Adapun pernah aku ditanya apakah aku mengenal; Iman dan Budi; yang saat itu aku juga diperlihatkan wajah mereka. Ternyata kedua orang tersebut juga ditahan di Deninteldam V/Brawijaya, berkaitan dengan kasus 27 Juli 1996 dan PRD. Aku menjawab bahwa aku tidak mengenal mereka. Berulang kali pertanyaan itu ditanyakan kepadaku, namun aku pun selalu menjawab dengan jawaban yang sama, bahkan aku tambahkan bahwa mereka bukan anggota PRD!
Di kemudian hari aku mengetahui bahwa Iman adalah seorang wartawan lepas, yang kebetulan pernah meliput aksi massa PRD. Sedangkan Budi adalah aktivis PDI pro Mega, yang selalu aktif mengikuti aksi massa PDI pro Mega yang kala itu bergabung dengan PRD untuk mendukung Megawati. Ternyata para intelejen militer itu salah tangkap. Namun kedua orang tersebut telah terlanjur memperoleh siksaan fisik dan psikis, seperti halnya para aktivis PRD yang memang menjadi buruan aparat intelejen militer.
Demikian pula, di suatu sore, ketika kami dikumpulkan di halaman belakang, Satu persatu dari kami ditanya perihal seseorang bernama Edi Heri. Kami semua, tak terkecuali aku, menjawab bahwa kami tak tahu menahu tentang orang tersebut.
Terkadang di sela-sela interogasiku, aku didatangi seorang intelejen yang menyodorkan kertas kecil bertuliskan beberapa nama Romo (Pastor) di wilayah Jawa Timur.
“Temanmu Dandik itu, bersembunyi di salah satu Romo ini. Masak kamu nggak ada yang kenal satu pun….?!”
Meski penuh tekanan, aku tetap menjawab bahwa aku tidak mengenal para Romo tersebut.
Seperti halnya ketika aku disuruh menunjukkan tempat persembunyian Wiji Thukul di sebuah desa di daerah Ngawi.
“Kamu kan pernah tidur di sana…, pasti kamu tahu rumahnya !”
“Itu rumah orang tuanya, pasti dia sembunyi di sana…!”
Tetapi aku tetap bersikeras bahwa aku tidak tahu menahu tentang rumah orang tua Wiji Thukul. Aku hanya tahu bahwa rumah tempat kumenginap tersebut hanya sebuah rumah salah satu warga desa yang dijadikan sekretariat ‘live in’ Jaker. Meski aku harus mengalami kengerian saat menjawab itu, akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk mengajakku ‘berburu’ Wiji Thukul.
Aku pun pernah suatu ketika disuruh Pak Enos menjelaskan maksud dari Manifesto PRD. Aku mengatakan bahwa aku tidak tahu tentang manifesto itu. Jangankan membaca, melihat rupanya saja, aku tak pernah. Mereka pun tak segampang itu mempercayai keteranganku, meski akhirnya percaya saja bahwa apa yang kujelaskan tersebut benar adanya
Satu hari di hari Sabtu tanggal 24 Agustus 1996, untuk kesekian kalinya aku harus menerima hunjaman pukulan di tubuhku, lalu dengan tubuh yang setengah telanjang ini dipaksa untuk berjungkir balik sepanjang lebih kurang 10 meter. Peristiwa ini terjadi karena pada hari tersebut aku dianggap memberikan keterangan yang palsu. Saat itu sekitar pukul 15.00, seorang intelejen bernama Pak Tarmuji (bukan interogator-ku) datang memasuki ruanganku dan membaca berkas-berkas BAP-ku. Tibalah dia membaca keteranganku di BAP tentang persiapan aksi massa Tambak Beras di Kedung Sroko Surabaya.
”Waktu rapat di Kedung Sroko itu kan orangnya lebih dari 15…?” ucap Pak Tarmuji mencoba menguji kebenaran keteranganku.
“Saya sudah lupa, Pak. Seingat saya di rumah itu banyak orang yang hadir.”
“Iya kan…, lebih dari 15 orang kan..?! bentaknya sambil tersenyum sinis melihat kekalahanku.
“Iya memang…., Pak.”
“Tapi di BAP-mu kok ditulis bahwa yang hadir kurang lebih 15 orang….?”
“Iya memang itu yang saya ingat, Pak…” ucapku sembari dalam hati aku merasa geli, bukankah jumlah lebih dari 15 orang adalah sama artinya dengan kurang lebih 15 orang.
“Waktu rapat itu kan ada juga orang-orang dari Tambak Beras…?” tanya Pak Tarmuji lagi.
“Kalau itu saya nggak ingat, Pak…”
“Saya tahu, ada petani-petani Tambak Beras waktu rapat itu. Kamu ini sebenarnya lupa…atau…pura-pura nggak ingat….”
Aku diam sambil memandangi wajah intelejen tersebut. Ah…persoalan jadi kacau, pikirku. Mendengar hal tersebut, Pak Zainuddin jadi jengkel terhadapku.
“Kamu mau coba membohongi kami, ya…?!” bentaknya.
“Wah…kamu sudah memanipulasi keterangan…,” tambah Pak Tarmuji.
Aku pun lalu digiring Pak Zainuddin ke luar ke ruangan. Tubuhku disuruhnya menempel di pintu dan menghadap padanya.
Buuuuukkkk !!! Buuuuukkkk !!! Buuuuukkkk !!!!
Pak Zainuddin mulai meninju perut dan dadaku berulang-ulang.
Anehnya aku tak merasa sakit. Apa memang pukulan lelaki ini yang tak terlalu keras? Atau memang tubuhku sudah kebal dengan setiap pukulan yang mendarat, akibat sudah terlalu sering dipukuli ? Kondisiku yang tak bergeming membuat Pak Zainuddin kemudian menyuruhku jungkir balik sejauh kurang lebih 10 meter secara berulang-ulang dari pojok ke pojok. Sesudahnya, aku mengamati tubuhku telah penuh dengan kotoran lantai semen yang melegam. Interogasiku terus berlanjut meski pertanyaan yang telah selesai di BAP sudah berjumlah lebih dari 50. Aku cuma ingin segera selesai, agar aku bisa segera berkumpul bersama kawan-kawan yang lain dan tidak dikurung sendirian lagi di ruang interogasi ini selama berhari-hari.
No comments:
Post a Comment