Hari
kemudian yang terus kujalani di rumah, kuisi dengan bermain gitar sendiri,
menyusun kliping pemberitaan media mengenai PRD dan sekaligus pula tentang
diriku, pula tetap menjalani Walap (Wajib Lapor) di Polwiltabes
Surabaya. Terutama aku harus sudi menuliskan kembali perjalanan mimpi burukku
kala disekap dan ditahan aparat militer negara, ke dalam naskah mirip memoar.
Meski sakit dan berbuah dendam bila mengingatnya kembali.
Aku pun sesekali pergi ke kampus, walaupun sesungguhnya aku enggan untuk
melakukannya. Namun tak apalah, barangkali aku bisa berjumpa dengan kawan-kawan
aktivis lagi. Aku sungguh merindukan kawan-kawanku yang dulu, para aktivis yang
bersemangat dalam memperjuangkan rakyat yang tertindas. Rupanya harapanku cuma
harapan, kemunculan kawan-kawanku belum kunjung tiba. Terpaksalah aku hanya
berhubungan dengan kawan-kawanku yang bukan anggota PRD. Itupun tak banyak
jumlahnya. Sementara kampusku ini kian membuatku muak. Ketenangannya,
keceriaannya, gemerlapnya, telah menggilas kobaran api pergerakan yang dulu
pernah menjadi kebesarannya. Tak ubahnya aku berada di sebuah mall atau plasa
di kotaku.
Aku sangat merindukan kehadiran kawan-kawanku, terlebih kala aku sendiri
sembari menikmati segelas kopi panas di kantin kampusku. Terbersit pertanyaanku
yang ragu; mungkinkah aku bisa bertemu mereka lagi, dan tak pernah tercerai
menghilang lagi ? Walau aku percaya bahwa perpisahan pun akan ada saat
membuahkan perjumpaan.
(Hingga ssat naskah tulisan ini kuselesaikan, masih banyak
kawan-kawanku yang tetap menghilang entah kemana)
Inilah bagian dari sejarah gelap
pergerakan kaum muda yang untuk kesekian kalinya dibinasakan. Sejarah pulalah
yang kelak akan mempertemukan dalam sebuah tempaan perlawanan untuk menuntaskan
cita-cita perjuangan yang belum usai. Masih banyak kawan-kawanku yang harus
meringkuk di penjara dalam waktu hukuman yang lama dan memberatkan, karena
sebuah skenario pengkokohan kekuasaan. Sementara juga aku yakin bahwa masih
banyak pula kawan-kawanku yang terus bergerak pada perjuangan bawah tanah dalam
penjara negara yang bertembok tirani.
Aku yang telah berada di rumahku
lagi, berkumpul kembali dengan orang-orang yang kucintai, dan semakin kuat kuat
untuk tetap menjaga kesegaran nurani dan otakku agar tetap berpihak pada
perjuangan membebaskan rakyat dari penindasan. Penjara bertembok sepuluh kali
lipat pun tak akan mampu memenjarakan kata jiwa, menghancurkan bangunan idea,
merampas asa pembebasan, apalagi menghabisi keyakinan akan sebuah kemenangan
bagi rakyat. Yah, penjara tidak membuat aku bodoh. Aku, pula kawan-kawanku,
akan tetap terus belajar tentang bagaimana perjuangan ini kelak akan mampu
menyobek lembar sejarah kelam ini berubah menjadi lebih baru dan lebih baik
bagi rakyat. Seiring pula dengan hilangnya mimpi-mimpi buruk yang ditimpakan
negara terhadap rakyat, pula meraih bersama kemenangan rakyat yang bangkit
bergelora di negeri yang tercinta ini.
---- SELESAI ----
---- SELESAI ----
No comments:
Post a Comment