SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

8 June 2008

Para Kambing Hitam Diadu (6)

Masih banyak lagi peristiwa adu domba yang kualami bersama kawan-kawan, di Deninteldam V/Brawijaya ini. Belum lagi saat kami diperintahkan untuk bernyanyi bersama melantunkan lagu; Padamu Negeri, Syukur, atau Garuda Pancasila. Kami harus menyanyikan lagu-lagu itu dengan suara sekeras mungkin, meski saat itu hampir pukul 24.00. Sedangkan yang memimpin ‘paduan suara’ tersebut adalah salah satu dari kami. Biasanya Rouf, entah kenapa dia yang selalu dipilih menjadi ‘komandan’ kami. Jika salah satu dari kami tampak melemah, maka Rouf diperintahkan untuk menamparnya.

Aku merasa bahwa pasti di antara kawan-kawanku itu, ada beberapa orang yang telah berhasil ‘dicuci otak’ melalui permainan adu domba yang penuh siksaan tersebut. Tanpa sadar muncullah rasa benci atau saling memusuhi antar kawan. Namun aku tetap berharap agar semua siksaan yang dirasakan bersama ini justru menjadi makna solidaritas untuk bersama melawan kekerasan, bukan malah tertebas habis dan kian saling mengkhianati.

Pukulan dan tendangan yang mendera, ancaman, tekanan, dan berbagai siksaan lainnya, bukanlah menjadi satu alasan bagi seorang pejuang kemanusiaan untuk merubah dirinya menjadi seorang pengkhianat, sekali pun luka yang diterimanya membekas sepanjang hidupnya.

Para Kambing Hitam Diadu (5)

Jauh hari sebelumnya, aku dan Brewok, pun pernah dihukum oleh Pak Amari. Kami harus memperagakan saat kami melakukan kesenian dalam sebuah demonstrasi. Kami berdua harus membaca puisi dan bermain musik dengan sapu (yang dimisalkan sebagai gitar).

Peristiwa adu domba terus berlanjut, hingga membawa aku bersama kawan-kawan pada sebuah hukuman fisik yang menyakitkan, yakni ‘sujud tobat’ !

Kejadian tersebut terjadi kurang lebih selang satu minggu setelah aku disekap di markas militer ini, saat itu sekitar hampir pukul 12.00. Bermula dari kemarahan Pak Azra terhadap Yohanes Kukuh. Seseorang yang kukenal sebagai mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, dan tak terlalu aktif di PRD. Aku tak tahu apa penyebab Pak Azra hingga marah besar. Yang pasti, Pak Azra memerintahkan semua ‘tawanan’ dibawa keluar dari sekapannya.

Aku, Arindra, Rouf, Dayat, Ganjar, dan Brewok diperintahkan berdiri di depan ruang rapat. Tiba-tiba, satu persatu dari kami ditampari oleh Pak Azra.

Plaaaakkk !!! Plaaakkk !!!

“Ini semua karena kebodohan temanmu itu….”

Pak Azra tampak menimpakan semua ini karena ulah Yohanes Kukuh. Mungkin agar kami semua menaruh kemarahan yang sama terhadap Yohanes.

Pak Azra kemudian memerintahkan Pak Harris dan Pak Krisnadi, untuk menghukum kami semua dengan hukuman ‘sujud tobat’. Hukuman ini, kurasakan sangat berat, karena apa yang dialami kawan-kawan adalah rintihan dan sayatan suara menahan sakit. Tapi di markas militer ini, perintah adalah komando yang harus dikerjakan jika tak mau menerima resiko yang lebih berat lagi.

Sujud tobat dimulai dengan menelengkupkan badan, tetapi badan tidak menyentuh lantai. Badan ini ditopang dengan tegak kedua tangan, dan kedua kaki, persis seperti seekor anjing. Sikap seperti ini kami lakukan sekitar 15 menit lamanya. Kemudian sikap selanjitnya, kedua kaki tidak lagi dipijakkan di lantai melainkan digantungkan di dinding. Sikap kedua ini, membuat kami mulai kelelahan, dan tetesan keringat mulai berjatuhan membasahi lantai, karena sikap ini pun kita lakukan selama lebih dari 10 menit. Berlanjut sikap ketiga, badan tidak lagi ditopang oleh kedua tangan tetapi oleh kepala yang dialasi oleh kedua tangan ini. Sikap ini jelas membuat kami semakin kelelahan dan pening mulai terasa. Selang 15 menit kemudian, berganti sikap keempat, badan kini hanya ditopang dengan kepala. Sementara kedua tangan dilipat di belakang (punggung), dan kedua kai tetap harus menempel di dinding. Sehingga badan ini hanya ditumpu oleh kepala yang menempel di lantai semen yang keras. Sikap inilah yang akhirnya membuat kami tak kuat lagi, dan satu persatu dari kami akhirnya harus berjatuhan ke lantai semen.

Hukuman ini menurut mereka, agar kami bertobat dan mengakui kesalahan kami yang telah merusak negara dan bangsa, serta berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Ketika kami melakukan sikap keempat, kami harus tetap bertahan untuk tidak jatuh lantaran Pak Krisnadi telah mengancam;

“Jangan sampai jatuh. Kalau jatuh saya tampar…”

Tentunya jumlah tamparan itu sesuai dengan jumlah berapa kali kita jatuh. Jika kita jatuh 5 kali, maka tamparan yang akan kita terima pun sebanyak 5 kali. Keringat kami kian seperti banjir yang menggenangi lantai. Kami berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh, agar tidak ditampar oleh Pak Krisnadi atau Pak Harris. Meski bagi kami, sebenarnya tamparan itu sudah tak berasa lagi, sebab kedua pipi ini telah terlalu sering menerima tamparan.

Aku melihat Arindra berulang kali jatuh dan mengeluh akibat perutnya kejang. Tapi apalah artinya keluhan kami di markas militer ini. Dia malah menerima bentakan;

“Berapa kali kamu jatuh….?!” Ujar keras Pak Krisnadi terhadap Arindra.

“Dua kali, Pak…..,” jawab Arindra.

Maka Arindra pun ditampar sebanyak dua kali oleh Pak Krisnadi. Lalu Arindra pun disuruh kembali melakukan ‘sujud tobat’.

Demikian pula dengan Brewok, air ludah pun mengalir keluar dari mul;utnya, sama banyaknya dengan keringat yang menetes dari tubuhnya. Lenguhan Rouf dan Dayat seolah saling berlomba menyayat telinga. Meski mereka berdua toh saling berjatuhan dan harus menerima tamparan, lalu mengulangi ‘sujud tobat’ kembali.

Allahhu Akbar….Allahhu Akbar….., kudengar suara Ganjar memohon kekuatan kepada Tuhan agar dia kuat menahan siksaan fisik ini. Memang kulihat, dialah yang paling kuat bertahan untuk tidak jatuh ke lantai.

Sementara aku memilih untuk bolak-balik menjatuhkan diri ke lantai, lantaran ubun-ubun kepalaku sudah mengeluarkan darah akibat menekan lantai semen yang keras ini. Bagiku, lebih baik aku ditampar berkali-kali, ketimbang darah yang keluar dari kepalaku bertambah banyak.

Akhirnya setelah lebih kurang hampir satu jam lamanya, hukuman ini pun usai. Tiba-tiba entah kenapa Pak Krisnadi memerintahkan agar satu persatu dari kami menampari muka Brewok yang penuh peluh itu.

Tibalah saat giliranku untuk menampar Brewok. Tanganku, yang seumur hidup, tak pernah kugunakan untuk menampar orang. Kini ‘diperintahkan’ oleh Pak Krisnadi untuk menampar orang. Terpaksa aku harus menampar Brewok, meski ku tak bisa melakukan itu, akibatnya tamparanku terhadap Brewok tak ‘sebaik’ yang diinginkan Pak Krisnadi.

“Kurang keras, Kris! Begini caranya menampar orang,” ujar Pak Krisnadi kepadaku.

Plaaakkk !!! Plaaaakkk !!

Aku ditampar Pak Krisnadi dengan kerasnya, sebagai ‘proyek percontohan’.

“Begitu caranya, ayo ulangi lagi! Tampar Brewok….!”

Aku pun terpaksa lagi harus menampar sahabatku itu, sekeras mungkin seperti yang diajarkan oleh Pak Krisnadi terhadapku barusan. Brewok pun terhuyung karenanya. Sekali lagi dan untuk kesekian kalinya aku harus menyukai ‘lelucon’ adu domba antara aku dan Brewok.