SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

17 August 2008

Saat Pelepasan Bersyarat Tiba


Masih di hari itu, Jum’at 27 September 1996, bezukan baru saja usai. Bezukan hari ini terlihat berbeda dengan hari-hari lalu. Sungguh melimpah banyak makanan dengan bermacam menu pula. Belum lagi buah-buahan, roti yang beraneka rasa, dan makanan ringan yang setumpuk. Seperti biasanya kami segera menyantap makanan yang dikirim oleh para orang tua kami. Kala itu, Magrib pun masih belum menjelang.
            Belum habis nasi di piring kami, dan belum cukup kenyang perut kami, tiba-tiba terdengar teriakan teman-teman kami dari arah luar sel ini.
            “PRD ! PRD….!”
            Rupanya mereka memanggil kami.
            “PRD pulang…!”
            “Hei PRD !  PRD pulang…!”
            “PRD Kelompok Sebelas…, pulang....!”
            Mereka saling bersahutan berteriak memanggil kami.
            Seolah tak percaya akan apa yang didengar oleh berpasang-pasang telinga kami, tetapi ternyata ini bukan mimpi. Yah…kami di ‘lepas’ sore ini juga.
            Tanpa menuntaskan makan kami terlebih dulu, segera kami semua berhamburan keluar dari sel kami. Senyum kami saling bertemu dalam menggebunya perasaan suka ini.
            Lalu kami pun disuruh berbaris  antri untuk menandatangani selembar surat perintah ‘pelepasan’ dari penjara ini. Mula-mula Rizal, Zainal dan Agung pun usai mencoretkan tanda tangan mereka di lembar-lembar berkas itu.
            Kemudian;
            “Ganjar….! Mana Ganjar..?” ucap petugas jaga yang tampak sibuk mengatur berkas-berkas kami.
            “Ganjar…, Ganjar Suharto….!” celetuk salah seorang teman kami yang berjongkok di sudut sel. Mendengar itu, kami pun tertawa karenanya.
            Setelah Ganjar, aku pun segera menandatangai surat tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk tak karuan.
            “Sudah, nanti dipanggil lagi.”
            “Pulang sekarang ya, Pak…?” tanya Zainal dengan gagap kegirangan.
            “Ya nggak tahu…..,” jawab petugas jaga tersebut terlihat menggoda Zainal.

No comments: