SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

24 July 2008

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (2)


Baru kali itu, aku benar-benar berdoa. Berdoa dalam arti yang sebenarnya, bukan hanya sekedar kewajiban. Tetapi aku benar-benar mengharapkan kekuatan jiwa pada Tuhan yang aku yakini. Maka sejak saat itu pula, aku mulai membiasakan diri untuk selalu berdoa bersama kawan-kawan, bila saat Magrib tiba. Tanpa pernah terlewatkan satu kali pun. Kebesaran Tuhan adalah melebihi segalanya. Dia yang akan memberi kekuatan pada kami untuk tetap yakin bahwa kekuatan rakyat pasti akan datang tak lama lagi, meski kini kekuatan itu dibantai habis-habisan.
Seusai kami semua sembahyang, kami melahap makan malam bersama. Aku menyantap makanan pemberian kawan-kawan. Maklum, aku masih belum membawa makanan secuil pun. Lalu setelah itu, kami menghabiskan waktu dengan duduk berdiskusi di dipan ini atau di teras kamar yang seukuran  2 meter x  1 meter .
Malam di hari pertama aku menikmati suasana penjara, aku telah mengenal; Anas, Jono, Rudi, Ali dan Parmin. Mereka datang berkunjung di kamar ini. Kami, para tahanan politik, berbicara layaknya seorang kawan dengan mereka yang cuma tahanan kriminal. Sebab bagi kami, toh kami semua senasib dan serasa.
Aku mengenal Anas dan Jono sebagai sekawanan  yang melakukan perampokan nasabah bank. Mereka berdua masih muda. Jono bertugas sebagai ‘penggambar’ suasana saat nasabah mengambil uangnya di bank . Kemudian Anas yang mengemudi sepeda motor untuk menghentikan perjalanan nasabah tersebut. Sedangkan Rudi yang akrab dipanggil; Arek BR (Bangun Rejo) terlibat kasus pencurian. Lelaki muda yang berwajah mirip Cina ini sebenarnya sudah bernasib mujur, bahwa dia bisa membobol rumah yang ditinggal pergi oleh penghuninya. Dia pun segera menguras harta benda yang ada di dalam rumah tersebut, dan segera pergi. Tetapi kenapa beberapa jam kemudian dia harus kembali ke rumah tersebut hanya sekedar mengambil burung mahal yang tadi belum sempat ikut dibawanya, dan saat itulah dia tertangkap. Lalu Ali, dia hanya seorang urban yang sinar matanya tak memiliki niat jahat. Dia  korban dari fitnahan seorang pelacur di lokalisasi Kremil, yang berakibat dia harus menerima tembakan di lutut kaki kanannya. Kemudian Parmin, dia adalah seorang urban yang menjadi pembantu di kawasan perumahan Sutorejo-Surabaya. Tetapi lantaran nafsunya, dia pun difitnah oleh seorang pembantu perempuan dengan tuduhan pemerkosaan. Di blok A inilah, Parmin adalah penghuni paling lama, hampir sekitar 3 bulan, belum juga dipindahkan ke penjara besar atau yang dikenal dengan penjara Kejati Medaeng.
“Apel…! Apel…!”
Terdengar teriakan itu, dan sontak kulihat semua tahanan berhamburan menuju ke luar kamarnya masing-masing, bergegas menuju ruang utama blok A. Kami semuanya membentuk barisan menjadi 4 sap, dengan tiap sap-nya diisi oleh kurang lebih 6 orang. Sementara kepala blok A ini, yang dipanggil dengan nama Nadi,  berdiri di sisi kiri untuk memimpin barisan merapat ke dinding. Kami para tahanan politik pun turut bergabung dalam barisan tersebut.
“Siap…! Berhitung mulai…! Seru Nadi memulai.
“Satu…”
Seseorang yang berdiri di sap paling kanan berteriak, sambil mengacungkan tangan kanan dengan jari telunjuk mengarah ke atas, lalu setelah meneriakkan nomor urutnya,  dia harus segera berjongkok.
“Dua..”
“Tiga…”
Begitulah seterusnya, hingga kelar semua tahanan di blok A ini telah menyebutkan nomor urut masing-masing.
“Dua puluh empat…”
Seseorang berwajah Cina mengakhiri absen dari barisan ini.
“Lho kok cuma dua puluh empat…?!” ucap seorang petugas jaga.
“Iya, Pak. Dua puluh Lima sama saya, Pak…,” ujar Nadi dengan aksen Maduranya yang kental.
“Ada yang baru…?”
“Ada, Pak. Itu…,” jelas Nadi sambil menudingku.
“Kasus apa kamu…?” tanya petugas jaga tersebut kepadaku.
“Temannya PRD, Pak…,” ujar Nadi sebelum aku sempat menjawab pertanyaan petugas jaga itu.
“Siapa namamu…?” tanya petugas jaga itu lagi.
“David Kris, Pak…”
Petugas jaga itu cuma menganggukkan kepala.
“Ada yang sakit…?” tanya petugas jaga yang lain.
Kami semua para tahanan serentak menjawa, “Nggak ada, Pak….!”
Kemudian dia segera membubarkan kami, serta demikian pula yang terjadi di blok lain, blok B.
“Malam, Pak…..!”
Kami semua berpamitan untuk segera membubarkan diri. Kami masing-masing kembali ke kamar. Sementara aku dan kawan-kawan kembali melanjutkan obrolan kami.
Acara itu kuketahui bernama ‘Apel’ yang dilakukan dua kali sehari; tiap pukul 7.30 dan 19.30. Hal ini merupakan pertanda pergantian petugas jaga dan pula untuk mengabsen para tahanan; apakah ada yang sakit atau tidak, dan apakah ada tahanan baru atau tidak.  

No comments: