SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

7 June 2008

Para Kambing Hitam Diadu (3)

Sebuah peristiwa yang tak bisa kulupakan, kala aku harus menerima taktik adu domba untuk yang kesekian kalinya. Kali ini aku diciptakan untuk bermusuhan dengan seorang kambing hitam yang benar-benar ‘dihitamkan’ oleh aparat militer. Seorang kambing hitam itu adalah Brewok (di markas militer inilah, baru kuketahui bahwa nama aslinya adalah Karsidi). Aku mengenalnya sebagai seorang seniman yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang tersisih di sekitarnya. Dia seorang kawan seniman bagiku, sekaligus sahabat.

Hal ini bermula dari sebuah kejadian pada malam tanggal 22 Agustus 1996. Saat itu aku ditekan dengan ancaman oleh Pak Enos, yang membuat aku mengakui bahwa aku melihat Brewok menghadiri rapat persiapan aksi unjuk rasa buruh Simo Pomahan, di sekretariat SMID cabang Surabaya, pada tanggal 1 Juli 1996. Meski sebenarnya, aku sama sekali tak tahu apakah Brewok hadir atau tidak pada rapat itu. Ketakutanlah…, yang membuat aku terpaksa bicara bahwa aku melihat Brewok menghadiri rapat tersebut. Kata-kataku tersebut akhirnya diketik dalam BAP-ku. Pengakuan-ku yang dipaksakan ini, kupikir tak ada masalah atau tidak akan berbuntut panjang. Namun ternyata dugaanku keliru.

Pada petang tanggal 27 Agustus 1996, aku dipanggil untuk menghadap Pak Krisnadi di ruang data. Ternyata di ruang tersebut, telah hadir kawan-kawanku; Brewok, Arindra, Iman, Ganjar, Dayat, Rouf, dan Yohanes Kukuh.

Pak Krisnandi menyuruh aku supaya mengatakan apa yang sebenarnya aku lihat pada tanggal 1 Juli 1996. Sesuai apa yang telah di tulis di BAP-ku, aku pun menjawab bahwa aku melihat Brewok menghadiri rapat tersebut. Namun Brewok bersikeras bahwa dia tidak hadir pada rapat tersebut. Sempat pula dia menyebut nama Tuhan, sebagai kekuatan bahwa apa yang dikatakannya adalah benar adanya. Kami, aku dan Brewok, terpaksa saling mempertahankan argumen .

“Kris…, kalau Brewok bohong, tampar mulutnya…,” ujar Pak Krisnadi terhadapku.

“Kamu juga Brewok…, tampar saja kalau Kris menfitnah kamu…..,” ucap Pak Krisnadi pula kepada Brewok.

Akhirnya aku harus mengalah. Aku melihat sinar matanya yang kuyu. Aku tak harus menimpakan kekeliruanku terhadapnya. Sementara kawan-kawanku yang lain cuma menyaksikan saja.

“Iya Pak, saya bohong, Brewok tidak hadir dalam rapat tersebut. Mungkin saya salah lihat atau salah ingat…,”ucapku pelan.

“Kris sekarang sudah ngaku salah. Dia sudah bikin kamu menderita , dia menfitnah kamu. Sekarang kamu tampar dia….,” suruh Pak Krisnadi terhadap Brewok.

Aku pun siap menerima segala hukuman apa pun bentuknya dari Brewok. Aku yakin Brewok masih punya nurani untuk tidak menggemari kekerasan. Ia tidak akan tega menamparku.

“Saya tidak menampar dia, Pak. Saya kasih dia hukuman push-up saja, Pak…,” kata Brewok pada Pak Krisnadi. Lalu Pak Krisnadi pun menyetujuinya. Aku pun segera melakukan push-up sebanyak lima belas kali sesuai yang diperintahkan Brewok padaku.

“Saya nggak suka kalau kalian memfitnah orang. Kalau ada ya bilang ada. Kalau nggak ada ya ngomong nggak ada. Jangan ditambh-tambahi, atau dikurangi. Saya pengen kalian bicara jujur apa yang kalian ketahui. Sehingga tidak membingungkan bapak-bapak yang memeriksa kalian…” nasehat Pak Krisnadi itu kian membuatku enggan untuk melihat wajahnya. Setelah itu, Pak Krisnadi menyuruh kami untuk makan malam bersama di ruang data ini. Seusai makan malam, kami diperintahkan kembali ke ruang kami masing-masing. Sebelum beranjak dari ruang data tersebut, aku hanya mengingat bahwa Pak Krisnadi berpesan kepadaku, agar aku merubah BAP-ku dengan menegaskan bahwa Brewok tidak hadir pada rapat 1 Juli 1996. Pesan Pak Krisnadi itu segera kulaksanakan pada keesokan harinya.

No comments: