SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

8 August 2008

Mengenal Balada Orang-orang Tahanan (3)


Pernah suatu kali (aku tak ingat kapan tepatnya) terjadi peristiwa yang ‘tak adil’ bagi kami para tahanan di penjara ini. Saat itu waktu beranjak melewati pukul 24.00. Tiba-tiba dalam tidur lelap kami semu terganggu oleh suara bentakan yang keras dari luar penjara.
“Apel…! Apel…! Apel…!”
Sontak seluruh isi penjara ini bagai dikejar hantu, berlarian pontang-panting menuju ruang depan. Kenapa ‘apel’ dilakukan dini hari ? Ada apa ini ? Semua tahanan bertanya-tanya.
Para tahanan segera melakukan apel, lalu absen satu persatu seperti biasanya. Seusai para tahanan di blok A ini melakukan absen, seorang polisi bertubuh tinggi dan kurus dengan wajah merah memucat, memandangi kami semua yang sedang berjongkok sambil menahan kantuk.
“Mana seragammu….?!!” Bentaknya terhadap salah seorang yang berada di baris terdepan.
Ternyata Rizal yang dibentak olehnya.
“Eee..seragamnya nggak ada, Pak…Seragamnya memang nggak cukup, Pak,” ujar Nadi mencoba menenangkan suasana dan berusaha melindungi Rizal.
Sementara kami, yang tak memakai seragam ‘tahanan Polwiltabes’ segera berhamburan lari mencari seragam seadanya. Entah kenapa, yang tak berseragam hanya kami para tahanan kasus PRD. Mungkin karena seragamnya memang habis atau nggak cukup, seperti yang diucapkan Nadi.  Mungkin memang kami tak perlu memakai seragam sebab sejak awal kami masuk dalam penjara ini tak pernah ditegur soal seragam, dan pula kami bukanlah tahanan kriminal.
Masalahnya sekarang, polisi tua yang berkepala hampir gundul tersebut tiba-tiba membentak-bentak tanpa alasan yang pasti.
“Kamu mentang-mentang PRD, ya…?!”
“Jangan mentang-mentang kamu di sini….!!!” bentaknya lagi. Kini bola-bola matanya tampak berair kemerahan. Kami semua diam tanpa banyak bicara.
“Saya juga punya anak mahasiswa. Tapi nggak seperti kalian. Saya juga bisa menembak kalian malam ini juga, kalau saya mau…!!”
Berbagai kata-kata kasarnya diludahkan kepada kami para tahanan politik, khususnya di Blok A ini. Tak mengerti apa maksudnya, dan juntrungannya. Sementara blok B masih menunggu giliran untuk segera dicaci maki olehnya.
Akhirnya, kami semua di blok A ini disuruhnya bubar. Tetapi rupanya di blok B belum dibubarkan. Kini giliran kawan-kawan; Trio, Wiwin, Brewok, dan Arindra (saat itu Icha dan Ana dipindahkan ke ruang URC, sebab kamarnya direnovasi); yang didamprat habis-habisan oleh poli tua yang kalap itu.
Kawan-kawan di blok A segera tak habis membicarakan kelakuan gila polisi tua tersebut. Kami semua pun telah sepakat untuk saling membantu bila terjadi sesuatu terhadap salah satu dari para tahanan di blok A ini, akibat ulah polisi tua tersebut.
“Tenang saja… dia mabuk. Matanya kelihatan merah dan mulutnya bau alkohol,” ujar salah seorang dari kami.
Tak berapa lama, polisi tua itu masuk ke blok A. Dia menghampiri kamar kami, para tahanan politik. Tampaknya dia belum puas memaki-maki kami.
“Kalian lihat tadi di blok B, kawan-kawanmu sok PRD semua. Apa dikira saya takut sama kalian. Lihat, saya akan suruh mereka untuk memukuli kalian….!”
Kemarahannya semakin menjadi-jadi, dan akhirnya merembet kepadaku yang saat itu sedang memegang rokok yang menyala.
“Hei, kamu dapat korek api darimana….?!”
Aku terdesak oleh kemarahannya yang meluap-luap keras. Aku tak bisa mengelak, dan akhirnya aku berikan padanya korek api batangan yang kusembunyikan di kamar mandi. Dia semakin marah padaku. Aku pun dihukum untuk ‘jongkok-lompat’ sebanyak 50 kali.
“Hei, nanti kalau dia sudah selesai. Pukuli ramai-ramai….!” Ucapnya kepada para tahanan yang lain sambil menuding aku.
Tetapi para tahanan tersebut justru memandang marah kepada polisi tua tersebut, bukan kepadaku. Mereka tak mau menuruti perintah nggak masuk akal itu. Mereka malah membantuku, dengan memanipulasi penghitungan gerakanku sekitar 23 kali, sehingga aku tak melakukannya sebanyak 50 kali.
Setelah aku selesai melakukan hukuman polisi tua itu, Nadi dan Ali menyuruh untuk segera masuk kamar. Tetapi aku masih meragukan ide mereka.
“Sudahlah, kamu masuk kamar saja…. Kalau dia sampai memaksa kami untuk memukuli kamu, maka kami semua kompak akan ramai-ramai memukuli dia….”
Aku pun segera masuk kamar setelah Nadi memberiku jaminan itu.
Kemarahan polisi tua itu masih berkobar. Dia memerintahkan kami semua, penghuni blok A dan B, untuk kerja bakti; membersihkan selokan, memberishkan sampah, menimba air, hingga mengepel lantai. Itu semua kami lakukan pada sekitar pukul 2.00. Bersamaan dengan kepergian polisi tua itu meninggalkan penjara ini. Perintah seorang polisi tua yang sungguh tak waras.
Akhirnya kami mengetahui bahwa polisi tua itu bernama Soegiono yang berpangkat Letnan Satu.
Peristiwa itu sempat membuat kami yang berada di blok A, menuduh kawan-kawan di blok B yang membentuk kebencian para petugas jaga  terhadap para tahanan kasus PRD, Salah satu tuduhan tersebut kami arahkan pada Trio. Namun untunglah akhirnya bisa kami sadari bersama bahwa peristiwa tersebut tetaplah sebuah kesewenang-wenangan polisi terhadap para tahanan (baik tahanan politik mau pun kriminal). Akhirnya kami adukan peristiwa kepada pengacara kami, yang saat itu diterima oleh Pak Trimoelja.

No comments: