Kami pun sempat mengenal
sebuah acara ‘perkenalan’ bagi tahanan baru yang tanpa pukulan tetapi tetaplah
menyakitkan, yakni; “Manggung’.
“Manggung’ itu dikenal untuk
menyebutkan aktifitas seekor burung dalam sangkar yang berkicau dengan
merdunya. Begitu pula yang terjadi pada tahanan baru di penjara ini. Si tahanan
baru tersebut disuruh bergelayutan (dengan posisi jongkok) di rangkaian terali
penjara baris ketiga setinggi kurang lebih 1,5 meter . Kedua kaki bertumpu pada
rangkaian terali tersebut. Ini harus dilakukan dalam hitungan waktu sekitar 10
jam, dan hanya boleh turun untuk beristirahat saat makan atau buang air. Tetapi
biasanya, tak lebih dari 2 jam, tubuh para tahanan tersebut telah jatuh dari
‘manggung’nya.
Gedubraaakkk !!!
Tubuh si tahanan baru
tersebut terdengar telah jatuh kelelahan, mirip nangka yang jatuh dari
pohonnya. Jika tahanan baru berjumlah tiga orang, maka ketiga-tiganya akan
menjalani ‘manggung’. Hukuman ini bisa ditiadakan, dengan syarat harus membayar
sejumlah uang kepada para petugas jaga melalui negosiasi kepala blok. Sementara
kami, biasanya hanya mampu melihat dan terkadang sesekali memberi air minum
pada si tahanan baru yang sedang ‘manggung’ tersebut. Meski toh tubuhnya cepat
atau lambat akan tumbang juga ke tanah.
Semua kekerasan yang terjadi
dalam penjara ini, adalah sebuah peristiwa ‘wajar’ yang hampir setiap hari ada
di depan mata kami. Mau tak mau kami memang harus menyaksikannya dan nurani
kami pun harus bergetar lagi. Jika kami tak melihat, telinga pun tak bisa
ditipu ketika mendengar mendengar jeritan kata ‘ampun’ atau ‘aduh’. Aku berpikir dalam renungku, mungkin bila
seseorang terlalu sering menonton acara perkenalan’ tersebut, bukan tidak
mungkin jika sedikit demi sedikit akan terkikis habis rasa iba di hati terhadap
sesama, sebab kekerasan telah menjadi mirip sebuah sarapan pagi yang harus
dinikmati setiap hari. Aku dan kawan-kawanku (para tahanana kasus PRD) memang tak ditimpakan
hukuman semacam itu, tetapi kami bisa merasakan sakit dan pedihnya kekerasan
itu. Sebab kami pun pernah mengalami di Deninteldam V/Brawijaya. Bahkan mungkin
kekrasan yang kami terima selama di jaringan Bakorstanasda Jatim itu lebih
hebat ketimbang kekerasan yang terjadi di dalam penjara ini.
Tetapi dibalik semua itu, aku
masih melihat di mata mereka bahwa sebenarnya ada kebencian dan dendam mereka
pada para polisi yang sewenang-wenang menghukum para tahanan. Namun mereka tak
bisa berbuat banyak atas kebencian dan dendam itu, sehingga hanya dipendam.
Entah sampai kapan pendaman itu dikubur, meski akan meluap keluar juga pada
akhirnya.
Penjara ini mengenalkan aku
pada sebuah balada tentang mereka semua. Ada kesunyiannya, ada kegelisahan, ada
kebersamaan yang menghibur, dan kemarahan yang keras. Balada ini ibarat
buah-buah catur yang merupakan satu-satunya permainan milik orang-orang tahanan
di penjara Polwiltabes Surabaya. Setiap hari pula catur tersebut mengisi waktu
kami semua di penjara ini, setiap hari itu pulalah balada kami tercipta dengan
sendirinya. Balada ini pula yang akhirnya kukenal dengan akrab, bak sahabat
yang tak ingin pulang.
No comments:
Post a Comment