SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

11 August 2008

Saat Bezukan Tiba (2)


Selama dalam penjara ini, aku dan kawan-kawan  mengalami perubahan ruang bezuk, yang terletak di blok B. Perubahan tersebut antara lain; penggantian dari model terali  dengan rangkaian kawat, kini telah menjadi jendela kaca dengan lubang-lubang kecil untuk masuknya suara saling bicara. Tetapi apa pun yang berubah dari ruang bezuk tersebut, bagi kami saat bezuk merupakan gairah hidup tersendiri yang paling kami nantikan bersama tanpa pernah merasa terhambat oleh berubahnya ruang bezuk tersebut.    
            Aku pun masih ingat ketika salah seorang intelejen datang mnejenguk kami. Dia adalah Krisnadi, yang ditemani oleh Syanie, Dayat, dan Dicki. Krisnadi berpenampilan seperti layaknya seorang mahasiswa, dan senyumnya dingin. Lelaki yang dulu menghajarku habis-habisan itu, berlagak seolah akrab dan telah mengenal kami seperti sahabat. Meski terus terang, tak ada seorang pun di penjara ini yang menyukai kehadirannya. Apa pun yang tampak baik pada lelaki itu, tentunya kedatangannya tetaplah memiliki kepentingan yang mudah ditebak;
            “Gimana kabarnya Herman sama Sardiyoko ? Dimana mereka sekarang….?” tanya Krisnadi kepada kami.
            Janggal sekali orang ini. Bukankah seharusnya orang yang datang menjenguk itu  menanyakan kabar orang yang dijenguk ? Eh, orang ini malah menanyakan kabar orang lain.
            Namun kami semua menjawab dengan jawaban yang sama, sebab memang hanya ini jawaban yang kami tahu dan bisa kami berikan, tak ada jawaban lain….;
            “Nggak tahu, Pak……”                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
            Begitu halnya, dia mendekati aku. Namun aku tak menggubrisnya. Aku terus menyibukkan diri dengan saling bicara dengan Ibuku. Bila aku melihat wajahnya, sontak gemuruh amarah jauh di dasar jiwa sebagai manusia pada umumnya terasa meluap. Di wajahnya pula, aku dengan mudah menemukan kembali bayangan masa lalu saat dia bertubi-tubi menghunjamkan pukulan atau tendangannya di tubuhku. Luka di diriku telah disematkan olehnya, dan akan membekas sepanjang usia. Terlalu sulit membuang luka itu, apalagi menyuruhnya pergi dari jiwaku.
            Krisnadi mendadak mendekati Ibuku dan berkata; “Ini Ibunya David Kris, ya…?”
            “Iya….,” jawab Ibu dengan sopan.
“Kenalkan, Bu. Saya temannya mas David….,” ucap lembut Krisnadi terhadap Ibu, sampai-sampai dia menyebutku dengan panggilan ‘mas’.
Ibu pun tak berucap apa-apa, hanya mengulurkan tangan untuk membalas jabat tangan dari Krisnadi.
“Herman sama Sardiyoko, kira-kira sekarang ada dimana ya, Vid…?” tanya Krisnadi kepadaku, dengan raut mukanya yang terlihat dilipat ke dalam.
“Ya mana saya tahu, Pak. Saya kan ada di dalam penjara…..,” jawabku dengan mudahnya, tanpa harus berpikir panjang.
Mendengar itu, Krisnadi segera berlalu dari hadapanku. Aku melihat dia mencoba menghambur di antara para orang tua kami. Bagiku itu justru lebih baik.
“Itu teman kuliahmu…?” tanya Ibu polos.
“Bu, orang itu yang menyiksaku sampai babak belur waktu di Denintel dulu,” bisikku kepada Ibu.
“Ya Tuhan…, anak itu yang memukuli kamu di Denintel itu,” ucap Ibu kaget setengah mati, sambil kedua mata Ibu menatap tajam ke arah Krisnadi.
“Namanya Krisnadi, dia sersan….,” lanjutku.
“Dia seusia kamu……”
“Mungkin, Bu. Iya dia itu orangnya. Tapi dia cuma salah satunya. Masih banyak yang lainnya, yang juga ikut menyiksa aku, Bu….., “ jelasku membisikkan pada Ibu.
“Oh….kuwalat anak itu….,” ujar Ibu menyumpahi Krisnadi dengan geram.
Krisnadi yang masih ‘setia’ menunggu hingga jam bezuk kelar. Dia sama sekali tak beranjak pergi dari areal bezukan ini. Kulihat, sesekali dia mencoba turut serta dalam perbincangan para kerabat kami. Hingga tibalah jam bezuk usai, dia pun sempat berpamitan dengan kami semua.
Itulah yang kualami, demikian pula dialami oleh kawan-kawanku, di saat bezukan tiba. Sungguh sebuah saat yang menggembirakan. Kami menjadi anak-anak apa adanya, anak-anak yang selalu merindukan kehadiran orang tua kami. Bukan menjadi seorang pejuang rakyat, aktifis pro demokrasi, atau pun aktifis PRD sekali pun. Saat itulah kami bisa lepaskan rindu dan cerita dengan orang-orang yang kami cintai, meski tetap ada batas jeruji besi penjara.

No comments: