha. Tapi apa yang bisa kita perbuat terhadap Icha, sementara kita sendiri terancam untuk sewaktu-waktu bisa tertangkap.” Jelasku padanya.
“Semua kawan-kawan kalut, gelisah, dan ketakutan. Aku nggak tahu sudah pergi kemana mereka semua…” ucap Heru datar.
Saat itu, kami hanya bisa saling berharap agar diantara kami berdua akan tetap selamat hingga kelak bisa bertemu kembali.
Sekitar hampir pukul 21.30, Heru mohon diri padaku dan keluargaku. Aku pun segera mengantarkannya menuju ke terminal Joyoboyo. Sesampainya, kami berdua bersalaman erat untuk tetap saling menjaga diri dan selamat. Heru pun segera berlalu dari hadapanku. Rupanya pula, itulah malam perpisahan bagi kami berdua (hingga sekitar kurang lebih 8 bulan kemudian barulah kita dapat bertemu kembali).
Hari pun memasuki Senin 5 Agustus 1996, saat matahari pagi masih malu-malu untuk menampakkan diri, entah kenapa sekujur tubuhku tiba-tiba terasa tak karuan. Keringat dingin membasahi sekujur badanku, perutku jual, suhu tubuhku tak beraturan dan perutku terasa melilit. Ternyata pagi ini aku diserang sebuah penyakit yang tak tahu berasal dari mana. Mendadak pula pagi itu aku mencret dan muntah-muntah, dan itu terjadi berulang kali dalam beberapa jam di hari itu
Hari itu sekujur tubuhku lemas, maklumlah aku terlalu banyak mengeluarkan cairan tubuh. Mungkin inikah yang disebut banyak orang; stress. Aku memikul beban kekalutan dan ketakutan yang demikian dashyatnya hingga berakibat pada kondisi kesehatanku. Entahlah mungkin saja analisaku ini benar. Toh ketika aku mencoba menguasai kekalutanku, perlahan-lahan kondisi kesehatanku pulih kembali dan ternyata penyakitku tersebut hilang dengan sendirinya pada keesokkan harinya, Selasa 6 Agustus 1996.
Sebenarnya saat itu Ibu telah mengetahui kondisi jiwa dan fisikku. Ibu selalu bertanya-tanya padaku;
“Kamu kenapa….?” , “Kamu sakit apa…..?” atau “Kamu tidak apa-apa khan…?”
Namun aku selalu menghindari tanya-tanya tersebut agar tak menjadi berkepanjangan. “Nggak apa-apa kok, paling cuma masuk angin…” Itulah jawabku singkat, dan tetap merahasiakan beban persoalanku ini terhadap Ibu.
No comments:
Post a Comment