Penjara ini banyak
mengajarkan dan mendidik aku untuk mengenal sebuah pengalaman besar, tentang
hidup dalam segala keterbatasan yang sebenarnya batas-batas itu dibuat oleh si
pemilik kekuasaan. Ternyata hidup di negara ini sungguh mengerikan. Siapa pun,
tak perduli yang berbuat benar atau salah, bisa sewaktu-waktu dijebloskan dalam
penjara. Semua tergantung pada siapa yang mengendalikan kekuasaan. Itulah
kenapa di penjara ini, yang kutemukan adalah mereka yang dilumpuhkan dan
dikalahkan secara sosial, ekonomi, hingga politik. Mereka itulah penghuni
sejati kamar-kamar berterali besi ini.
Tak ada penjahat dalam
penjara, sebab tak seorang pun yang dilahirkan untuk menjadi penjahat. Tetapi
semua ini disebabkan karena mereka telah bosan dengan model hidup di negara
ini. Makan susah, cari kerja sulit, jika sudah dapat kerja digaji kecil,
sekolah tak punya biaya, ingin tidur takut digusur, jualan di jalan
diobrak-abrik aparat, dan masih banyak lagi yang dialami. Sementara di depan
mata bertebaran kemewahan yang mengejek terus melaju tanpa menoleh sedikit pun
pada yang tertinggal di belakang. Banyak dari mereka yang merasa ikut membangun
masa depan bangsa ini, tapi tak memperoleh kesempatan sedikitpun untuk mecicipi
apalagi untuk menikmati. Mereka hanya bisa makan janji dan kenyang terhadap
program pemerintah. Mereka dendam atas kekalahan ini. Mereka menjadi bengis,
berubah liar dan menakutkan. Meski jauh di dasar imajinya ada kerinduan sebuah
tatanan masyarakat yang sejahtera dan makmur
bagi semuanya.
Aku mengenal mereka dengan
baik. Sama halnya aku mengenal setiap ruang penjara blok A ini dengan baik.
Penjara di blok A ini terdiri 7 kamar, tetapi hanya 6 kamar saja yang
difungsikan. Masing-masing kamar terdiri dari dipan besar dan satu kamar mandi
(namun tak bisa digunakan). Lalu penjara ini pun memiliki sebuah ruang tengah
yang lapang untuk apel dan juga digunakan untuk bergerombol duduk menonton
acara televisi. Kemudian juga terdapat sebuah ruang mirip lorong panjang untuk
olah raga atau duduk berkumpul mendengarkan ceramah Jum’at bahkan berguna pula
sebagai tempat nongkrong dan tidur para tahanan. Lorong ini berakhir pada
sebuah kamar mandi utama yang letaknya persis di depan teras kamar nomor 7. Ada
pun di sebelah kanan kamarku, terdapat kamar kosong tempat penyimpanan barang,
atau lebih tepatnya gudang.
Menurut beberapa cerita para
tahanan. Penjara ini pun memiliki misteri. Pada blok A, misteri tersebut
terletak di kamar nomor 7, kamar paling ujung. Konon, seorang tahanan perempuan
pernah tewas bunuh diri di kamar tersebut. Tahanan perempuan yang tewas itu
disebut dengan panggilan Ida Ayu Komang. Hampir semua tahanan di blok A ini
pernah melihat ‘keanehan’ yang terjadi di kamar nomor 7 ini. Tak terkecuali
aku. Pada sebuah siang, aku sedang buang besar di wc kamar nomor 7, sebab hanya
wc di kamar itulah yang bisa digunakan. Mendadak aku melihat keanehan, yakni;
botol-botol plastik kosong yang tadinya berserakan di lantai, kini beterbangan
dengan suara riuh dibarengi dengan kayu-kayu dipannya yang bergerak gaduh.
Semua itu tak pernah kutahu sebabnya. Sementara di blok B pun memilik misteri,
yakni sebuah sumur pompa. Konon, sumur pompa tersebut mencurahkan ‘air ajaib’ .
Siapa pun, para tahanan, yang terluka sampai parah sekalipun akibat hajaran
para polisi, bila diguyur dengan air dari sumur pompa tersebut maka tak lebih
dari dua hari, semua lukanya akan sembuh tanpa bekas sedikit pun dan kembali
sehat seperti sedia kala. Itulah misteri yang pula kukenal sebagai sebuah
nuansa dalam penjara ini.
No comments:
Post a Comment