SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

29 July 2008

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (9)


Entah kenapa, meski tanpa jam berdering dan tanpa dibangunkan oleh orang lain, aku bisa secara rutin terbangun dari tidurku bila waktu telah mendekati pukul 3.00 dini hari. Lalu aku beranjak segera mandi di pancuran air ledeng. Sementara keadaan masih sunyi, semuanya lelap dalam tidur di kesunyian penjara. Parmin dan Ali, seperti biasanya masih terlihat bersiap melakukan sholat. Kali ini ada Arif (seorang satpam di sebuah pertokoan besar, yang terlibat pencurian di tempat dia bekerja tersebut) pula bersama mereka. Aku tetap mandi dengan segarnya, menguyur seluruh tubuhku dengan air yang dingin bagai es. Tapi mungkin karenanya, justru aku selama berada dalam penjara tak pernah terkena penyakit masuk angin, penyakit kambuhan yang sering kuderita bila di luar penjara ini.
Seusai mandi, aku pun segera mempersiapkan diri untuk berdoa. Aku pun seperti kemarin pula, meminjam kamar nomor 3 milik Ali dan Parmin untuk melakukan doa-ku. Aku suka kamar mereka. Bersih, tenang, tanpa terlalu banyak berserakan kotoran yang menyampah di setiap sudutnya, dan tak seperti dalam ruang sel.
Setelah hampir satu jam lamanya aku berdoa, aku pun turut ngobrol bersama Ali, Arif dan Parmin, di teras kamar mereka. Tetapi itu pun tak lama, sebab aku ingin melanjutkan tidurku kembali.
Hari-hariku di dalam penjara ini membuatku bisa perlahan-lahan berkaca pada kekutan dan kelemahan yang aku miliki, karena waktu yang berjalan di penjara ini dapat aku rasakan pijak demi pijaknya. Kejemuan dan kejenuhan memandangi dinding-dinding lusuh dan jeruji-jeruji melegam, memanglah ada. Tetapi kucoba membuangnya jauh, jauh sekali. Inilah rumahku yang akan menguji perjuanganku, yang akan membangun kesadaran pada sebuah ketidakmerdekaan rakyat di negeriku ini, dan akan pula meluluhkan semua penyelasanku atas perjuangan rakyat yang telah kulakukan selama kurun masa yang lalu.
Aku bangga atas keberanianku dan perjuanganku yang menyeretku dalam sebuah resiko di penjara oleh kekuasaan yang tak mau dikalahkan. Aku semakin hari kian ditempa untuk tak takut menghadapi persidangan yang penuh ketidakpastian dan jelas tanpa ketidakadilan. Berapa tahun pun yang akan dijatuhkan sebagai vonis terhadapku, aku siap menanggungnya demi semangat perjuangan generasi berikutnya. Bukankah bunga akan terus tumbuh subur untuk mengepung dan kelak meruntuhkan tembok penindasan ?
Malu dan cemar, tak ada sebersit pun dalam diriku. Rasa itu telah hancur bersama ketakutan yang telah lebur saat kakiku menuju jeruji besi penjara ini. Yah, sejarah negeri inilah yang kelak bertutur pada anak cucunya, tentang perjuanganku bersama rakyat.   

No comments: