SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

6 August 2008

Mengenal balada Orang-orang Tahanan


Penjara ini banyak mengajarkan dan mendidik aku untuk mengenal sebuah pengalaman besar, tentang hidup dalam segala keterbatasan yang sebenarnya batas-batas itu dibuat oleh si pemilik kekuasaan. Ternyata hidup di negara ini sungguh mengerikan. Siapa pun, tak perduli yang berbuat benar atau salah, bisa sewaktu-waktu dijebloskan dalam penjara. Semua tergantung pada siapa yang mengendalikan kekuasaan. Itulah kenapa di penjara ini, yang kutemukan adalah mereka yang dilumpuhkan dan dikalahkan secara sosial, ekonomi, hingga politik. Mereka itulah penghuni sejati kamar-kamar berterali besi ini.
Tak ada penjahat dalam penjara, sebab tak seorang pun yang dilahirkan untuk menjadi penjahat. Tetapi semua ini disebabkan karena mereka telah bosan dengan model hidup di negara ini. Makan susah, cari kerja sulit, jika sudah dapat kerja digaji kecil, sekolah tak punya biaya, ingin tidur takut digusur, jualan di jalan diobrak-abrik aparat, dan masih banyak lagi yang dialami. Sementara di depan mata bertebaran kemewahan yang mengejek terus melaju tanpa menoleh sedikit pun pada yang tertinggal di belakang. Banyak dari mereka yang merasa ikut membangun masa depan bangsa ini, tapi tak memperoleh kesempatan sedikitpun untuk mecicipi apalagi untuk menikmati. Mereka hanya bisa makan janji dan kenyang terhadap program pemerintah. Mereka dendam atas kekalahan ini. Mereka menjadi bengis, berubah liar dan menakutkan. Meski jauh di dasar imajinya ada kerinduan sebuah tatanan masyarakat yang sejahtera dan makmur  bagi semuanya.
Aku mengenal mereka dengan baik. Sama halnya aku mengenal setiap ruang penjara blok A ini dengan baik. Penjara di blok A ini terdiri 7 kamar, tetapi hanya 6 kamar saja yang difungsikan. Masing-masing kamar terdiri dari dipan besar dan satu kamar mandi (namun tak bisa digunakan). Lalu penjara ini pun memiliki sebuah ruang tengah yang lapang untuk apel dan juga digunakan untuk bergerombol duduk menonton acara televisi. Kemudian juga terdapat sebuah ruang mirip lorong panjang untuk olah raga atau duduk berkumpul mendengarkan ceramah Jum’at bahkan berguna pula sebagai tempat nongkrong dan tidur para tahanan. Lorong ini berakhir pada sebuah kamar mandi utama yang letaknya persis di depan teras kamar nomor 7. Ada pun di sebelah kanan kamarku, terdapat kamar kosong tempat penyimpanan barang, atau lebih tepatnya gudang.
Menurut beberapa cerita para tahanan. Penjara ini pun memiliki misteri. Pada blok A, misteri tersebut terletak di kamar nomor 7, kamar paling ujung. Konon, seorang tahanan perempuan pernah tewas bunuh diri di kamar tersebut. Tahanan perempuan yang tewas itu disebut dengan panggilan Ida Ayu Komang. Hampir semua tahanan di blok A ini pernah melihat ‘keanehan’ yang terjadi di kamar nomor 7 ini. Tak terkecuali aku. Pada sebuah siang, aku sedang buang besar di wc kamar nomor 7, sebab hanya wc di kamar itulah yang bisa digunakan. Mendadak aku melihat keanehan, yakni; botol-botol plastik kosong yang tadinya berserakan di lantai, kini beterbangan dengan suara riuh dibarengi dengan kayu-kayu dipannya yang bergerak gaduh. Semua itu tak pernah kutahu sebabnya. Sementara di blok B pun memilik misteri, yakni sebuah sumur pompa. Konon, sumur pompa tersebut mencurahkan ‘air ajaib’ . Siapa pun, para tahanan, yang terluka sampai parah sekalipun akibat hajaran para polisi, bila diguyur dengan air dari sumur pompa tersebut maka tak lebih dari dua hari, semua lukanya akan sembuh tanpa bekas sedikit pun dan kembali sehat seperti sedia kala. Itulah misteri yang pula kukenal sebagai sebuah nuansa dalam penjara ini.

No comments: