Selama dalam penjara ini, aku dan kawan-kawan mengalami perubahan ruang bezuk, yang
terletak di blok B. Perubahan tersebut antara lain; penggantian dari model
terali dengan rangkaian kawat, kini
telah menjadi jendela kaca dengan lubang-lubang kecil untuk masuknya suara
saling bicara. Tetapi apa pun yang berubah dari ruang bezuk tersebut, bagi kami
saat bezuk merupakan gairah hidup tersendiri yang paling kami nantikan bersama
tanpa pernah merasa terhambat oleh berubahnya ruang bezuk tersebut.
Aku
pun masih ingat ketika salah seorang intelejen datang mnejenguk kami. Dia adalah
Krisnadi, yang ditemani oleh Syanie, Dayat, dan Dicki. Krisnadi berpenampilan
seperti layaknya seorang mahasiswa, dan senyumnya dingin. Lelaki yang dulu
menghajarku habis-habisan itu, berlagak seolah akrab dan telah mengenal kami
seperti sahabat. Meski terus terang, tak ada seorang pun di penjara ini yang
menyukai kehadirannya. Apa pun yang tampak baik pada lelaki itu, tentunya
kedatangannya tetaplah memiliki kepentingan yang mudah ditebak;
“Gimana
kabarnya Herman sama Sardiyoko ? Dimana mereka sekarang….?” tanya Krisnadi
kepada kami.
Janggal
sekali orang ini. Bukankah seharusnya orang yang datang menjenguk itu menanyakan kabar orang yang dijenguk ? Eh,
orang ini malah menanyakan kabar orang lain.
Namun
kami semua menjawab dengan jawaban yang sama, sebab memang hanya ini jawaban
yang kami tahu dan bisa kami berikan, tak ada jawaban lain….;
“Nggak
tahu, Pak……”
Begitu halnya, dia mendekati aku.
Namun aku tak menggubrisnya. Aku terus menyibukkan diri dengan saling bicara
dengan Ibuku. Bila aku melihat wajahnya, sontak gemuruh amarah jauh di dasar
jiwa sebagai manusia pada umumnya terasa meluap. Di wajahnya pula, aku dengan
mudah menemukan kembali bayangan masa lalu saat dia bertubi-tubi menghunjamkan
pukulan atau tendangannya di tubuhku. Luka di diriku telah disematkan olehnya,
dan akan membekas sepanjang usia. Terlalu sulit membuang luka itu, apalagi
menyuruhnya pergi dari jiwaku.
Krisnadi
mendadak mendekati Ibuku dan berkata; “Ini Ibunya David Kris, ya…?”
“Iya….,”
jawab Ibu dengan sopan.
“Kenalkan, Bu. Saya temannya
mas David….,” ucap lembut Krisnadi terhadap Ibu, sampai-sampai dia menyebutku
dengan panggilan ‘mas’.
Ibu pun tak berucap apa-apa,
hanya mengulurkan tangan untuk membalas jabat tangan dari Krisnadi.
“Herman sama Sardiyoko,
kira-kira sekarang ada dimana ya, Vid…?” tanya Krisnadi kepadaku, dengan raut
mukanya yang terlihat dilipat ke dalam.
“Ya mana saya tahu, Pak. Saya
kan ada di dalam penjara…..,” jawabku dengan mudahnya, tanpa harus berpikir
panjang.
Mendengar itu, Krisnadi
segera berlalu dari hadapanku. Aku melihat dia mencoba menghambur di antara
para orang tua kami. Bagiku itu justru lebih baik.
“Itu teman kuliahmu…?” tanya
Ibu polos.
“Bu, orang itu yang
menyiksaku sampai babak belur waktu di Denintel dulu,” bisikku kepada Ibu.
“Ya Tuhan…, anak itu yang
memukuli kamu di Denintel itu,” ucap Ibu kaget setengah mati, sambil kedua mata
Ibu menatap tajam ke arah Krisnadi.
“Namanya Krisnadi, dia
sersan….,” lanjutku.
“Dia seusia kamu……”
“Mungkin, Bu. Iya dia itu
orangnya. Tapi dia cuma salah satunya. Masih banyak yang lainnya, yang juga
ikut menyiksa aku, Bu….., “ jelasku membisikkan pada Ibu.
“Oh….kuwalat anak itu….,”
ujar Ibu menyumpahi Krisnadi dengan geram.
Krisnadi yang masih ‘setia’
menunggu hingga jam bezuk kelar. Dia sama sekali tak beranjak pergi dari areal
bezukan ini. Kulihat, sesekali dia mencoba turut serta dalam perbincangan para
kerabat kami. Hingga tibalah jam bezuk usai, dia pun sempat berpamitan dengan
kami semua.
Itulah yang kualami, demikian
pula dialami oleh kawan-kawanku, di saat bezukan tiba. Sungguh sebuah saat yang
menggembirakan. Kami menjadi anak-anak apa adanya, anak-anak yang selalu
merindukan kehadiran orang tua kami. Bukan menjadi seorang pejuang rakyat,
aktifis pro demokrasi, atau pun aktifis PRD sekali pun. Saat itulah kami bisa
lepaskan rindu dan cerita dengan orang-orang yang kami cintai, meski tetap ada
batas jeruji besi penjara.
No comments:
Post a Comment