Pernah suatu kali (aku tak
ingat kapan tepatnya) terjadi peristiwa yang ‘tak adil’ bagi kami para tahanan
di penjara ini. Saat itu waktu beranjak melewati pukul 24.00. Tiba-tiba dalam
tidur lelap kami semu terganggu oleh suara bentakan yang keras dari luar
penjara.
“Apel…! Apel…! Apel…!”
Sontak seluruh isi penjara
ini bagai dikejar hantu, berlarian pontang-panting menuju ruang depan. Kenapa
‘apel’ dilakukan dini hari ? Ada apa ini ? Semua tahanan bertanya-tanya.
Para tahanan segera melakukan
apel, lalu absen satu persatu seperti biasanya. Seusai para tahanan di blok A
ini melakukan absen, seorang polisi bertubuh tinggi dan kurus dengan wajah
merah memucat, memandangi kami semua yang sedang berjongkok sambil menahan
kantuk.
“Mana seragammu….?!!”
Bentaknya terhadap salah seorang yang berada di baris terdepan.
Ternyata Rizal yang dibentak
olehnya.
“Eee..seragamnya nggak ada,
Pak…Seragamnya memang nggak cukup, Pak,” ujar Nadi mencoba menenangkan suasana
dan berusaha melindungi Rizal.
Sementara kami, yang tak
memakai seragam ‘tahanan Polwiltabes’ segera berhamburan lari mencari seragam
seadanya. Entah kenapa, yang tak berseragam hanya kami para tahanan kasus PRD.
Mungkin karena seragamnya memang habis atau nggak cukup, seperti yang diucapkan
Nadi. Mungkin memang kami tak perlu
memakai seragam sebab sejak awal kami masuk dalam penjara ini tak pernah
ditegur soal seragam, dan pula kami bukanlah tahanan kriminal.
Masalahnya sekarang, polisi
tua yang berkepala hampir gundul tersebut tiba-tiba membentak-bentak tanpa
alasan yang pasti.
“Kamu mentang-mentang PRD,
ya…?!”
“Jangan mentang-mentang kamu
di sini….!!!” bentaknya lagi. Kini bola-bola matanya tampak berair kemerahan.
Kami semua diam tanpa banyak bicara.
“Saya juga punya anak
mahasiswa. Tapi nggak seperti kalian. Saya juga bisa menembak kalian malam ini
juga, kalau saya mau…!!”
Berbagai kata-kata kasarnya
diludahkan kepada kami para tahanan politik, khususnya di Blok A ini. Tak
mengerti apa maksudnya, dan juntrungannya. Sementara blok B masih menunggu
giliran untuk segera dicaci maki olehnya.
Akhirnya, kami semua di blok
A ini disuruhnya bubar. Tetapi rupanya di blok B belum dibubarkan. Kini giliran
kawan-kawan; Trio, Wiwin, Brewok, dan Arindra (saat itu Icha dan Ana
dipindahkan ke ruang URC, sebab kamarnya direnovasi); yang didamprat
habis-habisan oleh poli tua yang kalap itu.
Kawan-kawan di blok A segera
tak habis membicarakan kelakuan gila polisi tua tersebut. Kami semua pun telah
sepakat untuk saling membantu bila terjadi sesuatu terhadap salah satu dari
para tahanan di blok A ini, akibat ulah polisi tua tersebut.
“Tenang saja… dia mabuk.
Matanya kelihatan merah dan mulutnya bau alkohol,” ujar salah seorang dari
kami.
Tak berapa lama, polisi tua
itu masuk ke blok A. Dia menghampiri kamar kami, para tahanan politik.
Tampaknya dia belum puas memaki-maki kami.
“Kalian lihat tadi di blok B,
kawan-kawanmu sok PRD semua. Apa dikira saya takut sama kalian. Lihat, saya
akan suruh mereka untuk memukuli kalian….!”
Kemarahannya semakin
menjadi-jadi, dan akhirnya merembet kepadaku yang saat itu sedang memegang
rokok yang menyala.
“Hei, kamu dapat korek api
darimana….?!”
Aku terdesak oleh
kemarahannya yang meluap-luap keras. Aku tak bisa mengelak, dan akhirnya aku
berikan padanya korek api batangan yang kusembunyikan di kamar mandi. Dia
semakin marah padaku. Aku pun dihukum untuk ‘jongkok-lompat’ sebanyak 50 kali.
“Hei, nanti kalau dia sudah
selesai. Pukuli ramai-ramai….!” Ucapnya kepada para tahanan yang lain sambil
menuding aku.
Tetapi para tahanan tersebut
justru memandang marah kepada polisi tua tersebut, bukan kepadaku. Mereka tak
mau menuruti perintah nggak masuk akal itu. Mereka malah membantuku, dengan
memanipulasi penghitungan gerakanku sekitar 23 kali, sehingga aku tak
melakukannya sebanyak 50 kali.
Setelah aku selesai melakukan
hukuman polisi tua itu, Nadi dan Ali menyuruh untuk segera masuk kamar. Tetapi
aku masih meragukan ide mereka.
“Sudahlah, kamu masuk kamar
saja…. Kalau dia sampai memaksa kami untuk memukuli kamu, maka kami semua
kompak akan ramai-ramai memukuli dia….”
Aku pun segera masuk kamar
setelah Nadi memberiku jaminan itu.
Kemarahan polisi tua itu
masih berkobar. Dia memerintahkan kami semua, penghuni blok A dan B, untuk
kerja bakti; membersihkan selokan, memberishkan sampah, menimba air, hingga
mengepel lantai. Itu semua kami lakukan pada sekitar pukul 2.00. Bersamaan dengan
kepergian polisi tua itu meninggalkan penjara ini. Perintah seorang polisi tua
yang sungguh tak waras.
Akhirnya kami mengetahui
bahwa polisi tua itu bernama Soegiono yang berpangkat Letnan Satu.
Peristiwa itu sempat membuat
kami yang berada di blok A, menuduh kawan-kawan di blok B yang membentuk
kebencian para petugas jaga terhadap
para tahanan kasus PRD, Salah satu tuduhan tersebut kami arahkan pada Trio. Namun
untunglah akhirnya bisa kami sadari bersama bahwa peristiwa tersebut tetaplah
sebuah kesewenang-wenangan polisi terhadap para tahanan (baik tahanan politik
mau pun kriminal). Akhirnya kami adukan peristiwa kepada pengacara kami, yang
saat itu diterima oleh Pak Trimoelja.
No comments:
Post a Comment