Hari-hari berjalan seperti kemarin. Aku tetap bangun pagi lalu berdoa, dan seusai berdoa aku kembali mencoretkan hitungan hari di dinding yang melegam. Kemudian bersama Pak Roto, aku membersihkan ‘hotel’ku ini. Tak banyak yang berubah. Aku masih sendiri dan tetap dikunci rapat dalam ruangan interogasi ini. Keadaanku masih hanya bercelana dalam saja. Biasanya, sesudah mandi, aku mengamati seluruh bekas luka yang membiru di lengan, betis, paha, atau dadaku. Ah…luka-luka membiru itu belum hilang juga.
Seperti hari kemarin pula, interogasiku dimulai pukul 07.30, usai aku sarapan dan sekaligus pula setelah para serdadu melakukan apel pagi. Interogasi ini berhenti sejenak saat makan siang atau sholat Dzuhur, lalu interogasi berlanjut lagi hingga saat Mahgrib tiba. Pada sekitar pukul 18.00, aku mandi dan lalu disuruh menyantap makan malam. Barulah sekitar hampir pukul 20.00, interogasi terhadapku dimulai kembali dan usai tak lebih dari pukul 24.00.
Interogasi yang lebih tepatnya aku sebut dengan ‘penghakiman otak’ ini cukup melelahkan bagiku, sebab aku harus menjalaninya kurang lebih 12 jam sehari (mungkin terkadang malah lebih). Belum lagi disertai penekanan dan ancaman, serta aku disuruh menjawab sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh para interogator. Para interogator-ku memang ‘murah hati’ jika soal memberi rokok. Tetapi syaratnya; aku harus memberi keterangan dengan benar seperti yang mereka kehendaki. Mereka tidak mau dan malah marah bila aku berbelit-belit, atau menggunakan tata bahasa yang tak mereka mengerti.
Pernah suatu kali di kamis tanggal 22 Agustus 1996 sekitar pukul 21.00, seorang interogatorku bernama Pak Zainuddin menganggap aku sengaja memberikan keterangan yang diplomatis mengenai seluk beluk organisasi SMID dan Jaker.
“Kamu sengaja membikin saya bingung, ya…?!” bentaknya padaku.
Naas bagiku, kala itu kejadian tersebut diketahui oleh seseorang intelejen bernama Pak Amari (lelaki tersebut bukan interogatorku).
“Kamu mau coba berbelit-belit, ya..?!”
Pak Amari tampak naik pitam.
“Sini kamu…!”
Pak Amari memanggilku. Aku pun menghadapnya. Kemudian aku disuruhnya berdiri di atas bangku panjang dengan sikap istirahat menghadap ke arah dinding batako yang berlubang-lubang.
“Tempelkan mulutmu di tembok itu…!”
Aku terpaksa menuruti kemauannya, meski dinding ini penuh debu menghitam.
“Nah, sekarang kamu nyanyi lagu Syukur. Biar kamu tahu bagaimana caranya mensyukuri apa yang sudah diberikan negaramu ini…!”
Aku pun segera bernyanyi lagu itu. Aneh.., aku hapal lagu tersebut, padahal aku tak pernah menyanyikan lagu itu lagi sejak aku lulus dari Sekolah Dasar.
“Ayo, yang keras…! Kamu kalau teriak ‘hidup rakyat’ bisa keras kok. Sekarang disuruh nyanyi lagu wajib kok nggak bisa keras. Kamu menghina ya…? Nyanyi terus…, Sampai saya suruh berhenti, baru kamu boleh berhenti.
Aku pun mengulang-ulang lagu tersebut, dan aku baru disuruhnya berhenti setelah hampir setengah jam menyanyi lagu tersebut. Setelah itu aku kembali diinterogasi.
Bagiku tiada hari tanpa bertubi-tubi pertanyaan yang ditimpakan kepadaku. Setiap kali diinterogasi dimulai, aku sudah siap dengan permainan otakku yang kuputar sedemikian rupa sehingga seolah-olah memberikan keterangan yang jujur dan benar, padahal sesungguhnya tidak. Memang yang diinginkan mereka bukan hanya kehancuran fisik dan mentalku, tetapi juga kelelahan otakku. Itulah cara interogasi, agar aku akan menyerah kalah, dan terbongkarlah semua keterangan dariku yang mereka inginkan. Oleh karenanya, aku mengatur cara pula agar tubuhku tidak mudah lelah, terutama otakku harus tetap terjaga kesegarannya. Memang kuakui ada yang memang harus kubuka, tetapi toh tetap ada yang tak ‘terbuka’ meski siksaan mendera diriku.
No comments:
Post a Comment