Kini tibalah saatnya seorang kambing hitam diseret menuju altar persembahan yang penuh amuk dan geram penyiksaan. Seorang kambing hitam itu cuma berpasrah diri pada Tuhannya. Hanya itu yang mampu dia lakukan. Dia harus mengalah dari segala perlakuan bengis, tanpa boleh menolak, atau mengelak, apalagi membalas perlakuan itu. Dia sendiri, tanpa seorang kawan yang mampu menyelamatkan dirinya dari kekerasan yang dibenarkan oleh kata ‘tugas’. Hanya dia sendirilah yang mampu menyelamatkan hidupnya, bersama doanya kepada Tuhannya.
Aku disuruh berdiri di taman kecil yang berada di pojok halaman ini. Lalu para intelejen satu persatu dari yang berpangkat kopral sampai sersan, mulai berpesta beramai-ramai; memotong rambutku yang gondrong dengan serampangan dan kasar, mengolok-olok aku, mencemooh aku, bahkan ada yang yang mengutukku sebagai anak cucu komunis. Mereka menertawakan ketakutanku. Mereka menjadi para jagoan di hadapanku. Ucap yang keluar dari mulut mereka adalah kebenaran yang tak boleh disangkal apalagi diprotes. Meski yang keluar dari mulut mereka adalah kata-kata meruntuhkan harkat kemanusiaan. Mereka berhak menghukum sesuka hati.
Setelah puas meluruhkan mentalku. Aku disuruh menuju ke tengah halaman yang beralas beton. Tubuhku yang setengah telanjang ini terasa terbakar oleh panasnya terik matahari. Belum lagi kedua telapak kakiku yang terasa dibakar akibat panasnya lantai beton ini. Aku disuruh mendongakkan kepalaku ke atas untuk menatap tajamnya sinar matahari. Kemudian salah seorang dari mereka memerintahkan kepadaku;
“Sekarang kamu baca Pancasila….!”
“Pancasila….”
“Hoi.., kurang keras…!”
“Pancasila…” Aku mulai menambah volume suaraku.
Buuukkk !!!
Seorang intelejen menendang perutku dengan sepatu lars-nya, sambil memarahiku;
“Kamu menghina Pancasila ya…! Ayo, yang keras…..!”
Akhirnya aku mengucapkan sila demi sila dengan sekeras mungkin. Meski kondisi tubuhku yang sakit sehabis operasi cabut gigi ini kian melemah. Mereka memperhatikan aku sambil tersenyum-senyum.
Tibalah saat aku harus mengucapkan sila keempat.
“Empat…! Permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmad ….”
Kengerian yang mengendap di jiwaku membuat aku sama sekali tak ingat sila keempat tersebut.
Buuuukkk !!! Buuuukkkk !!!
“PKI kamu….! Pancasila saja nggak hapal…!
Tendangan demi tendangan sepatu lars menghunjam perutku berulang-ulang, disertai kata-kata amarah, ketika berulang kali juga aku tak mampu mengucapkan kalimat sila kempat tersebut.
Belum lagi aku hapal sila keempat. Aku telah disuruh melagukan Padamu Negeri dengan suara keras dan lantang. Namun karena kondisiku yang sakit ini, aku sulit untuk bernyanyi dengan suara yang keras.
Buuuukkk !!!
Hunjaman sepatu lars itu kembali melayang ke tubuhku.
“Kamu ini……! Dibilang yang keras, ya yang keras….!”
Tak lama kemudian, dari balkon atas muncul seluruh kawan-kawanku yang menatap ke arahku, diantaranya; Rouf, Arindra, Ana, Ganjar, Brewok, dan beberapa yang lainnya.
Brewok pun segera berbicara dari balkon atas tersebut. Dia berkata-kata seolah sang brahmana menasehati umatnya yang berdosa, antara lain;
“David…, kita semua berdosa terhadap negara ini. Kita komunis. Kita malu terhadap orang tua kita. Kita malu terhadap keluarga kita. Kita malu terhadap orang-orang di kampung kita…….”
Setelah mendengarkan ‘kotbah’ dari Brewok, yang aku yakin bukan berasal dari hati kecilnya, kemudian seorang intelejen menyuruhku tidur terlentang di rerumputan taman kecil, tempat rambutku dicukur habis-habisan persis seperti maling ayam yang kepergok warga.
“Ayo buka matamu…! Lihat matahari itu…! Kalau matamu terpejam…, saya injak perutmu..!” bentak salah seorang dari mereka kepadaku.
Kuupayakan kedua mataku untuk terpejam menatap tajamnya sinar matahari yang seolah ingin membutakan aku.
“Jangan terpejam…! Kamu renungi kesalahanmu terhadap negaramu ini. Kesalahanmu sudah tidak dapat diampuni lagi…,” ucap intelejen tadi.
Kemudian aku disuruhnya lagi membaca sila demi sila Pancasila.
“Pancasila….”
“Ayo yang keras…!” bentak intelejen itu sambil menginjakkan sepatu larsnya ke perutku. Terpaksalah aku harus mengucapkan sila per sila itu dengan selantang mungkin.
Ternyata ketakutanku masih membuat aku tak hapal sila keempat.
No comments:
Post a Comment