SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

29 July 2008

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (8)


Membuka kiriman, merupakan saat-saat yang yang menyenangkan bagi kami. Ada yang dikirim kue-kue yang lezat, buah-buahan yang segar, minuman segar, kacang atau camilan lainnya, atau hanya sekedar dikirim pakaian. Dari kami berlima, yang semakin hari kian mendapat kiriman yang “enak-enak” adalah Ganjar dan Agung. Tetapi kami tetap saling berbagi satu dengan yang lain, bahkan dengan para tahanan yang lain (tahanan kriminal). Senikmat dan sebanyak apa pun makanan yang kami terima dari hasil bezukan, tetap kami nikmati dan makan bersama. Bahkan sedikit apa pun kiriman tersebut, tetap kami bagi untuk dinikmati bersama pula.
Menjelang Maghrib, barulah makan malam kiriman Icha, dari blok B datang. Tetapi sebelumnya, kami bersiap diri untuk sembahyang bersama, seperti halnya kemarin. Sebuah rutinitas yang selalu kami lakukan bersama dalam kamar ini.
Seusai kami sembahyang, barulah kami makan malam bersama. Demikian pula para tahanan yang lain, yang menikmati makan Cadong, meski di antara mereka ada yang memesan nasi goreng (yang secara rutin tiap malam berjualan di sekitar Polwiltabes ini).
Setelah makan malam, kami menunggu saat apel pukul 19.30, sembari berdiskusi bersama di dalam kamar atau ngobrol dengan para tahanan lainnya, terkadang pula bermain catur.
Tanpa terasa waktu pun tiba saat apel malam. Lalu seperti biasanya pula terjadi pergantian petugas jaga dan kembali diadakan absen semua tahanan, baik blok A dan B.
Setelah apel malam, kami kembali pada aktifitas semula, menggiring waktu menuju malam. Bila sekitar pukul 21.00, maka Parmin segera mengambil mesin ketik dan mulailah tugas Rizal untuk mengetik Daftar Tahanan di Polwiltabes. Sementara Zainal seperti biasanya mengaji dengan melafalkan ayat-ayat suci. Aku, Ganjar dan Agung, biasanya ngobrol tentang apa saja yang bisa kami obrolkan.
Lalu waktu pun beranjak hampir tengah malam. Mulailah dari kami; biasanya Ganjar, Agung, dan aku; mengambil air dari pipa ledeng untuk kebutuhan air wudlu atau sekedar untuk mencuci dan keperluan kami yang lain. Sebanyak kurang lebih 55 botol plastik bekas air mineral berukuran 1 liter, telah penuh terisi air dan terkumpul di kamar mandi di kamar kami. Itulah kebutuhan air kami dalam sehari. Itu pun saja, kadang masih kurang. Parmin dan Ali biasanya membantu kami untuk mengambil air tersebut, oleh karenanya kami cepat kelar. Memang hal ini hampir jarang dilakukan oleh para tahanan lain di blok A ini, karena mereka tergantung dengan air di bak kamar mandi utama. Namun tidaklah demikian bagi kami. Toh, terkadang pernah satu hari penuh, air setetes pun tak menitik dari lubang ledeng. Akibatnya, terpaksa masing-masing dari kami mandi dengan hanya 4 botol (kurang lebih 4 liter) air. Tak boleh lebih dari itu. Sekaligus pula untuk menghemat, sebaba kebutuhan kami akan air masih banyak; untuk wudlu, cuci alat-alat makan, terutama untuk buang air besar. Tetapi bila tak mencukupi, maka kami terpaksa meminta tambahan air milik Ali, atau Adan Topan..
Aku pun pernah berseleisih dengan Zainal, perkara air tersebut. Aku merasa jengkel dengannya. Bagimana tidak, bila dia mendapat giliran untuk mengambil air maka dia selalu ‘mengelak’ dengan alasan masih mengaji. Tapi dia tak bisa menghemat penggunaan air tersebut.
Bagiku, untuk menghemat persediaan air, maka aku mengatur waktuku mandi secara rutin yakni; mandi pagi setiap kurang lebih pukul 3.00, dan mandi sore setiap hampir pukul 14.00; dengan menggunakan air di bak kamar mandi utama atau di ledeng koridor penjara. Maka, persediaan air yang tersimpan di botol-botol plastik tersebut tidak cepat habis.
Bila seusai mengambil air, barulah aku rebahan di kamar hingga menuju tidur malam. Tubuhku kuletakkan di lonjoran papan beralaskan tikar anyaman bambu, pada sisi paling kiri, di samping tumpukan makanan dan minuman.

No comments: