SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

9 August 2008

Mengenal Balada Orang-orang Tahanan (5)


Kami pun sempat mengenal sebuah acara ‘perkenalan’ bagi tahanan baru yang tanpa pukulan tetapi tetaplah menyakitkan, yakni; “Manggung’.
“Manggung’ itu dikenal untuk menyebutkan aktifitas seekor burung dalam sangkar yang berkicau dengan merdunya. Begitu pula yang terjadi pada tahanan baru di penjara ini. Si tahanan baru tersebut disuruh bergelayutan (dengan posisi jongkok) di rangkaian terali penjara baris ketiga setinggi kurang lebih 1,5 meter . Kedua kaki bertumpu pada rangkaian terali tersebut. Ini harus dilakukan dalam hitungan waktu sekitar 10 jam, dan hanya boleh turun untuk beristirahat saat makan atau buang air. Tetapi biasanya, tak lebih dari 2 jam, tubuh para tahanan tersebut telah jatuh dari ‘manggung’nya.
Gedubraaakkk !!!
Tubuh si tahanan baru tersebut terdengar telah jatuh kelelahan, mirip nangka yang jatuh dari pohonnya. Jika tahanan baru berjumlah tiga orang, maka ketiga-tiganya akan menjalani ‘manggung’. Hukuman ini bisa ditiadakan, dengan syarat harus membayar sejumlah uang kepada para petugas jaga melalui negosiasi kepala blok. Sementara kami, biasanya hanya mampu melihat dan terkadang sesekali memberi air minum pada si tahanan baru yang sedang ‘manggung’ tersebut. Meski toh tubuhnya cepat atau lambat akan tumbang juga ke tanah.
Semua kekerasan yang terjadi dalam penjara ini, adalah sebuah peristiwa ‘wajar’ yang hampir setiap hari ada di depan mata kami. Mau tak mau kami memang harus menyaksikannya dan nurani kami pun harus bergetar lagi. Jika kami tak melihat, telinga pun tak bisa ditipu ketika mendengar mendengar jeritan kata ‘ampun’ atau ‘aduh’.  Aku berpikir dalam renungku, mungkin bila seseorang terlalu sering menonton acara perkenalan’ tersebut, bukan tidak mungkin jika sedikit demi sedikit akan terkikis habis rasa iba di hati terhadap sesama, sebab kekerasan telah menjadi mirip sebuah sarapan pagi yang harus dinikmati setiap hari. Aku dan kawan-kawanku (para  tahanana kasus PRD) memang tak ditimpakan hukuman semacam itu, tetapi kami bisa merasakan sakit dan pedihnya kekerasan itu. Sebab kami pun pernah mengalami di Deninteldam V/Brawijaya. Bahkan mungkin kekrasan yang kami terima selama di jaringan Bakorstanasda Jatim itu lebih hebat ketimbang kekerasan yang terjadi di dalam penjara ini. 
Tetapi dibalik semua itu, aku masih melihat di mata mereka bahwa sebenarnya ada kebencian dan dendam mereka pada para polisi yang sewenang-wenang menghukum para tahanan. Namun mereka tak bisa berbuat banyak atas kebencian dan dendam itu, sehingga hanya dipendam. Entah sampai kapan pendaman itu dikubur, meski akan meluap keluar juga pada akhirnya.
Penjara ini mengenalkan aku pada sebuah balada tentang mereka semua. Ada kesunyiannya, ada kegelisahan, ada kebersamaan yang menghibur, dan kemarahan yang keras. Balada ini ibarat buah-buah catur yang merupakan satu-satunya permainan milik orang-orang tahanan di penjara Polwiltabes Surabaya. Setiap hari pula catur tersebut mengisi waktu kami semua di penjara ini, setiap hari itu pulalah balada kami tercipta dengan sendirinya. Balada ini pula yang akhirnya kukenal dengan akrab, bak sahabat yang tak ingin pulang.


8 August 2008

Mengenal Balada Orang-orang Tahanan (4)


Penjara bagi seorang tahanan baru, adalah bukan rahasia lagi, bila harus berhadapan dengan apa yang disebut ‘acara perkenalan’ . Tentu sudah bukan menjadi rahasia lagi bila acara tersebut merupakan ujian yang berat bagi seorang tahanan baru. Terutama bagi penjahat yang kejahatannya ‘menjengkelkan’ polisi. Apalagi kejahatannya pun ‘menyakitkan’ bagi para tahanan di dalam penjara ini.
Aku dan kawan-kawan di blok A ini, akhirnya mau tak mau harus menyaksikan acara yang membuat hati kami miris. Bila setiap saat ada tahanan baru yang masuk ke blok A ini, artinya maka saat itulah kami harus melihat kekerasan dan mendengar lenguhan kesakitan. Para polisi tak segan-segan melakukan kekerasan macam apa pun bila tahanan baru tersebut adalah seseorang yang berulang kali mengisi daftar kejahatan di kepolisian, atau kejahatannya terlalu jahat; pembunuhan atau pencurian dengan kekerasan. Apalagi bila tahanan baru tersebut dicurigai memiliki ‘ajimat kekebalan tubuh’
Bila hanya diperintahkan untuk merayap dan berguling-guling, mungkin tak terlalu sukar dan berat. Tapi bila harus berhadapan dengan kerasnya hantaman yang bertubi-tubi maka tak pelak dalam waktu yang tak lama tubuh akan menggeloyor ke lantai semen yang kasar. Usai polisi melakukan acara tersebut maka kemudian diserahkan kepada Nadi sebagai kepala blok A.  Maka Nadi pun biasanya melakukan negosiasi pada petugas jaga, agar ada ‘dispensasi’ hukuman yang ditimpakan pada tahanan baru tersebut. Kesepakatan yang terjadi adalah berdasarkan; berapa banyak uang yang harus dibayar oleh tahanan baru kepada para petugas jaga; agar tahanan baru tersebut bisa terbebas dari acara ‘perkenalan’ . Jika kesepakatan tak terjadi maka berarti acara tetap berlaku dan berlangsung.
Jika tahanan baru tersebut dianggap ‘musuh’, baik oleh para petugas jaga dan para tahanan lain, maka dia akan menerima  2 acara berkelanjutan. Pertama, dia akan menerima acara dari para petugas jaga. Sedangkan kedua, dia akan pula menerima acara dari para tahanan lainnya. Biasanya, hal ini terjadi pada tahanan baru yang kasusnya merugikan orang miskin, atau perkosaan. Jenis kasus ini yang teramat dibenci oleh para tahanan. Menjadi penjahat karena miskin, maka jangan jadi penjahat bagi orang miskin; itulah prinsip yang pernah mereka katakan pada kami. Hal ini pernah kami lihat saat seorang maling becak masuk menjadi tahanan baru di blok A. Setelah dia dihajar habis-habisan oleh para petugas jaga. Lalu giliran satu persatu para tahanan menghajar dia pula hingga babak belur. Para tahanan merasa bahwa ‘becak’ adalah simbol kemiskinan, itulah yang membuat mereka kalap. Mereka akan lebih bangga bila bisa mencuri motor atau mobil, bahkan merampok nasabah bank. Saat acara tersebut berlangsung, Nadi memanggil kami.
“PRD…, PRD…!!”
Kami pun segera menghampiri acara tersebut. Kami pun melihat dengan jelas bagaimana wajah si maling becak itu sudah melegam hancur.
“Sekarang PRD…..” ujar salah seorang tahanan pada kami.
Rupanya mereka ingin agar kami pun turut memberikan hukuman pada  si maling becak itu.
Kami yang tak terbiasa melakukan kekerasan terhadap orang lain, sudah tentu sangat berat hati melakukan permintaan mereka. Tiba-tiba Adan Topan memberikan saran, saat kami terdiam lama.
“Begini saja…ayo merayap…!” bentak Adan Topan kepada lelaki itu.
Si maling becak itu pun merayap dengan sesekali jongkok seperti seekor anjing.
“Ayo tangannya di atas…., ngomong ‘Hidup PRD’….!” Bentak tiba-tiba dari salah seorang tahanan.
Maka si maling becak itu mematuhi perintah itu. Dia merayap sambil mengepalkan tangan ke atas dan meneriakkan; Hidup PRD…, Hidup PRD…..
Kami cuma bisa menggelengkan kepala.
Tetapi kondisi akan berbeda jika tahanan baru tersebut dianggap ‘kawan’ oleh para tahanan, maka acara tersebut akan ditiadakan tanpa satu syarat pun.

Mengenal Balada Orang-orang Tahanan (3)


Pernah suatu kali (aku tak ingat kapan tepatnya) terjadi peristiwa yang ‘tak adil’ bagi kami para tahanan di penjara ini. Saat itu waktu beranjak melewati pukul 24.00. Tiba-tiba dalam tidur lelap kami semu terganggu oleh suara bentakan yang keras dari luar penjara.
“Apel…! Apel…! Apel…!”
Sontak seluruh isi penjara ini bagai dikejar hantu, berlarian pontang-panting menuju ruang depan. Kenapa ‘apel’ dilakukan dini hari ? Ada apa ini ? Semua tahanan bertanya-tanya.
Para tahanan segera melakukan apel, lalu absen satu persatu seperti biasanya. Seusai para tahanan di blok A ini melakukan absen, seorang polisi bertubuh tinggi dan kurus dengan wajah merah memucat, memandangi kami semua yang sedang berjongkok sambil menahan kantuk.
“Mana seragammu….?!!” Bentaknya terhadap salah seorang yang berada di baris terdepan.
Ternyata Rizal yang dibentak olehnya.
“Eee..seragamnya nggak ada, Pak…Seragamnya memang nggak cukup, Pak,” ujar Nadi mencoba menenangkan suasana dan berusaha melindungi Rizal.
Sementara kami, yang tak memakai seragam ‘tahanan Polwiltabes’ segera berhamburan lari mencari seragam seadanya. Entah kenapa, yang tak berseragam hanya kami para tahanan kasus PRD. Mungkin karena seragamnya memang habis atau nggak cukup, seperti yang diucapkan Nadi.  Mungkin memang kami tak perlu memakai seragam sebab sejak awal kami masuk dalam penjara ini tak pernah ditegur soal seragam, dan pula kami bukanlah tahanan kriminal.
Masalahnya sekarang, polisi tua yang berkepala hampir gundul tersebut tiba-tiba membentak-bentak tanpa alasan yang pasti.
“Kamu mentang-mentang PRD, ya…?!”
“Jangan mentang-mentang kamu di sini….!!!” bentaknya lagi. Kini bola-bola matanya tampak berair kemerahan. Kami semua diam tanpa banyak bicara.
“Saya juga punya anak mahasiswa. Tapi nggak seperti kalian. Saya juga bisa menembak kalian malam ini juga, kalau saya mau…!!”
Berbagai kata-kata kasarnya diludahkan kepada kami para tahanan politik, khususnya di Blok A ini. Tak mengerti apa maksudnya, dan juntrungannya. Sementara blok B masih menunggu giliran untuk segera dicaci maki olehnya.
Akhirnya, kami semua di blok A ini disuruhnya bubar. Tetapi rupanya di blok B belum dibubarkan. Kini giliran kawan-kawan; Trio, Wiwin, Brewok, dan Arindra (saat itu Icha dan Ana dipindahkan ke ruang URC, sebab kamarnya direnovasi); yang didamprat habis-habisan oleh poli tua yang kalap itu.
Kawan-kawan di blok A segera tak habis membicarakan kelakuan gila polisi tua tersebut. Kami semua pun telah sepakat untuk saling membantu bila terjadi sesuatu terhadap salah satu dari para tahanan di blok A ini, akibat ulah polisi tua tersebut.
“Tenang saja… dia mabuk. Matanya kelihatan merah dan mulutnya bau alkohol,” ujar salah seorang dari kami.
Tak berapa lama, polisi tua itu masuk ke blok A. Dia menghampiri kamar kami, para tahanan politik. Tampaknya dia belum puas memaki-maki kami.
“Kalian lihat tadi di blok B, kawan-kawanmu sok PRD semua. Apa dikira saya takut sama kalian. Lihat, saya akan suruh mereka untuk memukuli kalian….!”
Kemarahannya semakin menjadi-jadi, dan akhirnya merembet kepadaku yang saat itu sedang memegang rokok yang menyala.
“Hei, kamu dapat korek api darimana….?!”
Aku terdesak oleh kemarahannya yang meluap-luap keras. Aku tak bisa mengelak, dan akhirnya aku berikan padanya korek api batangan yang kusembunyikan di kamar mandi. Dia semakin marah padaku. Aku pun dihukum untuk ‘jongkok-lompat’ sebanyak 50 kali.
“Hei, nanti kalau dia sudah selesai. Pukuli ramai-ramai….!” Ucapnya kepada para tahanan yang lain sambil menuding aku.
Tetapi para tahanan tersebut justru memandang marah kepada polisi tua tersebut, bukan kepadaku. Mereka tak mau menuruti perintah nggak masuk akal itu. Mereka malah membantuku, dengan memanipulasi penghitungan gerakanku sekitar 23 kali, sehingga aku tak melakukannya sebanyak 50 kali.
Setelah aku selesai melakukan hukuman polisi tua itu, Nadi dan Ali menyuruh untuk segera masuk kamar. Tetapi aku masih meragukan ide mereka.
“Sudahlah, kamu masuk kamar saja…. Kalau dia sampai memaksa kami untuk memukuli kamu, maka kami semua kompak akan ramai-ramai memukuli dia….”
Aku pun segera masuk kamar setelah Nadi memberiku jaminan itu.
Kemarahan polisi tua itu masih berkobar. Dia memerintahkan kami semua, penghuni blok A dan B, untuk kerja bakti; membersihkan selokan, memberishkan sampah, menimba air, hingga mengepel lantai. Itu semua kami lakukan pada sekitar pukul 2.00. Bersamaan dengan kepergian polisi tua itu meninggalkan penjara ini. Perintah seorang polisi tua yang sungguh tak waras.
Akhirnya kami mengetahui bahwa polisi tua itu bernama Soegiono yang berpangkat Letnan Satu.
Peristiwa itu sempat membuat kami yang berada di blok A, menuduh kawan-kawan di blok B yang membentuk kebencian para petugas jaga  terhadap para tahanan kasus PRD, Salah satu tuduhan tersebut kami arahkan pada Trio. Namun untunglah akhirnya bisa kami sadari bersama bahwa peristiwa tersebut tetaplah sebuah kesewenang-wenangan polisi terhadap para tahanan (baik tahanan politik mau pun kriminal). Akhirnya kami adukan peristiwa kepada pengacara kami, yang saat itu diterima oleh Pak Trimoelja.

7 August 2008

Mengenal balada Orang-orang Tahanan (2)


Hari demi hari, satu demi satu, aku mengenal baik dengan para tahanan yang terkena kasus kriminal. Mereka adalah;
1.      Kamar nomor 2 : Adan Topan, Chun/Chung, Djono, dan Rudi.
2.      Kamar nomor 3 : Parmin, Ali, Iksan, dan Sakur yang dipanggil Peleng.
3.      Sedangkan selebihnya : Nadi, Anas, Azis, Arif, Muchklis, Romli alias Erwin, Nayar, dan      seseorang yang kerap dipanggil Black Panther.
4.      Lalu para tahanan yang di blok B, yang kukenal pula : Sabri, Tingwar, Dalbo, Imam, Kadir, Nursiono, Darsa, Udin, Buang, Hafid, Irfan, Husni, Mujiono, dan Sukir.

Bersama mereka, aku dan kawan-kawanku, saling berbagi cerita. Mereka bicara tentang ‘kehebatan’ mereka melakukan pencurian, perampokan bahkan perkosaan. Tetapi pula mereka bicara tentang pengalaman dan perjalanan hidup. Kami pun menceritakan ‘kehebatan’ kami berdemonstrasi bahkan menentang pemerintahan Indonesia. Tak heran bahwa kami pun sempat mengenal cara-cara dalam melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Sama seperti mereka pun mengenal ‘kamus baru’ dari kami, misalnya; Penindasan, Lawan, Demokrasi atau Mati, Hidup Rakyat, Hidup Buruh, bahkan Hidup PRD. Bahkan di blok B, para tahanan malah diajarkan lagu; Darah Juang, Satukanlah, atau Pasti Menang. Aku bersama kawan-kawan, baik yang di blok A maupun blok B, pun mengenal ‘lagu wajib’ para tahanan di Polwiltabes Surabaya ini. Lagu tersebut harus dinyanyikan dan dihapalkan oleh setiap penghuni penjara. Lagu ini sebenarnya ‘plesetan’ dari  lagu dangdut yang berjudul ‘Hidup Di Bui’. Beginilah syair lagu tersebut;

Pertamanya aku tak mengerti
Kenapa ku ditangkap polisi
Dipukuli setengah mati
Disuruh ngakuin barang bukti
Reff : Hey, kawan, jangan berbuat salah
         Salah itu bisa dipenjara
         Di penjara bagaikan raja
         Makan tidur selalu dijaga
Bila sore menjelang petang
Hanya tembok terali ku pandang
Pikiranku melayang-layang
Menunggu bezukan belum datang


Lagu tersebut sering didendangkan oleh kami semua di penjara ini, apalagi bila malam tiba. Sembari diiringi suara ketimpungan dari drum bekas wadah air mineral yang ditabuh seiring dentang terali besi yang dipukul. Bagi kami, yang terpenting adalah hati gelisah dan jiwa lelah kami bisa terhibur, meski kami sadar bahwa ini tak akan menyelesaikan persoalan realitas yang esok kami hadapi yakni; diadili dan di penjara lebih lama lagi.
Inilah pertalian rasa kami semua.Tak ada lagi yang harus disembunyikan, atau dirahasiakan, sebab kami seluruh tahanan di penjara ini senasib sebagai orang yang dimerdekakan.
Begitu pun kami mengenal para petugas jaganya yang berpangkat kopral hingga sersan, dari yang sabar hingga yang paling galak. Mereka antara lain; Pak Mulyono, Pak Herman, Pak Joko, Pak Imam, atau pula Pak Ridhoi. Sikap mereka terhadap kami yang menjadi tahanan politik ini, cenderung memang tak segalak ketimbang terhadap para tahanan yang lain. Meski tetaplah ada beberapa petugas jaga yang berupaya ‘menyamakan’ kami dengan para tahanan lain, apalagi dalam urusan kekerasan.

6 August 2008

Mengenal balada Orang-orang Tahanan


Penjara ini banyak mengajarkan dan mendidik aku untuk mengenal sebuah pengalaman besar, tentang hidup dalam segala keterbatasan yang sebenarnya batas-batas itu dibuat oleh si pemilik kekuasaan. Ternyata hidup di negara ini sungguh mengerikan. Siapa pun, tak perduli yang berbuat benar atau salah, bisa sewaktu-waktu dijebloskan dalam penjara. Semua tergantung pada siapa yang mengendalikan kekuasaan. Itulah kenapa di penjara ini, yang kutemukan adalah mereka yang dilumpuhkan dan dikalahkan secara sosial, ekonomi, hingga politik. Mereka itulah penghuni sejati kamar-kamar berterali besi ini.
Tak ada penjahat dalam penjara, sebab tak seorang pun yang dilahirkan untuk menjadi penjahat. Tetapi semua ini disebabkan karena mereka telah bosan dengan model hidup di negara ini. Makan susah, cari kerja sulit, jika sudah dapat kerja digaji kecil, sekolah tak punya biaya, ingin tidur takut digusur, jualan di jalan diobrak-abrik aparat, dan masih banyak lagi yang dialami. Sementara di depan mata bertebaran kemewahan yang mengejek terus melaju tanpa menoleh sedikit pun pada yang tertinggal di belakang. Banyak dari mereka yang merasa ikut membangun masa depan bangsa ini, tapi tak memperoleh kesempatan sedikitpun untuk mecicipi apalagi untuk menikmati. Mereka hanya bisa makan janji dan kenyang terhadap program pemerintah. Mereka dendam atas kekalahan ini. Mereka menjadi bengis, berubah liar dan menakutkan. Meski jauh di dasar imajinya ada kerinduan sebuah tatanan masyarakat yang sejahtera dan makmur  bagi semuanya.
Aku mengenal mereka dengan baik. Sama halnya aku mengenal setiap ruang penjara blok A ini dengan baik. Penjara di blok A ini terdiri 7 kamar, tetapi hanya 6 kamar saja yang difungsikan. Masing-masing kamar terdiri dari dipan besar dan satu kamar mandi (namun tak bisa digunakan). Lalu penjara ini pun memiliki sebuah ruang tengah yang lapang untuk apel dan juga digunakan untuk bergerombol duduk menonton acara televisi. Kemudian juga terdapat sebuah ruang mirip lorong panjang untuk olah raga atau duduk berkumpul mendengarkan ceramah Jum’at bahkan berguna pula sebagai tempat nongkrong dan tidur para tahanan. Lorong ini berakhir pada sebuah kamar mandi utama yang letaknya persis di depan teras kamar nomor 7. Ada pun di sebelah kanan kamarku, terdapat kamar kosong tempat penyimpanan barang, atau lebih tepatnya gudang.
Menurut beberapa cerita para tahanan. Penjara ini pun memiliki misteri. Pada blok A, misteri tersebut terletak di kamar nomor 7, kamar paling ujung. Konon, seorang tahanan perempuan pernah tewas bunuh diri di kamar tersebut. Tahanan perempuan yang tewas itu disebut dengan panggilan Ida Ayu Komang. Hampir semua tahanan di blok A ini pernah melihat ‘keanehan’ yang terjadi di kamar nomor 7 ini. Tak terkecuali aku. Pada sebuah siang, aku sedang buang besar di wc kamar nomor 7, sebab hanya wc di kamar itulah yang bisa digunakan. Mendadak aku melihat keanehan, yakni; botol-botol plastik kosong yang tadinya berserakan di lantai, kini beterbangan dengan suara riuh dibarengi dengan kayu-kayu dipannya yang bergerak gaduh. Semua itu tak pernah kutahu sebabnya. Sementara di blok B pun memilik misteri, yakni sebuah sumur pompa. Konon, sumur pompa tersebut mencurahkan ‘air ajaib’ . Siapa pun, para tahanan, yang terluka sampai parah sekalipun akibat hajaran para polisi, bila diguyur dengan air dari sumur pompa tersebut maka tak lebih dari dua hari, semua lukanya akan sembuh tanpa bekas sedikit pun dan kembali sehat seperti sedia kala. Itulah misteri yang pula kukenal sebagai sebuah nuansa dalam penjara ini.

5 August 2008

Surat-surat Kecil Dari Penjara (3)


Lalu pada tanggal 16 September 1996, aku kembali menulis surat pada Ibu, yakni;

Surat II, malam Selasa, 16 September 1996, setelah sembahyang bersama kawan-kawan.
Malam ini Rizal, kulihat tidur di teras kamar dengan alas tikar. Dia adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, dari dia kutahu bahwa dia tidak tertangkap namun menyerahkan diri ke pihak aparat militer di Malang, lalu diserahkan ke Bakorstanasda Jatim, masuk ke markas Deninteldam V/Brawijaya di Surabaya. Seperti halnya aku, Ganjar, Agung dan Zainal. Kami semua ‘alumnus’ Deninteldam V/Brawijaya Surabaya, yang telah dibina habis-habisan, hingga nyawa kami tinggal separuh.
Tapi kini kami telah mampu mengembalikan seluruh nyawa kami, hingga nyawa kami perlahan utuh kembali. Sebab di Deninteldam V/Brawijaya, tak sama seperti di Polwiltabes Surabaya yang kami tempati sekarang ini.

Kemudian pada tanggal 19 September 1996, aku menulis surat lagi. Saat itu sekitar pukul 13.30, aku meminjam kamar Ali sekaligus pula meminta kertas dari Ali.

Surabaya 19 Sept ’96

Di sini kami mengenal siapa yang bersalah, dan siapa yang dibuat salah, bahkan siapa yang dipkasa mengaku salah.
Kami mengenal Adan Topan, sebagai seorang yang berbadan paling menakutkan di blok A ini, tapi dia justru sering berkelakar dengan kami. Seringkali pula ikut makan bersama kami, seperti juga Ali, Parmin, dan Iksan. Adan Topan yang kami tahu, adalah seorang tahanan yang terlibat kasus susila, yakni dia menjual adik iparnya kepada lelaki kaya. Berbeda dengan Ali, dia kutahu masuk ke penjara dalam keadaan kakinya terluka kena tembak polisi hanya karena persoalan uang miliknya sebesar Rp. 18.000,-  yang dirampas seorang pelacur. Saat dia hendak merebut uangnya, pelacur itu pun meneriaki dia sebagai ‘maling’. Kini dia harus menebus lebih mahal, jika ingin bebas dari penjara ini. Dia harus menyediakan uang ‘jaminan’ sebesar kurang lebih Rp. 2.500.000,-  Maka pilihan Ali hanyalah berpasrah untuk menjalani hukuman dengan tuduhan ‘maling’, sebab dia hanya seorang sopir bis antar kota. Namun Ali sangatlah berbeda dengan para tahanan lain. Ali sangat baik terhadap kami. Terkadang dia turut membantu kami membersihkan kamar kami. Dia turut mengambilkan air persediaan untuk kami. Dia tak segan memijat tubuh kami, bila salah seorang dari kami merasa badannya sakit. Pijatan Ali memang manjur, rupanya dia pintar juga dalam hal memijat. Dari Ali pula aku bisa memperoleh kertas, yang kini kugunakan untuk menulis sebanyak ini. Dia memang sengaja memberikannya padaku, karena dia tahu bahwa aku sering menyendiri di kamarnya hanya untuk menulis.
Kepala di blok A ini atau penanggung jawab blok A ini dipegang oleh Nadi. Dia masuk penjara ini karena kasus pencurian sepeda motor. Sungguh bukan kerja yang mudah, dan bukan pula untuk sekedar gagah-gagahan. Tetapi memikul tanggung jawab yang besar. Nadi pun tak jarang terpaksa rela untuk dihukum demi menyelamatkan ‘anak buahnya’. Nadi pun harus pintar negosiasi bila para petugas jaga meminta upeti dari para tahanan di blok A ini. Lelaki berdarah Madura ini, sangat suka buah. Dia sering minta buah dari kami. Dia suka makan pisang dan anggur. Tapi jangan ditanya bial sedang menghajar ‘pasien baru’ yang masuk ke penjara karena kasus merugikan orang miskin. Pukulannya seiring dengan kuatnya emosinya.
Nadi pula yang memiliki tugas meminta uang bezuk dari para tahanan, untuk setiap harinya. Setiap kamar dibebani untuk membayar Rp 500,- sampai Rp. 1.000. Itu bila ada penghuni kamar tersebut yang menerima bezukan. Bila tidak, tentu pula Nadi tidak meminta uang bezuk   Pada kami, Nadi meminta Rp.2.000,- setiap harinya. Kami tak keberatan, sebab jumlah sebesar itu ditanggung oleh kami berlima. Sedangkan uang bezuk yang dikumpulkan tersebut bukan untuk Nadi, tetapi untuk membantu para tahanan lain yang tidak pernah dijenguk oleh keluarga mereka, seperti; Parmin, Nayar dan masih banyak lagi. Mereka yang tak pernah dijenguk itu, di penjara ini disebut ‘Ai’ atau Arek ilang (anak yang hilang).  Mungkin ini bantuan untuk mereka, semacam sebuah solidaritas ala para tahanan di penjara ini.

Suratku yang demikian panjang itu memang membuatku terkesan, sebab aku bisa menuliskan apa yang tertanam kuat di benakku. Tentang kawan-kawanku yang baru, yang kukenal dan kujumpai dalam kesamaan sebagai kaum yang kemerdekaannya dipenjara.    

Surat-surat Kecil Dari Penjara (2)


Pada tanggal 7 September 1996, aku pertama kali menulis surat untuk Ibu, setelah selama lebih kurang 4 hari aku berada di penjara.

Sabtu, 7 September 1996, sekitar pukul 22.20.
Malam ini, sudah tiga Sabtu malam aku merasa seolah pagi menunggu siang, siang menanti petang, dan petang menjangkau gelap hingga gelap menambah subuh.
Kamar penjara ini luasnya sekitar 3 x 4 meter, penerangannya cuma lampu 40 watt. Aku, Ganjar, Agung, dan Rizal bertelanjang dada karena kepanasan, dan duduk di dipan tanpa kasur (beralas kayu/papan).
Kasur papan kami ini penuh barang-barang kami; botol air minum kami, pakaian-pakaian kami, makanan, bahkan sampah. Dan di kasur papan inilah tempat kami bicara, berdiskusi, makan bersama, sembahyang, dan tidur.

Demikianlah suratku yang sederhana tersebut. Namun kuyakin memberi berkas-berkas cerita yang kelak menjadi sejarah bagi rakyat di negeri ini.
Adapun suratku yang kutulis tanggal 11 September 1996 adalah sebagai berikut;

Buat Ibu, Sby, 11-09’96
Bu, sehat-sehat saja kan, semoga Tuhan masih memberkati kita semua.
Kalau Ibu nggak bisa bezuk, David juga nggak pa-pa. Jadi Ibu bezuknya nggak usah tiap hari, nanti Ibu capek. Kalau ada pesan atau kiriman bisa dititipkan lewat keluarganya Icha atau Pakde Didik, atau mungkin lewat teman-teman David yang mau bezuk. Kalau Ibu mau kontak dengan Hot atau Agus, telepon saja ke Agus (5945563) atau Hot (335359). Biar mereka ngasih semangat ke David. Ibu supaya banyak berhubungan/konsultasi dengan LBH (di jalan Kidal nomor 6) dan Pak Mochtar, soalnya mereka ikut berperan dalam kasus ini dan ceritakan tentang latar belakang David, tetapi nggak usah cerita dulu mengenai masalah di Denintel (soal itu keluarga kita saja dulu yang tahu bahwa mereka nggak punya nurani kemanusiaan).
Sebenarnya David pengen nulis surat buat Anis, tetapi David pikir itu nanti sajalah.
Soal pakaian, Ibu cukup kirim ganti baju dan celana pendek. Kalau celana dalam kirim banyak saja, soalnya di sini David bisa cuci sendiri. Pengiriman pakaian itu bisa 3 hari sekali.
Udah ya, Bu. Salam buat Wawan, suruh dia rajin belajar (jangan malas, walau nggak ada David) supaya nanti dia bisa pandai bicara tentang kemanusiaan, dan ajak dia berdoa supaya David bisa cepat pulang, supaya bisa nemani dia lagi kalau nonton bioskop  di Pasar Kembang.

Terima Kasih, ya Bu.
Anakmu, Polwiltabes blok A, kamar 1,

David Kris

4 August 2008

Surat-surat Kecil Dari Penjara


Secara sembunyi-sembunyi aku menulis surat untuk Ibu, tentang keadaan yang kualami bersama kawan-kawanku, dan para tahanan lainnya, dalam penjara Polwiltabes Surabaya ini. Baik carik-carik kertas dan pulpen, kusembunyikan diantara tumpukan sampah yang terdapat di dalam bak mandi, seperti halnya aku menyembunyikan korek api batangan. Aku menuliskan segala yang kulewati dalam langkahi hari-hariku di dalam penjara, yang kutuliskan sembari rebahan di kamar Ali, agar tak terlihat oleh petugas jaga. Meski terkadang di kamarku sendiri. Namun kesemu itu haruslah tetap melihat waktu, karena ada waktu-waktu tertentu yang digunakan oleh petugas dari kepolisian untuk melakukan kontrol terhadap masing-masing kamar tahanan. Biasanya, bila siang hari terjadi sekitar pukul 11.00, dan malam hari terjadi pada sekitar pukul 20.00.
Pernah pula terjadi, para petugas jaga yang melakukan kontrol tersebut menemukan celana panjang yang tergantung dijemur dekat kamar mandi utama. Kontan saja, petugas jaga marah-marah seperti  kebakaran jenggot. Bila aku tak salah ingat nama si pemilik celana panjang itu adalah Muchklis.
“Buat apa celana panjang ini…?!”
“Buat..buat..buat sholat…” Lelaki si pemilik celana panjang itu menjawab dengan perasaan takut.
“Peraturan di sini itu tidak boleh ada celana panjang, bahkan sarung sekalipun. Kalau mau sholat, iya silahkan sholat. Kan bisa memakai celana pendek…?”
Si lelaki itu tampak tertunduk kalah.
“Celana panjang ini kan bisa untuk gantung diri. Makanya tidak boleh ada dalam penjara ini. Kalau ada yang mati gantung diri di blok ini, kamu mau tanggung jawab…?!” lanjut marah si petugas jaga.
Tak berapa lama kemudian, Muchklis dihukum dengan hukuman jungkir balik berguling-guling sepanjang kurang lebih 15 meter.
Iya…memang itulah peraturan di penjara Polwiltabes Surabaya ini.
Jika saat aku menuliskan sesuatu di carik kertas kecil, beberapa kawan menghampiri aku, dan berharap agar aku kelak menuliskan pula tentang apa yang dialami bersama di penjara.
Bila selesai, aku tidak ingin menyimpan kertas-kertas tersebut untuk alasan keamanan. Maka, pada setiap kali keluargaku membezuk, aku segera memberikannya kepada keluargaku, terutama Ibu. Meski tak banyak yang aku tuliskan. Paling tidak apa yang pernah ada dalam hidupku telah tertuang dengan  baik.