Entah kenapa, meski tanpa jam
berdering dan tanpa dibangunkan oleh orang lain, aku bisa secara rutin
terbangun dari tidurku bila waktu telah mendekati pukul 3.00 dini hari. Lalu
aku beranjak segera mandi di pancuran air ledeng. Sementara keadaan masih sunyi,
semuanya lelap dalam tidur di kesunyian penjara. Parmin dan Ali, seperti
biasanya masih terlihat bersiap melakukan sholat. Kali ini ada Arif (seorang
satpam di sebuah pertokoan besar, yang terlibat pencurian di tempat dia bekerja
tersebut) pula bersama mereka. Aku tetap mandi dengan segarnya, menguyur
seluruh tubuhku dengan air yang dingin bagai es. Tapi mungkin karenanya, justru
aku selama berada dalam penjara tak pernah terkena penyakit masuk angin,
penyakit kambuhan yang sering kuderita bila di luar penjara ini.
Seusai mandi, aku pun segera
mempersiapkan diri untuk berdoa. Aku pun seperti kemarin pula, meminjam kamar
nomor 3 milik Ali dan Parmin untuk melakukan doa-ku. Aku suka kamar mereka.
Bersih, tenang, tanpa terlalu banyak berserakan kotoran yang menyampah di
setiap sudutnya, dan tak seperti dalam ruang sel.
Setelah hampir satu jam
lamanya aku berdoa, aku pun turut ngobrol bersama Ali, Arif dan Parmin, di
teras kamar mereka. Tetapi itu pun tak lama, sebab aku ingin melanjutkan
tidurku kembali.
Hari-hariku di dalam penjara
ini membuatku bisa perlahan-lahan berkaca pada kekutan dan kelemahan yang aku
miliki, karena waktu yang berjalan di penjara ini dapat aku rasakan pijak demi
pijaknya. Kejemuan dan kejenuhan memandangi dinding-dinding lusuh dan jeruji-jeruji
melegam, memanglah ada. Tetapi kucoba membuangnya jauh, jauh sekali. Inilah
rumahku yang akan menguji perjuanganku, yang akan membangun kesadaran pada
sebuah ketidakmerdekaan rakyat di negeriku ini, dan akan pula meluluhkan semua
penyelasanku atas perjuangan rakyat yang telah kulakukan selama kurun masa yang
lalu.
Aku bangga atas keberanianku
dan perjuanganku yang menyeretku dalam sebuah resiko di penjara oleh kekuasaan
yang tak mau dikalahkan. Aku semakin hari kian ditempa untuk tak takut menghadapi
persidangan yang penuh ketidakpastian dan jelas tanpa ketidakadilan. Berapa
tahun pun yang akan dijatuhkan sebagai vonis terhadapku, aku siap menanggungnya
demi semangat perjuangan generasi berikutnya. Bukankah bunga akan terus tumbuh
subur untuk mengepung dan kelak meruntuhkan tembok penindasan ?
Malu dan cemar, tak ada
sebersit pun dalam diriku. Rasa itu telah hancur bersama ketakutan yang telah
lebur saat kakiku menuju jeruji besi penjara ini. Yah, sejarah negeri inilah
yang kelak bertutur pada anak cucunya, tentang perjuanganku bersama
rakyat.
No comments:
Post a Comment