SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

4 June 2008

Masa Pemaksaan Pengakuan (2)

Sekitar hampir pukul 08.00, aku mulai diinterogasi oleh tiga orang intelejen. Seorang yang tampak masih muda dan bertubuh pendek, dipanggil dengan nama Sersan Dua Zainudin. Lalu seorang bertubuh tinggi kurus bernama Pak Supriyadi dengan pangkat Sersan Kepala. Terakhir, adalah seorang muda berpangkat Sersan Dua yang kupanggil dengan nama Pak Waluyo.

Aku yang masih hanya bercelana dalam ini telah mulai menghadapi berbagai pertanyaan yang harus kujawab dengan panjang lebar. Pak Supriyadi mengajukan pertanyaan demi pertanyaan kepadaku di lemaran kertas buram, sementara Pak Zainudin dan Pak Waluyo bergantian mengetik jawaban dan keterangan dariku di lembar-lembar kertas BAP (Berita Acara Pemeriksaan).

Pertanyaan masih berkisar mengenai diriku dan kegiatanku sebagai mahasiswa di FISIP Universitas Airlangga dan awal mula aku masuk menjadi anggota SMID cabang Surabaya hingga aku masuk terpilih menjadi ketua Jaker Surabaya. Bagiku, pertanyaan ini tidak terlalu sulit, dan tak perlu membutuhkan jawaban diplomatis dariku. Interogasi ini berjalan lancar tanpa kemarahan mereka yang kubayangkan, dan berhenti saat istirahat makan siang sekitar pukul 13.00.

Aku sudah membayangkan bahwa setelah makan siang ini, pastilah kantuk akan menyerangku. Terlebih makan siang ini masihlah tetap lezat, seperti halnya sarapan pagi tadi. Ternyata memang aku mengantuk berat bahkan terkadang lelap tidur selama beberapa detik. Untunglah para interogatorku tak tahu hal itu. Aku terkadang ditawari untuk merokok bila keteranganku sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Aku tak perduli dengan persyaratan itu. Terpenting bagiku bahwa aku telah memberikan keterangan sesuka otakku yang sekiranya memuaskan mereka. Toh jika mereka tak puas, paling aku dibentak, dipukul, atau mungkin disetrum. Bagiku ini adalah penghakiman otak. Maka aku harus menggunakan pemikiran intelektualku yang rasional namun tetap terjaga dalam taktik selama masa interogasi itu. Biarlah secara fisik aku hancur, namun otakku tetap mampu berpikir dengan baik dan sehat, sehingga aku tetap tak mudah untuk mengkhianati nurani perjuanganku sendiri. Aku seorang mahasiswa yang barusan menuntaskan studiku, jadi kepandaianku tak boleh kalah dengan para interogator-ku yang kuyakin mereka tak menikmati masa studi setinggi aku.

Ketika saat Magrib tiba. Aku disuruh untuk mandi dan kemudian segera makan malam. Aku tetaplah diberi makanan yang lezat dan bergizi, meski tetap pula dalam rupa nasi bungkus dan seliter air minum.

Sekitar pukul 19.00, masuklah seorang petugas jaga yang berpakaian doreng.

“Ini obat-obatan yang ada di resepmu. Cepat diminum biar sakit gigimu lekas sembuh,” ucapnya sembari meletakkan sejumlah obat-obatan dan sebuah tas plastik kecil di atas meja. Lalu dia pun pergi meninggalkan ruangan ini.

Ya ampun…, baru ingat aku…, bahwa aku barusan cabut gigi dan harus segera minum obat seperti yang disarankan dokter Fadkhurrosi padaku. Aku ingin ketawa sekeras mungkin. Untuk apa obat-obat sebanyak itu…? Toh aku sekarang sudah sembuh dari sakit gigiku. Ternyata hajaran para serdadu itu adalah obat mujarab buat sakit gigiku, membuat aku mempan terhadap linu gigiku seusai cabut gigi kemarin lalu. Obat-obatan itu tak kuperdulikan lagi. Aku justru mengambil tas plastik kecil.

Tas plastik kecil itu ternyata adalah kiriman Ibu berisikan; satu celana dalam, handuk kecil, kaos dan celana pendek. Tak lupa pula sebuah rokok Djarum 12 kesukaanku kala itu. Rupanya inilah kiriman Ibu yang kedua kalinya. Aku senang sekali. Meski aku masih belum diperbolehkan mengganti celana dalam, memakai kaos dan celana pendek.

Aku jadi teringat pada Ibu. Padahal aku berusaha melupakan bayangan tentang Ibu. Aku cuma tak ingin menjadi cengeng karenanya. Meski kenyataan, aku tetap tak bisa melupakan Ibu. Sama halnya dengan Ibu saat ini yang tak akan melupakan aku walau aku telah membuatnya menangis. Barang kiriman Ibu ini adalah pengganti rasa rindu kami, sebab selama dua hari aku di markas militer (dan ternyata hingga hari aku dipindahkan dari tempat tersebut) kami tak diperbolehkan bertemu muka, entah kenapa. Tetapi yang membuatku tak habis pikir, bahwa ternyata kiriman Ibu ini adalah kiriman terakhir yang sampai di tanganku. Hari-hari selanjutnya, hingga aku meninggalkan markas militer ini, aku tak pernah lagi menerima kiriman Ibu.

No comments: