Masih banyak lagi peristiwa adu domba yang kualami bersama kawan-kawan, di Deninteldam V/Brawijaya ini. Belum lagi saat kami diperintahkan untuk bernyanyi bersama melantunkan lagu; Padamu Negeri, Syukur, atau Garuda Pancasila. Kami harus menyanyikan lagu-lagu itu dengan suara sekeras mungkin, meski saat itu hampir pukul 24.00. Sedangkan yang memimpin ‘paduan suara’ tersebut adalah salah satu dari kami. Biasanya Rouf, entah kenapa dia yang selalu dipilih menjadi ‘komandan’ kami. Jika salah satu dari kami tampak melemah, maka Rouf diperintahkan untuk menamparnya.
Aku merasa bahwa pasti di antara kawan-kawanku itu, ada beberapa orang yang telah berhasil ‘dicuci otak’ melalui permainan adu domba yang penuh siksaan tersebut. Tanpa sadar muncullah rasa benci atau saling memusuhi antar kawan. Namun aku tetap berharap agar semua siksaan yang dirasakan bersama ini justru menjadi makna solidaritas untuk bersama melawan kekerasan, bukan malah tertebas habis dan kian saling mengkhianati.
Pukulan dan tendangan yang mendera, ancaman, tekanan, dan berbagai siksaan lainnya, bukanlah menjadi satu alasan bagi seorang pejuang kemanusiaan untuk merubah dirinya menjadi seorang pengkhianat, sekali pun luka yang diterimanya membekas sepanjang hidupnya.
No comments:
Post a Comment