SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

1 June 2008

Pesta Kekerasan Dan Penyiksaan Dimulai (3)

Ruangan ini cukup besar, kurang lebih berukuran 5 m x 3 m. Dinding bagian belakang terbuat dari batako berlubang sebesar bungkus korek api kecil. Dinding-dinding sekitarnya tampak kotor, menghitam, bahkan terdapat jejak tapak sepatu atau telapak tangan. Sebuah bangku panjang bersandar menyudut. Sebuah meja besar lagi panjang berdiri di tengah-tengah ruangan, dua buah mesin ketik kuno serta kotor duduk terpaku di atasnya. Di temani empat kursi plastik di sisi kiri kanannya. Kipas angin baling-baling yang besar menancap di langit-langit, dan sisi kiri kanannya bergantung lampu dop berdaya sekitar 25 watt yang sudah redup berdebu.

Aku duduk diam di bangku panjang. Kucoba menenangkan pikiran. Tapi tak bisa. Pikiran tentang Ibu terus menggumuli ruang otakku yang paling dalam. Aku bisa membayangkan pasti bahwa akan keluar berliter-liter air dari kedua mata beliau yang telah menua. Aku berusaha sebisaku untuk menepis semua itu, tetapi sia-sia. Aku tak bisa. Rasa takut itu tetap saja mencengkeram keberanianku. Terlintas pula bayangan buruk tentang; keluargaku yang yang histeris setelah mengetahui perihal diriku yang telah ditangkap oleh pihak aparat keamanan, ributnya warga di kampungku seusai mengetahui bahwa aku adalah salah satu ‘perusuh negara’, ‘pemecah persatuan’ , atau ‘pengikut komunisme’. Mungkin aku tak akan lagi pernah kembali ke rumahku. Aku teramat takut mengkhayal bisa bertemu lagi dengan orang-orang yang kucintai di rumah.

Dua orang intelejen memasuki ruangan ini. Seorang berpakaian doreng, yang seorang lagi berpakaian biasa (bukan doreng) dengan rambut yang gondrong menutupi kerah bajunya. Di kemudian hari kumengenal; bahwa yang berpakaian tentara biasa kupanggil dengan nama Pak Ali. Sedangkan yang berambut gondrong biasa kupanggil dengan nama Pak Budi Santoso.

Kedua intelejen tersebut berbicara lemah lembut denganku, layaknya seorang sahabat. Mereka sama sekali tak menampakkan permusuhan terhadap diriku. Salah satu dari mereka, menyodorkan rokok. Mereka ungkapkan pula keprihatinan mereka terhadap kejadian yang menimpa aku saat ini, bahwa aku terpaksa harus menjadi tahanan politik.

“Kamu cuma jadi korban hasutan Herman dan Sardiyoko. Saat ini mereka melarikan diri dan malah tidak bertanggung jawab. Mereka itu pengecut dan tidak ‘gentleman’. Kasihan kamu, sekarang kamu yang harus bertanggung jawab atas ulah mereka..”

Begitulah salah satu ucapan yang dikatakan oleh Pak Budi Santoso kepadaku.

Saat itu, sulit membedakan, apakah ini sebuah ungkapan kejujuran hati mereka? Atau mereka hanya sekedar menjalankan tugas untuk mendekatiku secara psikologis? Atau juga mereka memang berniat mengadu domba antara aku dengan kawan-kawan seperjuanganku. Jika ternyata dugaan terakhirku yang benar…, maka aku harus kuat agar tak mudah diadu domba. Bukankah segala pendidikan dan pengalaman perjuanganku selama ini tidak main-main. Maka, pengkhianatan tak boleh terlintas apalagi kutanamkan dalam benak pikiranku. Bagiku, pengkhianatan adalah sebuah kebodohan dalam ketakutan. Untuk itulah, saat itu aku hanya terdiam tanpa berkomentar apa-apa terhadap kedua intelejen itu. Merasa bahwa aku seolah tidak memperdulikan, maka mereka pun meninggalkan aku.

“Kamu nanti kalau memberikan keterangan kepada bapak-bapak yang memeriksa kamu, jangan berbelit-belit. Supaya mereka tidak marah dan kamu bisa cepat selesai . Kalau kamu cepat selesai, ya kamu bisa cepat pulang…..,” ucap Pak Ali kepadaku.

Aku sendirian lagi di ruang interogasi ini. Kulihat ke arah depan, pintu itu tertutup rapat. Ruangan ini telah menjadi penjara bagiku. Meski ia tanpa jeruji, tapi ia sama seramnya dengan sebuah sel, bahkan bisa jadi ia malah menyerupai keranda yang siap menghantarku ke liang kubur.

No comments: