Ada yang tak mungkin kulupa pada saat itu. Tanggal 5 Agustus 1996, kala waktu menghampiri tengah malam, aku tumpahkan seluruh beban jiwaku yang sudah penuh sesak ini di atas dua carik kertas kecil (yang ternyata masih disimpan oleh Ibu hingga kini). Aku torehkan segala ketakutanku. Inilah ketakutan terbesar dalam seluruh hidup yang telah kujalani selama ini;
Hari ini adalah masa dimana seharusnya aku sibuk ngurusi akademik untuk kelulusanku, dan merencanakan pergi ke Jakarta, bekerja dan menempa diri dalam musik. Tetapi 27 Juli lalu, sebuah peristiwa di negeriku telah membuyarkan segalanya bagiku.
Takut! Itulah yang ada di diriku sekarang. Ternyata aku belum siap menjadi martir, aku belum siap untuk ditangkap sebagai pejuang rakyat. Dulu aku disebut orang sebagai ‘artis’ karena aku bernyanyi menghibur mereka. Tetapi setelah aku bernyanyi untuk memperjuangkan nasib rakyat di negeriku maka orang menyebutku ‘komunis’ ! Itulah keadaanku saat ini.
Aku tak tahu harus lari kemana ?! Seolah semua tempat dan semua orang adalah bahaya bagiku. Sebuah tempat yang aman bagi jiwaku yang takut, “ke dalam namaNya, kuserahkan seluruh hidupku….”
Lengkap sudah ketakutanku. Aku takut ditangkap militer. Jiwaku goyah, ketakutanku merembet ke seluruh darahku. Sehingga pagi tadi (jam 06.14) aku harus mencret dan muntah-muntah.
Hari ini, ketika kutuliskan ini, ketakutanku belum berubah menjadi keberanian. Tulisan ini akan menjadi sejarah bagaimana seorang pejuang rakyat dihantam ketakutan. Ketakutan untuk tak bisa lagi mencintai semua yang dicintainya, dan rakyat yang diperjuangkannya. Itulah aku…David Kris.
Semoga yang membaca tulisan ini adalah mereka yang tak memusuhi atau membenciku karena ketakutanku. Maafkan atas ketakutanku ini………
(Jika tulisan ini ditemukan, mungkin aku sudah tidak berada di rumah ini lagi…)
Carik-carik kertas itu lalu kulipat dan kusimpan di antara tumpukan pakaianku dalam lemari. Di kemudian hari, kuketahui bahwa surat tersebut ditemukan oleh Mas Setyo, saudaraku, pada tanggal 21 Agustus 1996, saat mencari berkas-berkas yang berkaitan dengan PRD di dalam lemariku untuk ‘diselamatkan’ . Kemudian surat itu pun diberikannya kepada Ibuku. Saat itu pula aku sudah berada di tempat lain, bukan di rumahku lagi !
No comments:
Post a Comment