SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

28 July 2008

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (7)

Aku dan Ibu pun bisa saling bertemu muka, saling menatap dan tersenyum, bahkan bicara. Rupanya kawan-kawanku pun memaklumi aku, dengan memberi kesempatan padaku untuk berbicara lama dengan Ibu, meski ruang ini sesak penuh orang.
“Kamu nggak sakit apa-apa, kan…?”
Untuk kesekian kalinya Ibu bertanya tentang keadaanku. Aku pun tetap pula menjawab bahwa aku sehat-sehat saja.
Ibu pun banyak memberiku harapan agar aku tetap tegar dan banyak berdoa. Ibu juga bangga terhadap perjuanganku bersama kawan-kawan, dan kekuatanku menerima ujian atas perjuanganku yang selama ini tak pernah kuceritakan pada Ibu.
Aku hanya bertanya tentang bagaimana keadaan Ibu dan keluarga di rumah, saat mengetahui bahwa aku ditangkap oleh aparat militer. Pun aku bertanya tentang keadaan Ibu saat ini.
“Ibu ditelpon sama Denintel….”
“Dari telpon siapa…?” tanyaku sedikit heran, sebab saat itu dirumahku memang belum terpasang telpon. Menurut cerita Ibu, ternyata aparat militer tersebut menelpon Ibu melalui nomor telepon Anis. Mendengar itu, aku jadi bertanya-tanya. Selama aku ditangkap aparat militer Deninteldam V/Brawijaya, aku tidak pernah memberikan nomor telepon Anis. Lalu siapa yang memberikan nomor telepon Anis kepada aparat militer tersebut ? Pasti ada seseorang yang ‘membongkar’ tentang nomor telepon Anis. Memang pada waktu lalu, aku pernah memberikan nomor telepon kepada beberapa kawan (tidak semua kawan). Maksudku, agar lebih mudah bila menghubungi aku. Aku mencoba mengingat-ingat; siapa orang tersebut…?  Mungkinkah Icha…? Sebab dialah satu-satunya kawan yang tertangkap aparat militer Deninteldam V/Brawijaya, yang tahu nomor telpon Anis. Tapi biarlah, mungkin karena tekanan fisik dan mental yang diderita Icha, mengharuskan dia membuka perihal nomor telepon Anis. Jika itu memang benar, aku tidak menyalahkan Icha. Aku bisa memahaminya.
Ibu pun bercerita bahwa Ibu datang ke Deninteldam V/Brawijaya (diantar oleh Pak Sarnen, tetanggaku) pada hari itu juga, 20 Agustus 1996 pukul 12.00.
“Jadi sebenarnya, pas Ibu datang ke sana, pas aku sedang disiksa sama mereka…”
“Kamu disiksa..! Disiksa bagaimana…?”
“Iya pokoknya, diolok-olok, ditendang, dipukuli….”
Ibu pun tak kalah hebatnya dalam menceritakan bahwa Ibu pun juga menerima hujatan dari para tentara yang bertugas jaga di Deninteldam V/Brawijaya kala itu.
“Bagaimana Ibu ini ? Anaknya mau jadi PKI, Ibu sampai nggak tahu…”
Begitulah salah satu ucapan mereka terhadap Ibu kala datang menginjakkan kaki di markas militer Deninteldam V/Brawijaya. Di markas militer itu, Ibu benar-benar disiksa secara mental oleh mereka, hingga Ibu harus menitikkan air mata. Ibu menangis memang karena aku ditangkap aparat, tetapi Ibu lebih menangis ketika aku difitnah; Komunis !
Sungguh, perlakuan teror yang mengerikan. Bukan hanya anaknya, tetapi orang tuanya pun tak luput dari luapan amarah aparat militer.
Aku pun berkata pada Ibu dengan suara lirih;
“Bu, sebenarnya aku nggak boleh cerita pada siapa pun tentang apa yang aku alami dan aku lihat di Denintel itu.. Kami semua disuruh menandatangani surat pernyataan bahwa kami tidak akan bercerita apa-apa pada siapa pun….”
“Lalu…, kenapa kamu ceritakan pada Ibu ? Apa nggak bahaya buat kamu…?” tanya Ibu dengan sedikit kekhawatiran terhadap diriku.
“Kalau aku nggak berani cerita itu sama Ibu, yang Ibu kandungku sendiri. Iya aku benar-benar goblok… Terus, keberanian apa lagi yang aku miliki sekarang ini…?” ucapku menegaskan sikapku pada Ibu.
Ibu terlihat tersenyum kecil, mendengar kata-kataku barusan.
Aku lalu menjelaskan pada Ibu agar Ibu  menyerahkan uang secukupnya pada Icha, agar Icha bisa mengatur dana tersebut untuk makanku. 
“Kawan-kawan yang lainnya juga begitu. Kecuali Wiwin sama Rizal, soalnya orang tua mereka jauh, bukan di Surabaya.”
Kemudian Ibu pun menyerahkan uang sebesar sepuluh ribu rupiah padaku untuk nantinya diberikan pada Icha.
“Apel…! Apel..! Apel…!
Teriakan tanda bezuk telah usai. Tak terasa waktu bezuk telah habis. Kini saatnya untuk kembali ke blok A, blok-ku. Aku tak lupa berpesan pada Ibu agar jika setiap bezukan selalu tak lupa membawakan aku; air minum, kopi panas bikinan yang ditaruh di botol plastik seukuran 500 ml, kertas dan pulpen. Ibu mengiyakan permintaanku. Lalu Ibu memberiku uang sejumlah dua ribu rupiah, dan Pakde Didik memberiku sebungkus rokok Djarum Super 12.
Aku serta para tahanan blok A, segera kembali ke blok kami.
Sesampai di blok A, kami berbaris untuk absen kembali oleh para petugas jaga. Seperti biasanya kami meneriakkan angka urut barisan sambil mengacungkan telunjuk ke atas lalu berjongkok. Bila jumlah kami tetap sama tanpa kurang seseorang pun, seorang petugas jaga hanya bertanya;
“Ada yang sakit….?”
“Nggak ada, Pak…” jawab para tahanan dengan serentak.
“Ya sudah…”
“Sore, Pak…” ucap serentak para tahanan.
Sementara para keluarga kami masih menyaksikan hingga kami masuk kamar. Kami saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dan besok akan bertemu kembali.
Setelah kami masuk ke kamar, kami pun saling membuka kiriman masing-masing. Sebelumnya, Nadi, kepala blok A, mendatangi kami untuk meminta uang bezukan dari kami. Sebenarnya, tiap orang wajib menyerahkan uang bezukan sebesar Rp. 2000, kepada Kepala blok. Uang setoran dari tiap-tiap tahanan tersebut akan dipergunakan untuk; membeli rokok upeti untuk petugas jaga, membantu kesulitan finansial bagi para tahanan yang tak pernah dikunjungi keluarganya atau istilah di penjara adalah “AI” (Arek Ilang atau Anak Hilang), atau pula untuk memberi uang “olah raga” kepada para petugas jaga agar para tahanan tidak disuruh olah raga (yang dilakukan tiap pagi di hari Senin, Rabu, dan Jum’at). Tetapi setelah aku dan Zainal, mewakili kawan-kawan PRD di blok A ini, untuk bernegosiasi dengan Nadi. Maka Nadi pun mengerti keadaan kami, bahwa kami adalah mahasiswa yang tak punya uang.
“Kalau makanan, kami punya banyak, nanti pasti kami bagi buat kalian juga. Tetapi kalau uang, terus terang orang tua kami yang punya, bukan kami.”
Maka Nadi pun memberi kebijaksanaan bahwa khusus kamar nomor 1, tempat kamar PRD, hanya memberi Rp. 2000 untuk setiap kali sehabis bezukan. Sehingga masing-masing dari kami (terhitung lima orang; aku, Zainal, Rizal, Ganjar, dan Agung) membayar kurang lebih Rp. 400.

No comments: