SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

21 June 2008

Lelucon BAP Di Tengah Interogasi (1)

Kini aku telah memasuki masa interogasi hari ke-10, Jum’at tanggal 30 Agustus 1996. Aku sudah bosan sekali dengan interogasi-interogasi ini. Entah berapa hari lagi aku masih terus menghadapi interogasi ini? Padahal visualiasi aktifitas-ku dalam PRD telah selesai digarap oleh Pak Suryo dan Pak Supriyadi.

Kali ini Pak Tarmuji yang menginterogasi aku. Lelaki yang berambut cepak bersungut ini bertugas menggantikan Pak Bakir. Saat itu sekitar pukul 9.00. Aku sungguh tak suka dengan gelagat Pak Tarmuji. Dia seolah ‘over acting’ dan sok pintar terlebih bila ada Pak Enos. Hal itu membuat aku enggan bicara panjang lebar dalam memberikan keterangan.

Pak Tarmuji memulai pertanyaan mengenai selebaran organisasi yang pernah aku bikin, aku terima, aku simpan, atau aku sebarkan.

“Lalu selebaran yang masih ada di tanganmu…, kamu kemanakan…?”

“Ya, saya buang, Pak.”

“Kamu buang…., terus kalau ditemu orang…? Lalu sama orang tersebut dibaca, dan disebarkan ke teman-temannya…? Itu sama saja kamu menyebarkan fitnah secara tertulis terhadap pemerintah !”

Ah, aku semakin bingung dengan logika pemikirannya.

Kemudian Pak Tarmuji kembali menanyakan kepadaku perihal ‘kebencian’ PRD terhadap; Bakorstanas, Dwi Fungsi ABRI, Paket 5 UU Politik, atau Pemilu. Aku pun berusaha menjelaskan yang pada intinya bahwa PRD mengkritisi kesemuanya itu karena hal tersebut ternyata merugikan rakyat.

“Kamu jangan coba-coba berdiplomasi di sini…,” ujar Pak Tarmuji.

Aku diam malas menanggapi.

“Jawabannya sebenarnya mudah, cuma kamu saja yang mau coba-coba mempersulit, kan…?” lanjutnya.

“Gini lho jawaban yang benar.., bahwa tujuan akhir PRD adalah melakukan makar terhadap pemerintah yang sah….”

“Lho…, Pak,” ujarku seketika tanpa sadar bahwa aku sedang diinterogasi di markas militer.

“Benar kan…?! PRD mau menggulingkan pemerintahan yang sah, sehingga dia bisa jadi partai yang sejajar dengan partai lain dan lalu mencalonkan Budiman sebagai presiden Indonesia. Jika Budiman sudah jadi presiden, maka ideologi Pancasila segera diganti dengan komunis.”

Aku cuma menghela napas panjang, sambil manggut-manggut. Dalam hati kecilku terbersit kata; terserah apa katamu-lah…..

“Itu kan jawaban yang mudah. Kenapa kamu bikin sulit…? Kenapa kamu pikir…?” ucap Pak Tarmuji setelah melihat aku menganggukkan kepalaku.

“Makanya kalau mikir jangan pakai dengkul…, pakai otak…!”

Aku membenarkan jawaban yang telah dipilihkan olehnya, sebab aku tahu persis apa yang terjadi bila aku tidak membenarkannya.

19 June 2008

Secarik Suratku dan Kiriman Ibu (5)

Pagi tanggal 27 Agustus 1996, seusai aku mandi pukul 6.00, aku hanya termenung sembari memandangi sekantung tas plastik yang berisi barang-barang kiriman Ibu. Kenapa sejak hari Rabu tanggal 21 Agustus 1996 lalu, hingga kini sudah lebih dari seminggu aku berada di markas militer ini, Ibu tak pernah lagi memberi kiriman kepadaku? Sejak hari Rabu minggu lalu, tak satu pun barang kiriman Ibu yang aku terima. Jangankan makanan atau pakaian, sebungkus rokok saja hanya sekali dikirimkan Ibu kepadaku. Aku jadi iba pada diriku sendiri. Mungkin Ibu sudah tak mau lagi mengurusi diriku. Mungkin juga Ibu malu memiliki anak yang menjadi ‘perusuh negara’. Atau mungkin Ibu berpikir bahwa aku sudah tinggal nama saja sehingga akan sia-sia bila Ibu bersusah payah memberikan kiriman kepadaku. Bukankah sejak aku ditangkap (hingga nanti aku meninggalkan markas militer ini), aku dan Ibu (kandung)ku tak boleh bertemu muka. Kami tak diperbolehkan saling melihat apalagi saling bicara. Wajar bila Ibu mengira aku sudah tewas di markas militer ini.

Kesemua ini hanya sebuah keinginanku untuk menerima luapan rasa rindu dari Ibuku. Seperti halnya kawan-kawanku yang lainnya, yang menerima kiriman dari orang tua mereka, bahkan masih diperbolehkan bertemu dan saling berbicara. Ganjar menerima kiriman 1 kardus rokok dan kue-kue yang enak. Agung dan Arindra, masih diperbolehkan saling melihat dengan orang tua mereka (walau hanya sekejab). Aku cuma bisa merasakan apa yang dialami mereka, tetapi aku tak pernah mengalami suka cita mereka, yakni menerima luapan kerinduan dari orang tua.

Di kemudian hari barulah kuketahui, dari keluargaku, bahwa ternyata hampir setiap hari keluargaku (baik Ibuku, maupun kakak perempuanku) mengirim barang atau sesuatu untuk diberikan kepadaku. Tak sedikit jumlah dan harga barang yang dikirimkan keluargaku untukku, seperti; celana jins yang belum sebulan kupakai, jaket tebal kesukaanku, kaos-kaos baru yang dibelikan oleh kakak perempuanku, makanan dan rokok 1 pak tiap harinya, dan masih banyak lagi. Kesemua itu dikirimkan untukku, melalui tentara yang bertugas piket di pos penjagaan, sebab memang begitulah peraturan di Deninteldam V/Brawijaya. Tetapi, semua itu tak satu pun yang tiba di tanganku. Semua kiriman keluargaku ‘sia-sia’ , menghilang setelah sampai di tangan petugas jaga di pos penjagaan. Pun suratku juga tak pernah sampai ke tangan keluarga dan harus 'disimpan' di Deninteldam V/Brawijaya.

Secarik Suratku dan Kiriman Ibu (4)

Hari beranjak sampai Senin tanggal 26 Agustus 1996 dan aku melihat hitungan hariku di dinding telah berjumlah 7 garis vertikal, yang artinya aku telah sampai pada hari ke-7 di markas militer ini. Interogasi terhadapku masih berlanjut. Pertanyaan demi pertanyaan masih terus harus kujawab, meski telah mendekati hampir 100 pertanyaan. Kesemua pertanyaan itu masih berkisar tentang aktifitasku selama di SMID cabang Surabaya dan Jaker cabang Surabaya. Pada interogasi kali ini, aku dipaksa mengakui bahwa segala kegiatan seni yang digelar di Surabaya, penulisan poster dan spanduk, pembacaan puisi atau menyanyi lagu-lagu demonstrasi, serta pementasan teater rakyat; yang kesemuanya bermuatan politis atau mengkritik pemerintah adalah hasil kerjaku sebagai tokoh Jaker di Surabaya. Termasuk pula aku harus mengakui bahwa aku adalah tokoh dibalik ‘aksi corat-coret’ atau ‘grafiti action’ yang bertuliskan Gulingkan Soeharto di lokasi-lokasi umum beberapa waktu yang lalu. Demikian pula aku harus mengakui bahwa aku adalah otak yang menyebarkan slogan Rezim Orde Baru = Rezim Bar Bar di setiap poster-poster demonstrasi. Kesemua itu terpaksa aku akui, meski bukan aku pelakunya. Lantaran aku tak ingin menerima pukulan dan tendangan yang akan lebih menyakitkan.

Kala itu aku cuma bisa bertanya dalam pikirku; Kapankah tempat yang tak berkeadilan ini akan dilarang keberadaannya ? Aku tak boleh didampingi seorang pengacara pun, untuk membelaku saat aku dipaksa untuk mengakui perbuatan yang sama sekali tak kuperbuat. Aku hanya tahu pasti bahwa kata-kataku-lah yang mampu menyelamatkan nyawaku dari setiap amarah yang menyala di markas militer ini !

Saat petang datang menghampiri malam. Ada perubahan dalam interogasiku. Jika hari-hari sebelumnya, interogatorku hanya berjumlah tiga orang. Kini interogatorku berjumlah lima orang, yakni; Pak Enos, Pak Suryo, Pak Supriyadi, Pak Bakir, dan Pak Zainuddin. Mungkinkah interogasiku memasuki masa-masa yang lebih sulit bagiku, hingga interogatorku harus ditambah dua orang lagi. Sementara yang ku tahu bahwa semua kawan-kawanku hanya diinterogasi oleh tiga orang.

Masing-masing interogatorku itu memiliki karakter orang yang berbeda-beda. Pak Bakir lebih menunjukkan sikap yang sabar, meski dari kata-katanya tampak bahwa dia menyembunyikan kejengkelannya padaku. Hingga pernah dia berkata kepadaku; “Kamu mau dibikin kayak Marsinah….” Sedangkan Pak Suryo gemar bercanda, terlebih bila bercanda soal sensualitas perempuan dengan Pak Supriyadi. Namun terkadang Pak Suryo sempat mengeluarkan pistol revolver-nya yang diseka dengan sapu tangannya, di hadapanku. Entah apa maksudnya. Meski kini suasana di ruangan ini lebih tampak riuh, aku harus tetap waspada. Pikiranku tak boleh terbawa dengan suasana yang mereka ciptakan di hadapanku. Otakku harus tetap bolak-balik berputar, agar keterangan yang kuberikan tak membuat kelima orang itu meluapkan kemarahannya padaku. Aku pun berpura-pura larut dalam canda mereka. Bagiku, yang penting aku selamat dari kemarahan mereka.

Di sela-sela interogasi, Pak Zainuddin mengabarkan kepadaku bahwa Agung dan Ana telah dipulangkan. Siang tadi, dua kawanku tersebut telah dipulangkan ke rumah masing-masing. Terbersit rasa inginku untuk segera pulang ke rumah. Tentunya, malam ini dua kawanku tersebut telah berkumpul bersama keluarga mereka kembali. Menikmati makan malam bikinan Ibu mereka, dan merebahkan tubuh mereka sepuas-puasnya di kasur yang empuk.

Barulah di kemudian hari aku mengetahui bahwa sebenarnya ternyata Agung dan Ana, pada siang tanggal 26 Agustus 1996 itu, telah dikirim untuk dijebloskan dalam penjara Polwiltabes Surabaya.

Seperti biasanya, interogasiku berhenti sebelum pukul 24.00. Aku pun segera tidur untuk kembali mencoba meraih mimpi indah, meski sementara aku masih ada dalam cengkeraman mimpi buruk yang riil terjadi dalam kehidupanku.

18 June 2008

Secarik Suratku dan Kiriman Ibu (3)

Pintu tak terkunci, kesempatan aku gunakan untuk bertemu kawan-kawanku yang lain, yang berada di ruang tak jauh dari ruangku. Aku mengendap-endap menuju ruang tempat kawan-kawanku disekap. Melihat kedatanganku, kawan-kawan sempat terperanjat. Bukankah masa interogasiku belum selesai, tapi kenapa aku sudah diperbolehkan meninggalkan ruangan interogasi ? Aku segera memanggil salah seorang kawanku; Agung Hardana. Bergegas aku mengajaknya untuk menuju ruanganku. Aku hendak menunjukkan kepadanya tentang catatan yang ketemukan di tumpukan berka-berkas BAP-ku. Setelah Agung membacanya, semakin jelas ketakutannya bahwa kami semua kelak akan dijebloskan satu persatu ke penjara Polwiltabes Surabaya. Lalu ia pun segera kembali ke ruangannya, untuk pula mengabarkan hal tersebut kepada kawan-kawan yang lain.

Aku kembali sendirian di ruanganku, dan kembali menantikan kedatangan para interogatorku. Tetapi hingga siang, petang dan menjelang malam. Sosok para interogatorku belum muncul juga. Ah, semoga harapanku benar adanya bahwa hari Minggu adalah juga hari libur interogasi.

Sekitar pukul 20.00, Pak Enos memasuki ruanganku. Lelaki berbadan besar ini mengajak aku untuk berbincang-bincang. Pak enos memulai pembicaraan tentang keadaan diriku dan keluargaku.

“Kau sudah tak punya bapak. Kau harapan ibumu. Sekarang kau malah membuat ibumu menderita,” ujar Pak Enos kepadaku.

Lelaki berdarah Batak ini pun mengharapkan agar setelah peristiwa yang menimpaku ini usai, aku harus segera mencari nafkah untuk meringankan beban keluarga. Pak Enos pun tak lupa menanyakan perihal sakit gigiku yang dulu, namun bagiku hal tersebut sudah lama tak terpikirkan olehku.

Aku pun memberitahukan pada Pak Enos bahwa aku ingin berkirim surat pada keluargaku. Pak Enos memperbolehka, asal dibacanya terlebih dulu. Aku segera memberikan surat tersebut kepadanya. Pak Enos membacanya dengan seksama, sembari menghisap dalam-dalam sebatang rokok Surya 12. Aku diam memperhatikannya.

“Kalau kau tulis bahwa di tempat ini kamu susah, pasti Ibumu akan semakin sedih ketika membaca suratmu ini. Sekarang ini Ibumu susah memikirkan kau, jangan kau tambahi lagi kesusahan Ibumu dengan suratmu ini….,” pesan Pak enos seusai membaca suratku tersebut.

Kemudian Pak Enos menyimpan surat tersebut di sela-sela tumpukan berkas-berkas BAP-ku, sembari berpesan padaku lagi; “Kau tulis lagi surat yang bagus, biar Ibumu senang. Jadi Ibumu tahu bahwa kau disini baik-baik saja. Saya dulu ketika perang, saya tulis surat pada keluarga bahwa saya baik-baik saja, supaya mereka tidak mengkhawatirkan saya. Padahal saya dalam perang hampir mati….”

Aku hanya manggut-manggut saja. Meski dalam hati terbersit bahwa aku tak akan menulis ulang surat itu bila isinya harus bertutur lain dengan apa yang sebenarnya kualami di ‘sel’ ini. Bukankah sama artinya aku membodohi diriku sendiri dan keluargaku.

Pak Enos pun mengakhiri pembicaraan ini.

“Ini, buat kau. Rokok-lah….,” ujar Pak Enos meninggalkan aku dengan meletakkan beberapa batang rokok Surya 12 di meja. Seperti biasanya pula, lelaki ini menyuruhku untuk segera tidur agar esok hari tidak lelah dalam menghadapi interogasi. Ah, ternyata harapanku terkabul, hari Minggu memang hari libur bagi interogasiku. Aku pun melewati malam dengan penuh ketenangan. Merebahkan diri di bangku panjang. Kunikmati menghisap sebatang rokok pemberian Pak Enos tadi, sembari mendengarkan riuh suara binatang malam. Perlahan kantukku mulai tiba. Aku pun segera pulas dalam tidur.

16 June 2008

Secarik Suratku dan Kiriman Ibu (2)

Tak lama setelah kuselesaikan tulisan suratku, datanglah Pak Zainuddin memasuki ruangan. Lelaki itu pun memulai interogasi terhadapku. Di sela-sela interogasi, aku beranikan untuk menunjukkan suratku kepadanya. Dia pun membacanya, sambil tersenyum-senyum kecil. Lalu berpesan kepadaku supaya surta itu diserahkan ke Pak Enos, sebelum disampaikan kepada keluargaku.

Pak Zainnudin kemudian melanjutkan interogasinya terhadapku. Interogasi kali ini berkaitan dengan keterlibatanku dalam aksi massa bersama buruh di Simo Pomahan pada tanggal 8 Juli 1996. Keterangan yang kuberikan kepadanya, sebatas apa yang tercatat dalam kronologis kejadian kala itu. Sedangkan persoalan rapat konsolidasi atau pun perencanaan aksi, aku tak ‘membuka’ padanya.

Interogasi ini tak berjalan lama, sekitar hampir pukul 21.00 Pak Zainuddin menghentikan interogasi ini.

“Kamu beruntung malam ini saya ada acara pribadi…..,” ujar Pak Zainuddin terhadapku sembari meninggalkan ruangan.

Aku segera menyulut rokok Gudang Garam International pemberian Pak Zainuddin, sembari merebahkan tubuhku di bangku panjang. Seusai habis sebatang rokok, aku pun tertidur.

Hari minggu tanggal 25 Agustus 1996, hari ini suasana kantor militer ini sepi. Maklumlah hari ini hari libur, sehingga tak banyak para intelejen yang lalu lalang. Hanya terkadang satu dua orang berseragam doreng, mereka adalah petugas piket, yang sempat kulihat melewati ruanganku. Semoga hari libur ini berarti pula adalah hari libur interogasiku, harapku dalam hati.

Aku pun diam-diam memeriksa berkas-berkas BAP-ku yang tertumpuk rapi di meja, meski sebenarnya aku dilarang keras oleh para interogatorku untuk tidak membuka-buka berkas-berkas tersebut. Rasa nekadku ini membuat aku menjadi mengerti tentang isi berkas-berkas BAP-ku. Ada yang tertulis seusai dengan keterangan yang aku berikan, namun ada pula yang ditambah atau dilebih-lebihkan. Pikirku, jelas ini sebuah skenario untuk lebih mudah menyeret aku dalam legitimasi bersalah dan pantas dijatuhi hukuman sesuai kemauan penguasa di Indonesia.

Tiba-tiba aku menemukan secarik kertas berisi catatan tulisan tangan. Catatan itu berisi konfirmasi pemebrian dana terhadap SMID cabang Surabaya. Konfirmasi itu dilakukan oleh Trio Yohanes, Icha, dengan Ir. Sutjipto (Ketua DPD PDI Jatim pro Mega). Pada catatan itu kuketahui bahwa konfirmasi tersebut dilakukan di Polwiltabes Surabaya. Akhirnya kuketahui dengan sebenarnya bahwa Icha, dan kawan-kawan yang lainnya, bukan dipulangkan ke rumah masing-masing seperti yang selalu diucapkan oleh beberapa intelejen di markas militer. Tetapi dijebloskankan ke penjara Polwiltabes Surabaya. Saat inilah aku merasa bahwa aku kelak akan menyusul mereka di Polwiltabes Surabaya, karena BAP-ku penuh dengan ‘keterangan subversif’ yang mengerikan.

Tiba-tiba kudengar langkah sepatu menghampiri ruanganku. Aku segera menata kembali berkas-berkas tersebut seperti sedia kala. Seorang lelaki yang belum kukenal memasuki ruanganku. Di kemudian hari aku mengetahui bahwa dia adalah Serka Suryo, yang sebenarnya pula menjadi interogatorku.

“Bagaimana kamu di sini….?”

“Saya…..baik-baik saja, Pak…”

Lelaki ini murah senyum dan suka humor. Beberapa saat kami sempat bergurau sejenak, mungkin sebagai awal perkenalan kami. Hingga kemudian dia beranjak meninggalkan aku, tanpa mengunci pintu !

15 June 2008

Secarik Suratku dan Kiriman Ibu (1)

Sejak saat aku di panggil oleh Pak Amari untuk menuliskan statement, agar Herman dan Sardiyoko menyerah, sejak saat itu pula aku sudah diperbolehkan memakai pakaian seperti sedia kala. Tepatnya hari itu Sabtu tanggal 24 Agustus 1996. Aku sudah memakai pakaian yang dulu kukenakan saat aku ditangkap, yakni kaos putihku yang masih menyisakan bercak darahku dan celana jins. Aku pun segera mengganti celana dalamku yang sudah kotor menghitam, lantaran 5 hari melekat di tubuhku, dengan celana dalam yang dulu pernah dikirm oleh Ibu.

Tetapi hari itu masihlah tetap sama seperti hari yang lalu. Aku masih terkunci di ruang interogasi Deninteldam V/Brawijaya. Aku masih terus diintai oleh setiap pertanyaan dari para interogatorku, polah dan suara kesakitan kambing-kambing hitam akibat deraan masih teralami, dan kesemuanya itu tiada yang berubah. Kalaupun ada waktu sedetik untuk menenangkan pikiran sejenak, kami segera berharap agar ujian ini bisa cepat usai.

Setelah sejak pagi hingga sore, aku mengalami diinterogasi, kini tibalah waktu untuk mandi dan makan malam sembari menantikan saat untuk diinterogasi lagi hingga larut malam. Sesudah melewati Magrib, para interogatorku belum datang juga. Sementara waktu pun bergulir beranjak malam. Semoga malam ini, tak ada acara interogasi, itu harapku. Diam-diam aku mengambil secarik kertas buram berukuran folio, lalu aku bersiap untuk mengetiknya. Aku beranikan diri untuk menulis surat pada orang-orang yang kucintai di luar markas militer ini; Ibu, kakak perempuanku, adik lelakiku, dan semuanya.

Aku pun bergegas menyelesaikan surat tersebut, sebelum para interogatorku datang. Tak sampai setengah jam akhirnya surat itu pun telah kelar kutulis. Aku tak ingat secara persis isi surat itu, sebab ketika aku menyampaikan surat tersebut kepada Pak Enos, dengan maksud agar dia memberikan kepada keluargaku. Tetapi aku masih tak lupa isi surat tersebut secara garis besarnya;

Pada bagian awal suratku, aku menceritakan tentang bagaimana kondisi diriku di Deninteldam V/Brawijaya ini. Aku ditempatkan seorang diri di ruangan yang kukenal dengan ruangan interogasi. Di tempat tersebut aku makan, minum, tidur sekaligus di mintai keterangan selama berhari-hari. Mulanya aku tak kuat menjalaninya, namun akhirnya aku mampu melampaui masa-masa sulit tersebut. Aku masih tak tahu, kapan aku akan dipulangkan kembali ke rumah.

Selanjutnya, aku menyatakan kerinduanku, terutama pada Ibu. Aku mengucapkan maafku pada Ibu tentang ketidakjujuran selama ini bahwa aku aktivis sebuah organisasi pergerakan, sehingga Ibu harus turut memikul resiko pahit yang aku alami ini. Aku luapkan pula bahwa aku ingin memeluk Ibu, dan kusampaikan pula salam untuk kakak perempuanku dan adik lelakiku.

Bagian akhir surat tersebut, kuungkapkan pula bahwa aku pun rindu pada kawan-kawan di kampungku. Bila saja malam ini aku tidak berada di markas militer ini, tentunya aku sudah tampil menyanyi bersama vokal group karang taruna di panggung seni perayaan Kemerdekaan RI ke-51. Tetapi waktu dan kenyataan bicara lain, aku harus mendekam di markas militer ini. Harapku, semoga mereka tidak kecewa karenanya. Aku pun meminta Ibu, agar menyampaikan salamku padanya dan rasa maafku kepada Anis dan teman-teman di kampungku.

Demikianlah pokok isi suratku yang kuketik dengan mesin ketik yang biasa dipakai untuk mengetik BAP-ku.