Sedangkan lelaki yang sejak tadi menghajarku habis-habisan, masihlah terus membantaiku dengan pukulan dan tendangannya.
Kemudian dia menghentikan hajarannya terhadapku.
Aku pun mengambil napas panjang lagi.
“Kamu sudah mencemarkan marga ‘Kris’…..!” bentaknya sembari untuk kesekian kalinya menghantamku berulang kali.
Aku sama sekali tak bisa menalar kenapa aku dipukul lagi habis-habisan hanya karena nama belakangku; ‘Kris’. Ternyata dikemudian hari barulah kuketahui bahwa lelaki muda itu bernama Krisnadi.
Aku tak tahu berapa jam, berapa menit, bahkan aku tak menghitung berapa ronde sudah dia menghajarku. Jika aku mengelak, dia akan semakin marah dan memperkeras hajarannya padaku.
“Sini kamu….!”
Aku pun berdiri dengan sikap yang kupaksakan untuk tegak. Posisiku kini berhadapan dengan dia.
“Angkat tanganmu….!”
Aku mengangkat kedua tanganku.
“Lagi…, kurang tinggi….!”
Aku pun mengangkat kedua tanganku setinggi yang dimintanya. Namun aku lupa, bahwa kini tepat di ulu hatiku tak bertameng dan bebas hambatan. Sebuah peluang emas yang tak mungkin dilewatkan olehnya.
Buuuuukkkkk !!!!!
Satu hunjaman kerasnya tepat mengenai daerah ulu hatiku.
Oooouuuuugh……
Aku pun menggeloyor jatuh ke lantai semen dengan lenguhan panjangku yang meregang kesakitan. Jatuhlah aku terjerembab. Saat itu aku ingin membalas pukulan dan tendangannya yang telah dihunjamkan terhadapku. Namun aku sadar bahwa itu adalah sebuah kekonyolan yang hanya akan mengantar aku pada kematian.
Lelaki itu segera meninggalkanku dengan senyum kepuasan, sebab dia telah berhasil membuatku rubuh, setelah begitu lama dia menghajarku habis-habisan.
“Keluar kamu…!”
Suara seseorang, entah siapa, menyuruhku untuk keluar dari ruang interogasi ini.
Aku merayap sembari memegangi bagian perutku yang masih sakit. Aku berupaya untuk berdiri. Meski terhuyung, akhirnya aku bisa berjalan keluar ruangan ini. Aku menghampiri seseorang yang berpakaian doreng. Lelaki ini setinggi aku, raut mukanya berkerut tampak kisar usianya lebih dari kepala tiga. Aku berdiri di hadapannya. Sempat aku melihat Agung (panggilan Agung Hardana, aku mengenal dia sebagai mahasiswa Univ. Wijaya Kusuma Surabaya) dan Ana yang berdiri di belakang lelaki ini. Pikiranku hanya satu; penyiksaan terhadapku belum selesai.
“Siapa namamu…?!” ucapnya tegas. Lelaki ini akhirnya kukenal dengan nama Pak Budiyono.
“David….Kris.., Pak…,” ucapku dengan lirih.
“Selamat datang…..!” ucapnya dengan nada tinggi sambil melayangkan tonjokkannya tepat di dada kiriku dengan kerasnya.
Buuuuukkkk !!!
Aku pun terlempar hampir 1 meter karenanya. Jarak tersebut yang bisa kuperkirakan, sebab aku memang terpental jauh dari hadapan Pak Budiyono. Aku pun tersungkur, dan semakin sakit untuk berdiri. Belum lagi aku sempat berdiri. Tendangan sepatu lars-nya yang besar dan berat, berulang kali mendarat di tubuhku. Aku mirip bola yang digiring menuju ke arah gawang lawan. Jika aku sempat berupaya untuk berdiri, kepalan tinjunya menohok kepalaku, sehingga aku harus jatuh kembali. Aku terseret jauh, mungkin sekitar 10 meter dengan giringan hantaman demi hantaman lelaki tersebut.
Sesampai di sudut ruang lantai atas ini, aku berdiri merapat ke jendela kaca, berhadapan dengan Pak Budiyono. Lelaki ini berulang kali meninju dahi kepalaku dari arah depan, sambil berkata-kata;
“Otakmu ini kotor…!”
“Otakmu ini harus dibersihkan dari kotoran-kotoran. Otakmu ini penuh pikiran jahat….!”
“Otakmu ini harus bersih lagi, supaya pikiran-pikiran komunis itu hilang dari otakmu….!
Tangan kanannya tak juga berhenti meninju jidatku.
Lalu aku disuruhnya untuk merangkak menuju kamar mandi yang jaraknya sekitar 20 meter dari tempatku berdiri tadi.
“Mandi…, bersihkan tubuhmu…!”
Pak Budiyono meletakkan sebuah tas plastik kecil di punggungku.
“Kalau sampai jatuh….. Saya hajar kamu…!”
“Itu kiriman Ibu-mu. Tadi Ibu-mu kesini. Ibu-mu sampai nangis-nangis. Kamu memang anak yang nggak tahu terima kasih. Orang tuamu menyekolahkan kamu susah-susah, kamu malah ikut-ikutan jadi komunis.”
Ah..Ibuku telah menjenguk aku. Semoga aku nggak menjadi cengeng karenanya. Aku harus tetap kuat melewati satu demi satu konsekwensi pahit ini.
No comments:
Post a Comment