SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

15 May 2008

Mimpi Buruk Menyeruak (4)

Kamis 1 Agustus 1996, aku dan Lilik (seorang kawan perempuan yang pula aktivis PRD) pergi menemui Heru. Beberapa hari lalu, kami bertiga memang merencanakan rapat untuk membahas persoalan yang terjadi di tingkatan mahasiswa. Selain pula membahas konsolidasi kawan-kawan untuk mempersiapan sidang istimewa untuk meng’counter’ pengkambing hitaman yang dilakukan pemerintah dan ABRI terhadap PRD berkaitan dengan peristiwa 27 Juli lalu di Jakarta.

Aku dan Lilik pergi menuju kampus FISIP Universitas Airlangga, tetapi kami berdua tidak melihat Heru sama sekali. Kami pun segera pergi menuju sekretariat SMID di jalan Kedung Tarukan II/22 Surabaya. Ternyata sekretariat telah tak berpenghuni. Rumah tersebut rupanya telah dikosongkan oleh kawan-kawan. Lalu kami pun bergegas menuju rumah kost Heru. Disanalah akhirnya kami bisa bertemu dengan Heru. Pula disitu juga ada Andi 'Ambon', yang aku ketahui sebagai aktivis pendukung Megawati). Maka sekitar pukul 12.00, kami segera memulai rapat, dan akulah yang memimpin rapat tersebut.

Adapun hasil rapat tersebut adalah sebagai berikut (dari catatan notulensi rapat tertanggal 1 Agustus 1996, yang masih kusimpan rapi hingga kini);

1. Kawan-kawan harus segera melakukan konsolidasi untuk memberikan statement atau petisi, yang intinya adalah untuk segera diadakan sidang istimewa. Pembuatan petisi ini akan ditugaskan pada Icha.

2. Kawan-kawan yang harus segera dihubungi (tak lebih dari tanggal 7 Agustus 1996), adalah: Verrie, Dwi, Yayan, Handoko, Arindra, dan Chris.

3. Sebelum tanggal 14 Agustus 1996, harus segera dibentuk panitia kecil untuk persiapan sidang istimewa, yang terdiri dari; sie koordinator, sie acara, sie konsumsi, sie keamanan, sie tempat pencarian rapat.

4. Ditugaskan kepada kawan-kawan untuk tetap berkonsolidasi dengan PDI pro Megawati. Kawan-kawan yang ditugaskan adalah; Syafi’I, Verrie, dan Dwi.

5. Kawan-kawan ditugaskan untuk pula membentuk tim advokasi yang melakukan advokasi pada jalannya sidang istimewa. Tim advokasi tersebut adalah; Rusli, Ana, dan Fira.

6. Hari pelaksanaan sidang istimewa tersebut ditargetkan terlaksana tanggal 14 Agustus 1996.

Rapat itu usai sekitar hampir pukul 16.00. Aku dan Lilik kemudian meninggalkan rumah kost Heru, setelah kami bertiga sepakat untuk bertemu lagi pada tanggal 6 Agustus 1996.

Sesungguhnya di dalam benakku terbersit rasa ragu; Bisakah sidang istimewa itu terlaksana seperti yang telah disepakati dalam rapat tadi ? Bagiku, ini adalah kemungkinann yang sangat tipis untuk bisa terwujud. Sebab aku sadar bahwa situasi telah memaksa kawan-kawan untuk tunggang langgang bersembunyi tanpa kutahu dimana tempat persembunyian mereka. Aku yakin pasti, bahwa hanya sebagian kecil saja dari kawan-kawan yang masih menampakkan batang hidungnya. Sementara jauh lebih banyak kawan-kawan yang telah melenyapkan diri pergi kemana pun arahnya asal tak tertangkap aparat keamanan.

Memang, pengkambing hitaman peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 ini merupakan sebuah mimpi buruk yang telah menyeruak paksa masuk dalam setiap kisi-kisi perjuanganku bersama kawan-kawan. Kami semua kini harus terpisah satu sama lain, bahkan tak sempat berucap kata pamit. Hilang tanpa kata. Satu sama lain tak bisa lagi bertanya tentang keadaan diri mereka masing-masing. Kami semua telah terurai tak beraturan lagi.

14 May 2008

Mimpi Buruk Menyeruak (3)

Bila tak salah ingat, hari Selasa 30 Juli 1996 pukul 21.00, kedua kawanku; Dandik dan Purwadi; datang ke rumahku. Kedatangan mereka sudah jelas, yakni mengajakku untuk segera meninggalkan rumah dan bersembunyi di suatu tempat (yang menurut mereka aman). Mereka ingin agar aku ikut bersama mereka malam itu juga. Namun aku belum mampu memberi keputusan secepat yang mereka inginkan. Aku hanya mengatakan bahwa aku memang sudah memiliki rencana untuk segera pergi, tapi tidak sekarang, karena aku harus menyelesaikan beberapa urusanku dengan keluarga. Aku hanya bisa menyarankan bahwa sebaiknya Dandik-lah yang harus segera pergi, tentunya dia menjadi buronan utama karena selama ini Dandik dikenal sebagai salah seorang perwakilan PRD di Surabaya sekaligus tim advokasi PRD di Surabaya.

Tak lama kemudian, sekitar hampir pukul 22.00, datanglah seorang kawanku (bukan aktivis PRD), Agus. Sebelumnya dia memang telah kuhubungi untuk segera datang ke rumahku karena aku memerlukan bantuannya. Rupanya Agus bisa memahami keadaanku. Namun dia tak bisa menerima barang ‘titipan’ku. Agus tak mau bila dia, apalagi keluarganya, tersangkut-sangkut masalah politik. Namun dia tak keberatan untuk membantuku ‘menghilangkan’ berkas-berkas tersebut. Akhirnya malam itu juga Aku dan Agus segera berangkat. Bersamaan dengan itu pula, Dandik dan Purwadi segera pamit kepadaku. Malam itu pula menjadi malam terakhir pertemuanku dengan mereka, atau sebuah malam perpisahan bagi kami (sebab setelah malam itu, kami tak pernah lagi bertemu selama hampir setahun).

Kini, aku dan Agus tengah melaju menuju lokasi ‘penghilangan’ berkas-berkas yang kubawa ini, ke sebuah tempat yang ditunjukkan oleh Agus.

“Bagaimana dengan teman-temanmu nanti?” tanyaku penuh kebimbangan. Pikirku, apakah kawan-kawan Agus tidak curiga terhadap berkas-berkas yang kubawa ini.

“Ah nggak masalah. Aku jamin mereka nggak tanya yang macam-macam.” Jawab Agus dengan santainya.

“Tapi apa memang semudah itu…?” ucapku gusar.

“Sudahlah nggak usah kuatir. Nggak mungkin mereka ikut ngurusi kita. Kalo mereka tanya, bilang saja ini berkas sisa garapan skripsimu,” jelas Agus meyakinkan aku.

Akhirnya semuanya aku percayakan pada Agus. Aku yakin Agus pasti bisa membantuku dengan lancar. Sekitar hampir 24.00, aku dan Agus tengah menembus dinginnya malam. Aku berharap, semoga selamat sampai tempat tujuan. Meski rasa was-was masih menggelantung di benak, sebab kardus yang kubopong ini adalah berisikan barang yang dianggap subversif oleh negara. Bayangkan saja, seandainya malam ini perjalananku harus terhalang oleh razia polisi, dan aku diketahui membawa berkas-berkas yang berkaitan dengan PRD, maka hukuman yang aku terima jelas lebih berat ketimbang mereka yang tertangkap lantaran membawa senjata tajam atau narkotika. Bukan tidak mungkin, toh ini kemungkinan yang terburuk.

Selang tak sampai setengah jam, kami telah sampai pada sebuah rumah yang terlihat mewah dan besar. Rumah tersebut ternyata adalah rumah kontrakan yang berpenghuni para lelaki yang kurang lebih seusia denganku. Kawan-kawan Agus tersebut menampakkan keakraban padaku. Kami berbincang-bincang sejenak. Kemudian Agus segera minta ijin untuk ‘meminjam’ halaman samping. Ternyata benar ucapan Agus, bahwa kawan-kawannya tak bertanya macam-macam, dan dengan santainya mempersilahkan kami untuk menggunakan halaman samping tersebut.

Halaman samping ini begitu luas dengan ditumbuhi rerumputan yang terlihat basah akibat embun dini hari. Agus tampak mencari-cari beberapa pot kosong. Sementara aku tengah membuka ikatan yang menutup kardus ini. Setelah siap dengan 4 pot kosong dan berbekal korek api, maka dimulailah pekerjaan ‘penghilangan’ berkas-berkas ini.

Sembari menghabiskan beberapa batang rokok sebagai penawar rasa bosan dalam pekerjaan ini, kami berdua terus memasukkan lembar demi lembar berkas itu ke dalam kobaran api hingga menghitam luruh menjadi abu, dan habis tanpa sisa. Asap pembakaran ini semakin tebal menyesakkan pernafasan dan memedihkan mata kami berdua. Tetapi memang pekerjaan ini tak bisa diselesaikan dengan cepat, sebab berkas-berkas yang harus dibakar sangat banyak jumlahnya. Sementara kami harus membakarnya secarik demi secarik karena pot yang digunakan sebagai tungku pun kecil.

Aku menatap lembaran-lembaran kertas yang sedikit demi sedikit dilahap oleh kobaran api; terbakar, meliuk, menghitam, menyusut dan jadilah abu. Saat itu, yang ada di benakku, aku merasa bersalah atas peristiwa pembakaran berkas-berkas ini. Bagiku, pekerjaan ini sama artinya dengan membakar otak seseorang. Berkas-berkas tersebut berisi tulisan hasil pemikiran panjang manusia, yang seharusnya dipelajari dan dikembangkan untuk kehidupan manusia yang tentunya ke arah perbaikan harkat hidup di masa kelak. Berkas-berkas tersebut pun juga merupakan ilmu bagi kepentingan manusia dalam hidup bernegara, bahkan pula filosofi kehidupan manusia dalam hidup bersama dengan manusia lainnya. Tetapi kini berkas-berkas tersebut, yang ada di hadapanku, telah berubah hanya sekedar onggokan kertas yang tinggal menunggu waktu untuk dilenyapkan keberadaannya. Seperti seorang terhukum mati yang siap berdiri di hadapan para juru tembaknya. Hilanglah seluruh keilmuan yang begitu banyak tertuang di setiap lembarnya. Aku cuma bisa tertunduk sedih melihat ke arah tumpukan abu tersebut. Ternyata pemikiran manusia, yang tertuang di lembaran kertas tersebut, menjadi ‘hantu’ yang menakutkan bagi keabadian kekuasaan di negara ini. Aku tak bisa berbuat banyak dalam kekalutanku. Meski bodoh, aku tetap relakan sang api menjilati setiap sudut berkas-berkas yang di masa lampau telah mendidikku untuk pandai berjuang bagi pembebasan rakyat di negeriku ini.

Akhirnya, sekitar pukul 03.00, selesailah pekerjaan yang melelahkan dan membosankan ini. Kami segera membersihkan abu-abu pembakaran, beserta pot-potnya. Tak lama kemudian kami berdua segera berpamitan untuk pulang. Legalah perasaanku kini. Paling tidak, satu persoalan telah kukerjakan. Agus pun segera mengantarkan aku kembali ke rumah. Aku sungguh sangat berterima kasih atas bantuan kawan karibku ini, dia telah membantu aku untuk menyelesaikan satu persoalan dari sekian banyak persoalan yang aku hadapi saat ini.