Sekitar pukul 14.00, aku
minta tolong pada Syafi’i agar dia memesankan makanan dan minuman untukku.
Beruntung pula ada Syafi’i yang sedang berlindung di kantor polisi ini. Dia bisa
membantu aku untuk melakukan perbuatan yang tak boleh aku lakukan sendirian,
seperti halnya; membeli makanan atau minuman, pergi ke kamar mandi, atau hanya
sekedar membeli rokok di kantin Polwiltabes Surabaya. Tentunya itu semua harus
kulakukan dengan seijin petugas piket. Tetapi dengan adanya Syafi’i, maka hal
tersebut tidaklah sulit untuk dilakukan. Maklum, Syafi,i telah menjalin
hubungan yang baik dengan para petugas piket tersebut. Meski masih ada satu dua
orang petugas piket, bahkan terkadang reserse, yang masih sinis terhadap
kehadiran Syafi,i. Bagiku, paling tidak kawanku yang berkulit hitam legam ini
mampu menjadi kawan bicaraku yang mengasyikkan. Lelucon dan berbagai ceritanya
membuat aku sejenak melupakan kengerian yang mengintaiku, yakni jeruji-jeruji
penjara. Berbeda jauh dengan kawanku, Arindra, dia lebih banyak diam dan
menyendiri. Meski terkadang aku sudah berusaha menghiburnya agar beban ini
tidak terlalu berat dirasakannya. Toh, dia tak sendirian.
Aku melihat seorang bapak
keturunan Tionghoa dengan tangan kirinya berbalut kain perban. Sudah sejak tadi
aku melihatnya tak beranjak dari tempat duduknya. Aku mendekatinya.
“Kena apa, Pak…?” tanyaku
padanya.
“Patah, Mas…,” jawabnya
dengan wajahnya yang nyengir kesakitan.
“Kena kasus apa, Pak…?”
tanyaku lagi.
“Kasus penganiayaan. Saya
dianiaya sama saudara saya sendiri.”
“Lho kok bisa sama saudara sendiri…, soal apa, Pak…?”
“Lho kok bisa sama saudara sendiri…, soal apa, Pak…?”
“Soal hutang…..”
Ah…lagi-lagi soal harta. Apa
nggak ada yang lain, pikirku.
Aku cuma mengangguk-anggukkan
kepalaku, seolah aku memahami apa yang dialaminya. Padahal aku malas mendengar
kisah kasusnya.
“Kalau Mas ini, kasusnya
apa…?” tanyanya balik kepadaku.
“Kasus politik…” jawabku.
“Politik apa…? Pemilihan
lurah, Mas…?”
“Bukan, Pak…,” ucapku sambil
sedikit geli mendengar pertanyaannya.
“Ini kasus nasional, Pak.
Kasus 27 Juli. Kasus PRD…,” jelasku lagi.
“27 Juli…? PRD apa, Mas…?”
Dia tampak kebingungan. Yah,
bagaimana aku harus memulai untuk menjelaskan padanya.
“27 Juli itu kasus huru-hara di Jakarta kemarin…”
Aku berusaha menjelaskan
kepadanya.
“Yah…, namanya juga Jakarta,
Mas. Tiap hari memang selalu banyak tawuran. Biasanya itu anak-anak sekolah.
Pokoknya tiap hari bikin kisruh, Mas….”
Wah….., kalau begini
pembicaraan ini tak bakalan bisa nyambung. Aku kian malas untuk melanjutkan
pembicaraan ini. Lalu aku tinggalkan bapak tersebut.
Tibalah sekitar 18.00,
Arindra dipanggil oleh seorang reserse yang menyidiknya. Dia pun dibawa untuk
segera dijebloskan ke dalam sel. Satu persatu kawanku telah meringkuk di dalam
penjara. Tinggallah hanya aku dan Syafi’i, yang masih duduk berdua di ruang
piket.
Malam pun tiba, seperti
biasanya aku dan Syafi,i menikmati makan malam kami, nasi goreng dan teh
hangat. Kami berdua sedikit terhibur dengan tayangan acara televisi. Sementara
lalu lalang orang tak pernah berhenti di hadapan kami, meski malam berjalan
kian melarut.
Rabu
pagi tanggal 4 September 1996. Seperti biasanya aku menikmati secangkir kopi
panas, dan sarapan dengan sepiring nasi campur, yang dipesan Syafi’i dari
kantin. Aku pun masih tetap bercerita, berbincang dan berkelakar dengan
Syafi’i. Lalu lalang orang masih terus tak pernah henti.
Dari
kejauhan kulihat, seorang perempuan setengah abad dan dua orang lelaki yang
mungkin seusia-ku. Mereka bertiga tampak keturunan Tionghoa. Mereka tampak
keluar masuk ruang reserse urusan perjudian dan asusila. Mereka terlihat kusut
dan kalut. Belakangan hari, kuketahui dari sebuah harian pagi, bahwa mereka
adalah ibu dengan kedua anak lelakinya, yang terlibat kasus judi milyaran
rupiah di kawasan elit Sinar Galaxi. Kasus tersebut juga banyak melibatkan
banyak pengusaha kaya dari Indonesia dan luar negeri.
Aku
merasakan keprihatinan yang sangat mengerikan, untuk kesekian kalinya. Aku
bersama kawan-kawanku yang berjuang untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan,
ditangkap. Lalu orang-orang yang memperkaya diri sendiri dengan tanpa sadar
memiskinkan rakyat, juga pula ditangkap.
Kami sama-sama ditangkap di kantor besar kepolisian negara. Lalu siapakah yang
benar menurut konsep hukum di Indonesia ini ? Atau memang yang benar hanya
satu, bahkan melebihi Tuhan sekalipun, yakni; si pemilik kekuasaan di Indonesia.