Kini aku telah memasuki masa interogasi hari ke-10, Jum’at tanggal 30 Agustus 1996. Aku sudah bosan sekali dengan interogasi-interogasi ini. Entah berapa hari lagi aku masih terus menghadapi interogasi ini? Padahal visualiasi aktifitas-ku dalam PRD telah selesai digarap oleh Pak Suryo dan Pak Supriyadi.
Kali ini Pak Tarmuji yang menginterogasi aku. Lelaki yang berambut cepak bersungut ini bertugas menggantikan Pak Bakir. Saat itu sekitar pukul 9.00. Aku sungguh tak suka dengan gelagat Pak Tarmuji. Dia seolah ‘over acting’ dan sok pintar terlebih bila ada Pak Enos. Hal itu membuat aku enggan bicara panjang lebar dalam memberikan keterangan.
Pak Tarmuji memulai pertanyaan mengenai selebaran organisasi yang pernah aku bikin, aku terima, aku simpan, atau aku sebarkan.
“Lalu selebaran yang masih ada di tanganmu…, kamu kemanakan…?”
“Ya, saya buang, Pak.”
“Kamu buang…., terus kalau ditemu orang…? Lalu sama orang tersebut dibaca, dan disebarkan ke teman-temannya…? Itu sama saja kamu menyebarkan fitnah secara tertulis terhadap pemerintah !”
Ah, aku semakin bingung dengan logika pemikirannya.
Kemudian Pak Tarmuji kembali menanyakan kepadaku perihal ‘kebencian’ PRD terhadap; Bakorstanas, Dwi Fungsi ABRI, Paket 5 UU Politik, atau Pemilu. Aku pun berusaha menjelaskan yang pada intinya bahwa PRD mengkritisi kesemuanya itu karena hal tersebut ternyata merugikan rakyat.
“Kamu jangan coba-coba berdiplomasi di sini…,” ujar Pak Tarmuji.
Aku diam malas menanggapi.
“Jawabannya sebenarnya mudah, cuma kamu saja yang mau coba-coba mempersulit, kan…?” lanjutnya.
“Gini lho jawaban yang benar.., bahwa tujuan akhir PRD adalah melakukan makar terhadap pemerintah yang sah….”
“Lho…, Pak,” ujarku seketika tanpa sadar bahwa aku sedang diinterogasi di markas militer.
“Benar kan…?! PRD mau menggulingkan pemerintahan yang sah, sehingga dia bisa jadi partai yang sejajar dengan partai lain dan lalu mencalonkan Budiman sebagai presiden Indonesia. Jika Budiman sudah jadi presiden, maka ideologi Pancasila segera diganti dengan komunis.”
Aku cuma menghela napas panjang, sambil manggut-manggut. Dalam hati kecilku terbersit kata; terserah apa katamu-lah…..
“Itu kan jawaban yang mudah. Kenapa kamu bikin sulit…? Kenapa kamu pikir…?” ucap Pak Tarmuji setelah melihat aku menganggukkan kepalaku.
“Makanya kalau mikir jangan pakai dengkul…, pakai otak…!”
Aku membenarkan jawaban yang telah dipilihkan olehnya, sebab aku tahu persis apa yang terjadi bila aku tidak membenarkannya.