SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

19 June 2008

Secarik Suratku dan Kiriman Ibu (5)

Pagi tanggal 27 Agustus 1996, seusai aku mandi pukul 6.00, aku hanya termenung sembari memandangi sekantung tas plastik yang berisi barang-barang kiriman Ibu. Kenapa sejak hari Rabu tanggal 21 Agustus 1996 lalu, hingga kini sudah lebih dari seminggu aku berada di markas militer ini, Ibu tak pernah lagi memberi kiriman kepadaku? Sejak hari Rabu minggu lalu, tak satu pun barang kiriman Ibu yang aku terima. Jangankan makanan atau pakaian, sebungkus rokok saja hanya sekali dikirimkan Ibu kepadaku. Aku jadi iba pada diriku sendiri. Mungkin Ibu sudah tak mau lagi mengurusi diriku. Mungkin juga Ibu malu memiliki anak yang menjadi ‘perusuh negara’. Atau mungkin Ibu berpikir bahwa aku sudah tinggal nama saja sehingga akan sia-sia bila Ibu bersusah payah memberikan kiriman kepadaku. Bukankah sejak aku ditangkap (hingga nanti aku meninggalkan markas militer ini), aku dan Ibu (kandung)ku tak boleh bertemu muka. Kami tak diperbolehkan saling melihat apalagi saling bicara. Wajar bila Ibu mengira aku sudah tewas di markas militer ini.

Kesemua ini hanya sebuah keinginanku untuk menerima luapan rasa rindu dari Ibuku. Seperti halnya kawan-kawanku yang lainnya, yang menerima kiriman dari orang tua mereka, bahkan masih diperbolehkan bertemu dan saling berbicara. Ganjar menerima kiriman 1 kardus rokok dan kue-kue yang enak. Agung dan Arindra, masih diperbolehkan saling melihat dengan orang tua mereka (walau hanya sekejab). Aku cuma bisa merasakan apa yang dialami mereka, tetapi aku tak pernah mengalami suka cita mereka, yakni menerima luapan kerinduan dari orang tua.

Di kemudian hari barulah kuketahui, dari keluargaku, bahwa ternyata hampir setiap hari keluargaku (baik Ibuku, maupun kakak perempuanku) mengirim barang atau sesuatu untuk diberikan kepadaku. Tak sedikit jumlah dan harga barang yang dikirimkan keluargaku untukku, seperti; celana jins yang belum sebulan kupakai, jaket tebal kesukaanku, kaos-kaos baru yang dibelikan oleh kakak perempuanku, makanan dan rokok 1 pak tiap harinya, dan masih banyak lagi. Kesemua itu dikirimkan untukku, melalui tentara yang bertugas piket di pos penjagaan, sebab memang begitulah peraturan di Deninteldam V/Brawijaya. Tetapi, semua itu tak satu pun yang tiba di tanganku. Semua kiriman keluargaku ‘sia-sia’ , menghilang setelah sampai di tangan petugas jaga di pos penjagaan. Pun suratku juga tak pernah sampai ke tangan keluarga dan harus 'disimpan' di Deninteldam V/Brawijaya.

No comments: