Hari ini, memang tak ada lagi interogasi bagi kami, tetapi justru merupakan hari yang menjemukan. Maka aku berusaha mencari kesibukan agar waktu berjalan tanpa terasa. Aku membersihkan kamarku (ruang data), mencuci pakaian, atau ngobrol dengan Arindra dan Rouf sembari menghabiskan berbatang-batang rokok. Hingga tanpa terasa waktu melangkah ke sore, dimana kami diperbolehkan berolah raga dan bergantian mengisi air di bak mandi untuk mandi sore. Seusai makan malam, seperti biasanya sekitar pukul 19.00, kami pun diperintahkan untuk kembali ke ruangan kami masing-masing. Kami harus segera tidur.
Waktu masih sekitar pukul 20.00. Aku, Arindra, dan Rouf tak segera tidur. Kami kembali ngobrol tentang; kapan kami kira-kira akan meninggalkan tempat ini ? Jika kami pulang, apa yang akan kami lakukan kemudian ? Sembari kami tetap berharap agar tak ada lagi kawan yang tertangkap. Sempat pula Arindra bicara tentang kerinduannya pada Savira, pacarnya. Selang di antara obrolan kami, tak jarang ada seorang intelejen yang memasuki ruangan kami, dan turut ngobrol bersama kami.
Malam itu, sekitar pukul 22.00, Pak Budi Santoso memasuki ruangan kami.
“Ada yang mau minum kopi….?”
Mendengar tawaran itu, kami bertiga tentu saja tak ada yang mengatakan ‘tidak’. Kami segera mengikuti langkah Pak Budi Santoso menuju ruang tengah. Ternyata di ruang tersebut telah berkumpul kawan-kawan yang lain, pula Pak Enos, Pak Waluyo dan Pak Krisnadi. Kami bersama-sama menikmati kopi hangat dan jajanan warung, serta menyaksikan acara musik di televisi. Suasana ini memang terlihat akrab. Seolah di masa lalu tak pernah ada kemarahan, kebencian, dan permusuhan di antara kami semua. Namun tetap aku ragu, apakah suasana ini tercipta dengan tulus ? Atau hanya sekedar ilusi yang membuat kami lupa sejenak kengerian yang pernah kami lewati di markas militer ini ? Aku tetap tak bisa menerima semua ini dengan begitu mudahnya. Meski aku tetap berusaha untuk tidak memperlihatkan keraguan itu, dan seolah larut dalam gelak canda bersama mereka. Bagiku, aku bisa memenuhi hasratku untuk minum kopi, yang selama hampir dua minggu terpaksa kupendam.
Seusai acara santai tersebut, kami pun kembali ke kamar masing-masing. Aku, Arindra, dan Rouf pun kembali ke ruang data. Kami bertiga bersiap untuk tidur. Sebelumnya, kami bertiga berdoa bersama. Aku rebahkan tubuhku di lantai yang kualasi dengan beberapa lembar koran bekas, seperti halnya Arindra. Sementara Rouf terlihat telah menikmati rebahnya di bangku panjang yang terletak di sampingku.
Malam semakin larut, Arindra dan Rouf telah lelap dalam tidur. Aku masih tak bisa memejamkan mata. Aku duduk bersila mengamati setiap sudut ruangan ini. Sungguh besar dan luas ruangan ini, bahkan mungkin sebesar lapangan bulu tangkis. Berbagai data tertempel di dinding mengelilingi ruangan ini, namun dituutupi oleh tirai. Aku beranjak menghampirinya. Kubuka satu persatu tirai tersebut. Aku melihat begitu banyak data, diantaranya; data peta lokasi intelejen, grafik aktifitas intelejen, hingga data pemantauan kampus-kampus se Surabaya. Lalu aku kembali ke alas tidurku. Kunyalakan sebatang rokok. Rokok apa sajalah, yang penting aku bisa merokok agar tak melamun yang tak karuan. Lama kelamaan, kantuk mulai hinggap. Kumatikan rokokku lalu kuletakkan di samping kiri tubuhku. Aku pun segera tidur.