Aku
bangun dari tidur malamku saat jam dinding di kamarku terlihat tepat delapan
pagi. Aku teringat teman-temanku di penjara, mungkin saat ini mereka sedang
piket dan telah apel pagi. Ah, semoga pula mereka pun bisa segera keluar dari
penjara itu.
Pagi ini, waktu yang bergulir jam
sembilan lebih, hanya kulalui dengan duduk di ruang tamu sembari menikmati
segelas teh hangat, dan memetik senar-senar gitar kayu-ku. Tetapi tak lama
kemudian, tanpa kusangka, satu persatu secara bergantian tetanggaku datang ke
rumahku. Mereka menjabat tanganku sebagai sambutan atas kedatanganku, sekaligus
menyampaikan rasa simpati mereka terhadapku. Aku mengucapkan terima kasih pada
mereka yang menyatakan salut atau simpati padaku. Aku bangga bercampur haru,
ternyata mereka tak turut ‘menghukum’ perjuanganku. Paling tidak, mereka tak
mudah dibodohi dengan black propaganda pemerintah, tentang perjuanganku
bersama PRD. Meski aku tetap yakin pula bahwa tentu ada beberapa tetanggaku
yang membenci perbuatanku dan menggangap aku tak ubahnya seorang PKI. Seperti halnya aku yakin bahwa penguasa bisa
membodohi beberapa orang dalam beberapa saat, tetapi tidak untuk semua orang dan
bukan untuk selamanya.
Ada yang membuatku terkesan saat
itu, yakni kedatangan anak-anak kampungku di rumahku. Kisar usia mereka antara
5 sampai 10 tahun. Rupanya mereka pun tak ingin ketinggalan hendak menyampaikan
kegembiraan mereka atas kembalinya aku di rumahku lagi. Bermula dari Wahyu,
yang masih bersekolah di Taman Kanak-kanak, yang kebetulan lewat depan rumahku.
Rupanya bocah gendut lagi besar itu mengetahui diriku, lalu segera berlari
menuju kerumunan permainan teman-teman sebayanya di ujung kampung ini, sambil
berteriak kegirangan;
“Hei rek, Mas David wis mulih (Hei teman, Mas David sudah pulang
)…….!”
Lalu aku pun melihat mereka yang
berjumlah sekitar tujuh bocah menuju rumahku, sambil tersenyum kecil
kegirangan. Bahkan beberapa dari mereka sempat menanyaiku, sampai aku
kebingungan menjawabnya;
“Mas David kok saiki gundul ( Mas
David kok sekarang gundul )….?”
Pertanyaan itu membuatku tersenyum.
Sungguh, aku tak bisa menjawab pertanyaan yang jujur itu. Mereka benar-benar
merasakan kegirangan menikmati pertemuan denganku lagi. Maka tak heranlah jika
akhirnya salah satu dari mereka pun bertanya padaku;
“Mas
David lunga nangdi ae, kok gak tau mulih (Mas David pergi kemana saja, kok
tidak pernah pulang)…?”
Aku pun harus menjawab setiap tanya
yang muncul dari rasa rindu mereka, walau aku memberikan jawaban sekenanya.
Terpenting mereka bisa puas mendengarnya. Sayang, mereka masih terlalu pagi
dalam usia, sehingga tak mampu memahami alur sejarah kelam negeri ini yang
kualami.
Kedekatanku dengan mereka selama
ini, rupanya telah menumbuhkan kerinduan bila aku terlalu lama menghilang
dari keseharian mereka.
No comments:
Post a Comment