SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

9 August 2008

Mengenal Balada Orang-orang Tahanan (5)


Kami pun sempat mengenal sebuah acara ‘perkenalan’ bagi tahanan baru yang tanpa pukulan tetapi tetaplah menyakitkan, yakni; “Manggung’.
“Manggung’ itu dikenal untuk menyebutkan aktifitas seekor burung dalam sangkar yang berkicau dengan merdunya. Begitu pula yang terjadi pada tahanan baru di penjara ini. Si tahanan baru tersebut disuruh bergelayutan (dengan posisi jongkok) di rangkaian terali penjara baris ketiga setinggi kurang lebih 1,5 meter . Kedua kaki bertumpu pada rangkaian terali tersebut. Ini harus dilakukan dalam hitungan waktu sekitar 10 jam, dan hanya boleh turun untuk beristirahat saat makan atau buang air. Tetapi biasanya, tak lebih dari 2 jam, tubuh para tahanan tersebut telah jatuh dari ‘manggung’nya.
Gedubraaakkk !!!
Tubuh si tahanan baru tersebut terdengar telah jatuh kelelahan, mirip nangka yang jatuh dari pohonnya. Jika tahanan baru berjumlah tiga orang, maka ketiga-tiganya akan menjalani ‘manggung’. Hukuman ini bisa ditiadakan, dengan syarat harus membayar sejumlah uang kepada para petugas jaga melalui negosiasi kepala blok. Sementara kami, biasanya hanya mampu melihat dan terkadang sesekali memberi air minum pada si tahanan baru yang sedang ‘manggung’ tersebut. Meski toh tubuhnya cepat atau lambat akan tumbang juga ke tanah.
Semua kekerasan yang terjadi dalam penjara ini, adalah sebuah peristiwa ‘wajar’ yang hampir setiap hari ada di depan mata kami. Mau tak mau kami memang harus menyaksikannya dan nurani kami pun harus bergetar lagi. Jika kami tak melihat, telinga pun tak bisa ditipu ketika mendengar mendengar jeritan kata ‘ampun’ atau ‘aduh’.  Aku berpikir dalam renungku, mungkin bila seseorang terlalu sering menonton acara perkenalan’ tersebut, bukan tidak mungkin jika sedikit demi sedikit akan terkikis habis rasa iba di hati terhadap sesama, sebab kekerasan telah menjadi mirip sebuah sarapan pagi yang harus dinikmati setiap hari. Aku dan kawan-kawanku (para  tahanana kasus PRD) memang tak ditimpakan hukuman semacam itu, tetapi kami bisa merasakan sakit dan pedihnya kekerasan itu. Sebab kami pun pernah mengalami di Deninteldam V/Brawijaya. Bahkan mungkin kekrasan yang kami terima selama di jaringan Bakorstanasda Jatim itu lebih hebat ketimbang kekerasan yang terjadi di dalam penjara ini. 
Tetapi dibalik semua itu, aku masih melihat di mata mereka bahwa sebenarnya ada kebencian dan dendam mereka pada para polisi yang sewenang-wenang menghukum para tahanan. Namun mereka tak bisa berbuat banyak atas kebencian dan dendam itu, sehingga hanya dipendam. Entah sampai kapan pendaman itu dikubur, meski akan meluap keluar juga pada akhirnya.
Penjara ini mengenalkan aku pada sebuah balada tentang mereka semua. Ada kesunyiannya, ada kegelisahan, ada kebersamaan yang menghibur, dan kemarahan yang keras. Balada ini ibarat buah-buah catur yang merupakan satu-satunya permainan milik orang-orang tahanan di penjara Polwiltabes Surabaya. Setiap hari pula catur tersebut mengisi waktu kami semua di penjara ini, setiap hari itu pulalah balada kami tercipta dengan sendirinya. Balada ini pula yang akhirnya kukenal dengan akrab, bak sahabat yang tak ingin pulang.


No comments: