SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

5 June 2008

Masa Pemaksaan Pengakuan (3)

Sekitar hampir pukul 20.30, masuklah tiga orang interogator; Pak Zainuddin, Pak Supriyadi, dan Pak Enos. Mereka siap melanjutkan interogasi terhadapku.

Aku pun ditanya mengenai karya-karya seniku. Puisi apa saja yang telah aku tulis, dan lagu-lagu yang telah aku ciptakan. Sekaligus aku harus menunjukkan dimana semua puisi dan lagu itu aku simpan. Namun aku menjawab saja bahwa aku tak pernah menyimpannya, semua itu kutinggal begitu saja di sekretariat . Sesekali kengerianku bangkit lantaran tekanan suara Pak Enos yang berat, saat memaksaku untuk tidak berbelit-belit dalam memberikan keterangan.

Interogasi hari pertama ini, ada yang tak mungkin kulupakan, yakni saat inilah aku di’sah’kan sebagai ketua Jaker Surabaya dalam BAP-ku. Mau atau tidak, aku harus mau. Aku tak bisa menolak atau mengelak. Meski yang sebenarnya adalah;

Jaker belum dibentuk di Surabaya, masihlah berpusat di Solo dengan kegiatan seni Wiji Thukul yang sekaligus menjadi ketua Jaker dalam skala nasional. Tetapi pada sebuah kongres PRD, jauh sebelum dideklarasikan pada tanggal 22 Juli 1996, namaku telah direkomendasi kuat untuk membangun Jaker di Surabaya dan sekaligus sebagai ketuanya. Kabar tersebut akhirnya menjadi berita yang menyebar di kalangan aktivis PRD di Surabaya, sehingga aku banyak disebut-sebut ketua Jaker Surabaya. Padahal hingga aku ditangkap oleh aparat intelejen militer, aku hanya memikul tugas dari PRD untuk menjadi perwakilan Jaker di Surabaya.

Jadi, aku diangkat menjadi ketua Jaker Surabaya, bukan oleh kongres PRD atau kongres Jaker, tetapi oleh situasi interogasi para intelejen militer di Deninteldam V/Brawijaya.

“Sekarang kamu tidur yang enak, besok kita lanjutkan lagi…..,”ucap Pak Enos menyudahi interogasi terhadap diriku. Saat itu, kulihat jam tangan salah seorang intelejen menunjukkan pukul 23.00.

Aku mengiyakan.

“Kamu sudah punya rokok…?” tanya Pak Enos sebelum meninggalkan ruanganku.

“Sudah Pak, terima kasih…,” jawabku.

Malam pun kian berjalan mengiringi rebahku, melewatiku hari Rabu tanggal 21 Agustus 1996. Tidur bersama malam di ruang ini adalah siksaan tersendiri yang amat kubenci. Bagaimana tidak, aku harus menggigil kedinginan lagi sebab hawa dingin terus menerpa tubuhku yang masih hanya bercelana dalam ini. Kondisi itu membuat aku sebentar-sebentar terbangun dari tidurku. Akhirnya aku memutar otak agar aku bisa tidur nyenyak. Aku pun menemukan ide yang cukup nekad. Aku pindah tidur, dari kursi panjang ke meja besar itu. Lalu kedua mesin ketik kuletakkan dalam posisi berdiri di samping kanan untuk menangkal terpaan hawa dingin. Meski cara itu belumlah maksimal, tapi paling tidak hawa dingin yang kurasakan telah agak berkurang. Pokoknya malam ini aku harus bisa tidur nyenyak. Aku tak perduli bila esok pagi kena damprat akibat ulahku; tidur di di atas meja !

No comments: