SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

12 July 2008

Hari-hari Seusai Masa Interogasi (5)

Akhirnya sekitar pukul 12.00, kami diperintahkan untuk berkumpul bersama Brewok dan Ganjar, di salah satu ruang yang masih terletak di lantai II. Kami disuruh menyantap makan siang dulu. Ternyata kini kami hanya tinggal berempat saja (aku, Arindra, Brewok, dan Ganjar) yang belum dipulangkan. Kami semakin yakin bahwa kami berempat akan dipindahkan ke Polwiltabes Surabaya.

Salah satu dari kami pun terkadang bertanya kepada seorang intelejen yang kebetulan memasuki ruangan kami. Tetapi dia hanya menjawab dengan sinis;

“Sudahlah…, nggak usah takut. Pokoknya kalian harus berani menanggung akibatnya. Kalian berani berbuat, ya harus berani bertanggung jawab. Paling-paling kalian cuma kena 1 atau 2 tahun…”

Tetapi ada pula jawaban yang menjengkelkan kami, dari salah seorang intelejen lainnya;

“Nggak…, kalian pasti dipulangkan ke rumah kok.”

Sekitar pukul 13.30, kami disuruh turun ke lantai I, menghadap Pak Sahrun di ruang administrasi. Di ruang tersebut kami kembali mendengarkan ‘salam terakhir’ dari Pak Sahrun, sekaligus pula dari Pak Wayan. Mereka berdua adalah pemilik pangkat yang tinggi di markas militer ini.

“Jika kalian nanti diperiksa oleh kepolisian, kalian bilang saja apa adanya…, sama seperti apa yang kalian katakan di sini, atau yang telah ada di BAP kalian.”

Salah satu ucapan ‘salam terakhir’ dari Pak Sahrun itu membuat kami semakin yakin bahwa kami memang hendak dipindahkan ke Polwiltabes Surabaya untuk menerima hukuman penjara. Akhirnya kami pun dipersilahkan meninggalkan markas militer ini. Kami disuruh berpamitan dan saling memberi salam kepada para petugas intelejen di markas militer ini. Sesampai di pos penjagaan, satu persatu kami mengisi buku tamu untuk menuliskan keterangan bahwa kami telah meninggalkan tempat ini. Beberapa petugas jaga di pos tersebut, kudengar menyindir kami;

“Jangan lupa sama kami, ya…”

“Sering-sering main ke sini, ya….”

Mungkin sekitar lebih dari 5 intelejen mengiringi kepergian kami.

“Kalian nanti setelah sampai di gerbang keluar itu, kalian ikut bapak-bapak itu,” ucap seorang intelejen pada kami, sambil menunjukkan ke arah beberapa orang lelaki yang berpakaian rapi tampak menunggu di halaman luar markas militer ini.

Setiba kami menginjakkan kaki di luar halaman, kami disambut dengan kurang lebih 3 orang berpakaian rapi. Kami tak mengenali mereka.

Di kemudian hari barulah aku mengetahui bahwa dua orang di antaranya, masing-masing adalah; Pak Edi dan Pak Mochtar (yang nantinya menjadi penyidikku di Polwiltabes Surabaya).

Kemudian kami menaiki sebuah mobil semodel Hi-jet tua berwarna putih. Mobil itu pun segera melaju. Ditinggalkanlah tempat yang selama beberapa hari lamanya telah menjadi mimpi buruk dan menaruhkan luka yang tak begitu saja mudah terhapuskan sepanjang hidup kami, ialah markas Detasemen Intelejen Kodam V/Brawijaya.

9 July 2008

Hari-hari Seusai Masa Interogasi (4)

Sesampai di ruang adminstrasi, satu persatu dari kami diharus menandatangani surat pernyataan di atas kertas bermeterai 2.000 rupiah. Pada intinya, surat pernyataan tersebut berisi antara lain bahwa;

ü Barang-barang yang diserahkan kepada kami telah lengkap tanpa kurang satu pun.

ü Kami tidak akan pernah menceritakan kepada siapa pun tentang apa yang kami lihat, dengar dan alami selama di Deninteldam V/Brawijaya ini.

ü Kami bersedia wajib lapor di Deninteldam V/Brawijaya ini selama waktu yang ditentukan kemudian.

Setelah aku menandatangi surat pernyataan itu, kami pun segera kembali ke ruang data sembari membawa barang kami masing-masing. Sementara aku hanya mengenakan celana jins dan kaos putih (yang kemarin barusan kucuci), karena itulah yang aku kenakan ketika dijebloskan di markas militer ini. Telah terbayang rapi di otakku, seandainya aku pulang nanti, aku akan memasuki kampungku dengan penuh ketegaran. Sesampai di rumahku, aku akan memeluk Ibu erat-erat, dan mengucapkan maafku padanya. Ah…, semua itu merupakan bayangan yang indah, yang mungkin tergapai wujudnya, atau malah menghilang tak kesampaian.

Tibalah saat satu persatu para intelejen mendatangi kami. Mereka meminta maaf pada kami, sebab mereka hanya menjalankan tugas, dan berharap agar kami tidak menaruh rasa dendam terhadap mereka. Ada pula di antara mereka yang memberikan pesan terakhirnya, di antaranya Pak Enos;

“Kalian sekarang kuliah yang benar, raih gelkar sarjana kalian, dan cari uang yang banyak untuk anak istri kalian nanti. Kalian tidak usah ikut-ikut ngurusi negara-lah. Negara ini sudah ada yang mengurusi sendiri. Dan lagi nggak ada untungnya buat kalian, malah kalian sendiri yang rugi. Bahkan orang tua kalian juga ikut susah. Saya nggak ingin ketemu kalian lagi di sini. Jangan kalian datang ke tempat ini sebagai musuh untuk yang kedua kalinya. Kalau itu yang kalian mau, kami tak segan untuk membunuh kalian dan itu tak ada masalah bagi kami. Tapi jika kalian ke sini sebagai tamu, ya silahkan, kami senang sekali dan akan kami terima dengan baik….”

Panjang lebar kata-kata tersebut diberikan untuk kami. Meski mungkin kami tak mengerti, apakah kata-kataku itu sebuah nasehat atau sebuah ancaman ? Sulit kami bedakan keduanya.

Sekitar pukul 10.30, seorang intelejen memanggil Rouf.

“Bawa barangmu sekalian…”

Rouf segera berpamitan pada Arindra dan kepadaku. Kami saling berpelukan. Perpisahan ini membuat kami kian tak mampu untuk begitu mudahnya melupakan semua yang kami alami bersama di tempat ini. Kupandangi langkah gembira Rouf meninggalkan ruangan ini. Dia telah terbebas dari perangkap ini, yang selama berhari-hari tak pernah memanusiakan dirinya. Aku masih tak bisa melupakan bagaimana para intelejen itu memperlakukan Rouf seperti ‘badut’ yang memalukan dan merendahkan harkatnya. Sampai bertemu kembali, Rouf.

Dikemudian hari barulah aku mengetahui bahwa saat itu Rouf belum dipulangkan, melainkan disuruh menunggu terlebih dulu di ruang belakang dekat ‘kamar hantu’ bersama Dayat, dan Yohanes Kukuh. Barulah hari menjelang sore, mereka bertiga dipulangkan ke rumah masing-masing.

Ruang data kini hanya tinggal aku dan Arindra. Kami menunggu selama berjam-jam, tetapi tak satu pun intelejen yang memanggil kami. Kami berdua hanya menghabiskan berbatang-batang rokok, sembari saling menebak apa yang bakal terjadi pada diri kami; dipulangkan atau dipindahkan ke Polwiltabes Surabaya.

7 July 2008

Hari-hari Seusai Masa Interogasi (3)

Waktu bergulir menuju hari Minggu tanggal 1 September 1996. Aktifitas kami tak jauh beda dengan hari kemarin. Kami tetap berolah raga, bekerja bersama untuk membersihkan setiap ruang demi ruang, mengepel lantai ruang depan, atau mencuci pakaian masing-masing, dan kemudian saling bicara dengan kawan-kawan sambil menunggu petang menjelang. Namun sebelum sore tiba, Pak Amari memangil kami semua untuk berkumpul di ruang yang terletak ujung barat. Kami semua diperintah Pak Amari untuk menuliskan semua nama-nama anggota PRD di Surabaya hingga Jawa Timur (baik mahasiswa, buruh, petani atau seniman), yang kami ketahui. Kami terpaksa menuliskan nama-nama kawan-kawan kami yang belum tertangkap itu dan masih menjadi buronan mereka.

Malam pun menjelang, dan kami bersepakat bersama untuk berdoa malam. Maka kami berenam ini pun berkumpul bersama di ruangan tempat Brewok berada. Brewok pun memimpin doa malam kami. Doa tersebut memohon kepada Tuhan agar berkenan untuk segera membebaskan kami dari tempat mengerikan ini. Apakah kami akan dipulangkan ke rumah, atau dipindahkan ke Polwiltabes Surabaya, itu tak jadi persoalan bagi kami. Terpenting bahwa kami bisa keluar meninggalkan tempat dimana kemarahan dan kekejian kapan pun akan tetap berlaku untuk diri kami. Semua ini kami serahkan pada Tuhan. Kemana pun kami dibawaNya, asal tidak lagi menginjakkan kaki di markas militer ini. Itulah tekad doa yang kami panjatkan penuh keheningan hati, tanpa gangguan seorang intelejen pun.

Setelah berdoa bersama, kami segera kembali ke ruang kami masing-masing. Tetapi seperti malam kemarin pula. Aku tak bisa segera tertidur pulas, seperti halnya Arindra atau Rouf. Di benakku tumbuh gelisah sekaligus keyakinan yang berani. Jika aku harus dipindahkan ke penjara Polwiltabes Surabaya, biarlah itu adalah sebuah resiko perjuangan yang harus aku lewati. Bukankah perjuangan bagi kaum tertindas bukan sebuah suka yang selalu mewarnai langkahnya, tetapi setiap luka yang selalu membekas sepanjang usia. Di Polwiltabes Surabaya adalah lebih baik ketimbang tempat ini. Aku yakin, di Polwiltabes Surabaya kelak, aku akan boleh didampingi pengacara, terutama aku boleh bertemu dengan keluargaku. Sangatlah berbeda jauh dengan apa yang kualami di Deninteldam V/Brawijaya ini.

Benakku yang masih sesak dengan galauan itu, justru membuatku terlena dalam tidurku.

Tibalah kini hari Senin tanggal 2 September 1996, aku merasa ada sesuatu yang berubah. Tak seperti hari biasanya. Paling tidak, kenapa kami tak disuruh bangun pagi dan kemudian berolah raga ?

Seusai kami satu persatu mandi, sekitar pukul 7.00, seorang intelejen bernama Pak Dwi menyuruhku dan kedua kawanku itu untuk turun ke lantai I menuju ruang administrasi. Kami disuruh Pak Dwi untuk menyelesaikan urusan administrasi di ruang tersebut. Seolah sebuah mimpi, tetapi tidak, ini kenyataan. Kami akan segera keluar dari perangkap ini.Saat itu, semua senyum yang menghiasi bibir kami, adalah sebuah senyum yang paling dan paling ceria di hari-hari selama kami di markas militer ini.