SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

7 July 2008

Hari-hari Seusai Masa Interogasi (3)

Waktu bergulir menuju hari Minggu tanggal 1 September 1996. Aktifitas kami tak jauh beda dengan hari kemarin. Kami tetap berolah raga, bekerja bersama untuk membersihkan setiap ruang demi ruang, mengepel lantai ruang depan, atau mencuci pakaian masing-masing, dan kemudian saling bicara dengan kawan-kawan sambil menunggu petang menjelang. Namun sebelum sore tiba, Pak Amari memangil kami semua untuk berkumpul di ruang yang terletak ujung barat. Kami semua diperintah Pak Amari untuk menuliskan semua nama-nama anggota PRD di Surabaya hingga Jawa Timur (baik mahasiswa, buruh, petani atau seniman), yang kami ketahui. Kami terpaksa menuliskan nama-nama kawan-kawan kami yang belum tertangkap itu dan masih menjadi buronan mereka.

Malam pun menjelang, dan kami bersepakat bersama untuk berdoa malam. Maka kami berenam ini pun berkumpul bersama di ruangan tempat Brewok berada. Brewok pun memimpin doa malam kami. Doa tersebut memohon kepada Tuhan agar berkenan untuk segera membebaskan kami dari tempat mengerikan ini. Apakah kami akan dipulangkan ke rumah, atau dipindahkan ke Polwiltabes Surabaya, itu tak jadi persoalan bagi kami. Terpenting bahwa kami bisa keluar meninggalkan tempat dimana kemarahan dan kekejian kapan pun akan tetap berlaku untuk diri kami. Semua ini kami serahkan pada Tuhan. Kemana pun kami dibawaNya, asal tidak lagi menginjakkan kaki di markas militer ini. Itulah tekad doa yang kami panjatkan penuh keheningan hati, tanpa gangguan seorang intelejen pun.

Setelah berdoa bersama, kami segera kembali ke ruang kami masing-masing. Tetapi seperti malam kemarin pula. Aku tak bisa segera tertidur pulas, seperti halnya Arindra atau Rouf. Di benakku tumbuh gelisah sekaligus keyakinan yang berani. Jika aku harus dipindahkan ke penjara Polwiltabes Surabaya, biarlah itu adalah sebuah resiko perjuangan yang harus aku lewati. Bukankah perjuangan bagi kaum tertindas bukan sebuah suka yang selalu mewarnai langkahnya, tetapi setiap luka yang selalu membekas sepanjang usia. Di Polwiltabes Surabaya adalah lebih baik ketimbang tempat ini. Aku yakin, di Polwiltabes Surabaya kelak, aku akan boleh didampingi pengacara, terutama aku boleh bertemu dengan keluargaku. Sangatlah berbeda jauh dengan apa yang kualami di Deninteldam V/Brawijaya ini.

Benakku yang masih sesak dengan galauan itu, justru membuatku terlena dalam tidurku.

Tibalah kini hari Senin tanggal 2 September 1996, aku merasa ada sesuatu yang berubah. Tak seperti hari biasanya. Paling tidak, kenapa kami tak disuruh bangun pagi dan kemudian berolah raga ?

Seusai kami satu persatu mandi, sekitar pukul 7.00, seorang intelejen bernama Pak Dwi menyuruhku dan kedua kawanku itu untuk turun ke lantai I menuju ruang administrasi. Kami disuruh Pak Dwi untuk menyelesaikan urusan administrasi di ruang tersebut. Seolah sebuah mimpi, tetapi tidak, ini kenyataan. Kami akan segera keluar dari perangkap ini.Saat itu, semua senyum yang menghiasi bibir kami, adalah sebuah senyum yang paling dan paling ceria di hari-hari selama kami di markas militer ini.

No comments: