SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

4 July 2008

Hari-hari Seusai Masa Interogasi (2)

Hari ini, memang tak ada lagi interogasi bagi kami, tetapi justru merupakan hari yang menjemukan. Maka aku berusaha mencari kesibukan agar waktu berjalan tanpa terasa. Aku membersihkan kamarku (ruang data), mencuci pakaian, atau ngobrol dengan Arindra dan Rouf sembari menghabiskan berbatang-batang rokok. Hingga tanpa terasa waktu melangkah ke sore, dimana kami diperbolehkan berolah raga dan bergantian mengisi air di bak mandi untuk mandi sore. Seusai makan malam, seperti biasanya sekitar pukul 19.00, kami pun diperintahkan untuk kembali ke ruangan kami masing-masing. Kami harus segera tidur.

Waktu masih sekitar pukul 20.00. Aku, Arindra, dan Rouf tak segera tidur. Kami kembali ngobrol tentang; kapan kami kira-kira akan meninggalkan tempat ini ? Jika kami pulang, apa yang akan kami lakukan kemudian ? Sembari kami tetap berharap agar tak ada lagi kawan yang tertangkap. Sempat pula Arindra bicara tentang kerinduannya pada Savira, pacarnya. Selang di antara obrolan kami, tak jarang ada seorang intelejen yang memasuki ruangan kami, dan turut ngobrol bersama kami.

Malam itu, sekitar pukul 22.00, Pak Budi Santoso memasuki ruangan kami.

“Ada yang mau minum kopi….?”

Mendengar tawaran itu, kami bertiga tentu saja tak ada yang mengatakan ‘tidak’. Kami segera mengikuti langkah Pak Budi Santoso menuju ruang tengah. Ternyata di ruang tersebut telah berkumpul kawan-kawan yang lain, pula Pak Enos, Pak Waluyo dan Pak Krisnadi. Kami bersama-sama menikmati kopi hangat dan jajanan warung, serta menyaksikan acara musik di televisi. Suasana ini memang terlihat akrab. Seolah di masa lalu tak pernah ada kemarahan, kebencian, dan permusuhan di antara kami semua. Namun tetap aku ragu, apakah suasana ini tercipta dengan tulus ? Atau hanya sekedar ilusi yang membuat kami lupa sejenak kengerian yang pernah kami lewati di markas militer ini ? Aku tetap tak bisa menerima semua ini dengan begitu mudahnya. Meski aku tetap berusaha untuk tidak memperlihatkan keraguan itu, dan seolah larut dalam gelak canda bersama mereka. Bagiku, aku bisa memenuhi hasratku untuk minum kopi, yang selama hampir dua minggu terpaksa kupendam.

Seusai acara santai tersebut, kami pun kembali ke kamar masing-masing. Aku, Arindra, dan Rouf pun kembali ke ruang data. Kami bertiga bersiap untuk tidur. Sebelumnya, kami bertiga berdoa bersama. Aku rebahkan tubuhku di lantai yang kualasi dengan beberapa lembar koran bekas, seperti halnya Arindra. Sementara Rouf terlihat telah menikmati rebahnya di bangku panjang yang terletak di sampingku.

Malam semakin larut, Arindra dan Rouf telah lelap dalam tidur. Aku masih tak bisa memejamkan mata. Aku duduk bersila mengamati setiap sudut ruangan ini. Sungguh besar dan luas ruangan ini, bahkan mungkin sebesar lapangan bulu tangkis. Berbagai data tertempel di dinding mengelilingi ruangan ini, namun dituutupi oleh tirai. Aku beranjak menghampirinya. Kubuka satu persatu tirai tersebut. Aku melihat begitu banyak data, diantaranya; data peta lokasi intelejen, grafik aktifitas intelejen, hingga data pemantauan kampus-kampus se Surabaya. Lalu aku kembali ke alas tidurku. Kunyalakan sebatang rokok. Rokok apa sajalah, yang penting aku bisa merokok agar tak melamun yang tak karuan. Lama kelamaan, kantuk mulai hinggap. Kumatikan rokokku lalu kuletakkan di samping kiri tubuhku. Aku pun segera tidur.

2 July 2008

Hari-hari Seusai Masa Interogasi (1)

Seorang intelejen (aku tak mengetahui namanya), membangunkan aku, Arindra dan Rouf, sekitar pukul 05.30. Kami bertiga beranjak dari tidur dan segera mempersiapkan diri untuk segera berolah raga bersama kawan-kawan yang lain (Dayat, Yohanes Kukuh, Brewok dan Ganjar).

Mentari pagi masih malas untuk membuka matanya di ufuk timur. Aku dan kawan-kawanku telah berkumpul di lapangan olah raga dekat garasi, untuk memulai senam pagi. Seorang intelejen yang berpakaian doreng menyuruh kami untuk berlari-lari sejauh kurang lebih 20 meter sebanyak 20 kali. Kami amat kelelahan. Kulihat Arindra mulai mengeluh kesakitan akibat perutnya mengejang lagi. Namun intelejen itu tak menggubrisnya, bahkan malah menghukum Arindra dengan hukuman ‘berguling-guling’ di tanah beraspal sepanjang kurang lebih 10 meter. Tubuh Arindra yang tak berbaju itu menjadi terlihat kotor dan melegam hitam.

Setelah itu kami mulai berjajar dengan dipimpin oleh kawan kami sendiri, Rouf. Sang intelejen itu tetap mengawasi kami. Melalui Rouf, dia memberi wewenang untuk menampar salah seorang dari kami yang melakukan kesalahan gerakan senam pagi. Semakin lama gerakan senam pagi ini kian berat, hingga kami merasa tersiksa karenanya. Bagiku, mungkin bagi kawan-kawanku pula, ini lebih tepat disebut ‘siksa raga’ bukan olah raga. Sekitar satu jam kemudian, olah raga yang menyakitkan tubuh ini, selesai.

Intelejen tersebut menyuruhku mengambil air minum di dapur umum guna persediaan minum kami dalam sehari. Aku dan Hidayat segera mengambilnya. Aku ingat bahwa hari ini adalah hari Sabtu tanggal 31 Agustus 1996, itu artinya para intelejen banyak yang sedang tak berada di markas militer ini. Itu sebabnya tempat ini terlihat sepi, tak begitu banyak aktifitas. Inilah kesempatan bagiku untuk menjelajahi setiap sudut kantor militer ini dengan berpura-pura mengambil air minum di dapur umum. Sesampai di dapur umum, aku (yang masih bersama Dayat) menemukan sebuah ruang-ruang yang gelap dan menyeramkan. Rasa ingin tahuku pun muncul, dan menghampirinya.

Ruangan tersebut berada di balik tembok garasi mobil militer, itu sebabnya tak tampak dari halaman depan sana. Ia terletak persis di samping dapur umum tempat aku mengambil air minum. Jumlah ruang-ruang itu kurang lebih 4 ruang. Ia tak bedanya dengan sel tahanan. Ia tertutup rapat dengan tembok yang menghitam dan penuh debu, serta sebuah pintu besar yang terkesan angker, serta hanya ada sebuah jendela berukuran kira-kira 60 cm x 40 cm yang berfungsi sebagai jalan masuk udara dan cahaya matahari. Pada pintu tersebut terdapat lubang persegi seukuran kurang lebih sama dengan jendela tadi, yang terletak di sisi bawah, mungkin berfungsi untuk memasukkan makanan dan minuman bagi penghuni di dalamnya.Keadaan sekeliling di dalamnya sangat menyiratkan bayangan kengerian. Penerangan ruangan hanya memakai lampu dop berukuran sekitar 25 watt. Beberapa lonjoran papan kayu tergeletak berjajar yang mungkin digunakan sebagai alas tidur.

Sungguh, ruangan ini adalah sebuah mimpi buruk yang terburuk bagi siapa saja yang disekap di dalamnya selama berhari-hari. Menurut Dayat, ruangan ini disebut oleh para intelejen itu sebagai ‘kamar hantu’. Ternyata menurutnya lagi, bahwa dia dan Yohanes Kukuh, pernah disekap di ruangan itu selama lebih dari 3 hari. Adapun Dayat yang kukenal adalah seorang mahasiswa IKIP Negeri Surabaya, dan yang kutahu dia tak terlalu aktif di PRD. Tetapi sejarah perjuangan rakyat telah menguji dia di Deninteldam V/Brawijaya.