SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

2 June 2008

Pesta Kekerasan Dan Penyiksaan Dimulai (4)

Malam mulai tiba, mungkin sekitar pukul 18.00. Aku masih tak tahu apa yang bakal terjadi denganku. Apakah aku akan segera diinterogasi ? Atau aku masih akan disiksa lagi? Ah…, membayangkan interogasi, sungguh sebuah kengerian. Aku tak pernah tahu apa yang namanya interogasi, dan seperti apa. Apalagi yang namanya interogasi militer… Jika kudengar dari cerita kawan-kawan atau di film-film perang, interogasi militer sungguh kejam.Tentunya semua orang tahu tentang hal tersebut. Pukulan, tendangan, kedua mata ditutupi dengan kain dan kedua tangan diikat di belakang kursi, apalagi sengatan listrik, semuanya adalah perilaku lazim bagi interogasi militer untuk memperoleh keterangan yang mereka inginkan. Ah..semoga itu tak terjadi pada diriku.

Belum habis harapanku barusan. Pintu kamar terbuka, masuklah seorang intelejen dengan wajah tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya. Melihat perawakannya, mungkin dia seusiaku, atau mungkin pula dia malah lebih muda dariku.

“Kamu kenal saya….?” Tanyanya mendekatiku.

Aku tak menjawab, karena aku masih bingung dengan apa yang dimaksud olehnya.

“Kenal saya…?”

“Kamu kenal saya…?”

Pertanyaan itu terus diulang-ulangnya. Aku semakin tak mengerti apa yang diinginkannya. Akhirnya aku hanya menjawab;

“Eh…mungkin…saya pernah tahu…., tapi mungkin saya lupa..”

“Saya tidak pernah punya teman seperti kamu…!” bentaknya dengan raut muka yang tiba-tiba berubah mirip iblis yang siap mencabut nyawaku. Aku pun tersentak kaget dibuatnya.

Tanpa menunggu lama, dia segera menjatuhkan pukulan dan tendangan berulang kali ke tubuhku yang kala itu masih duduk menyudutkan di kursi panjang.

Brrraaaaak !!! Buuuukkk !!! Brraaaaakkk !!

Kemudian dia berhenti menghajarku. Aku ambil napas panjang. Ah….ternyata aku masih bisa bernapas.

Dia menyuruhku berdiri. Aku pun berdiri berhadapan dengannya.

“Kamu di Jaker-nya kan…?! Kamu di keseniannya, kan….?!” Dia bertanya padaku sambil membentak-bentak.

Aku tak menjawab apa pun.

“Kenapa kamu ngurusin soal buruh, mau bubarkan Bakorstanas, nyabut Dwi Fungsi ABRI, apalagi sampai undang–undang politik segala…?!

Aku mencoba menjawabnya meski terbata-bata;

“Saya…eee..”

Belum selesai ucapanku,

Braaakk!!

Bruukkkk !!

Braakkk….bruuukkk….braaakkk….brruuuukkk…!!!

Di menghajarku habis-habisan. Kepalaku, perutku, dadaku, punggungku, pinggangku, menyeluruh sampai ke kakiku. Tak ada yang tersisa di tubuhku untuk menerima hajarannya. Tamparan kerasnya membuat kepalaku terhenyak ke kiri dan kanan. Betis-betis kakiku ditendanginya hingga kurasa untuk sulit berdiri bila aku terseok. Rahang dan lenganku ditinjunya dengan keras, hingga aku harus terhuyung ke kiri dan kadang ke kanan. Perutku dipukulnya dengan keras pula hingga aku tersodok ke arah belakang dan menimpa dinding. Tubuhku berpindah-pindah dari sudut tembok satu ke sudut tembok lainnya, karena pukulan dan tendangan lelaki tersebut. Tetapi aku berusaha untuk tidak terjerembab ke lantai. Aku pikir, jika aku sampai jatuh maka tubuhku akan lebih mudah diinjak-injak olehnya sampai hancur. Maka itulah kedua tanganku tetap kuusahakan menjadi perisai bagian depan tubuhku untuk melindungi daerah ulu hatiku. Meski aku telah tak mampu lagi membedakan antara gelap dan terang. Kupaksakan tubuhku untuk tetap berdiri.

“Kamu tahu dimana Herman…?!”

“Saya tidak tahu…., Pak”

“Kamu juga nggak tahu dimana Sardiyoko…?!

“Waktu….saya dengar…..kalau dia mau pulang….ke rumah orang tuanya, ya saya bilang… dia cepat pulang…..,” ucapku tersengal-sengal.

“Jadi kamu biarkan dia pulang……?!’

Ah..aku semakin tak tahu apa dia maksud…..

“Kenapa kamu biarkan dia pulang….?!”

Aku malas untuk menjawabnya.

“Kamu sekarang aja sudah nggak jujur sama saya, apalagi nanti kalau diperiksa….!”

Kembali lelaki itu menghantamku berulang-ulang, hingga aku terhuyung kesana kemari. Tinju dan tamparannya kian keras. Mungkin amarahnya kian memuncak lantaran aku diam tak menjawab pertanyaannya tadi. Atau mungkin dia berusaha untuk membuatku rubuh tanpa daya di lantai rusuh ini.

Samar-samar aku melihat seorang intelejen yang bertampang muda dengan badannya yang agak kurus. Lalu dia segera mengambil kursi plastik dan mengarahkannya padaku, sembari berkata;

“Kamu David Kris, kan…?!”

Kemudian dia pun segera meninggalkan aku. Dikemudian hari kuketahui bahwa lelaki yang barusan datang itu biasa dipanggil dengan nama Pak Waluyo.

No comments: