Masih di hari itu, Jum’at 27
September 1996, bezukan baru saja usai. Bezukan hari ini terlihat berbeda
dengan hari-hari lalu. Sungguh melimpah banyak makanan dengan bermacam menu
pula. Belum lagi buah-buahan, roti yang beraneka rasa, dan makanan ringan yang
setumpuk. Seperti biasanya kami segera menyantap makanan yang dikirim oleh para
orang tua kami. Kala itu, Magrib pun masih belum menjelang.
Belum
habis nasi di piring kami, dan belum cukup kenyang perut kami, tiba-tiba
terdengar teriakan teman-teman kami dari arah luar sel ini.
“PRD
! PRD….!”
Rupanya
mereka memanggil kami.
“PRD
pulang…!”
“Hei
PRD ! PRD pulang…!”
“PRD
Kelompok Sebelas…, pulang....!”
Mereka
saling bersahutan berteriak memanggil kami.
Seolah
tak percaya akan apa yang didengar oleh berpasang-pasang telinga kami, tetapi
ternyata ini bukan mimpi. Yah…kami di ‘lepas’ sore ini juga.
Tanpa
menuntaskan makan kami terlebih dulu, segera kami semua berhamburan keluar dari
sel kami. Senyum kami saling bertemu dalam menggebunya perasaan suka ini.
Lalu
kami pun disuruh berbaris antri untuk
menandatangani selembar surat perintah ‘pelepasan’ dari penjara ini. Mula-mula
Rizal, Zainal dan Agung pun usai mencoretkan tanda tangan mereka di
lembar-lembar berkas itu.
Kemudian;
“Ganjar….!
Mana Ganjar..?” ucap petugas jaga yang tampak sibuk mengatur berkas-berkas
kami.
“Ganjar…,
Ganjar Suharto….!” celetuk salah seorang teman kami yang berjongkok di sudut
sel. Mendengar itu, kami pun tertawa karenanya.
Setelah
Ganjar, aku pun segera menandatangai surat tersebut dengan perasaan yang
bercampur aduk tak karuan.
“Sudah,
nanti dipanggil lagi.”
“Pulang
sekarang ya, Pak…?” tanya Zainal dengan gagap kegirangan.
“Ya
nggak tahu…..,” jawab petugas jaga tersebut terlihat menggoda Zainal.
No comments:
Post a Comment