Tak kuduga lagi, ternyata peristiwaku bersama Brewok masih berbuntut. Kamis malam tanggal 29 Agustus 1996, sekitar mendekati pukul 21.00, kala aku tengah menjalani hari ke-10 masa interogasiku. Pak Enos sedang terlihat sibuk memeriksa berkas-berkas BAP-ku, sementara aku masih menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari Pak Zainuddin dan Pak Supriyadi. Tiba-tiba Pak Enos dengan suara berang mengagetkan seisi ruang interogasi ini.
“Lho…Brewok kan ikut rapat 1 Juli, kenapa kok dihapus…..?!”
“Eeee….begini..Pak…,” ucapku memberanikan diri untuk bicara.
Pak Enos mendatangiku.
“Siapa yang suruh mencoret nama Brewok di BAP-mu ini…?!”
Tangan Pak Enos yang kekar dan besar itu telah terkepal menopang di atas meja, persis di hadapanku, membuat aku hanya terdiam tak berani meneruskan penjelasanku.
“Kamu adalah tanggung jawab saya… Sekarang katakan siapa yang menyuruh kamu mencoret nama Brewok di BAP-mu ?!”
Aku tetap menunduk diam.
“Kamu diancam Brewok…? Jangan takut sama Brewok… Saya hajar dia….,” lanjut Pak Enos.
Pikiranku semakin bingung. Kenapa jadi begini akhirnya. Aku tak mau dihajar oleh Pak Enos, dan aku pun tak mau Brewok dijadikan ‘sansak hidup’ oleh Pak Enos.
Akhinya kuberanikan diri untuk menjelaskan peristiwa pada hari Selasa 27 Agustus 1996, saat aku dikumpulkan bersama kawan-kawanku di ruang data, oleh Pak Krisnadi.
“Jadi Krisnadi yang menyuruhmu….!”
Aku hanya diam.
“Panggil Krisnadi…..!” perintah Pak Enos kepada Pak Zainuddin.
Pak Zainuddin yang cuma seorang sersan tentunya segera melaksanakan perintah Pak Enos yang berpangkat letnan.
“Kamu menjadi tanggung jawab saya di sini. Saya adalah pengganti orang tuamu. Kenapa kamu menurut sama Krisnadi ? Kalau memang Brewok ikut rapat, ya katakan Brewok ikut rapat. Nggak usah takut sama Brewok.”
Bersamaan dengan itu datanglah seseorang intelejen berpangkat letnan kolonel yang biasa dipanggil dengan nama Pak Sahrun. Pak Enos pun menceritakan hal tersebut kepadanya. Pak Sahrun dengan wajah marah berkata;
“Suruh saja nanti Kris dan Brewok berkelahi di bawah, sampai salah satu kalah. Siapa yang menang, itu yang benar keterangannya.”
Pak Sahrun mendekati aku.
“Kamu tahu nggak, apa hukuman orang yang memberikan keterangan yang nggak benar?!” ancam Pak Sahrun di hadapanku.
Aku tak berani mengatakan apa-apa. Aku hanya tak berani membayangkan, apa jadinya jika nanti aku benar-benar diadu sama Brewok. Haruskah aku menghajar Brewok sampai wajahnya hancur? Ataukah Brewok yang akan menghajarku sampai mulutku berdarah? Semoga itu tak akan terjadi, cuma itu yang bisa kuharapkan.
Kemudian Pak Sahrun meninggalkan ruangan ini.
Tak berapa lama datanglah Pak Krisnadi.
“Siap, Pak,”ucap Pak Krisnadi yang juga hanya seorang sersan kepada Pak Enos yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya.
“Kamu yang menyuruh nama Brewok dicoret dari BAP-Kris…?”
“Siap, Pak,” ucap Pak Krisnadi.
“Kamu sudah merusak kerja saya…..!!”
Buuuukkkk !!! Praaakkkk !!! Brruuukkk !!!
Kepalan tangan Pak Enos menghunjam berulang-ulang di tubuh Pak Krisnadi. Aku merasa ngeri melihat kemarahan Pak Enos terhadap Pak Krisnadi. Walau dalam hati kecilku terbersit rasa puasku, sebab orang yang pernah menghajarku habis-habisan dulu, kini di depan mataku dihajar habis-habisan oleh Pak Enos. Tanpa kusadari, aku menyukai luapan kemarahan Pak Enos itu. Namun yang membuatku tak habis berpikir yakni walau Pak Krisnadi terhuyung-huyung, dia tetap berusaha tegap dan mengucapkan;
“Siap, Pak.”
Tetapi seusai Pak Enos menghukum Pak Krisnadi itu, justru tercipta kemarahan yang lebih besar. Pak Krisnadi segera mendatangi ruangan tempat Brewok disekap, sembari berteriak-teriak;
“Brewok…! Sini kamu…!”
Brraaaakkk !!! Brruuuuukkkk !!! Ya Allah…..!!! Buuukk !!!
Dari ruang ini, yang tak jauh dari ruangan Brewok, aku bisa mendengar jelas bahwa Brewok di hajar habis-habisan oleh Pak Krisnadi. Sementara kemarahan Pak Enos pun belum reda juga, dan aku pun harus menerima tendangan Pak Enos yang menyakitkan perutku. Malam itu, aku dan Brewok, sama-sama dihajar oleh sebuah amarah yang berkobar.
Aku merasa bahwa sejak hari pertama aku disekap di markas militer ini, aku selalu berusaha untuk diadu domba dengan Brewok. Mungkin karena aku dan Brewok sama-sama berjuang melalui bentuk seni, dan sama-sama dikambing hitamkan sebagai sekawanan Jaker cabang Surabaya.
Keesokkan hari di tanggal 29 Agustus 1996, saat pagi masih baru muncul, aku melihat dari kaca jendela, tampak Brewok sedang berjalan menuju ke kamar mandi. Apakah aku tidak salah lihat ! Wajah Brewok hancur, bibirnya menjadi mirip moncong binatang ! Sungguh perbuatan keji. Aku merasa bersalah terhadap apa yang telah terjadi terhadap Brewok. Derita itu sebenarnya tak harus ditanggung oleh Brewok. Maafkan aku, Brewok.