SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

20 August 2008

KELIMA : BEBAS MENUJU PENJARA BESAR


Sesampai aku berada di rumah Pakde Didik, aku seolah seorang pengelana yang usai melakukan perjalanan jauh dan lama, sehingga berbagai suguhan dihidangkan untukku.
Aku segera berganti pakaian. Sejak keluar dari penjara tadi, aku hanya mengenakan celana pendek dan kaos hitam yang rada lusuh. Saat aku mengganti pakaian yang kukenakan, aku merasa bahwa berat badanku rupanya bertambah. Kurasakan celana jins yang kupakai ini terasa menghimpit perutku. Padahal ketika aku keluar dari Deninteldam V/Brawijaya, berat badanku menyusut sekitar 3 kilogram. Ah, ternyata di penjara malah membuat badanku gemuk.
            Sebenarnya keluarga Pakde Didik memintaku untuk tidur di rumahnya, malam ini, barulah esok pagi aku diantar pulang ke rumahku. Tetapi aku menolak, sebab aku sudah rindu dengan kampungku, rumahku dengan segala isinya, dan semua orang yang kucintai di sana. Untunglah mereka bisa memakluminya. Akhirnya sekitar pukul 10 malam, aku pun pulang bersama kakak perempuanku, dengan diantar oleh Pakde Didik dan Mas Budi.
            Sesampai di kampungku, kulihat kampungku tampak sepi, mungkin para penghuni kampungku ini sudah enggan keluar rumah dan lebih nikmat menonton acara televisi, atau lelap dalam tidur malam. Melangkahi setiap petak ubin cor kampungku adalah merasai pula setiap detak hidup yang pernah kulewati bersama kampungku. Tak terkecuali, saat aku dipaksa meninggalkannya pada tanggal 20 Agusutus 1996, untuk melewati rentetan mimpi buruk sejarah negeri ini.
            Tibalah aku di rumahku, yang terletak di tengah-tengah rentangan kampungku ini. Rupanya Ibu, dengan ditemani beberapa sanak saudara dan tetanggaku, telah menantikan kedatanganku. Tentunya Ibu-lah yang pertama kali menumpahkan kerinduan padaku. Barulah kemudian para saudaraku dan tetanggaku, yang beberapa diantara mereka ada yang memelukku, pula hanya menjabat tanganku. Sebentar saja, suasana di rumahku menjadi penuh suka dengan kisahku.
            Kamarku, ruangan inilah yang pertama kali kumasuki setelah aku menghirup udara di rumahku. Kamarku tidak berbeda jauh keadaannya seperti saat aku meninggalkannya. Hanay saja, tumpukan buku-buku dan lembaran berkas yang dulu menggunung, kini tak terlihat lagi. Tinggallah buku-buku cerita populer, novel pop, serta beberapa majalah populer. Mungkin memang ada yang sengaja memisahkan situasi bersahabat dengan bacaan-bacaan seputar aktifitasku dulu. Aku bisa memahaminya. Terlepas dari itu, kamarku jauh lebih bersih dan rapi. Ketimbang kala kutempati dulu.
             Lalu aku pun beranjak menuju dapur. Aku membuat kopi panas untuk menikmati seorang diri. Sebuah pekerjaan yang telah lama tak kulakukan, semenjak aku tidak lagi berada di rumahku ini.
            Sementara perbicangan antara aku dengan orang-orang yang kucintai, di ruang tamu ini, masih terus berlanjut hingga detak jam hampir menuju pukul 24.00. Ternyata tak beberapa lama kemudian, perbincangan ini pun usai dengan sendirinya. Masing-masing mulai berpamitan untuk menuntaskan malam ini dengan rasa kantuknya yang hendak dilelapkan. Begitu pun dengan aku, yang tak sabar lagi untuk segera merebahkan tubuh di kasur yang empuk dan bermimpi tentang kedamaian yang tak akan pernah dirampas lagi oleh kebiadaban orang-orang bodoh.

No comments: