SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

21 August 2008

BEBAS MENUJU PENJARA BESAR (3)


Hari kemudian yang terus kujalani di rumah, kuisi dengan bermain gitar sendiri, menyusun kliping pemberitaan media mengenai PRD dan sekaligus pula tentang diriku, pula tetap menjalani Walap (Wajib Lapor) di Polwiltabes Surabaya. Terutama aku harus sudi menuliskan kembali perjalanan mimpi burukku kala disekap dan ditahan aparat militer negara, ke dalam naskah mirip memoar. Meski sakit dan berbuah dendam bila mengingatnya kembali.
Aku pun sesekali pergi ke kampus, walaupun sesungguhnya aku enggan untuk melakukannya. Namun tak apalah, barangkali aku bisa berjumpa dengan kawan-kawan aktivis lagi. Aku sungguh merindukan kawan-kawanku yang dulu, para aktivis yang bersemangat dalam memperjuangkan rakyat yang tertindas. Rupanya harapanku cuma harapan, kemunculan kawan-kawanku belum kunjung tiba. Terpaksalah aku hanya berhubungan dengan kawan-kawanku yang bukan anggota PRD. Itupun tak banyak jumlahnya. Sementara kampusku ini kian membuatku muak. Ketenangannya, keceriaannya, gemerlapnya, telah menggilas kobaran api pergerakan yang dulu pernah menjadi kebesarannya. Tak ubahnya aku berada di sebuah mall atau plasa di kotaku.
Aku sangat merindukan kehadiran kawan-kawanku, terlebih kala aku sendiri sembari menikmati segelas kopi panas di kantin kampusku. Terbersit pertanyaanku yang ragu; mungkinkah aku bisa bertemu mereka lagi, dan tak pernah tercerai menghilang lagi ? Walau aku percaya bahwa perpisahan pun akan ada saat membuahkan perjumpaan.
(Hingga ssat naskah tulisan ini kuselesaikan, masih banyak kawan-kawanku yang tetap menghilang entah kemana)
            Inilah bagian dari sejarah gelap pergerakan kaum muda yang untuk kesekian kalinya dibinasakan. Sejarah pulalah yang kelak akan mempertemukan dalam sebuah tempaan perlawanan untuk menuntaskan cita-cita perjuangan yang belum usai. Masih banyak kawan-kawanku yang harus meringkuk di penjara dalam waktu hukuman yang lama dan memberatkan, karena sebuah skenario pengkokohan kekuasaan. Sementara juga aku yakin bahwa masih banyak pula kawan-kawanku yang terus bergerak pada perjuangan bawah tanah dalam penjara negara yang bertembok tirani.
            Aku yang telah berada di rumahku lagi, berkumpul kembali dengan orang-orang yang kucintai, dan semakin kuat kuat untuk tetap menjaga kesegaran nurani dan otakku agar tetap berpihak pada perjuangan membebaskan rakyat dari penindasan. Penjara bertembok sepuluh kali lipat pun tak akan mampu memenjarakan kata jiwa, menghancurkan bangunan idea, merampas asa pembebasan, apalagi menghabisi keyakinan akan sebuah kemenangan bagi rakyat. Yah, penjara tidak membuat aku bodoh. Aku, pula kawan-kawanku, akan tetap terus belajar tentang bagaimana perjuangan ini kelak akan mampu menyobek lembar sejarah kelam ini berubah menjadi lebih baru dan lebih baik bagi rakyat. Seiring pula dengan hilangnya mimpi-mimpi buruk yang ditimpakan negara terhadap rakyat, pula meraih bersama kemenangan rakyat yang bangkit bergelora di negeri yang tercinta ini.  

                                                                ---- SELESAI ----


20 August 2008

BEBAS MENUJU PENJARA BESAR (2)


Aku bangun dari tidur malamku saat jam dinding di kamarku terlihat tepat delapan pagi. Aku teringat teman-temanku di penjara, mungkin saat ini mereka sedang piket dan telah apel pagi. Ah, semoga pula mereka pun bisa segera keluar dari penjara itu.
            Pagi ini, waktu yang bergulir jam sembilan lebih, hanya kulalui dengan duduk di ruang tamu sembari menikmati segelas teh hangat, dan memetik senar-senar gitar kayu-ku. Tetapi tak lama kemudian, tanpa kusangka, satu persatu secara bergantian tetanggaku datang ke rumahku. Mereka menjabat tanganku sebagai sambutan atas kedatanganku, sekaligus menyampaikan rasa simpati mereka terhadapku. Aku mengucapkan terima kasih pada mereka yang menyatakan salut atau simpati padaku. Aku bangga bercampur haru, ternyata mereka tak turut ‘menghukum’ perjuanganku. Paling tidak, mereka tak mudah dibodohi dengan black propaganda pemerintah, tentang perjuanganku bersama PRD. Meski aku tetap yakin pula bahwa tentu ada beberapa tetanggaku yang membenci perbuatanku dan menggangap aku tak ubahnya seorang PKI.  Seperti halnya aku yakin bahwa penguasa bisa membodohi beberapa orang dalam beberapa saat, tetapi tidak untuk semua orang dan bukan untuk selamanya.
            Ada yang membuatku terkesan saat itu, yakni kedatangan anak-anak kampungku di rumahku. Kisar usia mereka antara 5 sampai 10 tahun. Rupanya mereka pun tak ingin ketinggalan hendak menyampaikan kegembiraan mereka atas kembalinya aku di rumahku lagi. Bermula dari Wahyu, yang masih bersekolah di Taman Kanak-kanak, yang kebetulan lewat depan rumahku. Rupanya bocah gendut lagi besar itu mengetahui diriku, lalu segera berlari menuju kerumunan permainan teman-teman sebayanya di ujung kampung ini, sambil berteriak kegirangan;
            “Hei rek, Mas David wis mulih  (Hei teman, Mas David sudah pulang )…….!”
            Lalu aku pun melihat mereka yang berjumlah sekitar tujuh bocah menuju rumahku, sambil tersenyum kecil kegirangan. Bahkan beberapa dari mereka sempat menanyaiku, sampai aku kebingungan menjawabnya;
            “Mas David kok saiki gundul ( Mas David kok sekarang gundul )….?”
            Pertanyaan itu membuatku tersenyum. Sungguh, aku tak bisa menjawab pertanyaan yang jujur itu. Mereka benar-benar merasakan kegirangan menikmati pertemuan denganku lagi. Maka tak heranlah jika akhirnya salah satu dari mereka pun bertanya padaku;
“Mas David lunga nangdi ae, kok gak tau mulih (Mas David pergi kemana saja, kok tidak pernah pulang)…?”
            Aku pun harus menjawab setiap tanya yang muncul dari rasa rindu mereka, walau aku memberikan jawaban sekenanya. Terpenting mereka bisa puas mendengarnya. Sayang, mereka masih terlalu pagi dalam usia, sehingga tak mampu memahami alur sejarah kelam negeri ini yang kualami.
            Kedekatanku dengan mereka selama ini, rupanya telah menumbuhkan kerinduan bila aku terlalu lama menghilang dari  keseharian mereka.

KELIMA : BEBAS MENUJU PENJARA BESAR


Sesampai aku berada di rumah Pakde Didik, aku seolah seorang pengelana yang usai melakukan perjalanan jauh dan lama, sehingga berbagai suguhan dihidangkan untukku.
Aku segera berganti pakaian. Sejak keluar dari penjara tadi, aku hanya mengenakan celana pendek dan kaos hitam yang rada lusuh. Saat aku mengganti pakaian yang kukenakan, aku merasa bahwa berat badanku rupanya bertambah. Kurasakan celana jins yang kupakai ini terasa menghimpit perutku. Padahal ketika aku keluar dari Deninteldam V/Brawijaya, berat badanku menyusut sekitar 3 kilogram. Ah, ternyata di penjara malah membuat badanku gemuk.
            Sebenarnya keluarga Pakde Didik memintaku untuk tidur di rumahnya, malam ini, barulah esok pagi aku diantar pulang ke rumahku. Tetapi aku menolak, sebab aku sudah rindu dengan kampungku, rumahku dengan segala isinya, dan semua orang yang kucintai di sana. Untunglah mereka bisa memakluminya. Akhirnya sekitar pukul 10 malam, aku pun pulang bersama kakak perempuanku, dengan diantar oleh Pakde Didik dan Mas Budi.
            Sesampai di kampungku, kulihat kampungku tampak sepi, mungkin para penghuni kampungku ini sudah enggan keluar rumah dan lebih nikmat menonton acara televisi, atau lelap dalam tidur malam. Melangkahi setiap petak ubin cor kampungku adalah merasai pula setiap detak hidup yang pernah kulewati bersama kampungku. Tak terkecuali, saat aku dipaksa meninggalkannya pada tanggal 20 Agusutus 1996, untuk melewati rentetan mimpi buruk sejarah negeri ini.
            Tibalah aku di rumahku, yang terletak di tengah-tengah rentangan kampungku ini. Rupanya Ibu, dengan ditemani beberapa sanak saudara dan tetanggaku, telah menantikan kedatanganku. Tentunya Ibu-lah yang pertama kali menumpahkan kerinduan padaku. Barulah kemudian para saudaraku dan tetanggaku, yang beberapa diantara mereka ada yang memelukku, pula hanya menjabat tanganku. Sebentar saja, suasana di rumahku menjadi penuh suka dengan kisahku.
            Kamarku, ruangan inilah yang pertama kali kumasuki setelah aku menghirup udara di rumahku. Kamarku tidak berbeda jauh keadaannya seperti saat aku meninggalkannya. Hanay saja, tumpukan buku-buku dan lembaran berkas yang dulu menggunung, kini tak terlihat lagi. Tinggallah buku-buku cerita populer, novel pop, serta beberapa majalah populer. Mungkin memang ada yang sengaja memisahkan situasi bersahabat dengan bacaan-bacaan seputar aktifitasku dulu. Aku bisa memahaminya. Terlepas dari itu, kamarku jauh lebih bersih dan rapi. Ketimbang kala kutempati dulu.
             Lalu aku pun beranjak menuju dapur. Aku membuat kopi panas untuk menikmati seorang diri. Sebuah pekerjaan yang telah lama tak kulakukan, semenjak aku tidak lagi berada di rumahku ini.
            Sementara perbicangan antara aku dengan orang-orang yang kucintai, di ruang tamu ini, masih terus berlanjut hingga detak jam hampir menuju pukul 24.00. Ternyata tak beberapa lama kemudian, perbincangan ini pun usai dengan sendirinya. Masing-masing mulai berpamitan untuk menuntaskan malam ini dengan rasa kantuknya yang hendak dilelapkan. Begitu pun dengan aku, yang tak sabar lagi untuk segera merebahkan tubuh di kasur yang empuk dan bermimpi tentang kedamaian yang tak akan pernah dirampas lagi oleh kebiadaban orang-orang bodoh.

19 August 2008

Saat Pelepasan Bersyarat Tiba (5)


Sesampai di halaman depan ruang tahanan, yang memang kami lewati kembali, ternyata telah banyak orang menunggu kehadiran kami. Mereka adalah ; para petugas jaga, para orang tua dan sanak saudara kami, serta para wartawan yang siap menghadang kami. Sementara di sisi kanan kami, terlihat teman-teman kami para tahanan kriminal itu bersusah payah melambaikan tangan mengucap salam perpisahan kepada kami.
Kami semua berbaur dalam kerinduan yang lepas begitu saja, seiring dengan haru yang berkecamuk dalam jiwa kami masing-masing.
Aku sendiri saat itu hanya dijemput oleh kakak perempuanku, Mbak’i dan saudara sepupuku, Mas Budi. Kami bertiga segera menghambur menembus kerumunan di lorong jalanan menuju ke halaman belakang kantor kepolisian kota besar ini. Beberapa wartawan yang memancarkan kilatan-kilatan blitz kameranya, tampak berupaya mengejarku. Tetapi aku menolak untuk diwawancarai mereka. Aku masih memiliki ketidakpercayaan kepada si kuli tinta itu. Maklumlah kala itu, banyak dari mereka yang masih cenderung ikut ‘menghukum’ kami.
Tak lama kemudian, datanglah dua mobil menghampiri kerumunan ini. Ternyata mereka adalah rekan-rekan dari LBH Surabaya. Kulihat pula Mas Indro diantaranya. Mereka hendak menjemput kami. Tetapi ternyatabanyak dari kami yang telah siap dijemput oleh keluarganya masing-masing. Jika aku tak salah ingat, hanya tiga kawanku yang pulang bersama rekan-rekan dari LBH Surabaya, yakni; Wiwin, Rizal, dan Syafi’i.
Akhirnya kami saling berpamitan satu dengan yang lain. Satu persatu, kawan-kawanku mulai pergi meninggalkan rumah kepolisian yang telah mengunci kebebasan kami. Aku, yang dulu ditangkap dan masuk penjara paling akhir, kini paling akhir pula meninggalkan markas kepolisian ini.
Aku dan kakak perempuanku, berjalan menyusuri trotoar jalan Sikatan. Sementara Mas Budi menguntit kami dengan sepeda motornya. Tiba-tiba kakak perempuanku ini melambaikan tangan hendak menghentikan taksi Zebra. Aku langsung menghardiknya. Aku benar-benar tak mau naik taksi Zebra. Saat itu jiwaku masih sangat ketakutan. Bahkan hanya sekedar naik taksi Zebra saja, aku takut. Aku masih trauma berat. Bukankah dulu aku diambil oleh aparat Deninteldam V/Brawijaya dengan strategi penangkapan yang melibatkan taksi Zebra ?
Tak berapa lama waktu, kami pun menemukan taksi yang bukan milik perusahaan Zebra. Aku dan kakak perempuanku segera naik, lalu taksi itu pun segera melaju menuju ke rumah Pakde Didik, seperti yang telah dipesankan Ibu kepadaku beberapa hari lalu. Sementara Mas Budi tetap menguntit laju taksi yang kami naiki, bersama sepeda motornya.
Jalan demi jalanan telah kulewati, tinggalkan rumah berpenjara Polwiltabes Surabaya. Markas besar kepolisian  yang membangun kelilingan tembok dan terali besi di salah satu ruangnya, yang waktu-waktu lalu memenjarakan aku bersama kawan-kawanku atas segala kejahatan politik yang ‘dikambinghitamkan’ atas diriku, perlahan telah kian jauh ditinggalkan oleh laju taksi ini. Namun aku tetap tak lupa, bahwa mimpi buruk ini belum usai, masih bergelantung mengancam kengerian untuk kesekian kali dan lebih besar daya cengkeramnya, ialah penjara raksasa yakni kekuasaan negara yang otoriter dan diktator.

Saat Pelepasan Bersyarat Tiba (4)


Kata-kata Pak Rochmat tak mampu aku mengerti, karena aku memang sedang malas untuk mengerti apalagi untuk memahaminya.
            Bahkan Pak Rochmat pun mulai memperlihatkan ancamannya terhadap kami agar kami tidak melakukan kegiatan politik;
            “Kalian akan selalu diawasi, di manapun kalian berada. Ingat, manusia itu kangonan apes ( memiliki sial ), dan suatu saat kalian pasti berjalan sendirian...”
            Aku yakin, bukan hanya aku yang mengerti maksud kata-kata Pak Rochmat barusan. Tetapi kawan-kawanku pun pasti paham benar maksudnya. Justru aku sangsi, apakah Pak Rochmat mengerti pula apa maksud kata-katanya sendiri ? Jika lelaki ini paham, tentu dia tak akan mengucapkan kata-kata tersebut. Toh, sesungguhnya kata-kata tersebut juga mengancam dirinya. Bukankah Pak Rochmat pun manusia dan memiliki sial ?  Bukankah Pak Rochmat pun suatu saat akan berjalan sendirian ? Ssungguh sayang, kata-kata yang tak simpatik itu harus terucap dari mulut seorang polisi yang memiliki jabatan dan pangkat tinggi. Belum lagi guyonan seks kampungan, yang tanpa malu diucapkan di hadapan kami.
            Kini usailah sudah ‘ceramah’ Pak Rochmat yang menjemukan bagiku, Mungkin juga bagi kawan-kawanku. Kemudian kami pun segera menandatangai beberapa lembar surat pengalihan jenis tahanan, yang dibawa oleh seorang reserse bernama Pak Deni.
            Sedangkan Syafi’I tidak dikenakan beban apa pun. Menurut Pak Rochmat, Syafi’I boleh pulang pula, tetapi boleh juga untuk tetap tinggal di Polwiltabes Surabaya ini. Dikarenakan Syafi’i tidak dalam keadaan berstatus tahanan. Melainkan, Syafi’i berada di Polwiltabes Surabaya karena meminta perlindungan kepada pihak kepolisian dari buruan aparat Bakorstanasda Jatim.
            Terkecuali Syafi’i, kami pun masing-masing diberi surat pengalihan jenis tahanan untuk kami pulang.   Kemudian kami pun  dibebani dengan kewajiban ‘Wajib Lapor’  di ruang

Resek (Reserse Ekonomi), dengan ketentuan sebagai berikut:
a)       2 kali seminggu, selama 2 minggu.
b)       1 kali seminggu, selama seminggu.
c)       1 kali dalam 2 minggu, selama 1 bulan.
d)       1 kali sebulan.
e)       1 kali dalam 3 bulan.
Bagi Wiwin dan Rizal, yang bertempat tinggal jauh di luar kota Surabaya, diberi keleluasaan dengan “Wajib Lapor’ melalui kontak telpon interlokal. Sementara Safi’i pun tetap pula tak terbebani ‘Wajib Lapor’ ini.
Tak lama kemudian, kami pun diperbolehkan untuk meninggalkan markas kepolisian Polwiltabes  Surabaya ini. Di antara kegembiraan yang terluap begitu saja, kami sibuk menelpon keluarga kami masing-masing, meski terlebih dulu menelpon Mas Indro (LBH Surabaya) atau Pak Trimoelja. Waktu pun kian merambahi detik berlebih lewati pukul tujuh malam. Setelah berpamitan dengan para petugas polisi yang berada di ruang sekitar kami, segera kami melangkah tergesa menuju pelataran keluar menuju halaman belakang gedung Polwiltabes Surabaya ini.

18 August 2008

Saat Pelepasan Bersyarat Tiba (3)


Tibalah waktu mulai merapat menuju Magrib, akhirnya datanglah dua orang reserse yang kemudian memerintahkan kepada para petugas jaga untuk membuka pintu penjara, baik blok A maupun blok B. Pula memerintahkan agar kami semua para tahanan politik kasus PRD untuk keluar dari penjara.
            Inilah saat yang tak bisa kami lupakan, perpisahan antara kami dengan para tahanan kriminal. Kami saling berpelukan, bersalaman, dan seolah mereka selalu mengingat segala apa yang telah kami berikan untuk mereka.
            “Jangan lupa pada kami……” Kata-kata secuil ini terdengar sering terucap dari mulut mereka bergantian. Apa pun makna kata-kata itu, bagiku mereka adalah pula kehidupan yang pernah ada dan lekat dalam jalinan waktu hidupku.
            Di pelataran luar penjara kami pun bertemu dengan kawan-kawan dari blok B; Trio, Wiwin, dan Brewok. Lalu kami berdelapan pun digiring menuju ke ruang Kanit Resek untuk kembali diberi pengarahan oleh Pak Rochmat.
            Rupanya di ruang Kanit Resek ini, kami pun akhirnya berkumpul semua; Trio, Wiwin, Icha, Ana, Agung, Brewok, Rizal, Zainal, Ganjar dan Aku. Sayang, Arindra telah terlebih dulu dipindahkan ke rumah sakit. Tak lupa seorang kawan kami yang tak merasakan pengapnya penjara tapi sehari-harinya ada dalam lindungan Polwiltabes, ialah; Syafi’i.
            Pak Rochmat memulai ‘kotbah’nya di hadapan kami semua. Lelaki itu menjelaskan bahwa kami tidak perlu terlalu bergembira karena ‘pelepasan’ ini bukan penangguhan penahanan melainkan pengalihan jenis tahanan; dari tahanan penjara menjadi tahanan kota. Maka itu artinya, kami tidak diperbolehkan meninggalkan kota Surabaya tanpa seijin pihak kepolisian Polwiltabes Surabaya. Terkecuali; Rizal, Wiwin, Zainal, dan Ana; sebab mereka memang bertempat tinggal di luar kota Surabaya (itu pun hanya untuk bolak-balik Surabaya menuju ke kota tempat tinggalnya).
            Lalu Pak Rochmat pun menegaskan pada kami agar kami tetap harus kuliah seperti biasa dan tanpa berbuat yang macam-macam, yakni; beraktifitas politik. Dikarenakan, menurut Pak Rochmat, seusai persidangan kasus ketiga kawan kami (Dita-Coen-Soleh) akan dilanjutlkan dengan persidangan kasus kami. Itulah kenapa Pak Rochmat menyebutnya bahwa kami masih memiliki ‘tanggungan perkara’.
            “Kalian nanti akan kembali ke kampus lagi, Kalian nggak usah berlagak sok jadi pahl;awan. Percuma, teman-teman kalian malah senang kalau kalian ditangkap, sebab nggak ada lagi rusuh-rusuh di kampus. Sehingga mereka bisa belajar dengan baik. Makanya kalian nggak usah berlagak menjadi pembela kebenaran atau apalah…….,” ucap Pak Rochmat sambil menyeringaikan senyumnya yang licik.

17 August 2008

Saat Pelepasan Bersyarat Tiba (2)


Kami berlima segera kembali ke kamar, melanjutkan makan kami yang tadi sempat terhenti. Namun sekali lagi, tak sampai lima menit, terdengar bersahut-sahut suara kembali memangil kami.
            “PRD siap-siap….! PRD  pulang….!”
            Kontan saja, kami saling memandang satu dengan yang lain. Senyum lebar menyeruak di antara gumpal-gumpal nasi dan lauk di mulut kami. Tanpa pikir panjang lagi, kami segera beranjak tiada menggubris lagi santapan yang belum habis dilahap. Barang-barang kami segera dikemas. Kami saling berhamburan kian kemari, tak perduli bahwa makanan kami masih bergeletakan di dipan kayu ini. Yah, makanan yang ruah itu tak kami sentuh lagi. Tiba-tiba pula, teman-teman kami, para tahanan kriminal, berhamburan masuk ke kamar kami. Mereka mungkin berjumlah lebih dari sepuluh orang, saling berebut meminta kenang-kenangan dari kami. Kami jadi tak ubahnya seorang artis yang dikerubuti para penggemarnya. Dalam waktu yang tak lama, semua barang-barang kami telah menjadi kenang-kenangan untuk mereka. Kaos-kaos oblong, celana-celana pendek, terutama makanan yang melimpah, sandal jepit atau celana dalam sekalipun; rupanya tak luput dari pinta mereka kepada kami.
            Kami memang memberikan semua itu dengan rela, sebab itulah yang harus kami lakukan untuk  tidak pernah melupakan peristiwa yang telah kami alami bersama mereka selama rentang waktu hidup di penjara ini. Lagipula hal itu untuk membuang sial, begitu kata para orang tua kami.
            Kini aku hanya memiliki kaos warna hitam dengan tulisan luntur ‘Red Hot Chili Pepers’ dan sepotong celana pendek hitam pula, yang melekat di tubuhku. Sepasang sandal jepit yang mengalasi kedua tapak kakiku. Sedikit barang bawaan yang berisi; peralatan makanku, kaos dan celana pendek yang luput dari pinta mereka, separuh rokok Djarum Super 12, serta sisa uang di saku celana pendekku sejumlah dua ribu.
            Tetapi kami terlebih dulu harus menunggu berjongkok berderet dengan bersandaran di dinding sisi kiri penjara. Waktu kian merambat hampir menuju pukul 6 sore. Teman–teman kami masih setia menunggu untuk menghantarkan kepergian kami meninggalkan penjara ini. Rupanya mereka tak ingin kehilangan kesempatan untuk berpamitan dengan kami. Terkadang salah seorang dari mereka berceletuk polos, yang membuat kami tersenyum geli;
            “Enak ikut PRD, rek…, pulangnya cepat…”
            Lalu bersahutan pula yang lain;
            “Tahu gitu, aku dulu ikut PRD…”
            Sementara para petugas jaga pun masih terlihat duduk-duduk di depan pintu penjara. Tampaknya mereka pun sedang menunggu kedatangan seseorang. Sesekali salah seorang petugas jaga tersebut berbicara pada para tahanan kriminal tersebut.
            “Mereka ini nanti calonnya jadi menteri…, jadi kalian jangan macam-macam sama mereka..,” ucapnya sambil kedua matanya ditunjukkan kepada kami.

Saat Pelepasan Bersyarat Tiba


Masih di hari itu, Jum’at 27 September 1996, bezukan baru saja usai. Bezukan hari ini terlihat berbeda dengan hari-hari lalu. Sungguh melimpah banyak makanan dengan bermacam menu pula. Belum lagi buah-buahan, roti yang beraneka rasa, dan makanan ringan yang setumpuk. Seperti biasanya kami segera menyantap makanan yang dikirim oleh para orang tua kami. Kala itu, Magrib pun masih belum menjelang.
            Belum habis nasi di piring kami, dan belum cukup kenyang perut kami, tiba-tiba terdengar teriakan teman-teman kami dari arah luar sel ini.
            “PRD ! PRD….!”
            Rupanya mereka memanggil kami.
            “PRD pulang…!”
            “Hei PRD !  PRD pulang…!”
            “PRD Kelompok Sebelas…, pulang....!”
            Mereka saling bersahutan berteriak memanggil kami.
            Seolah tak percaya akan apa yang didengar oleh berpasang-pasang telinga kami, tetapi ternyata ini bukan mimpi. Yah…kami di ‘lepas’ sore ini juga.
            Tanpa menuntaskan makan kami terlebih dulu, segera kami semua berhamburan keluar dari sel kami. Senyum kami saling bertemu dalam menggebunya perasaan suka ini.
            Lalu kami pun disuruh berbaris  antri untuk menandatangani selembar surat perintah ‘pelepasan’ dari penjara ini. Mula-mula Rizal, Zainal dan Agung pun usai mencoretkan tanda tangan mereka di lembar-lembar berkas itu.
            Kemudian;
            “Ganjar….! Mana Ganjar..?” ucap petugas jaga yang tampak sibuk mengatur berkas-berkas kami.
            “Ganjar…, Ganjar Suharto….!” celetuk salah seorang teman kami yang berjongkok di sudut sel. Mendengar itu, kami pun tertawa karenanya.
            Setelah Ganjar, aku pun segera menandatangai surat tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk tak karuan.
            “Sudah, nanti dipanggil lagi.”
            “Pulang sekarang ya, Pak…?” tanya Zainal dengan gagap kegirangan.
            “Ya nggak tahu…..,” jawab petugas jaga tersebut terlihat menggoda Zainal.