SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

21 August 2008

BEBAS MENUJU PENJARA BESAR (3)


Hari kemudian yang terus kujalani di rumah, kuisi dengan bermain gitar sendiri, menyusun kliping pemberitaan media mengenai PRD dan sekaligus pula tentang diriku, pula tetap menjalani Walap (Wajib Lapor) di Polwiltabes Surabaya. Terutama aku harus sudi menuliskan kembali perjalanan mimpi burukku kala disekap dan ditahan aparat militer negara, ke dalam naskah mirip memoar. Meski sakit dan berbuah dendam bila mengingatnya kembali.
Aku pun sesekali pergi ke kampus, walaupun sesungguhnya aku enggan untuk melakukannya. Namun tak apalah, barangkali aku bisa berjumpa dengan kawan-kawan aktivis lagi. Aku sungguh merindukan kawan-kawanku yang dulu, para aktivis yang bersemangat dalam memperjuangkan rakyat yang tertindas. Rupanya harapanku cuma harapan, kemunculan kawan-kawanku belum kunjung tiba. Terpaksalah aku hanya berhubungan dengan kawan-kawanku yang bukan anggota PRD. Itupun tak banyak jumlahnya. Sementara kampusku ini kian membuatku muak. Ketenangannya, keceriaannya, gemerlapnya, telah menggilas kobaran api pergerakan yang dulu pernah menjadi kebesarannya. Tak ubahnya aku berada di sebuah mall atau plasa di kotaku.
Aku sangat merindukan kehadiran kawan-kawanku, terlebih kala aku sendiri sembari menikmati segelas kopi panas di kantin kampusku. Terbersit pertanyaanku yang ragu; mungkinkah aku bisa bertemu mereka lagi, dan tak pernah tercerai menghilang lagi ? Walau aku percaya bahwa perpisahan pun akan ada saat membuahkan perjumpaan.
(Hingga ssat naskah tulisan ini kuselesaikan, masih banyak kawan-kawanku yang tetap menghilang entah kemana)
            Inilah bagian dari sejarah gelap pergerakan kaum muda yang untuk kesekian kalinya dibinasakan. Sejarah pulalah yang kelak akan mempertemukan dalam sebuah tempaan perlawanan untuk menuntaskan cita-cita perjuangan yang belum usai. Masih banyak kawan-kawanku yang harus meringkuk di penjara dalam waktu hukuman yang lama dan memberatkan, karena sebuah skenario pengkokohan kekuasaan. Sementara juga aku yakin bahwa masih banyak pula kawan-kawanku yang terus bergerak pada perjuangan bawah tanah dalam penjara negara yang bertembok tirani.
            Aku yang telah berada di rumahku lagi, berkumpul kembali dengan orang-orang yang kucintai, dan semakin kuat kuat untuk tetap menjaga kesegaran nurani dan otakku agar tetap berpihak pada perjuangan membebaskan rakyat dari penindasan. Penjara bertembok sepuluh kali lipat pun tak akan mampu memenjarakan kata jiwa, menghancurkan bangunan idea, merampas asa pembebasan, apalagi menghabisi keyakinan akan sebuah kemenangan bagi rakyat. Yah, penjara tidak membuat aku bodoh. Aku, pula kawan-kawanku, akan tetap terus belajar tentang bagaimana perjuangan ini kelak akan mampu menyobek lembar sejarah kelam ini berubah menjadi lebih baru dan lebih baik bagi rakyat. Seiring pula dengan hilangnya mimpi-mimpi buruk yang ditimpakan negara terhadap rakyat, pula meraih bersama kemenangan rakyat yang bangkit bergelora di negeri yang tercinta ini.  

                                                                ---- SELESAI ----


No comments: