Baru kali itu, aku
benar-benar berdoa. Berdoa dalam arti yang sebenarnya, bukan hanya sekedar
kewajiban. Tetapi aku benar-benar mengharapkan kekuatan jiwa pada Tuhan yang
aku yakini. Maka sejak saat itu pula, aku mulai membiasakan diri untuk selalu
berdoa bersama kawan-kawan, bila saat Magrib tiba. Tanpa pernah terlewatkan
satu kali pun. Kebesaran Tuhan adalah melebihi segalanya. Dia yang akan memberi
kekuatan pada kami untuk tetap yakin bahwa kekuatan rakyat pasti akan datang
tak lama lagi, meski kini kekuatan itu dibantai habis-habisan.
Seusai kami semua sembahyang,
kami melahap makan malam bersama. Aku menyantap makanan pemberian kawan-kawan.
Maklum, aku masih belum membawa makanan secuil pun. Lalu setelah itu, kami
menghabiskan waktu dengan duduk berdiskusi di dipan ini atau di teras kamar
yang seukuran 2 meter x 1 meter .
Malam di hari pertama aku
menikmati suasana penjara, aku telah mengenal; Anas, Jono, Rudi, Ali dan
Parmin. Mereka datang berkunjung di kamar ini. Kami, para tahanan politik,
berbicara layaknya seorang kawan dengan mereka yang cuma tahanan kriminal.
Sebab bagi kami, toh kami semua senasib dan serasa.
Aku mengenal Anas dan Jono
sebagai sekawanan yang melakukan
perampokan nasabah bank. Mereka berdua masih muda. Jono bertugas sebagai
‘penggambar’ suasana saat nasabah mengambil uangnya di bank . Kemudian Anas
yang mengemudi sepeda motor untuk menghentikan perjalanan nasabah tersebut.
Sedangkan Rudi yang akrab dipanggil; Arek BR (Bangun Rejo) terlibat kasus
pencurian. Lelaki muda yang berwajah mirip Cina ini sebenarnya sudah bernasib
mujur, bahwa dia bisa membobol rumah yang ditinggal pergi oleh penghuninya. Dia
pun segera menguras harta benda yang ada di dalam rumah tersebut, dan segera
pergi. Tetapi kenapa beberapa jam kemudian dia harus kembali ke rumah tersebut
hanya sekedar mengambil burung mahal yang tadi belum sempat ikut dibawanya, dan
saat itulah dia tertangkap. Lalu Ali, dia hanya seorang urban yang sinar
matanya tak memiliki niat jahat. Dia
korban dari fitnahan seorang pelacur di lokalisasi Kremil, yang berakibat
dia harus menerima tembakan di lutut kaki kanannya. Kemudian Parmin, dia adalah
seorang urban yang menjadi pembantu di kawasan perumahan Sutorejo-Surabaya.
Tetapi lantaran nafsunya, dia pun difitnah oleh seorang pembantu perempuan
dengan tuduhan pemerkosaan. Di blok A inilah, Parmin adalah penghuni paling
lama, hampir sekitar 3 bulan, belum juga dipindahkan ke penjara besar atau yang
dikenal dengan penjara Kejati Medaeng.
“Apel…! Apel…!”
Terdengar teriakan itu, dan
sontak kulihat semua tahanan berhamburan menuju ke luar kamarnya masing-masing,
bergegas menuju ruang utama blok A. Kami semuanya membentuk barisan menjadi 4
sap, dengan tiap sap-nya diisi oleh kurang lebih 6 orang. Sementara kepala blok
A ini, yang dipanggil dengan nama Nadi,
berdiri di sisi kiri untuk memimpin barisan merapat ke dinding. Kami
para tahanan politik pun turut bergabung dalam barisan tersebut.
“Siap…! Berhitung mulai…!
Seru Nadi memulai.
“Satu…”
Seseorang yang berdiri di sap
paling kanan berteriak, sambil mengacungkan tangan kanan dengan jari telunjuk
mengarah ke atas, lalu setelah meneriakkan nomor urutnya, dia harus segera berjongkok.
“Dua..”
“Tiga…”
Begitulah seterusnya, hingga
kelar semua tahanan di blok A ini telah menyebutkan nomor urut masing-masing.
“Dua puluh empat…”
Seseorang berwajah Cina
mengakhiri absen dari barisan ini.
“Lho kok cuma dua puluh
empat…?!” ucap seorang petugas jaga.
“Iya, Pak. Dua puluh Lima
sama saya, Pak…,” ujar Nadi dengan aksen Maduranya yang kental.
“Ada yang baru…?”
“Ada, Pak. Itu…,” jelas Nadi
sambil menudingku.
“Kasus apa kamu…?” tanya
petugas jaga tersebut kepadaku.
“Temannya PRD, Pak…,” ujar
Nadi sebelum aku sempat menjawab pertanyaan petugas jaga itu.
“Siapa namamu…?” tanya
petugas jaga itu lagi.
“David Kris, Pak…”
Petugas jaga itu cuma
menganggukkan kepala.
“Ada yang sakit…?” tanya
petugas jaga yang lain.
Kami semua para tahanan
serentak menjawa, “Nggak ada, Pak….!”
Kemudian dia segera
membubarkan kami, serta demikian pula yang terjadi di blok lain, blok B.
“Malam, Pak…..!”
Kami semua berpamitan untuk
segera membubarkan diri. Kami masing-masing kembali ke kamar. Sementara aku dan
kawan-kawan kembali melanjutkan obrolan kami.
Acara itu kuketahui bernama
‘Apel’ yang dilakukan dua kali sehari; tiap pukul 7.30 dan 19.30. Hal ini
merupakan pertanda pergantian petugas jaga dan pula untuk mengabsen para
tahanan; apakah ada yang sakit atau tidak, dan apakah ada tahanan baru atau
tidak.
No comments:
Post a Comment