Pagi ini tanggal 23 Agustus 1996, aku baru saja melahap sarapanku yang tetap masih selezat hari kemarin. Kuperhatikan badanku dengan seksama. Kulitku mulai banyak mengelupas, mirip seekor ular yang sedang mengalami pergantian kulit. Mungkin karena telah berhari-hari aku tak memakai pakaian. Warna membiru bekas luka-luka di tubuhku agak mulai menghilang, meski secara keseluruhan belumlah hilang. Celana dalam sudah mulai tampak kotor berwarna kehitaman, lusuh, dan baunya tentu mulai membusuk. Untunglah dua hari lalu aku menemukan ide untuk membungkus penis-ku dengan plastik bungkus rokok. Aku hanya tak ingin alat vitalku itu terjangkit penyakit gatal-gatal. Paling tidak, selama empat hari aku di markas militer ini, penis-ku itu masih terlindung dengan aman. Memang para interogator belum memperbolehkan aku mengganti celana dalamku. Ah….untung saja…aku tak sempat mimpi basah….Aku tak bisa membayangkan apa jadinya bila hal itu sampai terjadi.
Pagi itu sekitar hampir pukul 9.00, sebelum para interogatorku memasuki ruanganku, Letnan Budi mendatangiku. Dia menanyaiku perihal seseorang yang bernama Atar, yang kukenal sebagai mahasiswa Universitas Airlangga sekaligus aktivis PRD pula. Menurut informasi yang diterimanya bahwa; dokumen-dokumen PPBI (Pusat Perjuangan Buruh Indonesia) tersimpan di rumah Atar. Selain itu, ada kemungkinan Herman Hendrawan (ketua PRD di Surabaya, menurut data intelejen militer) pun bersembunyi di rumah Atar. Lalu dia bertanya pula tentang markas mahasiswa Timor Timur di jalan Karang Menjangan Surabaya, yang dicurigainya sebagai tempat penyimpanan dokumen-dokumen PPBI Lalu aku bersikeras mengatakan padanya bahwa aku sama sekali tak tahu tentang organ buruh tersebut.
Akhirnya Letnan Budi memaksaku untuk menunjukkan lokasi rumah Atar. Aku tak bisa menolak karena ancamannya agar aku harus ‘membogkar’ lokasi rumah Atar. Kemudian dia menyuruhku untuk segera mengambil pakaianku di ruangan administrasi. Aku pun sangat senang sekali bisa memakai pakaian kembali. Tak beberapa lama, kami bersiap untuk berangkat ke rumah Atar. Sebelumnya, Letnan Budi mendekatiku, sambil menenteng sebuah borgol.
“Kamu harus pakai ini dulu……..,” ucapnya sambil memborgol kedua tanganku.
“Karena kamu masih belum jinak….,” lanjutnya.
Saat itu pikiranku kalut penuh dilema. Bagaimana jika ternyata Atar, mungkin juga bersama Herman, ternyata bisa ditangkap? Apakah itu artinya aku tak lebih dari seorang pengkhianat bagi kawan-kawanku sendiri? Aku cuma berharap agar semoga Atar, pun Herman pula, tidak berada di rumah tersebut.
Setelah tiba di lokasi sekitar rumah Atar, seperti yang telah aku tunjukkan. Seorang intelejen yang tadi duduk di sebelah kiri sopir, segera mendatangi rumah Atar. Dari kejauhan, di dalam mobil, aku dan Letnan Budi, mengamati kerja intelejen tersebut. Ternyata harapanku terkabul, bahwa Atar, maupun Herman, tidak berada di rumah tersebut. Untunglah…., bisikku lirih. Kami pun segera pulang kembali ke markas militer. Sebelumnya kami sempat mampir di sebuah warung makan di kawasan jalan Bumiarjo Surabaya. Aku segera memesan segelas kopi. Saat itu, kopi panas itu terasa nikmat sekali kuteguk. Maklumlah selama beberapa hari di markas militer, aku tak bisa mereguk nikmatnya segelas kopi. Setelah itu, kami segera kembali ke markas militer.
Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil, Letnan Budi mencercaku habis-habis.
“Kamu ini gimana sih…? Lihatlah teman-temanmu sudah pada lari semua. Sekarang kamu cuma jadi tumbalnya. Kamu seharusnya bantu kami dong… Jika Herman bisa kita tangkap, kamu bisa saya mintakan bonus pada komandan saya. Tapi kalau Herman belum tertangkap, yah…nasibmu sama teman-temanmu akan menjadi jaminan dan nggak akan bisa pulang.”
“Yang saya tahu cuma alamat Atar. Tapi kalau soal perburuhan itu, atau soal dimana Herman dan Atar, saya tidak tahu.”
“Lho….kata Ganjar, kamu teman dekat Herman. Kok sekarang tiba-tiba kamu bilang nggak tahu tentang Herman tersebut.
Ganjar adalah seorang mahasiswa Universitas Airlangga-Surabaya. Aku mengenalnya sebagai aktivis PRD yang militan. Pagi di tanggal 19 Agustus 1996 aparat intelejen berhasil memaksa Brewok untuk menunjukkan lokasi tempat tinggal Ganjar. Akhirnya, pagi itu juga, Ganjar pun berhasil ditangkap oleh aparat intelejen militer di rumahnya sekitar pukul 10.00.
Oh…rupanya Ganjar yang ‘menggigit’ aku. Lantaran omongannya itu aku diajak ‘jalan-jalan’ dengan tangan terborgol oleh Letnan Budi, untuk menangkap Atar, sekaligus pula Herman. Pikiran jengkelku pada Ganjar pun mulai tumbuh, hingga aku pun berucap;
“Justru Ganjar itu yang teman dekatnya Herman. Kalau pergi ngurusi buruh, ya orang dua itu!”
“Jadi Ganjar yang teman dekatnya Herman. Gitu dia mau ngaku. Harus dikerjain anak itu…,” ucap Letnan Budi dengan wajah bersinar puas.
Saat itu aku sama sekali tak sadar bahwa aku telah masuk jebakan adu domba Letnan Budi, sehingga muncul rasa permusuhanku terhadap Ganjar.
Sesampai di markas Deninteldam V/Brawijaya, Letnan Budi bergegas turun dari mobil.
“Ayo, kita kerjain Ganjar….,” ajak Letnan Budi kepadaku sembari melepaskan borgolku. Kami berdua berjalan sesegera mungkin sampai di ruang tempat Ganjar disekap.
“Ganjar….! Ganjar…! Sini kamu…!”
Letnan Budi mulai berteriak-teriak saat mendekati ruangan si Ganjar. Letnan Budi bergegas memasuki ruangan itu.
Buuuuukkkkk !!!! Buuuuuukkkkk !!!!
Kulihat Ganjar telah terseok-seok tanpa punya kesempatan membela diri menghadapi pukulan bertubi-tubi dari Letnan Budi. Kulihat pula darah merah segar menetes dari pinggir kanan mulut Ganjar.
“Vid…, kamu ngomong apa…?” ucap ganjar kepadaku.
“Kamu ngomong yang bener saja…, aku juga ditekan kayak kamu….,” ucapku memohon kepada Ganjar agar dia bicara yang sebenarnya bahwa aku tidak tahu menahu masalah buruh dan PPBI-nya. Tetapi ternyata Ganjar tetap bersikeras mengatakan bahwa dia tak tahu menahu mengenai Herman dan PPBI.
Tiba-tiba datanglah Pak Azra yang berdiri di sampingku.
“Saya pengen nendang perutnya, tapi sayang perutnya terlalu tipis…..,” ucap Pak Azra turut menyaksikan ‘penggarapan’ wajah Ganjar.
Saat makan siang, aku diperbolehkan turut makan bersama kawan-kawanku. Kala itulah aku melihat Ganjar yang kesulitan untuk melahap makan siangnya akibat mulutnya yang masih terluka. Perlahan, aku mulai berpikir dengan baik hingga kesadaranku pun muncul bahwa aku telah di adu domba dengan Ganjar oleh Letnan Budi. Cuih…., betapa tololnya aku….!
No comments:
Post a Comment