SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

6 June 2008

Para Kambing Hitam Diadu (2)

Taktik adu domba bukan hanya terjadi dan kualami sekali saja. Aku masih ingat ketika di hari Sabtu siang tanggal 24 Agustus 1996. Kala aku masih menghadapi interogasi seperti biasanya, mendadak muncul Pak Amari dan menghentikan acara interogasiku.

“Kamu pergi ke bawah, pakai baju dan celanamu…,” ucap Pak Amari terhadapku.

Aku bergegas menuju ke lantai bawah, tepatnya di ruang administrasi, untuk kembali mengenakan kaos dan celana panjangku. Aku senang sekali, meski tak tahu apa yang bakal terjadi. Bagiku, yang penting aku tidak setengah telanjang lagi.

Lalu aku kembali ke ruang interogasiku. Pak Amari menyuruhku menuju ruang data. Di ruang data ini aku bertemu dengan Rouf, Ana dan Agung. Ada perasaan senang dalam hatiku sebab aku bisa bertemu dengan mereka lagi. Pak Amari menyuruh masing-masing dari kami untuk menyebutkan; nama, alamat, usia, tanggal lahir, hingga data tentang orang tua kami. Ditambahkan pula untuk menyebutkan bahwa tujuan PRD adalah menggulingkan pemerintah yang sah dan mengganti dengan ideologi komunis. Kami satu persatu mulai melakukan hal tersebut. Sembari seseorang yang berdiri di samping pak Amari merekam apa yang kami lakukan tersebut melalui ‘handy cam’.

Di kemudian hari barulah kuketahui melalui informasi beberapa mahasiswa yang menceritakan padaku bahwa hasil pengambilan gambar itu menjadi film penyuluhan yang diputar didesa-desa. Sebab mereka menyatakan pernah melihat film penyuluhan itu dan di film itu tampaklah aku bersama kawan-kawan.

Setelah itu, Pak Amari memberikan pada kami masing-masing selembar kertas dan sebuah pulpen.

“Sekarang kalian tulis bahwa kalian adalah korban hasutan dari Herman dan Sardiyoko. Lalu kalian meminta agar Herman dan Sardiyoko segera menyerahkan diri secara gentleman,” ucap Pak Amari menjelaskan.

Kami pun segera menulis dengan kepiawaian menulis masing-masing, seperti apa yang disuruhkan oleh Pak Amari. Tak lama kemudian, tulisan kami telah selesai.

“Tulisan ini nanti akan kami muat di koran-koran, supaya masyarakat membacanya,”

Ternyata di kemudian hari barulah kuketahui bahwa tulisan tersebut memang dimuat di hampir seluruh koran di Surabaya, yakni pernyataan agar Herman dan Sardiyoko menyerahkan diri, namun atas nama penulisnya; Trio Yohanes Marpaung.

Taktik adu domba yang telah dilancarkan oleh para intelejen militer melalui diterbitkannya statement tersebut, tentu memiliki tujuan yang telah diskenario matang oleh mereka. Hal ini untuk membangun opini secara luas di masyarakat bahwa PRD ternyata hanya sekelompok kawanan penghasut dengan cara komunis yang cuma pahlawan kesiangan yang bernyali cilik, tak bertanggung jawab, tidak solid, dan saling mengkhianati antar kawan. Sekaligus pula, mereka ingin menghancur leburkan bangunan solidaritas yang selama ini menjadi energi dalam perjuangan kami bersama kaum tertindas. Solidaritas…., itulah kata kunci yang paling dibenci di seluruh sudut ruang Deninteldam V/Brawijaya. Solidaritas, bagi mereka, adalah sebuah pemikiran sekaligus perilaku terbodoh dalam jaman yang memacu modernitas dan mengesahkan orang untuk mengurus diri sendiri. Kami, aku bersama kawan-kawanku, tak boleh sekali-kali mengucap apalagi mengatasnamakan ‘Solidaritas’.

“Kalau kalian sekarang ditangkap dan harus bertanggung jawab, sementara teman-temanmu yang tidak tertangkap itu sekarang sedang senang-senang, apakah itu yang kalian namakan solidaritas…?!” ucap salah seorang dari para intelejen yang terkadang ‘menasehati’ kami tatkala kami makan siang bersama.

Mungkin inilah yang dinamakan ‘cuci otak’. Kami terus menerus dicecoki untuk saling tak percaya, saling mengkhianati, saling memusuhi, bahkan kalau perlu kami diajari untuk saling membunuh antar kawan. Tak sedikit dari kami yang diperintahkan untuk saling memukul, saling menampar, atau saling ‘menggigit’. Keberhasilan ‘cuci otak’ ini adalah tentunya hilangnya rasa solidaritas apalagi kepedulian nurani dalam diri kami yang dulu pernah tumbuh, itulah yang diharapkan oleh para intelejen tersebut.

No comments: