Hari beranjak sampai Senin tanggal 26 Agustus 1996 dan aku melihat hitungan hariku di dinding telah berjumlah 7 garis vertikal, yang artinya aku telah sampai pada hari ke-7 di markas militer ini. Interogasi terhadapku masih berlanjut. Pertanyaan demi pertanyaan masih terus harus kujawab, meski telah mendekati hampir 100 pertanyaan. Kesemua pertanyaan itu masih berkisar tentang aktifitasku selama di SMID cabang Surabaya dan Jaker cabang Surabaya. Pada interogasi kali ini, aku dipaksa mengakui bahwa segala kegiatan seni yang digelar di Surabaya, penulisan poster dan spanduk, pembacaan puisi atau menyanyi lagu-lagu demonstrasi, serta pementasan teater rakyat; yang kesemuanya bermuatan politis atau mengkritik pemerintah adalah hasil kerjaku sebagai tokoh Jaker di Surabaya. Termasuk pula aku harus mengakui bahwa aku adalah tokoh dibalik ‘aksi corat-coret’ atau ‘grafiti action’ yang bertuliskan Gulingkan Soeharto di lokasi-lokasi umum beberapa waktu yang lalu. Demikian pula aku harus mengakui bahwa aku adalah otak yang menyebarkan slogan Rezim Orde Baru = Rezim Bar Bar di setiap poster-poster demonstrasi. Kesemua itu terpaksa aku akui, meski bukan aku pelakunya. Lantaran aku tak ingin menerima pukulan dan tendangan yang akan lebih menyakitkan.
Kala itu aku cuma bisa bertanya dalam pikirku; Kapankah tempat yang tak berkeadilan ini akan dilarang keberadaannya ? Aku tak boleh didampingi seorang pengacara pun, untuk membelaku saat aku dipaksa untuk mengakui perbuatan yang sama sekali tak kuperbuat. Aku hanya tahu pasti bahwa kata-kataku-lah yang mampu menyelamatkan nyawaku dari setiap amarah yang menyala di markas militer ini !
Saat petang datang menghampiri malam. Ada perubahan dalam interogasiku. Jika hari-hari sebelumnya, interogatorku hanya berjumlah tiga orang. Kini interogatorku berjumlah lima orang, yakni; Pak Enos, Pak Suryo, Pak Supriyadi, Pak Bakir, dan Pak Zainuddin. Mungkinkah interogasiku memasuki masa-masa yang lebih sulit bagiku, hingga interogatorku harus ditambah dua orang lagi. Sementara yang ku tahu bahwa semua kawan-kawanku hanya diinterogasi oleh tiga orang.
Masing-masing interogatorku itu memiliki karakter orang yang berbeda-beda. Pak Bakir lebih menunjukkan sikap yang sabar, meski dari kata-katanya tampak bahwa dia menyembunyikan kejengkelannya padaku. Hingga pernah dia berkata kepadaku; “Kamu mau dibikin kayak Marsinah….” Sedangkan Pak Suryo gemar bercanda, terlebih bila bercanda soal sensualitas perempuan dengan Pak Supriyadi. Namun terkadang Pak Suryo sempat mengeluarkan pistol revolver-nya yang diseka dengan sapu tangannya, di hadapanku. Entah apa maksudnya. Meski kini suasana di ruangan ini lebih tampak riuh, aku harus tetap waspada. Pikiranku tak boleh terbawa dengan suasana yang mereka ciptakan di hadapanku. Otakku harus tetap bolak-balik berputar, agar keterangan yang kuberikan tak membuat kelima orang itu meluapkan kemarahannya padaku. Aku pun berpura-pura larut dalam canda mereka. Bagiku, yang penting aku selamat dari kemarahan mereka.
Di sela-sela interogasi, Pak Zainuddin mengabarkan kepadaku bahwa Agung dan Ana telah dipulangkan. Siang tadi, dua kawanku tersebut telah dipulangkan ke rumah masing-masing. Terbersit rasa inginku untuk segera pulang ke rumah. Tentunya, malam ini dua kawanku tersebut telah berkumpul bersama keluarga mereka kembali. Menikmati makan malam bikinan Ibu mereka, dan merebahkan tubuh mereka sepuas-puasnya di kasur yang empuk.
Barulah di kemudian hari aku mengetahui bahwa sebenarnya ternyata Agung dan Ana, pada siang tanggal 26 Agustus 1996 itu, telah dikirim untuk dijebloskan dalam penjara Polwiltabes Surabaya.
Seperti biasanya, interogasiku berhenti sebelum pukul 24.00. Aku pun segera tidur untuk kembali mencoba meraih mimpi indah, meski sementara aku masih ada dalam cengkeraman mimpi buruk yang riil terjadi dalam kehidupanku.
No comments:
Post a Comment