Membuka kiriman, merupakan
saat-saat yang yang menyenangkan bagi kami. Ada yang dikirim kue-kue yang
lezat, buah-buahan yang segar, minuman segar, kacang atau camilan lainnya, atau
hanya sekedar dikirim pakaian. Dari kami berlima, yang semakin hari kian
mendapat kiriman yang “enak-enak” adalah Ganjar dan Agung. Tetapi kami tetap
saling berbagi satu dengan yang lain, bahkan dengan para tahanan yang lain
(tahanan kriminal). Senikmat dan sebanyak apa pun makanan yang kami terima dari
hasil bezukan, tetap kami nikmati dan makan bersama. Bahkan sedikit apa pun
kiriman tersebut, tetap kami bagi untuk dinikmati bersama pula.
Menjelang Maghrib, barulah
makan malam kiriman Icha, dari blok B datang. Tetapi sebelumnya, kami bersiap
diri untuk sembahyang bersama, seperti halnya kemarin. Sebuah rutinitas yang
selalu kami lakukan bersama dalam kamar ini.
Seusai kami sembahyang,
barulah kami makan malam bersama. Demikian pula para tahanan yang lain, yang
menikmati makan Cadong, meski di antara mereka ada yang memesan nasi goreng
(yang secara rutin tiap malam berjualan di sekitar Polwiltabes ini).
Setelah makan malam, kami
menunggu saat apel pukul 19.30, sembari berdiskusi bersama di dalam kamar atau
ngobrol dengan para tahanan lainnya, terkadang pula bermain catur.
Tanpa terasa waktu pun tiba
saat apel malam. Lalu seperti biasanya pula terjadi pergantian petugas jaga dan
kembali diadakan absen semua tahanan, baik blok A dan B.
Setelah apel malam, kami
kembali pada aktifitas semula, menggiring waktu menuju malam. Bila sekitar
pukul 21.00, maka Parmin segera mengambil mesin ketik dan mulailah tugas Rizal
untuk mengetik Daftar Tahanan di Polwiltabes. Sementara Zainal seperti biasanya
mengaji dengan melafalkan ayat-ayat suci. Aku, Ganjar dan Agung, biasanya
ngobrol tentang apa saja yang bisa kami obrolkan.
Lalu waktu pun beranjak
hampir tengah malam. Mulailah dari kami; biasanya Ganjar, Agung, dan aku;
mengambil air dari pipa ledeng untuk kebutuhan air wudlu atau sekedar untuk
mencuci dan keperluan kami yang lain. Sebanyak kurang lebih 55 botol plastik
bekas air mineral berukuran 1 liter, telah penuh terisi air dan terkumpul di
kamar mandi di kamar kami. Itulah kebutuhan air kami dalam sehari. Itu pun
saja, kadang masih kurang. Parmin dan Ali biasanya membantu kami untuk
mengambil air tersebut, oleh karenanya kami cepat kelar. Memang hal ini hampir jarang
dilakukan oleh para tahanan lain di blok A ini, karena mereka tergantung dengan
air di bak kamar mandi utama. Namun tidaklah demikian bagi kami. Toh, terkadang
pernah satu hari penuh, air setetes pun tak menitik dari lubang ledeng.
Akibatnya, terpaksa masing-masing dari kami mandi dengan hanya 4 botol (kurang
lebih 4 liter) air. Tak boleh lebih dari itu. Sekaligus pula untuk menghemat,
sebaba kebutuhan kami akan air masih banyak; untuk wudlu, cuci alat-alat makan,
terutama untuk buang air besar. Tetapi bila tak mencukupi, maka kami terpaksa
meminta tambahan air milik Ali, atau Adan Topan..
Aku pun pernah berseleisih
dengan Zainal, perkara air tersebut. Aku merasa jengkel dengannya. Bagimana
tidak, bila dia mendapat giliran untuk mengambil air maka dia selalu ‘mengelak’
dengan alasan masih mengaji. Tapi dia tak bisa menghemat penggunaan air
tersebut.
Bagiku, untuk menghemat
persediaan air, maka aku mengatur waktuku mandi secara rutin yakni; mandi pagi
setiap kurang lebih pukul 3.00, dan mandi sore setiap hampir pukul 14.00;
dengan menggunakan air di bak kamar mandi utama atau di ledeng koridor penjara.
Maka, persediaan air yang tersimpan di botol-botol plastik tersebut tidak cepat
habis.
Bila seusai mengambil air,
barulah aku rebahan di kamar hingga menuju tidur malam. Tubuhku kuletakkan di
lonjoran papan beralaskan tikar anyaman bambu, pada sisi paling kiri, di
samping tumpukan makanan dan minuman.
No comments:
Post a Comment