Sesampai
aku berada di rumah Pakde Didik, aku seolah seorang pengelana yang usai
melakukan perjalanan jauh dan lama, sehingga berbagai suguhan dihidangkan
untukku.
Aku
segera berganti pakaian. Sejak keluar dari penjara tadi, aku hanya mengenakan
celana pendek dan kaos hitam yang rada lusuh. Saat aku mengganti pakaian yang
kukenakan, aku merasa bahwa berat badanku rupanya bertambah. Kurasakan celana
jins yang kupakai ini terasa menghimpit perutku. Padahal ketika aku keluar dari
Deninteldam V/Brawijaya, berat badanku menyusut sekitar 3 kilogram. Ah,
ternyata di penjara malah membuat badanku gemuk.
Sebenarnya keluarga Pakde Didik
memintaku untuk tidur di rumahnya, malam ini, barulah esok pagi aku diantar
pulang ke rumahku. Tetapi aku menolak, sebab aku sudah rindu dengan kampungku,
rumahku dengan segala isinya, dan semua orang yang kucintai di sana. Untunglah
mereka bisa memakluminya. Akhirnya sekitar pukul 10 malam, aku pun pulang
bersama kakak perempuanku, dengan diantar oleh Pakde Didik dan Mas Budi.
Sesampai di kampungku, kulihat
kampungku tampak sepi, mungkin para penghuni kampungku ini sudah enggan keluar
rumah dan lebih nikmat menonton acara televisi, atau lelap dalam tidur malam.
Melangkahi setiap petak ubin cor kampungku adalah merasai pula setiap detak
hidup yang pernah kulewati bersama kampungku. Tak terkecuali, saat aku dipaksa
meninggalkannya pada tanggal 20 Agusutus 1996, untuk melewati rentetan mimpi
buruk sejarah negeri ini.
Tibalah aku di rumahku, yang
terletak di tengah-tengah rentangan kampungku ini. Rupanya Ibu, dengan ditemani
beberapa sanak saudara dan tetanggaku, telah menantikan kedatanganku. Tentunya
Ibu-lah yang pertama kali menumpahkan kerinduan padaku. Barulah kemudian para
saudaraku dan tetanggaku, yang beberapa diantara mereka ada yang memelukku,
pula hanya menjabat tanganku. Sebentar saja, suasana di rumahku menjadi penuh
suka dengan kisahku.
Kamarku, ruangan inilah yang pertama
kali kumasuki setelah aku menghirup udara di rumahku. Kamarku tidak berbeda
jauh keadaannya seperti saat aku meninggalkannya. Hanay saja, tumpukan
buku-buku dan lembaran berkas yang dulu menggunung, kini tak terlihat lagi.
Tinggallah buku-buku cerita populer, novel pop, serta beberapa majalah populer.
Mungkin memang ada yang sengaja memisahkan situasi bersahabat dengan
bacaan-bacaan seputar aktifitasku dulu. Aku bisa memahaminya. Terlepas dari
itu, kamarku jauh lebih bersih dan rapi. Ketimbang kala kutempati dulu.
Lalu aku pun beranjak menuju dapur. Aku
membuat kopi panas untuk menikmati seorang diri. Sebuah pekerjaan yang telah
lama tak kulakukan, semenjak aku tidak lagi berada di rumahku ini.
Sementara perbicangan antara aku
dengan orang-orang yang kucintai, di ruang tamu ini, masih terus berlanjut
hingga detak jam hampir menuju pukul 24.00. Ternyata tak beberapa lama
kemudian, perbincangan ini pun usai dengan sendirinya. Masing-masing mulai
berpamitan untuk menuntaskan malam ini dengan rasa kantuknya yang hendak
dilelapkan. Begitu pun dengan aku, yang tak sabar lagi untuk segera merebahkan
tubuh di kasur yang empuk dan bermimpi tentang kedamaian yang tak akan pernah
dirampas lagi oleh kebiadaban orang-orang bodoh.
No comments:
Post a Comment