Akhirnya sekitar pukul 12.00, kami diperintahkan untuk berkumpul bersama Brewok dan Ganjar, di salah satu ruang yang masih terletak di lantai II. Kami disuruh menyantap makan siang dulu. Ternyata kini kami hanya tinggal berempat saja (aku, Arindra, Brewok, dan Ganjar) yang belum dipulangkan. Kami semakin yakin bahwa kami berempat akan dipindahkan ke Polwiltabes Surabaya.
Salah satu dari kami pun terkadang bertanya kepada seorang intelejen yang kebetulan memasuki ruangan kami. Tetapi dia hanya menjawab dengan sinis;
“Sudahlah…, nggak usah takut. Pokoknya kalian harus berani menanggung akibatnya. Kalian berani berbuat, ya harus berani bertanggung jawab. Paling-paling kalian cuma kena 1 atau 2 tahun…”
Tetapi ada pula jawaban yang menjengkelkan kami, dari salah seorang intelejen lainnya;
“Nggak…, kalian pasti dipulangkan ke rumah kok.”
Sekitar pukul 13.30, kami disuruh turun ke lantai I, menghadap Pak Sahrun di ruang administrasi. Di ruang tersebut kami kembali mendengarkan ‘salam terakhir’ dari Pak Sahrun, sekaligus pula dari Pak Wayan. Mereka berdua adalah pemilik pangkat yang tinggi di markas militer ini.
“Jika kalian nanti diperiksa oleh kepolisian, kalian bilang saja apa adanya…, sama seperti apa yang kalian katakan di sini, atau yang telah ada di BAP kalian.”
Salah satu ucapan ‘salam terakhir’ dari Pak Sahrun itu membuat kami semakin yakin bahwa kami memang hendak dipindahkan ke Polwiltabes Surabaya untuk menerima hukuman penjara. Akhirnya kami pun dipersilahkan meninggalkan markas militer ini. Kami disuruh berpamitan dan saling memberi salam kepada para petugas intelejen di markas militer ini. Sesampai di pos penjagaan, satu persatu kami mengisi buku tamu untuk menuliskan keterangan bahwa kami telah meninggalkan tempat ini. Beberapa petugas jaga di pos tersebut, kudengar menyindir kami;
“Jangan lupa sama kami, ya…”
“Sering-sering main ke sini, ya….”
Mungkin sekitar lebih dari 5 intelejen mengiringi kepergian kami.
“Kalian nanti setelah sampai di gerbang keluar itu, kalian ikut bapak-bapak itu,” ucap seorang intelejen pada kami, sambil menunjukkan ke arah beberapa orang lelaki yang berpakaian rapi tampak menunggu di halaman luar markas militer ini.
Setiba kami menginjakkan kaki di luar halaman, kami disambut dengan kurang lebih 3 orang berpakaian rapi. Kami tak mengenali mereka.
Di kemudian hari barulah aku mengetahui bahwa dua orang di antaranya, masing-masing adalah; Pak Edi dan Pak Mochtar (yang nantinya menjadi penyidikku di Polwiltabes Surabaya).
Kemudian kami menaiki sebuah mobil semodel Hi-jet tua berwarna putih. Mobil itu pun segera melaju. Ditinggalkanlah tempat yang selama beberapa hari lamanya telah menjadi mimpi buruk dan menaruhkan luka yang tak begitu saja mudah terhapuskan sepanjang hidup kami, ialah markas Detasemen Intelejen Kodam V/Brawijaya.