SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

7 June 2008

Para Kambing Hitam Diadu (4)

Tak kuduga lagi, ternyata peristiwaku bersama Brewok masih berbuntut. Kamis malam tanggal 29 Agustus 1996, sekitar mendekati pukul 21.00, kala aku tengah menjalani hari ke-10 masa interogasiku. Pak Enos sedang terlihat sibuk memeriksa berkas-berkas BAP-ku, sementara aku masih menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari Pak Zainuddin dan Pak Supriyadi. Tiba-tiba Pak Enos dengan suara berang mengagetkan seisi ruang interogasi ini.

“Lho…Brewok kan ikut rapat 1 Juli, kenapa kok dihapus…..?!”

“Eeee….begini..Pak…,” ucapku memberanikan diri untuk bicara.

Pak Enos mendatangiku.

“Siapa yang suruh mencoret nama Brewok di BAP-mu ini…?!”

Tangan Pak Enos yang kekar dan besar itu telah terkepal menopang di atas meja, persis di hadapanku, membuat aku hanya terdiam tak berani meneruskan penjelasanku.

“Kamu adalah tanggung jawab saya… Sekarang katakan siapa yang menyuruh kamu mencoret nama Brewok di BAP-mu ?!”

Aku tetap menunduk diam.

“Kamu diancam Brewok…? Jangan takut sama Brewok… Saya hajar dia….,” lanjut Pak Enos.

Pikiranku semakin bingung. Kenapa jadi begini akhirnya. Aku tak mau dihajar oleh Pak Enos, dan aku pun tak mau Brewok dijadikan ‘sansak hidup’ oleh Pak Enos.

Akhinya kuberanikan diri untuk menjelaskan peristiwa pada hari Selasa 27 Agustus 1996, saat aku dikumpulkan bersama kawan-kawanku di ruang data, oleh Pak Krisnadi.

“Jadi Krisnadi yang menyuruhmu….!”

Aku hanya diam.

“Panggil Krisnadi…..!” perintah Pak Enos kepada Pak Zainuddin.

Pak Zainuddin yang cuma seorang sersan tentunya segera melaksanakan perintah Pak Enos yang berpangkat letnan.

“Kamu menjadi tanggung jawab saya di sini. Saya adalah pengganti orang tuamu. Kenapa kamu menurut sama Krisnadi ? Kalau memang Brewok ikut rapat, ya katakan Brewok ikut rapat. Nggak usah takut sama Brewok.”

Bersamaan dengan itu datanglah seseorang intelejen berpangkat letnan kolonel yang biasa dipanggil dengan nama Pak Sahrun. Pak Enos pun menceritakan hal tersebut kepadanya. Pak Sahrun dengan wajah marah berkata;

“Suruh saja nanti Kris dan Brewok berkelahi di bawah, sampai salah satu kalah. Siapa yang menang, itu yang benar keterangannya.”

Pak Sahrun mendekati aku.

“Kamu tahu nggak, apa hukuman orang yang memberikan keterangan yang nggak benar?!” ancam Pak Sahrun di hadapanku.

Aku tak berani mengatakan apa-apa. Aku hanya tak berani membayangkan, apa jadinya jika nanti aku benar-benar diadu sama Brewok. Haruskah aku menghajar Brewok sampai wajahnya hancur? Ataukah Brewok yang akan menghajarku sampai mulutku berdarah? Semoga itu tak akan terjadi, cuma itu yang bisa kuharapkan.

Kemudian Pak Sahrun meninggalkan ruangan ini.

Tak berapa lama datanglah Pak Krisnadi.

“Siap, Pak,”ucap Pak Krisnadi yang juga hanya seorang sersan kepada Pak Enos yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya.

“Kamu yang menyuruh nama Brewok dicoret dari BAP-Kris…?”

“Siap, Pak,” ucap Pak Krisnadi.

“Kamu sudah merusak kerja saya…..!!”

Buuuukkkk !!! Praaakkkk !!! Brruuukkk !!!

Kepalan tangan Pak Enos menghunjam berulang-ulang di tubuh Pak Krisnadi. Aku merasa ngeri melihat kemarahan Pak Enos terhadap Pak Krisnadi. Walau dalam hati kecilku terbersit rasa puasku, sebab orang yang pernah menghajarku habis-habisan dulu, kini di depan mataku dihajar habis-habisan oleh Pak Enos. Tanpa kusadari, aku menyukai luapan kemarahan Pak Enos itu. Namun yang membuatku tak habis berpikir yakni walau Pak Krisnadi terhuyung-huyung, dia tetap berusaha tegap dan mengucapkan;

“Siap, Pak.”

Tetapi seusai Pak Enos menghukum Pak Krisnadi itu, justru tercipta kemarahan yang lebih besar. Pak Krisnadi segera mendatangi ruangan tempat Brewok disekap, sembari berteriak-teriak;

“Brewok…! Sini kamu…!”

Brraaaakkk !!! Brruuuuukkkk !!! Ya Allah…..!!! Buuukk !!!

Dari ruang ini, yang tak jauh dari ruangan Brewok, aku bisa mendengar jelas bahwa Brewok di hajar habis-habisan oleh Pak Krisnadi. Sementara kemarahan Pak Enos pun belum reda juga, dan aku pun harus menerima tendangan Pak Enos yang menyakitkan perutku. Malam itu, aku dan Brewok, sama-sama dihajar oleh sebuah amarah yang berkobar.

Aku merasa bahwa sejak hari pertama aku disekap di markas militer ini, aku selalu berusaha untuk diadu domba dengan Brewok. Mungkin karena aku dan Brewok sama-sama berjuang melalui bentuk seni, dan sama-sama dikambing hitamkan sebagai sekawanan Jaker cabang Surabaya.

Keesokkan hari di tanggal 29 Agustus 1996, saat pagi masih baru muncul, aku melihat dari kaca jendela, tampak Brewok sedang berjalan menuju ke kamar mandi. Apakah aku tidak salah lihat ! Wajah Brewok hancur, bibirnya menjadi mirip moncong binatang ! Sungguh perbuatan keji. Aku merasa bersalah terhadap apa yang telah terjadi terhadap Brewok. Derita itu sebenarnya tak harus ditanggung oleh Brewok. Maafkan aku, Brewok.

Para Kambing Hitam Diadu (3)

Sebuah peristiwa yang tak bisa kulupakan, kala aku harus menerima taktik adu domba untuk yang kesekian kalinya. Kali ini aku diciptakan untuk bermusuhan dengan seorang kambing hitam yang benar-benar ‘dihitamkan’ oleh aparat militer. Seorang kambing hitam itu adalah Brewok (di markas militer inilah, baru kuketahui bahwa nama aslinya adalah Karsidi). Aku mengenalnya sebagai seorang seniman yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang tersisih di sekitarnya. Dia seorang kawan seniman bagiku, sekaligus sahabat.

Hal ini bermula dari sebuah kejadian pada malam tanggal 22 Agustus 1996. Saat itu aku ditekan dengan ancaman oleh Pak Enos, yang membuat aku mengakui bahwa aku melihat Brewok menghadiri rapat persiapan aksi unjuk rasa buruh Simo Pomahan, di sekretariat SMID cabang Surabaya, pada tanggal 1 Juli 1996. Meski sebenarnya, aku sama sekali tak tahu apakah Brewok hadir atau tidak pada rapat itu. Ketakutanlah…, yang membuat aku terpaksa bicara bahwa aku melihat Brewok menghadiri rapat tersebut. Kata-kataku tersebut akhirnya diketik dalam BAP-ku. Pengakuan-ku yang dipaksakan ini, kupikir tak ada masalah atau tidak akan berbuntut panjang. Namun ternyata dugaanku keliru.

Pada petang tanggal 27 Agustus 1996, aku dipanggil untuk menghadap Pak Krisnadi di ruang data. Ternyata di ruang tersebut, telah hadir kawan-kawanku; Brewok, Arindra, Iman, Ganjar, Dayat, Rouf, dan Yohanes Kukuh.

Pak Krisnandi menyuruh aku supaya mengatakan apa yang sebenarnya aku lihat pada tanggal 1 Juli 1996. Sesuai apa yang telah di tulis di BAP-ku, aku pun menjawab bahwa aku melihat Brewok menghadiri rapat tersebut. Namun Brewok bersikeras bahwa dia tidak hadir pada rapat tersebut. Sempat pula dia menyebut nama Tuhan, sebagai kekuatan bahwa apa yang dikatakannya adalah benar adanya. Kami, aku dan Brewok, terpaksa saling mempertahankan argumen .

“Kris…, kalau Brewok bohong, tampar mulutnya…,” ujar Pak Krisnadi terhadapku.

“Kamu juga Brewok…, tampar saja kalau Kris menfitnah kamu…..,” ucap Pak Krisnadi pula kepada Brewok.

Akhirnya aku harus mengalah. Aku melihat sinar matanya yang kuyu. Aku tak harus menimpakan kekeliruanku terhadapnya. Sementara kawan-kawanku yang lain cuma menyaksikan saja.

“Iya Pak, saya bohong, Brewok tidak hadir dalam rapat tersebut. Mungkin saya salah lihat atau salah ingat…,”ucapku pelan.

“Kris sekarang sudah ngaku salah. Dia sudah bikin kamu menderita , dia menfitnah kamu. Sekarang kamu tampar dia….,” suruh Pak Krisnadi terhadap Brewok.

Aku pun siap menerima segala hukuman apa pun bentuknya dari Brewok. Aku yakin Brewok masih punya nurani untuk tidak menggemari kekerasan. Ia tidak akan tega menamparku.

“Saya tidak menampar dia, Pak. Saya kasih dia hukuman push-up saja, Pak…,” kata Brewok pada Pak Krisnadi. Lalu Pak Krisnadi pun menyetujuinya. Aku pun segera melakukan push-up sebanyak lima belas kali sesuai yang diperintahkan Brewok padaku.

“Saya nggak suka kalau kalian memfitnah orang. Kalau ada ya bilang ada. Kalau nggak ada ya ngomong nggak ada. Jangan ditambh-tambahi, atau dikurangi. Saya pengen kalian bicara jujur apa yang kalian ketahui. Sehingga tidak membingungkan bapak-bapak yang memeriksa kalian…” nasehat Pak Krisnadi itu kian membuatku enggan untuk melihat wajahnya. Setelah itu, Pak Krisnadi menyuruh kami untuk makan malam bersama di ruang data ini. Seusai makan malam, kami diperintahkan kembali ke ruang kami masing-masing. Sebelum beranjak dari ruang data tersebut, aku hanya mengingat bahwa Pak Krisnadi berpesan kepadaku, agar aku merubah BAP-ku dengan menegaskan bahwa Brewok tidak hadir pada rapat 1 Juli 1996. Pesan Pak Krisnadi itu segera kulaksanakan pada keesokan harinya.

6 June 2008

Para Kambing Hitam Diadu (2)

Taktik adu domba bukan hanya terjadi dan kualami sekali saja. Aku masih ingat ketika di hari Sabtu siang tanggal 24 Agustus 1996. Kala aku masih menghadapi interogasi seperti biasanya, mendadak muncul Pak Amari dan menghentikan acara interogasiku.

“Kamu pergi ke bawah, pakai baju dan celanamu…,” ucap Pak Amari terhadapku.

Aku bergegas menuju ke lantai bawah, tepatnya di ruang administrasi, untuk kembali mengenakan kaos dan celana panjangku. Aku senang sekali, meski tak tahu apa yang bakal terjadi. Bagiku, yang penting aku tidak setengah telanjang lagi.

Lalu aku kembali ke ruang interogasiku. Pak Amari menyuruhku menuju ruang data. Di ruang data ini aku bertemu dengan Rouf, Ana dan Agung. Ada perasaan senang dalam hatiku sebab aku bisa bertemu dengan mereka lagi. Pak Amari menyuruh masing-masing dari kami untuk menyebutkan; nama, alamat, usia, tanggal lahir, hingga data tentang orang tua kami. Ditambahkan pula untuk menyebutkan bahwa tujuan PRD adalah menggulingkan pemerintah yang sah dan mengganti dengan ideologi komunis. Kami satu persatu mulai melakukan hal tersebut. Sembari seseorang yang berdiri di samping pak Amari merekam apa yang kami lakukan tersebut melalui ‘handy cam’.

Di kemudian hari barulah kuketahui melalui informasi beberapa mahasiswa yang menceritakan padaku bahwa hasil pengambilan gambar itu menjadi film penyuluhan yang diputar didesa-desa. Sebab mereka menyatakan pernah melihat film penyuluhan itu dan di film itu tampaklah aku bersama kawan-kawan.

Setelah itu, Pak Amari memberikan pada kami masing-masing selembar kertas dan sebuah pulpen.

“Sekarang kalian tulis bahwa kalian adalah korban hasutan dari Herman dan Sardiyoko. Lalu kalian meminta agar Herman dan Sardiyoko segera menyerahkan diri secara gentleman,” ucap Pak Amari menjelaskan.

Kami pun segera menulis dengan kepiawaian menulis masing-masing, seperti apa yang disuruhkan oleh Pak Amari. Tak lama kemudian, tulisan kami telah selesai.

“Tulisan ini nanti akan kami muat di koran-koran, supaya masyarakat membacanya,”

Ternyata di kemudian hari barulah kuketahui bahwa tulisan tersebut memang dimuat di hampir seluruh koran di Surabaya, yakni pernyataan agar Herman dan Sardiyoko menyerahkan diri, namun atas nama penulisnya; Trio Yohanes Marpaung.

Taktik adu domba yang telah dilancarkan oleh para intelejen militer melalui diterbitkannya statement tersebut, tentu memiliki tujuan yang telah diskenario matang oleh mereka. Hal ini untuk membangun opini secara luas di masyarakat bahwa PRD ternyata hanya sekelompok kawanan penghasut dengan cara komunis yang cuma pahlawan kesiangan yang bernyali cilik, tak bertanggung jawab, tidak solid, dan saling mengkhianati antar kawan. Sekaligus pula, mereka ingin menghancur leburkan bangunan solidaritas yang selama ini menjadi energi dalam perjuangan kami bersama kaum tertindas. Solidaritas…., itulah kata kunci yang paling dibenci di seluruh sudut ruang Deninteldam V/Brawijaya. Solidaritas, bagi mereka, adalah sebuah pemikiran sekaligus perilaku terbodoh dalam jaman yang memacu modernitas dan mengesahkan orang untuk mengurus diri sendiri. Kami, aku bersama kawan-kawanku, tak boleh sekali-kali mengucap apalagi mengatasnamakan ‘Solidaritas’.

“Kalau kalian sekarang ditangkap dan harus bertanggung jawab, sementara teman-temanmu yang tidak tertangkap itu sekarang sedang senang-senang, apakah itu yang kalian namakan solidaritas…?!” ucap salah seorang dari para intelejen yang terkadang ‘menasehati’ kami tatkala kami makan siang bersama.

Mungkin inilah yang dinamakan ‘cuci otak’. Kami terus menerus dicecoki untuk saling tak percaya, saling mengkhianati, saling memusuhi, bahkan kalau perlu kami diajari untuk saling membunuh antar kawan. Tak sedikit dari kami yang diperintahkan untuk saling memukul, saling menampar, atau saling ‘menggigit’. Keberhasilan ‘cuci otak’ ini adalah tentunya hilangnya rasa solidaritas apalagi kepedulian nurani dalam diri kami yang dulu pernah tumbuh, itulah yang diharapkan oleh para intelejen tersebut.

Kambing-kambing Hitam Diadu (1)

Pagi ini tanggal 23 Agustus 1996, aku baru saja melahap sarapanku yang tetap masih selezat hari kemarin. Kuperhatikan badanku dengan seksama. Kulitku mulai banyak mengelupas, mirip seekor ular yang sedang mengalami pergantian kulit. Mungkin karena telah berhari-hari aku tak memakai pakaian. Warna membiru bekas luka-luka di tubuhku agak mulai menghilang, meski secara keseluruhan belumlah hilang. Celana dalam sudah mulai tampak kotor berwarna kehitaman, lusuh, dan baunya tentu mulai membusuk. Untunglah dua hari lalu aku menemukan ide untuk membungkus penis-ku dengan plastik bungkus rokok. Aku hanya tak ingin alat vitalku itu terjangkit penyakit gatal-gatal. Paling tidak, selama empat hari aku di markas militer ini, penis-ku itu masih terlindung dengan aman. Memang para interogator belum memperbolehkan aku mengganti celana dalamku. Ah….untung saja…aku tak sempat mimpi basah….Aku tak bisa membayangkan apa jadinya bila hal itu sampai terjadi.

Pagi itu sekitar hampir pukul 9.00, sebelum para interogatorku memasuki ruanganku, Letnan Budi mendatangiku. Dia menanyaiku perihal seseorang yang bernama Atar, yang kukenal sebagai mahasiswa Universitas Airlangga sekaligus aktivis PRD pula. Menurut informasi yang diterimanya bahwa; dokumen-dokumen PPBI (Pusat Perjuangan Buruh Indonesia) tersimpan di rumah Atar. Selain itu, ada kemungkinan Herman Hendrawan (ketua PRD di Surabaya, menurut data intelejen militer) pun bersembunyi di rumah Atar. Lalu dia bertanya pula tentang markas mahasiswa Timor Timur di jalan Karang Menjangan Surabaya, yang dicurigainya sebagai tempat penyimpanan dokumen-dokumen PPBI Lalu aku bersikeras mengatakan padanya bahwa aku sama sekali tak tahu tentang organ buruh tersebut.

Akhirnya Letnan Budi memaksaku untuk menunjukkan lokasi rumah Atar. Aku tak bisa menolak karena ancamannya agar aku harus ‘membogkar’ lokasi rumah Atar. Kemudian dia menyuruhku untuk segera mengambil pakaianku di ruangan administrasi. Aku pun sangat senang sekali bisa memakai pakaian kembali. Tak beberapa lama, kami bersiap untuk berangkat ke rumah Atar. Sebelumnya, Letnan Budi mendekatiku, sambil menenteng sebuah borgol.

“Kamu harus pakai ini dulu……..,” ucapnya sambil memborgol kedua tanganku.

“Karena kamu masih belum jinak….,” lanjutnya.

Saat itu pikiranku kalut penuh dilema. Bagaimana jika ternyata Atar, mungkin juga bersama Herman, ternyata bisa ditangkap? Apakah itu artinya aku tak lebih dari seorang pengkhianat bagi kawan-kawanku sendiri? Aku cuma berharap agar semoga Atar, pun Herman pula, tidak berada di rumah tersebut.

Setelah tiba di lokasi sekitar rumah Atar, seperti yang telah aku tunjukkan. Seorang intelejen yang tadi duduk di sebelah kiri sopir, segera mendatangi rumah Atar. Dari kejauhan, di dalam mobil, aku dan Letnan Budi, mengamati kerja intelejen tersebut. Ternyata harapanku terkabul, bahwa Atar, maupun Herman, tidak berada di rumah tersebut. Untunglah…., bisikku lirih. Kami pun segera pulang kembali ke markas militer. Sebelumnya kami sempat mampir di sebuah warung makan di kawasan jalan Bumiarjo Surabaya. Aku segera memesan segelas kopi. Saat itu, kopi panas itu terasa nikmat sekali kuteguk. Maklumlah selama beberapa hari di markas militer, aku tak bisa mereguk nikmatnya segelas kopi. Setelah itu, kami segera kembali ke markas militer.

Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil, Letnan Budi mencercaku habis-habis.

“Kamu ini gimana sih…? Lihatlah teman-temanmu sudah pada lari semua. Sekarang kamu cuma jadi tumbalnya. Kamu seharusnya bantu kami dong… Jika Herman bisa kita tangkap, kamu bisa saya mintakan bonus pada komandan saya. Tapi kalau Herman belum tertangkap, yah…nasibmu sama teman-temanmu akan menjadi jaminan dan nggak akan bisa pulang.”

“Yang saya tahu cuma alamat Atar. Tapi kalau soal perburuhan itu, atau soal dimana Herman dan Atar, saya tidak tahu.”

“Lho….kata Ganjar, kamu teman dekat Herman. Kok sekarang tiba-tiba kamu bilang nggak tahu tentang Herman tersebut.

Ganjar adalah seorang mahasiswa Universitas Airlangga-Surabaya. Aku mengenalnya sebagai aktivis PRD yang militan. Pagi di tanggal 19 Agustus 1996 aparat intelejen berhasil memaksa Brewok untuk menunjukkan lokasi tempat tinggal Ganjar. Akhirnya, pagi itu juga, Ganjar pun berhasil ditangkap oleh aparat intelejen militer di rumahnya sekitar pukul 10.00.

Oh…rupanya Ganjar yang ‘menggigit’ aku. Lantaran omongannya itu aku diajak ‘jalan-jalan’ dengan tangan terborgol oleh Letnan Budi, untuk menangkap Atar, sekaligus pula Herman. Pikiran jengkelku pada Ganjar pun mulai tumbuh, hingga aku pun berucap;

“Justru Ganjar itu yang teman dekatnya Herman. Kalau pergi ngurusi buruh, ya orang dua itu!”

“Jadi Ganjar yang teman dekatnya Herman. Gitu dia mau ngaku. Harus dikerjain anak itu…,” ucap Letnan Budi dengan wajah bersinar puas.

Saat itu aku sama sekali tak sadar bahwa aku telah masuk jebakan adu domba Letnan Budi, sehingga muncul rasa permusuhanku terhadap Ganjar.

Sesampai di markas Deninteldam V/Brawijaya, Letnan Budi bergegas turun dari mobil.

“Ayo, kita kerjain Ganjar….,” ajak Letnan Budi kepadaku sembari melepaskan borgolku. Kami berdua berjalan sesegera mungkin sampai di ruang tempat Ganjar disekap.

“Ganjar….! Ganjar…! Sini kamu…!”

Letnan Budi mulai berteriak-teriak saat mendekati ruangan si Ganjar. Letnan Budi bergegas memasuki ruangan itu.

Buuuuukkkkk !!!! Buuuuuukkkkk !!!!

Kulihat Ganjar telah terseok-seok tanpa punya kesempatan membela diri menghadapi pukulan bertubi-tubi dari Letnan Budi. Kulihat pula darah merah segar menetes dari pinggir kanan mulut Ganjar.

“Vid…, kamu ngomong apa…?” ucap ganjar kepadaku.

“Kamu ngomong yang bener saja…, aku juga ditekan kayak kamu….,” ucapku memohon kepada Ganjar agar dia bicara yang sebenarnya bahwa aku tidak tahu menahu masalah buruh dan PPBI-nya. Tetapi ternyata Ganjar tetap bersikeras mengatakan bahwa dia tak tahu menahu mengenai Herman dan PPBI.

Tiba-tiba datanglah Pak Azra yang berdiri di sampingku.

“Saya pengen nendang perutnya, tapi sayang perutnya terlalu tipis…..,” ucap Pak Azra turut menyaksikan ‘penggarapan’ wajah Ganjar.

Saat makan siang, aku diperbolehkan turut makan bersama kawan-kawanku. Kala itulah aku melihat Ganjar yang kesulitan untuk melahap makan siangnya akibat mulutnya yang masih terluka. Perlahan, aku mulai berpikir dengan baik hingga kesadaranku pun muncul bahwa aku telah di adu domba dengan Ganjar oleh Letnan Budi. Cuih…., betapa tololnya aku….!

5 June 2008

Penghakiman Otak 12 Jam Sehari (2)

Adapun pernah aku ditanya apakah aku mengenal; Iman dan Budi; yang saat itu aku juga diperlihatkan wajah mereka. Ternyata kedua orang tersebut juga ditahan di Deninteldam V/Brawijaya, berkaitan dengan kasus 27 Juli 1996 dan PRD. Aku menjawab bahwa aku tidak mengenal mereka. Berulang kali pertanyaan itu ditanyakan kepadaku, namun aku pun selalu menjawab dengan jawaban yang sama, bahkan aku tambahkan bahwa mereka bukan anggota PRD!

Di kemudian hari aku mengetahui bahwa Iman adalah seorang wartawan lepas, yang kebetulan pernah meliput aksi massa PRD. Sedangkan Budi adalah aktivis PDI pro Mega, yang selalu aktif mengikuti aksi massa PDI pro Mega yang kala itu bergabung dengan PRD untuk mendukung Megawati. Ternyata para intelejen militer itu salah tangkap. Namun kedua orang tersebut telah terlanjur memperoleh siksaan fisik dan psikis, seperti halnya para aktivis PRD yang memang menjadi buruan aparat intelejen militer.

Demikian pula, di suatu sore, ketika kami dikumpulkan di halaman belakang, Satu persatu dari kami ditanya perihal seseorang bernama Edi Heri. Kami semua, tak terkecuali aku, menjawab bahwa kami tak tahu menahu tentang orang tersebut.

Terkadang di sela-sela interogasiku, aku didatangi seorang intelejen yang menyodorkan kertas kecil bertuliskan beberapa nama Romo (Pastor) di wilayah Jawa Timur.

“Temanmu Dandik itu, bersembunyi di salah satu Romo ini. Masak kamu nggak ada yang kenal satu pun….?!”

Meski penuh tekanan, aku tetap menjawab bahwa aku tidak mengenal para Romo tersebut.

Seperti halnya ketika aku disuruh menunjukkan tempat persembunyian Wiji Thukul di sebuah desa di daerah Ngawi.

“Kamu kan pernah tidur di sana…, pasti kamu tahu rumahnya !”

“Itu rumah orang tuanya, pasti dia sembunyi di sana…!”

Tetapi aku tetap bersikeras bahwa aku tidak tahu menahu tentang rumah orang tua Wiji Thukul. Aku hanya tahu bahwa rumah tempat kumenginap tersebut hanya sebuah rumah salah satu warga desa yang dijadikan sekretariat ‘live in’ Jaker. Meski aku harus mengalami kengerian saat menjawab itu, akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk mengajakku ‘berburu’ Wiji Thukul.

Aku pun pernah suatu ketika disuruh Pak Enos menjelaskan maksud dari Manifesto PRD. Aku mengatakan bahwa aku tidak tahu tentang manifesto itu. Jangankan membaca, melihat rupanya saja, aku tak pernah. Mereka pun tak segampang itu mempercayai keteranganku, meski akhirnya percaya saja bahwa apa yang kujelaskan tersebut benar adanya

Satu hari di hari Sabtu tanggal 24 Agustus 1996, untuk kesekian kalinya aku harus menerima hunjaman pukulan di tubuhku, lalu dengan tubuh yang setengah telanjang ini dipaksa untuk berjungkir balik sepanjang lebih kurang 10 meter. Peristiwa ini terjadi karena pada hari tersebut aku dianggap memberikan keterangan yang palsu. Saat itu sekitar pukul 15.00, seorang intelejen bernama Pak Tarmuji (bukan interogator-ku) datang memasuki ruanganku dan membaca berkas-berkas BAP-ku. Tibalah dia membaca keteranganku di BAP tentang persiapan aksi massa Tambak Beras di Kedung Sroko Surabaya.

”Waktu rapat di Kedung Sroko itu kan orangnya lebih dari 15…?” ucap Pak Tarmuji mencoba menguji kebenaran keteranganku.

“Saya sudah lupa, Pak. Seingat saya di rumah itu banyak orang yang hadir.”

“Iya kan…, lebih dari 15 orang kan..?! bentaknya sambil tersenyum sinis melihat kekalahanku.

“Iya memang…., Pak.”

“Tapi di BAP-mu kok ditulis bahwa yang hadir kurang lebih 15 orang….?”

“Iya memang itu yang saya ingat, Pak…” ucapku sembari dalam hati aku merasa geli, bukankah jumlah lebih dari 15 orang adalah sama artinya dengan kurang lebih 15 orang.

“Waktu rapat itu kan ada juga orang-orang dari Tambak Beras…?” tanya Pak Tarmuji lagi.

“Kalau itu saya nggak ingat, Pak…”

“Saya tahu, ada petani-petani Tambak Beras waktu rapat itu. Kamu ini sebenarnya lupa…atau…pura-pura nggak ingat….”

Aku diam sambil memandangi wajah intelejen tersebut. Ah…persoalan jadi kacau, pikirku. Mendengar hal tersebut, Pak Zainuddin jadi jengkel terhadapku.

“Kamu mau coba membohongi kami, ya…?!” bentaknya.

“Wah…kamu sudah memanipulasi keterangan…,” tambah Pak Tarmuji.

Aku pun lalu digiring Pak Zainuddin ke luar ke ruangan. Tubuhku disuruhnya menempel di pintu dan menghadap padanya.

Buuuuukkkk !!! Buuuuukkkk !!! Buuuuukkkk !!!!

Pak Zainuddin mulai meninju perut dan dadaku berulang-ulang.

Anehnya aku tak merasa sakit. Apa memang pukulan lelaki ini yang tak terlalu keras? Atau memang tubuhku sudah kebal dengan setiap pukulan yang mendarat, akibat sudah terlalu sering dipukuli ? Kondisiku yang tak bergeming membuat Pak Zainuddin kemudian menyuruhku jungkir balik sejauh kurang lebih 10 meter secara berulang-ulang dari pojok ke pojok. Sesudahnya, aku mengamati tubuhku telah penuh dengan kotoran lantai semen yang melegam. Interogasiku terus berlanjut meski pertanyaan yang telah selesai di BAP sudah berjumlah lebih dari 50. Aku cuma ingin segera selesai, agar aku bisa segera berkumpul bersama kawan-kawan yang lain dan tidak dikurung sendirian lagi di ruang interogasi ini selama berhari-hari.


Penghakiman Otak 12 Jam Sehari (1)

Hari-hari berjalan seperti kemarin. Aku tetap bangun pagi lalu berdoa, dan seusai berdoa aku kembali mencoretkan hitungan hari di dinding yang melegam. Kemudian bersama Pak Roto, aku membersihkan ‘hotel’ku ini. Tak banyak yang berubah. Aku masih sendiri dan tetap dikunci rapat dalam ruangan interogasi ini. Keadaanku masih hanya bercelana dalam saja. Biasanya, sesudah mandi, aku mengamati seluruh bekas luka yang membiru di lengan, betis, paha, atau dadaku. Ah…luka-luka membiru itu belum hilang juga.

Seperti hari kemarin pula, interogasiku dimulai pukul 07.30, usai aku sarapan dan sekaligus pula setelah para serdadu melakukan apel pagi. Interogasi ini berhenti sejenak saat makan siang atau sholat Dzuhur, lalu interogasi berlanjut lagi hingga saat Mahgrib tiba. Pada sekitar pukul 18.00, aku mandi dan lalu disuruh menyantap makan malam. Barulah sekitar hampir pukul 20.00, interogasi terhadapku dimulai kembali dan usai tak lebih dari pukul 24.00.

Interogasi yang lebih tepatnya aku sebut dengan ‘penghakiman otak’ ini cukup melelahkan bagiku, sebab aku harus menjalaninya kurang lebih 12 jam sehari (mungkin terkadang malah lebih). Belum lagi disertai penekanan dan ancaman, serta aku disuruh menjawab sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh para interogator. Para interogator-ku memang ‘murah hati’ jika soal memberi rokok. Tetapi syaratnya; aku harus memberi keterangan dengan benar seperti yang mereka kehendaki. Mereka tidak mau dan malah marah bila aku berbelit-belit, atau menggunakan tata bahasa yang tak mereka mengerti.

Pernah suatu kali di kamis tanggal 22 Agustus 1996 sekitar pukul 21.00, seorang interogatorku bernama Pak Zainuddin menganggap aku sengaja memberikan keterangan yang diplomatis mengenai seluk beluk organisasi SMID dan Jaker.

“Kamu sengaja membikin saya bingung, ya…?!” bentaknya padaku.

Naas bagiku, kala itu kejadian tersebut diketahui oleh seseorang intelejen bernama Pak Amari (lelaki tersebut bukan interogatorku).

“Kamu mau coba berbelit-belit, ya..?!”

Pak Amari tampak naik pitam.

“Sini kamu…!”

Pak Amari memanggilku. Aku pun menghadapnya. Kemudian aku disuruhnya berdiri di atas bangku panjang dengan sikap istirahat menghadap ke arah dinding batako yang berlubang-lubang.

“Tempelkan mulutmu di tembok itu…!”

Aku terpaksa menuruti kemauannya, meski dinding ini penuh debu menghitam.

“Nah, sekarang kamu nyanyi lagu Syukur. Biar kamu tahu bagaimana caranya mensyukuri apa yang sudah diberikan negaramu ini…!”

Aku pun segera bernyanyi lagu itu. Aneh.., aku hapal lagu tersebut, padahal aku tak pernah menyanyikan lagu itu lagi sejak aku lulus dari Sekolah Dasar.

“Ayo, yang keras…! Kamu kalau teriak ‘hidup rakyat’ bisa keras kok. Sekarang disuruh nyanyi lagu wajib kok nggak bisa keras. Kamu menghina ya…? Nyanyi terus…, Sampai saya suruh berhenti, baru kamu boleh berhenti.

Aku pun mengulang-ulang lagu tersebut, dan aku baru disuruhnya berhenti setelah hampir setengah jam menyanyi lagu tersebut. Setelah itu aku kembali diinterogasi.

Bagiku tiada hari tanpa bertubi-tubi pertanyaan yang ditimpakan kepadaku. Setiap kali diinterogasi dimulai, aku sudah siap dengan permainan otakku yang kuputar sedemikian rupa sehingga seolah-olah memberikan keterangan yang jujur dan benar, padahal sesungguhnya tidak. Memang yang diinginkan mereka bukan hanya kehancuran fisik dan mentalku, tetapi juga kelelahan otakku. Itulah cara interogasi, agar aku akan menyerah kalah, dan terbongkarlah semua keterangan dariku yang mereka inginkan. Oleh karenanya, aku mengatur cara pula agar tubuhku tidak mudah lelah, terutama otakku harus tetap terjaga kesegarannya. Memang kuakui ada yang memang harus kubuka, tetapi toh tetap ada yang tak ‘terbuka’ meski siksaan mendera diriku.

Masa Pemaksaan Pengakuan (3)

Sekitar hampir pukul 20.30, masuklah tiga orang interogator; Pak Zainuddin, Pak Supriyadi, dan Pak Enos. Mereka siap melanjutkan interogasi terhadapku.

Aku pun ditanya mengenai karya-karya seniku. Puisi apa saja yang telah aku tulis, dan lagu-lagu yang telah aku ciptakan. Sekaligus aku harus menunjukkan dimana semua puisi dan lagu itu aku simpan. Namun aku menjawab saja bahwa aku tak pernah menyimpannya, semua itu kutinggal begitu saja di sekretariat . Sesekali kengerianku bangkit lantaran tekanan suara Pak Enos yang berat, saat memaksaku untuk tidak berbelit-belit dalam memberikan keterangan.

Interogasi hari pertama ini, ada yang tak mungkin kulupakan, yakni saat inilah aku di’sah’kan sebagai ketua Jaker Surabaya dalam BAP-ku. Mau atau tidak, aku harus mau. Aku tak bisa menolak atau mengelak. Meski yang sebenarnya adalah;

Jaker belum dibentuk di Surabaya, masihlah berpusat di Solo dengan kegiatan seni Wiji Thukul yang sekaligus menjadi ketua Jaker dalam skala nasional. Tetapi pada sebuah kongres PRD, jauh sebelum dideklarasikan pada tanggal 22 Juli 1996, namaku telah direkomendasi kuat untuk membangun Jaker di Surabaya dan sekaligus sebagai ketuanya. Kabar tersebut akhirnya menjadi berita yang menyebar di kalangan aktivis PRD di Surabaya, sehingga aku banyak disebut-sebut ketua Jaker Surabaya. Padahal hingga aku ditangkap oleh aparat intelejen militer, aku hanya memikul tugas dari PRD untuk menjadi perwakilan Jaker di Surabaya.

Jadi, aku diangkat menjadi ketua Jaker Surabaya, bukan oleh kongres PRD atau kongres Jaker, tetapi oleh situasi interogasi para intelejen militer di Deninteldam V/Brawijaya.

“Sekarang kamu tidur yang enak, besok kita lanjutkan lagi…..,”ucap Pak Enos menyudahi interogasi terhadap diriku. Saat itu, kulihat jam tangan salah seorang intelejen menunjukkan pukul 23.00.

Aku mengiyakan.

“Kamu sudah punya rokok…?” tanya Pak Enos sebelum meninggalkan ruanganku.

“Sudah Pak, terima kasih…,” jawabku.

Malam pun kian berjalan mengiringi rebahku, melewatiku hari Rabu tanggal 21 Agustus 1996. Tidur bersama malam di ruang ini adalah siksaan tersendiri yang amat kubenci. Bagaimana tidak, aku harus menggigil kedinginan lagi sebab hawa dingin terus menerpa tubuhku yang masih hanya bercelana dalam ini. Kondisi itu membuat aku sebentar-sebentar terbangun dari tidurku. Akhirnya aku memutar otak agar aku bisa tidur nyenyak. Aku pun menemukan ide yang cukup nekad. Aku pindah tidur, dari kursi panjang ke meja besar itu. Lalu kedua mesin ketik kuletakkan dalam posisi berdiri di samping kanan untuk menangkal terpaan hawa dingin. Meski cara itu belumlah maksimal, tapi paling tidak hawa dingin yang kurasakan telah agak berkurang. Pokoknya malam ini aku harus bisa tidur nyenyak. Aku tak perduli bila esok pagi kena damprat akibat ulahku; tidur di di atas meja !

4 June 2008

Masa Pemaksaan Pengakuan (2)

Sekitar hampir pukul 08.00, aku mulai diinterogasi oleh tiga orang intelejen. Seorang yang tampak masih muda dan bertubuh pendek, dipanggil dengan nama Sersan Dua Zainudin. Lalu seorang bertubuh tinggi kurus bernama Pak Supriyadi dengan pangkat Sersan Kepala. Terakhir, adalah seorang muda berpangkat Sersan Dua yang kupanggil dengan nama Pak Waluyo.

Aku yang masih hanya bercelana dalam ini telah mulai menghadapi berbagai pertanyaan yang harus kujawab dengan panjang lebar. Pak Supriyadi mengajukan pertanyaan demi pertanyaan kepadaku di lemaran kertas buram, sementara Pak Zainudin dan Pak Waluyo bergantian mengetik jawaban dan keterangan dariku di lembar-lembar kertas BAP (Berita Acara Pemeriksaan).

Pertanyaan masih berkisar mengenai diriku dan kegiatanku sebagai mahasiswa di FISIP Universitas Airlangga dan awal mula aku masuk menjadi anggota SMID cabang Surabaya hingga aku masuk terpilih menjadi ketua Jaker Surabaya. Bagiku, pertanyaan ini tidak terlalu sulit, dan tak perlu membutuhkan jawaban diplomatis dariku. Interogasi ini berjalan lancar tanpa kemarahan mereka yang kubayangkan, dan berhenti saat istirahat makan siang sekitar pukul 13.00.

Aku sudah membayangkan bahwa setelah makan siang ini, pastilah kantuk akan menyerangku. Terlebih makan siang ini masihlah tetap lezat, seperti halnya sarapan pagi tadi. Ternyata memang aku mengantuk berat bahkan terkadang lelap tidur selama beberapa detik. Untunglah para interogatorku tak tahu hal itu. Aku terkadang ditawari untuk merokok bila keteranganku sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Aku tak perduli dengan persyaratan itu. Terpenting bagiku bahwa aku telah memberikan keterangan sesuka otakku yang sekiranya memuaskan mereka. Toh jika mereka tak puas, paling aku dibentak, dipukul, atau mungkin disetrum. Bagiku ini adalah penghakiman otak. Maka aku harus menggunakan pemikiran intelektualku yang rasional namun tetap terjaga dalam taktik selama masa interogasi itu. Biarlah secara fisik aku hancur, namun otakku tetap mampu berpikir dengan baik dan sehat, sehingga aku tetap tak mudah untuk mengkhianati nurani perjuanganku sendiri. Aku seorang mahasiswa yang barusan menuntaskan studiku, jadi kepandaianku tak boleh kalah dengan para interogator-ku yang kuyakin mereka tak menikmati masa studi setinggi aku.

Ketika saat Magrib tiba. Aku disuruh untuk mandi dan kemudian segera makan malam. Aku tetaplah diberi makanan yang lezat dan bergizi, meski tetap pula dalam rupa nasi bungkus dan seliter air minum.

Sekitar pukul 19.00, masuklah seorang petugas jaga yang berpakaian doreng.

“Ini obat-obatan yang ada di resepmu. Cepat diminum biar sakit gigimu lekas sembuh,” ucapnya sembari meletakkan sejumlah obat-obatan dan sebuah tas plastik kecil di atas meja. Lalu dia pun pergi meninggalkan ruangan ini.

Ya ampun…, baru ingat aku…, bahwa aku barusan cabut gigi dan harus segera minum obat seperti yang disarankan dokter Fadkhurrosi padaku. Aku ingin ketawa sekeras mungkin. Untuk apa obat-obat sebanyak itu…? Toh aku sekarang sudah sembuh dari sakit gigiku. Ternyata hajaran para serdadu itu adalah obat mujarab buat sakit gigiku, membuat aku mempan terhadap linu gigiku seusai cabut gigi kemarin lalu. Obat-obatan itu tak kuperdulikan lagi. Aku justru mengambil tas plastik kecil.

Tas plastik kecil itu ternyata adalah kiriman Ibu berisikan; satu celana dalam, handuk kecil, kaos dan celana pendek. Tak lupa pula sebuah rokok Djarum 12 kesukaanku kala itu. Rupanya inilah kiriman Ibu yang kedua kalinya. Aku senang sekali. Meski aku masih belum diperbolehkan mengganti celana dalam, memakai kaos dan celana pendek.

Aku jadi teringat pada Ibu. Padahal aku berusaha melupakan bayangan tentang Ibu. Aku cuma tak ingin menjadi cengeng karenanya. Meski kenyataan, aku tetap tak bisa melupakan Ibu. Sama halnya dengan Ibu saat ini yang tak akan melupakan aku walau aku telah membuatnya menangis. Barang kiriman Ibu ini adalah pengganti rasa rindu kami, sebab selama dua hari aku di markas militer (dan ternyata hingga hari aku dipindahkan dari tempat tersebut) kami tak diperbolehkan bertemu muka, entah kenapa. Tetapi yang membuatku tak habis pikir, bahwa ternyata kiriman Ibu ini adalah kiriman terakhir yang sampai di tanganku. Hari-hari selanjutnya, hingga aku meninggalkan markas militer ini, aku tak pernah lagi menerima kiriman Ibu.

Masa Pemaksaan Pengakuan (1)

Sekitar pukul 05.30 pagi, aku dibangunkan oleh seseorang petugas jaga yang berpakaian doreng. Aku bangun dari tidurku, namun tetap sadar bahwa aku belum bangun dari ‘mimpi burukku’. Sinar matahari pagi yang masih hangat menyembul di antara celah-celah lobang dinding batako itu. Petugas jaga itu segera meninggalkan aku dan kembali mengunci pintu ruangan. Aku mencoba untuk teguh berdoa pada Tuhan, semoga hari ini Tuhan membimbing aku untuk mengolah jalan pikiranku agar aku selamat dari amarah para serdadu, terlebih paling tidak aku bisa segera meninggalkan markas militer. Seusai aku berdoa tanpa diganggu para serdadu, aku mengambil pulpen yang tergeletak di atas meja, lalu aku mencoretkan 2 garis vertikal berjajar masing-masing sepanjang kira-kira 1 cm di sudut dekat ‘ranjangku’. Artinya bahwa aku telah ‘menginap’ di markas militer ini selama dua hari.

Aku duduk di bangku panjang ini sembari melihat pemandangan di luar markas militer ini, dari lubang-lubang dinding batako. Di jalanan depan markas militer ini, banyak orang lalu lalang memulai aktifitasnya. Beberapa anak-anak berseragam sekolah, kulihat penuh semangat pergi ke sekolah. Mereka seusia dengan adikku, Wawan. Pastilah saat-saat ini Wawan selalu bertanya-tanya pada Ibu, kenapa aku belum pulang juga. Sementara lagu-lagu mars kemiliteran dikumandangkan keras-keras, terdengar dari pengeras suara di luar sana. Aku pun mendengar suara orang-orang yang sedang berolah raga. Aku pun beranjak dari tempat dudukku, menuju ke arah jendela kaca. Ternyata kulihat kawan-kawanku sedang berolah raga di halaman belakang .

Tak lama Pak Budiyono datang memasuki ruangan ini.

“Ayo coba kamu gerak-gerakkan badanmu biar sakitmu berkurang…”

Pak Budiyono bermaksud menyuruhku berolah raga, agar tubuhku yang kemarin babak belur bisa sedikit tersembuhkan. Namun aku tak mampu sebab seluruh tubuhku masih sakit untuk digerakkan terlalu keras. Pak Budiyono pun memakluminya.

“Baiklah…., kalau begitu kamu mandi saja…”

Aku segera menuju ke kamar mandi, seperti yang disuruhkan oleh Pak Budiyono.

Tak berapa lama aku mandi, aku kembali menuju ruanganku. Aku melihat seorang bertubuh tambun yang hitam sedang membersihkan kaca-kaca jendela ruanganku. Dia memperkenalkan diri dengan nama Pak Roto.

“Kamar ini adalah hotelmu. Setiap pagi dan sore jangan lupa dibersihkan hotelmu ini. Di sapu, meja dan jendelanya di-lap. Kalau bersih, kan enak. Jadi biar kamu betah di sini…,” ucap Pak Roto sembari menyeka meja panjang ini.

Lelaki bernama Pak Roto ini menampakkan kebaikkan padaku. Namun entah kenapa, aku tetap tak suka melihat gelagatnya. Bagiku, toh dia tetaplah bagian dari markas militer ini.

“Kamu sudah diperiksa….?” tanya Pak Roto terhadapku.

“Belum , Pak..”

“Kalau nanti diperiksa, kamu jangan ngomong berbelit-belit. Supaya pemeriksaanmu bisa cepat selesai, dan bapak-bapak yang memeriksa kamu tidak memarahimu. Kalau cepat selesai, kan kamu cepat pulang ke rumah. Teman-temanmu yang dulu di sini sudah pulang semua. Sudah bisa kuliah lagi, sudah tidur enak dan makan enak di rumah. Kamu kan juga ingin cepat pulang, makanya kamu nanti ngomong apa adanya..”

Mendengar penuturan Pak Roto barusan, perihal kawan-kawanku yang sudah pulang ke rumah, terbersit harapanku pada sebuah kegembiraan bila aku bisa segera pulang ke rumah seperti mereka. Saat itu aku tak tahu bahwa ternyata kawan-kawanku ada yang tak dipulangkan, melainkan dipindahkan ke penjara Polwiltabes Surabaya.

Selang beberapa saat kemudian, seorang petugas jaga membawakan nasi bungkus dan seliter air minum.

“Makanlah…., biar kamu cepat sembuh…,” ucap Pak Roto sembari meninggalkan aku.

Aku segera menyantap makananku. Meski berupa nasi bungkus, aku yakin makanan ini terhitung mahal sebab isi di dalamnya sangat melezatkan. Sebenarnya mulutku masih terasa sakit untuk mengunyah, karena rahangku yang masih terasa kaku akibat pukulan para sedadu kemarin petang. Tetapi aku berpikir, aku harus tetap sehat supaya bisa berpikir dengan sehat pula. Aku tak boleh menghadapi mereka dalam kondisi perutku yang kosong, sebab kuyakin saat interogasi nanti akan menyedot energiku hingga ke titik terlemahku. Itu sebabnya, kuhabiskan makanan ini tanpa sisa. Saat itu sekitar pukul 07.00, sebab bersamaan dengan apel pagi para serdadu.

3 June 2008

Pesta Kekerasan Dan Penyiksaan Dimulai (6)

Seusai mandi aku digiring untuk masuk lagi ke ruang interogasi. Saat itu mungkin kira-kira hampir pukul 20.30. Aku sendirian di ruang ini. Dengan kondisi yang masih lemah dan belum mampu membedakan gelap dan terang dengan baik, aku merogoh isi tas plastik kiriman ibu; ternyata terdapat kalung rosario dan buku doa. Aku memegang rosario sembari berdoa dalam hatiku agar aku kuat menjalani setiap luka yang dihantamkan pada diriku. Terang 2 lampu dop yang redup ini membuat aku semakin samar melihat siapa saja yang masuk ruangan ini. Hanya aku mendengar sindiran-sindiran mereka;

“Tuhan memang maha pengampun. Tapi bukan untuk komunis seperti kamu….!”

“Kalau sudah sakit begini. Baru kamu ingat sama Tuhan…!”

“Kamu PKI, kok pakai berdoa…..!”

Aku sudah tak tahu lagi, apa yang harus aku perbuat. Doa-ku sudah goyah. Dimanakah Tuhan-ku ? Apakah mereka Tuhan-ku, yang berhak menentukan dosa tidaknya aku? Atau memang di markas militer ini tidak ada Tuhan, yang mampu menyelamatkan diriku? Semua tanya itu bergelut keras di pikiranku. Akhirnya aku tak jadi berdoa.

Tibalah seorang lelaki menyuruhku duduk di kursi plastik yang menghadap meja. Aku mengenal dari aksen Tapanuli-nya, dia adalah Pak Enos. Aku duduk menyamping di sebelah kirinya.

Tak berapa lama datanglah beberapa orang memasuki ruanganku. Samar-samar aku melihat salah seorang yang bertubuh besar dan tegap. Orang tersebut terlihat disegani dan dihormati oleh yang lainnya. Dari bau harum tubuhnya, kuyakin dia bukan orang sembarangan. Dia orang kaya. Dalam samarpun aku sempat melihat kedua tangannya masing-masing memegang sebuah alat komunikasi. Mungkin ‘handphone’ , dan satunya ‘handy talkie’.

“Ini David Kris, Pak. Ketua Jaker Surabaya….”

Kudengar seseorang berucap itu kepadanya.

Aku pun sempat melihat dia mengamati tubuhku yang duduk lesu dengan masih hanya bercelana dalam saja. Dalam samarku, dia tampak mangut-mangut. Setelah itu beberapa orang tersebut meninggalkan ruangan ini.

Siapakah orang kaya tersebut? Mungkinkah dia adalah panglima Kodam IV Brawijaya, atau kepala Bakorstanasda Jatim? Atau-kah Mayjend Imam Utomo? Sayang, saat itu aku tak bisa melihat dengan jelas karena kondisiku yang lemah akibat siksaan fisik yang kuderita. Lagipula penerangan di ruang interogasi memang tak terlalu terang.

Tinggallah kini hanya aku dan Pak Enos. Dia tampak menuliskan sesuatu di lembar demi lembar kertas buram. Sesudahnya, dia menyerahkan kertas-kertas itu padaku. Aku berusaha membuka mataku lebar-lebar agar aku bisa membaca tulisannya. Rupanya berisi beberapa pertanyaaan, tentang; keberadaanku di Jaker Surabaya, berdirinya Jaker di Surabaya, serta puisi dan lagu apa saja yang aku bikin.

“Kamu jawab yang baik, yang benar…dan yang jujur. Kamu tidak usah menutupi sebab di sini semuanya sudah terbuka. Nasi sudah menjadi bubur. Saya tidak mau kalau kamu jujur setelah tubuhmu hancur,” ucapnya dengan bau kepulan asap rokok Surya.

Aku cuma terdiam. Sungguh aku tak mampu menjawab semua pertanyaan tersebut. Tubuhku masih lemas, kepalaku pening, pandangan mataku kian meredup, dan kantukku kian mendera. Mungkin pula karena malam memang telah menjelang. Akhirnya Pak Enos memaklumi kondisiku, dan dia segera menyarankan agar aku segera tidur.

“Besok pagi saja kamu jawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sekarang kamu tidur dulu saja……”

Lalu Pak Enos beranjak meninggalkan ruangan ini dan mengunci pintunya dengan rapat-rapat.

Tinggallah aku sendiri di ruangan ini. Aku rebahkan tubuhku di kursi panjang. Namun ternyata aku tak kunjung tidur juga. Seluruh badanku terasa sakit. Alas kayu kursi panjang ini membuat tulang-tulang di punggungku terasa patah. Terlebih angin malam yang menerobos lewat celah-celah tembok batako, membuat tubuhku yang hanya setengah telanjang ini menggigil kedinginan. Sinar lampu dop itu tak akan bisa membuatku agak sedikit hangat.

Malam pun kian bergulir. Aku pun masih belum juga tidur. Keresahanku membuat aku teringat akan Ibu. Pastilah malam ini beliau tak akan bisa memejamkan mata senyenyak malam-malam kemarin. Beliau pasti masih menghabiskan seluruh persediaan air mata di kelopak matanya. Selama ini aku tak pernah berterus terang pada Ibu bahwa aku berjuang bersama sebuah organisasi pergerakan rakyat yang bernama PRD. Aku tidak menyalahkan apa yang selama ini aku lakukan bersama PRD. Tetapi aku menyalahkan diriku, kenapa aku tak berterus terang pada beliau tentang hal itu. Akhirnya kini, Ibu yang tak tahu apa-apa tentang pergerakan rakyat atau perjuangan politik yang selama ini aku jalani, harus dipaksa untuk memahaminya. Bisakah Ibu melewati semua konsekwensi pahit seperti yang aku alami saat ini ?

Rasa bersalahku terhadap Ibu, membuat aku berpikir sederhana, bahwa dengan menancapkan tanganku ke tempat setrum di dinding itu, maka aliran listrik ini akan dengan cepat pula mengakhiri beban fisik dan jiwaku sekaligus nyawaku. Aku hendak bunuh diri !

Tetapi untunglah rasional berpikirku masih sudi hadir di tengah kekalutanku yang memuncak itu. Jika aku mati di markas militer ini, hanya ada dua kemungkinan; pertama, kematianku akan menjadi kabar yang kelak mengungkap kekejaman militer. Tapi kedua, kematianku hanya sebuah kekonyolanku tanpa kabar sebab mereka dengan mudah menghilangkan jasadku lalu mengabarkan pada berbagai media massa bahwa aku
melarikan diri.

Kemungkinan-kemungkinan itu membuat aku mengurungkan niatku untuk mengakhiri hidupku. Biarlah yang terjadi esok, terjadilah. Aku harus berani menerima semua ujian perjuanganku untuk sebuah kebenaran yang telah tertanam di otakku, meski ujian itu sangat mengikis habis harkatku sebagai manusia yang seharusnya dimanusiawikan. Hidupku ada dalam segala tindakanku yang kuserahkan dalam bimbingan Tuhan. Hidup matiku tak seenaknya bisa dipermainkan di tangan para militer. Inilah saat aku pahami bahwa hidup adalah bagaimana aku harus mengolah isi otakku. Berpikir dan berpikir terus. Uang, baju, celana, dan segala harta tak menjamin aku tetap hidup. Aku di sini hanya punya harta sebuah celana dalam, dan isi otakku. Aku harus bisa mempertahankan hidupku dengan kedua harta yang kupunya saat itu. Maka isi otakku-lah yang akan terus mengolah segala cara dan tindakanku agar aku bisa melewati setiap ujian perjuanganku ini. Sejarah perjuangan yang pahit ini harus kuhadapi dan aku rasakan agar aku tahu kelak bahwa perjuangan melawan penindasan adalah tak semudah mengepalkan tangan ke atas dan berteriak ‘lawan’. Sungguh, ini semua akan menjadi pengalaman perjuangan yang bermakna besar bagiku dan bagi kehidupanku selanjutnya.

Kucoba sekali lagi untuk menahan rasa sakit dan lelah di badanku, serta kupaksa mata ini bisa terpejam tidurkan aku. Akhirnya aku mampu, dan aku pun lalu tertidur. Meski sebentar-sebentar aku bangun karena tak kuat menahan hawa dingin yang menggigilkan badanku Tidurku pun menjadi terganggu, tapi biarlah.

2 June 2008

Pesta Kekerasan Dan Penyiksaan Dimulai (5)

Sedangkan lelaki yang sejak tadi menghajarku habis-habisan, masihlah terus membantaiku dengan pukulan dan tendangannya.

Kemudian dia menghentikan hajarannya terhadapku.

Aku pun mengambil napas panjang lagi.

“Kamu sudah mencemarkan marga ‘Kris’…..!” bentaknya sembari untuk kesekian kalinya menghantamku berulang kali.

Aku sama sekali tak bisa menalar kenapa aku dipukul lagi habis-habisan hanya karena nama belakangku; ‘Kris’. Ternyata dikemudian hari barulah kuketahui bahwa lelaki muda itu bernama Krisnadi.

Aku tak tahu berapa jam, berapa menit, bahkan aku tak menghitung berapa ronde sudah dia menghajarku. Jika aku mengelak, dia akan semakin marah dan memperkeras hajarannya padaku.

“Sini kamu….!”

Aku pun berdiri dengan sikap yang kupaksakan untuk tegak. Posisiku kini berhadapan dengan dia.

“Angkat tanganmu….!”

Aku mengangkat kedua tanganku.

“Lagi…, kurang tinggi….!”

Aku pun mengangkat kedua tanganku setinggi yang dimintanya. Namun aku lupa, bahwa kini tepat di ulu hatiku tak bertameng dan bebas hambatan. Sebuah peluang emas yang tak mungkin dilewatkan olehnya.

Buuuuukkkkk !!!!!

Satu hunjaman kerasnya tepat mengenai daerah ulu hatiku.

Oooouuuuugh……

Aku pun menggeloyor jatuh ke lantai semen dengan lenguhan panjangku yang meregang kesakitan. Jatuhlah aku terjerembab. Saat itu aku ingin membalas pukulan dan tendangannya yang telah dihunjamkan terhadapku. Namun aku sadar bahwa itu adalah sebuah kekonyolan yang hanya akan mengantar aku pada kematian.

Lelaki itu segera meninggalkanku dengan senyum kepuasan, sebab dia telah berhasil membuatku rubuh, setelah begitu lama dia menghajarku habis-habisan.

“Keluar kamu…!”

Suara seseorang, entah siapa, menyuruhku untuk keluar dari ruang interogasi ini.

Aku merayap sembari memegangi bagian perutku yang masih sakit. Aku berupaya untuk berdiri. Meski terhuyung, akhirnya aku bisa berjalan keluar ruangan ini. Aku menghampiri seseorang yang berpakaian doreng. Lelaki ini setinggi aku, raut mukanya berkerut tampak kisar usianya lebih dari kepala tiga. Aku berdiri di hadapannya. Sempat aku melihat Agung (panggilan Agung Hardana, aku mengenal dia sebagai mahasiswa Univ. Wijaya Kusuma Surabaya) dan Ana yang berdiri di belakang lelaki ini. Pikiranku hanya satu; penyiksaan terhadapku belum selesai.

“Siapa namamu…?!” ucapnya tegas. Lelaki ini akhirnya kukenal dengan nama Pak Budiyono.

“David….Kris.., Pak…,” ucapku dengan lirih.

“Selamat datang…..!” ucapnya dengan nada tinggi sambil melayangkan tonjokkannya tepat di dada kiriku dengan kerasnya.

Buuuuukkkk !!!

Aku pun terlempar hampir 1 meter karenanya. Jarak tersebut yang bisa kuperkirakan, sebab aku memang terpental jauh dari hadapan Pak Budiyono. Aku pun tersungkur, dan semakin sakit untuk berdiri. Belum lagi aku sempat berdiri. Tendangan sepatu lars-nya yang besar dan berat, berulang kali mendarat di tubuhku. Aku mirip bola yang digiring menuju ke arah gawang lawan. Jika aku sempat berupaya untuk berdiri, kepalan tinjunya menohok kepalaku, sehingga aku harus jatuh kembali. Aku terseret jauh, mungkin sekitar 10 meter dengan giringan hantaman demi hantaman lelaki tersebut.

Sesampai di sudut ruang lantai atas ini, aku berdiri merapat ke jendela kaca, berhadapan dengan Pak Budiyono. Lelaki ini berulang kali meninju dahi kepalaku dari arah depan, sambil berkata-kata;

“Otakmu ini kotor…!”

“Otakmu ini harus dibersihkan dari kotoran-kotoran. Otakmu ini penuh pikiran jahat….!”

“Otakmu ini harus bersih lagi, supaya pikiran-pikiran komunis itu hilang dari otakmu….!

Tangan kanannya tak juga berhenti meninju jidatku.

Lalu aku disuruhnya untuk merangkak menuju kamar mandi yang jaraknya sekitar 20 meter dari tempatku berdiri tadi.

“Mandi…, bersihkan tubuhmu…!”

Pak Budiyono meletakkan sebuah tas plastik kecil di punggungku.

“Kalau sampai jatuh….. Saya hajar kamu…!”

“Itu kiriman Ibu-mu. Tadi Ibu-mu kesini. Ibu-mu sampai nangis-nangis. Kamu memang anak yang nggak tahu terima kasih. Orang tuamu menyekolahkan kamu susah-susah, kamu malah ikut-ikutan jadi komunis.”

Ah..Ibuku telah menjenguk aku. Semoga aku nggak menjadi cengeng karenanya. Aku harus tetap kuat melewati satu demi satu konsekwensi pahit ini.