SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

24 May 2008

Perburuan Kambing Hitam (4)

Pada tanggal 7 Agustus 1996, sekitar pukul 10.00, aku berada di kampus FISIP Universitas Airlangga. Aku tak bertemu dengan kawan aktivis PRD satu pun. Mungkin mereka memang telah berlarian sembunyi entah kemana. Maka itu artinya, hanya aku saja yang masih menginjakkan kaki di kampus ini. Sebenarnya ini bukan soal berani atau tidak., tetapi memang aku harus datang ke kampus ini untuk meminta tanda tangan dari para dosen penguji skripsiku.

Hari itu aku berjumpa dengan seorang kawan kuliahku, Pepen. Dari dialah aku ketahui bahwa Trio (panggilan Trio Yohanes Hot Mauliate Marpaung, pengurus sementara SMID cabang Surabaya) telah ditangkap oleh Bakostanasda Jatim. Pepen mengetahui hal tersebut dari sebuah harian pagi, entah apa namanya, dia tak menyebutkan. Menurut Pepen, dalam berita tersebut ditulis bahwa Trio ditangkap di tempat kost-nya di jalan Bendul Merisi Surabaya.

Di kemudian hari kuketahui dari penuturan Trio padaku, bahwa;

Pada tanggal 5 Agustus 1996 sekitar pukul 21.30 saat Trio sedang bermain ping pong di kampungnya, tiba-tiba dia dipanggil oleh wakil RW (tetangganya). Kata tetangganya tersebut, ada beberapa orang ingin bertemu dengannya. Lalu dia segera menuju ke rumah wakil RW yang berada tak jauh dari rumahnya, karena memang ‘tamu’-nya berada di rumah tersebut. Beberapa orang itu hendak ‘meminta bantuan’-nya umtuk dimintai sedikit keterangan tentang PRD. Kala itu Trio hanya mengatakan bahwa dirinya harus terlebih dulu pamit pada orang tuanya. Para ‘tamu’ itu mengiyakan. Tetapi ternyata orang tua Trio tak berada di rumah, sedang pergi. Akhirnya para ‘tamu’ itu mulai kesal dengan mendesak agar Trio segera berangkat bersama mereka. Tapi dia bersikeras menolak sebelum mendapat ijin dari orang tuanya. Sementara si pemilik rumah, wakil RW tersebut, pun menolak mereka membawa Trio sebelum diijinkan oleh orang tuanya. Akhirnya wakil RW itu menawarkan bahwa Trio boleh dibawa pergi asalkan dia turut mengantarkan. Para ‘tamu’ itu terlihat keberatan. Perdebatan kecil itu pun terus terjadi, untuk memperebutkan Trio. Pada ujungnya, para ‘tamu’ itu terpaksa menyanggupi syarat tersebut. Trio, Wakil RW, dan beberapa orang yang tak lain adalah para intelejen militer tersebut, segera berangkat menuju sebuah markas militer yakni Deninteldam V/Brawijaya. Sesampai di tempat tersebut, Trio segera digiring masuk. Sedangkan wakil RW tersebut disuruh para intelejen untuk segera meninggalkan Trio. Tetangga Trio itu tak bisa berbuat banyak, terpaksa harus meninggalkan Trio. Saat itulah Trio telah benar-benar terperangkap, tanpa surat penangkapan atau penahanan atas dirinya.

Aku hanya mengenal Trio sebagai mahasiswa FISIP Univ. Wijaya Kusuma Surabaya. Kudengar dari beberapa kawan sebelumnya, bahwa dia pun menjadi pejabat sementara di bidang dana dan usaha SMID cabang Surabaya. Selebihnya, aku tak mengenal dia terlalu banyak. Bagiku kala itu, Trio adalah anggota baru SMID cabang Surabaya dan dia tak seberapa aktif . Sebelumnya, aku banyak melihat dia sebagai aktivis GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) Surabaya. Tapi justru ini yang membingungkan aku. Kenapa dia masuk target penangkapan awal ? Lalu bagaimana dengan aku yang jelas-jelas memiliki aktifitas yang tinggi baik di SMID, hingga Jaker, bahkan di PRD ?

Mendengar berita tersebut dari Pepen, aku segera mengawasi setiap sudut kampusku ini. Setiap wajah yang tertangkap oleh kedua mataku, selalu kucurigai. Jangan-jangan wajah itu adalah wajah intelejen atau informan. Baru kali ini, selama lebih dari 5 tahun aku lalu lalang di kampus ini, aku merasa tak aman berada di kampusku sendiri.

No comments: