“Kamu nggak sakit apa-apa,
kan…?”
Untuk kesekian kalinya Ibu
bertanya tentang keadaanku. Aku pun tetap pula menjawab bahwa aku sehat-sehat
saja.
Ibu pun banyak memberiku
harapan agar aku tetap tegar dan banyak berdoa. Ibu juga bangga terhadap
perjuanganku bersama kawan-kawan, dan kekuatanku menerima ujian atas
perjuanganku yang selama ini tak pernah kuceritakan pada Ibu.
Aku hanya bertanya tentang
bagaimana keadaan Ibu dan keluarga di rumah, saat mengetahui bahwa aku
ditangkap oleh aparat militer. Pun aku bertanya tentang keadaan Ibu saat ini.
“Ibu ditelpon sama
Denintel….”
“Dari telpon siapa…?” tanyaku
sedikit heran, sebab saat itu dirumahku memang belum terpasang telpon. Menurut
cerita Ibu, ternyata aparat militer tersebut menelpon Ibu melalui nomor telepon
Anis. Mendengar itu, aku jadi bertanya-tanya. Selama aku ditangkap aparat
militer Deninteldam V/Brawijaya, aku tidak pernah memberikan nomor telepon
Anis. Lalu siapa yang memberikan nomor telepon Anis kepada aparat militer
tersebut ? Pasti ada seseorang yang ‘membongkar’ tentang nomor telepon Anis.
Memang pada waktu lalu, aku pernah memberikan nomor telepon kepada beberapa
kawan (tidak semua kawan). Maksudku, agar lebih mudah bila menghubungi aku. Aku
mencoba mengingat-ingat; siapa orang tersebut…?
Mungkinkah Icha…? Sebab dialah satu-satunya kawan yang tertangkap aparat
militer Deninteldam V/Brawijaya, yang tahu nomor telpon Anis. Tapi biarlah,
mungkin karena tekanan fisik dan mental yang diderita Icha, mengharuskan dia
membuka perihal nomor telepon Anis. Jika itu memang benar, aku tidak
menyalahkan Icha. Aku bisa memahaminya.
Ibu pun bercerita bahwa Ibu
datang ke Deninteldam V/Brawijaya (diantar oleh Pak Sarnen, tetanggaku) pada
hari itu juga, 20 Agustus 1996 pukul 12.00.
“Jadi sebenarnya, pas Ibu
datang ke sana, pas aku sedang disiksa sama mereka…”
“Kamu disiksa..! Disiksa
bagaimana…?”
“Iya pokoknya, diolok-olok,
ditendang, dipukuli….”
Ibu pun tak kalah hebatnya
dalam menceritakan bahwa Ibu pun juga menerima hujatan dari para tentara yang
bertugas jaga di Deninteldam V/Brawijaya kala itu.
“Bagaimana Ibu ini ? Anaknya
mau jadi PKI, Ibu sampai nggak tahu…”
Begitulah salah satu ucapan
mereka terhadap Ibu kala datang menginjakkan kaki di markas militer Deninteldam
V/Brawijaya. Di markas militer itu, Ibu benar-benar disiksa secara mental oleh
mereka, hingga Ibu harus menitikkan air mata. Ibu menangis memang karena aku
ditangkap aparat, tetapi Ibu lebih menangis ketika aku difitnah; Komunis !
Sungguh, perlakuan teror yang
mengerikan. Bukan hanya anaknya, tetapi orang tuanya pun tak luput dari luapan
amarah aparat militer.
Aku pun berkata pada Ibu
dengan suara lirih;
“Bu, sebenarnya aku nggak
boleh cerita pada siapa pun tentang apa yang aku alami dan aku lihat di
Denintel itu.. Kami semua disuruh menandatangani surat pernyataan bahwa kami
tidak akan bercerita apa-apa pada siapa pun….”
“Lalu…, kenapa kamu ceritakan
pada Ibu ? Apa nggak bahaya buat kamu…?” tanya Ibu dengan sedikit kekhawatiran
terhadap diriku.
“Kalau aku nggak berani
cerita itu sama Ibu, yang Ibu kandungku sendiri. Iya aku benar-benar goblok…
Terus, keberanian apa lagi yang aku miliki sekarang ini…?” ucapku menegaskan
sikapku pada Ibu.
Ibu terlihat tersenyum kecil,
mendengar kata-kataku barusan.
Aku lalu menjelaskan pada Ibu
agar Ibu menyerahkan uang secukupnya
pada Icha, agar Icha bisa mengatur dana tersebut untuk makanku.
“Kawan-kawan yang lainnya
juga begitu. Kecuali Wiwin sama Rizal, soalnya orang tua mereka jauh, bukan di
Surabaya.”
Kemudian Ibu pun menyerahkan
uang sebesar sepuluh ribu rupiah padaku untuk nantinya diberikan pada Icha.
“Apel…! Apel..! Apel…!
Teriakan tanda bezuk telah
usai. Tak terasa waktu bezuk telah habis. Kini saatnya untuk kembali ke blok A,
blok-ku. Aku tak lupa berpesan pada Ibu agar jika setiap bezukan selalu tak
lupa membawakan aku; air minum, kopi panas bikinan yang ditaruh di botol
plastik seukuran 500 ml, kertas dan pulpen. Ibu mengiyakan permintaanku. Lalu
Ibu memberiku uang sejumlah dua ribu rupiah, dan Pakde Didik memberiku
sebungkus rokok Djarum Super 12.
Aku serta para tahanan blok
A, segera kembali ke blok kami.
Sesampai di blok A, kami
berbaris untuk absen kembali oleh para petugas jaga. Seperti biasanya kami
meneriakkan angka urut barisan sambil mengacungkan telunjuk ke atas lalu
berjongkok. Bila jumlah kami tetap sama tanpa kurang seseorang pun, seorang
petugas jaga hanya bertanya;
“Ada yang sakit….?”
“Nggak ada, Pak…” jawab para
tahanan dengan serentak.
“Ya sudah…”
“Sore, Pak…” ucap serentak
para tahanan.
Sementara para keluarga kami
masih menyaksikan hingga kami masuk kamar. Kami saling melambaikan tangan
sebagai tanda perpisahan dan besok akan bertemu kembali.
Setelah kami masuk ke kamar,
kami pun saling membuka kiriman masing-masing. Sebelumnya, Nadi, kepala blok A,
mendatangi kami untuk meminta uang bezukan dari kami. Sebenarnya, tiap orang
wajib menyerahkan uang bezukan sebesar Rp. 2000, kepada Kepala blok. Uang
setoran dari tiap-tiap tahanan tersebut akan dipergunakan untuk; membeli rokok
upeti untuk petugas jaga, membantu kesulitan finansial bagi para tahanan yang
tak pernah dikunjungi keluarganya atau istilah di penjara adalah “AI” (Arek
Ilang atau Anak Hilang), atau pula untuk memberi uang “olah raga” kepada para
petugas jaga agar para tahanan tidak disuruh olah raga (yang dilakukan tiap
pagi di hari Senin, Rabu, dan Jum’at). Tetapi setelah aku dan Zainal, mewakili
kawan-kawan PRD di blok A ini, untuk bernegosiasi dengan Nadi. Maka Nadi pun
mengerti keadaan kami, bahwa kami adalah mahasiswa yang tak punya uang.
“Kalau makanan, kami punya
banyak, nanti pasti kami bagi buat kalian juga. Tetapi kalau uang, terus terang
orang tua kami yang punya, bukan kami.”
Maka Nadi pun memberi
kebijaksanaan bahwa khusus kamar nomor 1, tempat kamar PRD, hanya memberi Rp.
2000 untuk setiap kali sehabis bezukan. Sehingga masing-masing dari kami
(terhitung lima orang; aku, Zainal, Rizal, Ganjar, dan Agung) membayar kurang
lebih Rp. 400.
No comments:
Post a Comment