Bila tak salah ingat, hari Selasa 30 Juli 1996 pukul 21.00, kedua kawanku; Dandik dan Purwadi; datang ke rumahku. Kedatangan mereka sudah jelas, yakni mengajakku untuk segera meninggalkan rumah dan bersembunyi di suatu tempat (yang menurut mereka aman). Mereka ingin agar aku ikut bersama mereka malam itu juga. Namun aku belum mampu memberi keputusan secepat yang mereka inginkan. Aku hanya mengatakan bahwa aku memang sudah memiliki rencana untuk segera pergi, tapi tidak sekarang, karena aku harus menyelesaikan beberapa urusanku dengan keluarga. Aku hanya bisa menyarankan bahwa sebaiknya Dandik-lah yang harus segera pergi, tentunya dia menjadi buronan utama karena selama ini Dandik dikenal sebagai salah seorang perwakilan PRD di Surabaya sekaligus tim advokasi PRD di Surabaya.
Tak lama kemudian, sekitar hampir pukul 22.00, datanglah seorang kawanku (bukan aktivis PRD), Agus. Sebelumnya dia memang telah kuhubungi untuk segera datang ke rumahku karena aku memerlukan bantuannya. Rupanya Agus bisa memahami keadaanku. Namun dia tak bisa menerima barang ‘titipan’ku. Agus tak mau bila dia, apalagi keluarganya, tersangkut-sangkut masalah politik. Namun dia tak keberatan untuk membantuku ‘menghilangkan’ berkas-berkas tersebut. Akhirnya malam itu juga Aku dan Agus segera berangkat. Bersamaan dengan itu pula, Dandik dan Purwadi segera pamit kepadaku. Malam itu pula menjadi malam terakhir pertemuanku dengan mereka, atau sebuah malam perpisahan bagi kami (sebab setelah malam itu, kami tak pernah lagi bertemu selama hampir setahun).
Kini, aku dan Agus tengah melaju menuju lokasi ‘penghilangan’ berkas-berkas yang kubawa ini, ke sebuah tempat yang ditunjukkan oleh Agus.
“Bagaimana dengan teman-temanmu nanti?” tanyaku penuh kebimbangan. Pikirku, apakah kawan-kawan Agus tidak curiga terhadap berkas-berkas yang kubawa ini.
“Ah nggak masalah. Aku jamin mereka nggak tanya yang macam-macam.” Jawab Agus dengan santainya.
“Tapi apa memang semudah itu…?” ucapku gusar.
“Sudahlah nggak usah kuatir. Nggak mungkin mereka ikut ngurusi kita. Kalo mereka tanya, bilang saja ini berkas sisa garapan skripsimu,” jelas Agus meyakinkan aku.
Akhirnya semuanya aku percayakan pada Agus. Aku yakin Agus pasti bisa membantuku dengan lancar. Sekitar hampir 24.00, aku dan Agus tengah menembus dinginnya malam. Aku berharap, semoga selamat sampai tempat tujuan. Meski rasa was-was masih menggelantung di benak, sebab kardus yang kubopong ini adalah berisikan barang yang dianggap subversif oleh negara. Bayangkan saja, seandainya malam ini perjalananku harus terhalang oleh razia polisi, dan aku diketahui membawa berkas-berkas yang berkaitan dengan PRD, maka hukuman yang aku terima jelas lebih berat ketimbang mereka yang tertangkap lantaran membawa senjata tajam atau narkotika. Bukan tidak mungkin, toh ini kemungkinan yang terburuk.
Selang tak sampai setengah jam, kami telah sampai pada sebuah rumah yang terlihat mewah dan besar. Rumah tersebut ternyata adalah rumah kontrakan yang berpenghuni para lelaki yang kurang lebih seusia denganku. Kawan-kawan Agus tersebut menampakkan keakraban padaku. Kami berbincang-bincang sejenak. Kemudian Agus segera minta ijin untuk ‘meminjam’ halaman samping. Ternyata benar ucapan Agus, bahwa kawan-kawannya tak bertanya macam-macam, dan dengan santainya mempersilahkan kami untuk menggunakan halaman samping tersebut.
Halaman samping ini begitu luas dengan ditumbuhi rerumputan yang terlihat basah akibat embun dini hari. Agus tampak mencari-cari beberapa pot kosong. Sementara aku tengah membuka ikatan yang menutup kardus ini. Setelah siap dengan 4 pot kosong dan berbekal korek api, maka dimulailah pekerjaan ‘penghilangan’ berkas-berkas ini.
Sembari menghabiskan beberapa batang rokok sebagai penawar rasa bosan dalam pekerjaan ini, kami berdua terus memasukkan lembar demi lembar berkas itu ke dalam kobaran api hingga menghitam luruh menjadi abu, dan habis tanpa sisa. Asap pembakaran ini semakin tebal menyesakkan pernafasan dan memedihkan mata kami berdua. Tetapi memang pekerjaan ini tak bisa diselesaikan dengan cepat, sebab berkas-berkas yang harus dibakar sangat banyak jumlahnya. Sementara kami harus membakarnya secarik demi secarik karena pot yang digunakan sebagai tungku pun kecil.
Aku menatap lembaran-lembaran kertas yang sedikit demi sedikit dilahap oleh kobaran api; terbakar, meliuk, menghitam, menyusut dan jadilah abu. Saat itu, yang ada di benakku, aku merasa bersalah atas peristiwa pembakaran berkas-berkas ini. Bagiku, pekerjaan ini sama artinya dengan membakar otak seseorang. Berkas-berkas tersebut berisi tulisan hasil pemikiran panjang manusia, yang seharusnya dipelajari dan dikembangkan untuk kehidupan manusia yang tentunya ke arah perbaikan harkat hidup di masa kelak. Berkas-berkas tersebut pun juga merupakan ilmu bagi kepentingan manusia dalam hidup bernegara, bahkan pula filosofi kehidupan manusia dalam hidup bersama dengan manusia lainnya. Tetapi kini berkas-berkas tersebut, yang ada di hadapanku, telah berubah hanya sekedar onggokan kertas yang tinggal menunggu waktu untuk dilenyapkan keberadaannya. Seperti seorang terhukum mati yang siap berdiri di hadapan para juru tembaknya. Hilanglah seluruh keilmuan yang begitu banyak tertuang di setiap lembarnya. Aku cuma bisa tertunduk sedih melihat ke arah tumpukan abu tersebut. Ternyata pemikiran manusia, yang tertuang di lembaran kertas tersebut, menjadi ‘hantu’ yang menakutkan bagi keabadian kekuasaan di negara ini. Aku tak bisa berbuat banyak dalam kekalutanku. Meski bodoh, aku tetap relakan sang api menjilati setiap sudut berkas-berkas yang di masa lampau telah mendidikku untuk pandai berjuang bagi pembebasan rakyat di negeriku ini.
Akhirnya, sekitar pukul 03.00, selesailah pekerjaan yang melelahkan dan membosankan ini. Kami segera membersihkan abu-abu pembakaran, beserta pot-potnya. Tak lama kemudian kami berdua segera berpamitan untuk pulang. Legalah perasaanku kini. Paling tidak, satu persoalan telah kukerjakan. Agus pun segera mengantarkan aku kembali ke rumah. Aku sungguh sangat berterima kasih atas bantuan kawan karibku ini, dia telah membantu aku untuk menyelesaikan satu persoalan dari sekian banyak persoalan yang aku hadapi saat ini.
No comments:
Post a Comment