SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

18 June 2008

Secarik Suratku dan Kiriman Ibu (3)

Pintu tak terkunci, kesempatan aku gunakan untuk bertemu kawan-kawanku yang lain, yang berada di ruang tak jauh dari ruangku. Aku mengendap-endap menuju ruang tempat kawan-kawanku disekap. Melihat kedatanganku, kawan-kawan sempat terperanjat. Bukankah masa interogasiku belum selesai, tapi kenapa aku sudah diperbolehkan meninggalkan ruangan interogasi ? Aku segera memanggil salah seorang kawanku; Agung Hardana. Bergegas aku mengajaknya untuk menuju ruanganku. Aku hendak menunjukkan kepadanya tentang catatan yang ketemukan di tumpukan berka-berkas BAP-ku. Setelah Agung membacanya, semakin jelas ketakutannya bahwa kami semua kelak akan dijebloskan satu persatu ke penjara Polwiltabes Surabaya. Lalu ia pun segera kembali ke ruangannya, untuk pula mengabarkan hal tersebut kepada kawan-kawan yang lain.

Aku kembali sendirian di ruanganku, dan kembali menantikan kedatangan para interogatorku. Tetapi hingga siang, petang dan menjelang malam. Sosok para interogatorku belum muncul juga. Ah, semoga harapanku benar adanya bahwa hari Minggu adalah juga hari libur interogasi.

Sekitar pukul 20.00, Pak Enos memasuki ruanganku. Lelaki berbadan besar ini mengajak aku untuk berbincang-bincang. Pak enos memulai pembicaraan tentang keadaan diriku dan keluargaku.

“Kau sudah tak punya bapak. Kau harapan ibumu. Sekarang kau malah membuat ibumu menderita,” ujar Pak Enos kepadaku.

Lelaki berdarah Batak ini pun mengharapkan agar setelah peristiwa yang menimpaku ini usai, aku harus segera mencari nafkah untuk meringankan beban keluarga. Pak Enos pun tak lupa menanyakan perihal sakit gigiku yang dulu, namun bagiku hal tersebut sudah lama tak terpikirkan olehku.

Aku pun memberitahukan pada Pak Enos bahwa aku ingin berkirim surat pada keluargaku. Pak Enos memperbolehka, asal dibacanya terlebih dulu. Aku segera memberikan surat tersebut kepadanya. Pak Enos membacanya dengan seksama, sembari menghisap dalam-dalam sebatang rokok Surya 12. Aku diam memperhatikannya.

“Kalau kau tulis bahwa di tempat ini kamu susah, pasti Ibumu akan semakin sedih ketika membaca suratmu ini. Sekarang ini Ibumu susah memikirkan kau, jangan kau tambahi lagi kesusahan Ibumu dengan suratmu ini….,” pesan Pak enos seusai membaca suratku tersebut.

Kemudian Pak Enos menyimpan surat tersebut di sela-sela tumpukan berkas-berkas BAP-ku, sembari berpesan padaku lagi; “Kau tulis lagi surat yang bagus, biar Ibumu senang. Jadi Ibumu tahu bahwa kau disini baik-baik saja. Saya dulu ketika perang, saya tulis surat pada keluarga bahwa saya baik-baik saja, supaya mereka tidak mengkhawatirkan saya. Padahal saya dalam perang hampir mati….”

Aku hanya manggut-manggut saja. Meski dalam hati terbersit bahwa aku tak akan menulis ulang surat itu bila isinya harus bertutur lain dengan apa yang sebenarnya kualami di ‘sel’ ini. Bukankah sama artinya aku membodohi diriku sendiri dan keluargaku.

Pak Enos pun mengakhiri pembicaraan ini.

“Ini, buat kau. Rokok-lah….,” ujar Pak Enos meninggalkan aku dengan meletakkan beberapa batang rokok Surya 12 di meja. Seperti biasanya pula, lelaki ini menyuruhku untuk segera tidur agar esok hari tidak lelah dalam menghadapi interogasi. Ah, ternyata harapanku terkabul, hari Minggu memang hari libur bagi interogasiku. Aku pun melewati malam dengan penuh ketenangan. Merebahkan diri di bangku panjang. Kunikmati menghisap sebatang rokok pemberian Pak Enos tadi, sembari mendengarkan riuh suara binatang malam. Perlahan kantukku mulai tiba. Aku pun segera pulas dalam tidur.

No comments: