SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

29 July 2008

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (9)


Entah kenapa, meski tanpa jam berdering dan tanpa dibangunkan oleh orang lain, aku bisa secara rutin terbangun dari tidurku bila waktu telah mendekati pukul 3.00 dini hari. Lalu aku beranjak segera mandi di pancuran air ledeng. Sementara keadaan masih sunyi, semuanya lelap dalam tidur di kesunyian penjara. Parmin dan Ali, seperti biasanya masih terlihat bersiap melakukan sholat. Kali ini ada Arif (seorang satpam di sebuah pertokoan besar, yang terlibat pencurian di tempat dia bekerja tersebut) pula bersama mereka. Aku tetap mandi dengan segarnya, menguyur seluruh tubuhku dengan air yang dingin bagai es. Tapi mungkin karenanya, justru aku selama berada dalam penjara tak pernah terkena penyakit masuk angin, penyakit kambuhan yang sering kuderita bila di luar penjara ini.
Seusai mandi, aku pun segera mempersiapkan diri untuk berdoa. Aku pun seperti kemarin pula, meminjam kamar nomor 3 milik Ali dan Parmin untuk melakukan doa-ku. Aku suka kamar mereka. Bersih, tenang, tanpa terlalu banyak berserakan kotoran yang menyampah di setiap sudutnya, dan tak seperti dalam ruang sel.
Setelah hampir satu jam lamanya aku berdoa, aku pun turut ngobrol bersama Ali, Arif dan Parmin, di teras kamar mereka. Tetapi itu pun tak lama, sebab aku ingin melanjutkan tidurku kembali.
Hari-hariku di dalam penjara ini membuatku bisa perlahan-lahan berkaca pada kekutan dan kelemahan yang aku miliki, karena waktu yang berjalan di penjara ini dapat aku rasakan pijak demi pijaknya. Kejemuan dan kejenuhan memandangi dinding-dinding lusuh dan jeruji-jeruji melegam, memanglah ada. Tetapi kucoba membuangnya jauh, jauh sekali. Inilah rumahku yang akan menguji perjuanganku, yang akan membangun kesadaran pada sebuah ketidakmerdekaan rakyat di negeriku ini, dan akan pula meluluhkan semua penyelasanku atas perjuangan rakyat yang telah kulakukan selama kurun masa yang lalu.
Aku bangga atas keberanianku dan perjuanganku yang menyeretku dalam sebuah resiko di penjara oleh kekuasaan yang tak mau dikalahkan. Aku semakin hari kian ditempa untuk tak takut menghadapi persidangan yang penuh ketidakpastian dan jelas tanpa ketidakadilan. Berapa tahun pun yang akan dijatuhkan sebagai vonis terhadapku, aku siap menanggungnya demi semangat perjuangan generasi berikutnya. Bukankah bunga akan terus tumbuh subur untuk mengepung dan kelak meruntuhkan tembok penindasan ?
Malu dan cemar, tak ada sebersit pun dalam diriku. Rasa itu telah hancur bersama ketakutan yang telah lebur saat kakiku menuju jeruji besi penjara ini. Yah, sejarah negeri inilah yang kelak bertutur pada anak cucunya, tentang perjuanganku bersama rakyat.   

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (8)


Membuka kiriman, merupakan saat-saat yang yang menyenangkan bagi kami. Ada yang dikirim kue-kue yang lezat, buah-buahan yang segar, minuman segar, kacang atau camilan lainnya, atau hanya sekedar dikirim pakaian. Dari kami berlima, yang semakin hari kian mendapat kiriman yang “enak-enak” adalah Ganjar dan Agung. Tetapi kami tetap saling berbagi satu dengan yang lain, bahkan dengan para tahanan yang lain (tahanan kriminal). Senikmat dan sebanyak apa pun makanan yang kami terima dari hasil bezukan, tetap kami nikmati dan makan bersama. Bahkan sedikit apa pun kiriman tersebut, tetap kami bagi untuk dinikmati bersama pula.
Menjelang Maghrib, barulah makan malam kiriman Icha, dari blok B datang. Tetapi sebelumnya, kami bersiap diri untuk sembahyang bersama, seperti halnya kemarin. Sebuah rutinitas yang selalu kami lakukan bersama dalam kamar ini.
Seusai kami sembahyang, barulah kami makan malam bersama. Demikian pula para tahanan yang lain, yang menikmati makan Cadong, meski di antara mereka ada yang memesan nasi goreng (yang secara rutin tiap malam berjualan di sekitar Polwiltabes ini).
Setelah makan malam, kami menunggu saat apel pukul 19.30, sembari berdiskusi bersama di dalam kamar atau ngobrol dengan para tahanan lainnya, terkadang pula bermain catur.
Tanpa terasa waktu pun tiba saat apel malam. Lalu seperti biasanya pula terjadi pergantian petugas jaga dan kembali diadakan absen semua tahanan, baik blok A dan B.
Setelah apel malam, kami kembali pada aktifitas semula, menggiring waktu menuju malam. Bila sekitar pukul 21.00, maka Parmin segera mengambil mesin ketik dan mulailah tugas Rizal untuk mengetik Daftar Tahanan di Polwiltabes. Sementara Zainal seperti biasanya mengaji dengan melafalkan ayat-ayat suci. Aku, Ganjar dan Agung, biasanya ngobrol tentang apa saja yang bisa kami obrolkan.
Lalu waktu pun beranjak hampir tengah malam. Mulailah dari kami; biasanya Ganjar, Agung, dan aku; mengambil air dari pipa ledeng untuk kebutuhan air wudlu atau sekedar untuk mencuci dan keperluan kami yang lain. Sebanyak kurang lebih 55 botol plastik bekas air mineral berukuran 1 liter, telah penuh terisi air dan terkumpul di kamar mandi di kamar kami. Itulah kebutuhan air kami dalam sehari. Itu pun saja, kadang masih kurang. Parmin dan Ali biasanya membantu kami untuk mengambil air tersebut, oleh karenanya kami cepat kelar. Memang hal ini hampir jarang dilakukan oleh para tahanan lain di blok A ini, karena mereka tergantung dengan air di bak kamar mandi utama. Namun tidaklah demikian bagi kami. Toh, terkadang pernah satu hari penuh, air setetes pun tak menitik dari lubang ledeng. Akibatnya, terpaksa masing-masing dari kami mandi dengan hanya 4 botol (kurang lebih 4 liter) air. Tak boleh lebih dari itu. Sekaligus pula untuk menghemat, sebaba kebutuhan kami akan air masih banyak; untuk wudlu, cuci alat-alat makan, terutama untuk buang air besar. Tetapi bila tak mencukupi, maka kami terpaksa meminta tambahan air milik Ali, atau Adan Topan..
Aku pun pernah berseleisih dengan Zainal, perkara air tersebut. Aku merasa jengkel dengannya. Bagimana tidak, bila dia mendapat giliran untuk mengambil air maka dia selalu ‘mengelak’ dengan alasan masih mengaji. Tapi dia tak bisa menghemat penggunaan air tersebut.
Bagiku, untuk menghemat persediaan air, maka aku mengatur waktuku mandi secara rutin yakni; mandi pagi setiap kurang lebih pukul 3.00, dan mandi sore setiap hampir pukul 14.00; dengan menggunakan air di bak kamar mandi utama atau di ledeng koridor penjara. Maka, persediaan air yang tersimpan di botol-botol plastik tersebut tidak cepat habis.
Bila seusai mengambil air, barulah aku rebahan di kamar hingga menuju tidur malam. Tubuhku kuletakkan di lonjoran papan beralaskan tikar anyaman bambu, pada sisi paling kiri, di samping tumpukan makanan dan minuman.

28 July 2008

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (7)

Aku dan Ibu pun bisa saling bertemu muka, saling menatap dan tersenyum, bahkan bicara. Rupanya kawan-kawanku pun memaklumi aku, dengan memberi kesempatan padaku untuk berbicara lama dengan Ibu, meski ruang ini sesak penuh orang.
“Kamu nggak sakit apa-apa, kan…?”
Untuk kesekian kalinya Ibu bertanya tentang keadaanku. Aku pun tetap pula menjawab bahwa aku sehat-sehat saja.
Ibu pun banyak memberiku harapan agar aku tetap tegar dan banyak berdoa. Ibu juga bangga terhadap perjuanganku bersama kawan-kawan, dan kekuatanku menerima ujian atas perjuanganku yang selama ini tak pernah kuceritakan pada Ibu.
Aku hanya bertanya tentang bagaimana keadaan Ibu dan keluarga di rumah, saat mengetahui bahwa aku ditangkap oleh aparat militer. Pun aku bertanya tentang keadaan Ibu saat ini.
“Ibu ditelpon sama Denintel….”
“Dari telpon siapa…?” tanyaku sedikit heran, sebab saat itu dirumahku memang belum terpasang telpon. Menurut cerita Ibu, ternyata aparat militer tersebut menelpon Ibu melalui nomor telepon Anis. Mendengar itu, aku jadi bertanya-tanya. Selama aku ditangkap aparat militer Deninteldam V/Brawijaya, aku tidak pernah memberikan nomor telepon Anis. Lalu siapa yang memberikan nomor telepon Anis kepada aparat militer tersebut ? Pasti ada seseorang yang ‘membongkar’ tentang nomor telepon Anis. Memang pada waktu lalu, aku pernah memberikan nomor telepon kepada beberapa kawan (tidak semua kawan). Maksudku, agar lebih mudah bila menghubungi aku. Aku mencoba mengingat-ingat; siapa orang tersebut…?  Mungkinkah Icha…? Sebab dialah satu-satunya kawan yang tertangkap aparat militer Deninteldam V/Brawijaya, yang tahu nomor telpon Anis. Tapi biarlah, mungkin karena tekanan fisik dan mental yang diderita Icha, mengharuskan dia membuka perihal nomor telepon Anis. Jika itu memang benar, aku tidak menyalahkan Icha. Aku bisa memahaminya.
Ibu pun bercerita bahwa Ibu datang ke Deninteldam V/Brawijaya (diantar oleh Pak Sarnen, tetanggaku) pada hari itu juga, 20 Agustus 1996 pukul 12.00.
“Jadi sebenarnya, pas Ibu datang ke sana, pas aku sedang disiksa sama mereka…”
“Kamu disiksa..! Disiksa bagaimana…?”
“Iya pokoknya, diolok-olok, ditendang, dipukuli….”
Ibu pun tak kalah hebatnya dalam menceritakan bahwa Ibu pun juga menerima hujatan dari para tentara yang bertugas jaga di Deninteldam V/Brawijaya kala itu.
“Bagaimana Ibu ini ? Anaknya mau jadi PKI, Ibu sampai nggak tahu…”
Begitulah salah satu ucapan mereka terhadap Ibu kala datang menginjakkan kaki di markas militer Deninteldam V/Brawijaya. Di markas militer itu, Ibu benar-benar disiksa secara mental oleh mereka, hingga Ibu harus menitikkan air mata. Ibu menangis memang karena aku ditangkap aparat, tetapi Ibu lebih menangis ketika aku difitnah; Komunis !
Sungguh, perlakuan teror yang mengerikan. Bukan hanya anaknya, tetapi orang tuanya pun tak luput dari luapan amarah aparat militer.
Aku pun berkata pada Ibu dengan suara lirih;
“Bu, sebenarnya aku nggak boleh cerita pada siapa pun tentang apa yang aku alami dan aku lihat di Denintel itu.. Kami semua disuruh menandatangani surat pernyataan bahwa kami tidak akan bercerita apa-apa pada siapa pun….”
“Lalu…, kenapa kamu ceritakan pada Ibu ? Apa nggak bahaya buat kamu…?” tanya Ibu dengan sedikit kekhawatiran terhadap diriku.
“Kalau aku nggak berani cerita itu sama Ibu, yang Ibu kandungku sendiri. Iya aku benar-benar goblok… Terus, keberanian apa lagi yang aku miliki sekarang ini…?” ucapku menegaskan sikapku pada Ibu.
Ibu terlihat tersenyum kecil, mendengar kata-kataku barusan.
Aku lalu menjelaskan pada Ibu agar Ibu  menyerahkan uang secukupnya pada Icha, agar Icha bisa mengatur dana tersebut untuk makanku. 
“Kawan-kawan yang lainnya juga begitu. Kecuali Wiwin sama Rizal, soalnya orang tua mereka jauh, bukan di Surabaya.”
Kemudian Ibu pun menyerahkan uang sebesar sepuluh ribu rupiah padaku untuk nantinya diberikan pada Icha.
“Apel…! Apel..! Apel…!
Teriakan tanda bezuk telah usai. Tak terasa waktu bezuk telah habis. Kini saatnya untuk kembali ke blok A, blok-ku. Aku tak lupa berpesan pada Ibu agar jika setiap bezukan selalu tak lupa membawakan aku; air minum, kopi panas bikinan yang ditaruh di botol plastik seukuran 500 ml, kertas dan pulpen. Ibu mengiyakan permintaanku. Lalu Ibu memberiku uang sejumlah dua ribu rupiah, dan Pakde Didik memberiku sebungkus rokok Djarum Super 12.
Aku serta para tahanan blok A, segera kembali ke blok kami.
Sesampai di blok A, kami berbaris untuk absen kembali oleh para petugas jaga. Seperti biasanya kami meneriakkan angka urut barisan sambil mengacungkan telunjuk ke atas lalu berjongkok. Bila jumlah kami tetap sama tanpa kurang seseorang pun, seorang petugas jaga hanya bertanya;
“Ada yang sakit….?”
“Nggak ada, Pak…” jawab para tahanan dengan serentak.
“Ya sudah…”
“Sore, Pak…” ucap serentak para tahanan.
Sementara para keluarga kami masih menyaksikan hingga kami masuk kamar. Kami saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dan besok akan bertemu kembali.
Setelah kami masuk ke kamar, kami pun saling membuka kiriman masing-masing. Sebelumnya, Nadi, kepala blok A, mendatangi kami untuk meminta uang bezukan dari kami. Sebenarnya, tiap orang wajib menyerahkan uang bezukan sebesar Rp. 2000, kepada Kepala blok. Uang setoran dari tiap-tiap tahanan tersebut akan dipergunakan untuk; membeli rokok upeti untuk petugas jaga, membantu kesulitan finansial bagi para tahanan yang tak pernah dikunjungi keluarganya atau istilah di penjara adalah “AI” (Arek Ilang atau Anak Hilang), atau pula untuk memberi uang “olah raga” kepada para petugas jaga agar para tahanan tidak disuruh olah raga (yang dilakukan tiap pagi di hari Senin, Rabu, dan Jum’at). Tetapi setelah aku dan Zainal, mewakili kawan-kawan PRD di blok A ini, untuk bernegosiasi dengan Nadi. Maka Nadi pun mengerti keadaan kami, bahwa kami adalah mahasiswa yang tak punya uang.
“Kalau makanan, kami punya banyak, nanti pasti kami bagi buat kalian juga. Tetapi kalau uang, terus terang orang tua kami yang punya, bukan kami.”
Maka Nadi pun memberi kebijaksanaan bahwa khusus kamar nomor 1, tempat kamar PRD, hanya memberi Rp. 2000 untuk setiap kali sehabis bezukan. Sehingga masing-masing dari kami (terhitung lima orang; aku, Zainal, Rizal, Ganjar, dan Agung) membayar kurang lebih Rp. 400.

27 July 2008

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (6)


Hari ini di tanggal 5 Setember 1996, saat jam mulai menghampiri 14.15, saat bezuk tiba. Aku segera mandi. Aku tak mau terlihat kusut tak terawat di penjara. Aku ingin agar keluargaku yang datang membezuk tidak menemukan aku dalam kondisi yang memprihatinkan. Siapa tahu pula, hari ini datang membezuk aku. Maka aku lebih tak ingin lagi bila Ibu nanti melihatku dalam keadaan yang mengenaskan. Bagiku, saat tersebut adalah pertama kalinya aku bertemu dan berbicara banyak terhadap Ibu, terhitung sejak aku ditangkap Deninteldam V/Brawijaya pada tanggal 20 Agustus 1996. Sebentar-sebentar aku mulai mebayangkan wajah Ibu bila nanti bertemu aku. Menangiskah Ibu ? Atau justru memarahiku dengan penuh omelan nasehat ? Atau pula justru akan tersenyum bangga menatapku ? Aku tak tahu apa yang bakal terjadi denganku saat aku mungkin nanti akan bertemu Ibu.
Tibalah saat bezukan tiba, tepat pukul 14.30.  Satu persatu tahanan yang dibezuk keluarga, disuruh keluar oleh petugas jaga. Kemudian petugas jaga tersebut mengantarkan menuju blok B, sebab di blok inilah terdapat ruang bezuk.
Aku melihat orang tua Ganjar dan Zainal yang telah berdiri menunggu dibukanya pintu penjara.
“Ganjar….!” teriakan seorang petugas jaga yang mengisyaratkan bahwa Ganjar telah dibezuk.
“Ganjar, bezuk …..! Para tahanan yang lain terdengar saling menambahi panggilan itu.
Demikian pula halnya dengan Zainal. Lalu menyusul Agung.
Kulihat ketiga kawanku itu sibuk menerima bezukan keluarganya. Sementara barang-barang kiriman orang tua mereka,  diterima oleh Adan Topan. Lalu Adan pun segera memasukkannya dalam kamar kami.
Kini cuma tinggal aku dan Rizal, yang belum dipanggil untuk menerima bezukan dari sanak saudara. Sesekali aku melongok keluar, mungkin aku bisa menemukan kedatangan keluarga dan sanak saudaraku.
Akhirnya aku melihat seseorang yang selama ini kutunggu kedatangannya. Ibuku, bersama Pakde Didik dan istrinya. Pakde Didik menjinjing 2 buah tas plastik besar. Mungkin berisi pakaian dan makanan untukku. Sangat senang sekali aku saat itu. Sebuah peristiwa yang tak pernah kualami selama aku meringkuk di Deninteldam V/Brawijaya dalam kurun waktu 2 minggu lamanya.
“David, bezuk….!” Seru para tahanan yang berkerumun di depan pintu penjara. Aku pun segera menghampiri pintu penjara.
Klaaaangggg !!
Pintu penjara pun dibuka oleh petugas jaga. Aku pun keluar, dan digiring menuju ke blok B yang berjarak sekitar 5 meter dari blok A. Ibu, yang berdiri di jalanan antara blok A menuju blok B, segera menghambur ke arahku dan memeluk tubuhku. Kedua pipiku ditepuk-tepuk, dan berulang kali mendekapku.
“Kamu nggak apa-apa, Vid,” ucap lirih Ibu, sambil mengoyang-goyangkan tubuhku.
“Nggak apa-apa, Bu,” jawabku pasti agar Ibu bisa tidak merasa khawatir atas diriku.
“Bicaranya nanti saja, Bu…,” kata petugas jaga yang menggiringku.
“Ayo, Vid…,: lanjut petugas jaga tersebut menyuruh aku untuk segera masuk ke blok B.
Di blok B ini kembali kawan-kawanku; Arindra, Wiwin, Trio, Ana, Icha, dan Brewok ; menyambutku. Kami saling bersalaman, berpelukan, untuk menumpahkan perjumpaan kami yang kesekian kalinya di Polwiltabes Surabaya ini. Setelah itu aku menuju ke ruang bezuk yang terletak di sberang kamar tahanan perempuan.
Ruang bezuk ini penuh sesak para tahanan. Maklumlah, ruang bezuk ini kecil dan sempit, sekitar 3 meter x 1 meter. Pembatas antara para tahanan dengan para pembezuk tebuat dari nyaman kawat kecil, dan terbagi menjadi sisi kiri dan kanan.

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (5)


Saat-saat setelah makan pagi adalah saat dimana tidak aktifitas yang berarti yang bisa kami lakukan. Paling-paling, kami secara bergantian untuk mandi, sekedar membasahi badan agar tak terlihat kusam, atau buang air besar di kamar nomor 7. Sebenarnya di masing-masing ruang sel ini terdapat kamar mandi dan tempat buang air besar. Namun kenyataannya, semua itu, dari kamar nomor 1 hingga nomor 6, sudah tak berfungsi lagi. Justru terlihat menjadi tempat bertumpuknya sampah. Tempat buang air besar yang berfungsi baik hanya ada di kamar nomor 7. Terkadang dari kami, biasanya Rizal, sudah terlihat tidur kembali dengan bertelanjang dada. Tampak buliran keringatnya deras menetes dari lehernya. Sedangkan aku sendiri beserta yang lainnya, hanya sekedar menonton acara tv. Terkadang pula membuka satu dua problem politik untuk kami diskusikan bersama. Biasanya aku, Zainal, dan Ganjar, yang terlihat sering larut dalam diskusi tersebut. Sementara Agung tampak enggan dan meninggalkan diskusi tersebut. Hanya dengan diskusi, sembari menghabiskan berbatang-batang rokok, tanpa terasa kami mampu melewati saat-saat yang menjemukan itu. Hingga tanpa teras waktu bezukan mulai tiba.
            Kami berlima selalu mencari kesibukan masing-masing yang bisa membuat waktu berjalan tanpa terasa hingga pukul 14.30 kala keluarga kami datang membezuk. Itulah saat menggembirakan. Kami saling mencurah cerita rindu pada orang tua, sanak saudara, bahkan kekasih. Semua aktifitas yang coba kami lakukan sembari menunggu bezukan datang, biasanya; sholat, berdiskusi, main catur, nonton acara tv mulai dari film India sampai berita nasional, atau hanya tiduran, bahkan sekedar nongkrong di WC sambil buang air besar.
Di hari-hari berikutnya, aku mengisi waktu menjemukan itu dengan menulis. Aku tuliskan segala apa yang telah kulalui selama aku dalam tempaan sejarah. Tetapi persoalan awalnya adalah bagaimana aku bisa menulis, sementara di penjara ini kami tak diperbolehkan membawa alat tulis (pena dan kertas). Aku paling membenci hari yang berlalu tanpa tulisan. Itu sebabnya aku diam-diam meminta kepada Ibu, saat bezukan tiba, agar beliau membawa pulpen dan sedikit kertas kosong (biasanya dua carik kertas folio). Akhirnya tanpa sepengetahuan petugas jaga, aku bisa memperoleh alat tulis itu. Meski hal ini beresiko besar bila diketahui petugas jaga. Sehingga aku bisa meluapkan hasratku menulis. Hanya dengan menulislah aku berani bercermin pada kehidupan yang telah kulalui dengan berbagai pengalaman sepahit apa pun, aku pun berani menjadi diriku sendiri, dan aku bisa berefleksi dengan lebih manusiawi, serta memberikan sesuatu yang bisa menjadi semangat bagi perjuanganku.
            Pernah satu kali, sebelum aku memperoleh ‘selundupan’ alat tulis dari Ibu, aku sangat ingin menuliskan sesuatu. Tapi harus bagaimana lagi, sedangkan pulpen pun tak ada, apalagi secarik kertas. Lalu aku baru ingat, bukankah Parmin menyimpan pulpen yang disembunyikan di bawah dipan. Segera aku meminjam pulpen itu padanya. Maka tak harus menunggu lama, aku pun mulai mencorat-coret setiap bagian sudut dinding kamarku, karena aku tak punya selembar kertaspun. Aku tumpahkan segala hasratku dalam tulisan yang menghiasi di tembok kamar ini. Salah satunya coretan dinding hasil tulisanku, yang membuatku terkesan dan hingga kini masih kuingat, adalah tulisan;

Disini, di kamar ini, pernah berdiri tegar lima mahasiswa;
1.      Zainal Abidin,
2.      M.Rizal,
3.      Agung Hardana,
4.      Ganjar Krisdiyan,
5.      David Kris,
Yang telah dituduh menghina pemerintah yang sah.

Pada hari-hari selanjutnya, saat aku telah memiliki pulpen dan beberapa lembar kertas pemberian Ibu, yang tanpa diketahui petugas jaga,  aku mulai menuliskan segalanya. Tetapi  aku tidak menulis di kamar ini, sebab kamar nomor 1 ini terletak di lokasi yang paling mudah dilihat oleh para petugas jaga. Aku menulis di kamar Ali, kamar nomor 3. Kamar ini lebih aman, sebab tidak terlihat oleh para petugas jaga.