Saat-saat setelah makan pagi adalah saat dimana tidak aktifitas
yang berarti yang bisa kami lakukan. Paling-paling, kami secara bergantian
untuk mandi, sekedar membasahi badan agar tak terlihat kusam, atau buang air
besar di kamar nomor 7. Sebenarnya di masing-masing ruang sel ini terdapat
kamar mandi dan tempat buang air besar. Namun kenyataannya, semua itu, dari
kamar nomor 1 hingga nomor 6, sudah tak berfungsi lagi. Justru terlihat menjadi
tempat bertumpuknya sampah. Tempat buang air besar yang berfungsi baik hanya
ada di kamar nomor 7. Terkadang dari kami, biasanya Rizal, sudah terlihat tidur
kembali dengan bertelanjang dada. Tampak buliran keringatnya deras menetes dari
lehernya. Sedangkan aku sendiri beserta yang lainnya, hanya sekedar menonton
acara tv. Terkadang pula membuka satu dua problem politik untuk kami diskusikan
bersama. Biasanya aku, Zainal, dan Ganjar, yang terlihat sering larut dalam
diskusi tersebut. Sementara Agung tampak enggan dan meninggalkan diskusi
tersebut. Hanya dengan diskusi, sembari menghabiskan berbatang-batang rokok,
tanpa terasa kami mampu melewati saat-saat yang menjemukan itu. Hingga tanpa
teras waktu bezukan mulai tiba.
Kami
berlima selalu mencari kesibukan masing-masing yang bisa membuat waktu berjalan
tanpa terasa hingga pukul 14.30 kala keluarga kami datang membezuk. Itulah saat
menggembirakan. Kami saling mencurah cerita rindu pada orang tua, sanak
saudara, bahkan kekasih. Semua aktifitas yang coba kami lakukan sembari
menunggu bezukan datang, biasanya; sholat, berdiskusi, main catur, nonton acara
tv mulai dari film India sampai berita nasional, atau hanya tiduran, bahkan
sekedar nongkrong di WC sambil buang air besar.
Di hari-hari berikutnya, aku
mengisi waktu menjemukan itu dengan menulis. Aku tuliskan segala apa yang telah
kulalui selama aku dalam tempaan sejarah. Tetapi persoalan awalnya adalah
bagaimana aku bisa menulis, sementara di penjara ini kami tak diperbolehkan
membawa alat tulis (pena dan kertas). Aku paling membenci hari yang berlalu
tanpa tulisan. Itu sebabnya aku diam-diam meminta kepada Ibu, saat bezukan tiba,
agar beliau membawa pulpen dan sedikit kertas kosong (biasanya dua carik kertas
folio). Akhirnya tanpa sepengetahuan petugas jaga, aku bisa memperoleh alat
tulis itu. Meski hal ini beresiko besar bila diketahui petugas jaga. Sehingga
aku bisa meluapkan hasratku menulis. Hanya dengan menulislah aku berani
bercermin pada kehidupan yang telah kulalui dengan berbagai pengalaman sepahit
apa pun, aku pun berani menjadi diriku sendiri, dan aku bisa berefleksi dengan
lebih manusiawi, serta memberikan sesuatu yang bisa menjadi semangat bagi
perjuanganku.
Pernah
satu kali, sebelum aku memperoleh ‘selundupan’ alat tulis dari Ibu, aku sangat
ingin menuliskan sesuatu. Tapi harus bagaimana lagi, sedangkan pulpen pun tak
ada, apalagi secarik kertas. Lalu aku baru ingat, bukankah Parmin menyimpan
pulpen yang disembunyikan di bawah dipan. Segera aku meminjam pulpen itu
padanya. Maka tak harus menunggu lama, aku pun mulai mencorat-coret setiap
bagian sudut dinding kamarku, karena aku tak punya selembar kertaspun. Aku tumpahkan
segala hasratku dalam tulisan yang menghiasi di tembok kamar ini. Salah satunya
coretan dinding hasil tulisanku, yang membuatku terkesan dan hingga kini masih
kuingat, adalah tulisan;
Disini, di kamar ini, pernah
berdiri tegar lima mahasiswa;
1.
Zainal Abidin,
2.
M.Rizal,
3.
Agung Hardana,
4.
Ganjar Krisdiyan,
5.
David Kris,
Yang telah dituduh menghina
pemerintah yang sah.
Pada hari-hari selanjutnya,
saat aku telah memiliki pulpen dan beberapa lembar kertas pemberian Ibu, yang
tanpa diketahui petugas jaga, aku mulai
menuliskan segalanya. Tetapi aku tidak
menulis di kamar ini, sebab kamar nomor 1 ini terletak di lokasi yang paling
mudah dilihat oleh para petugas jaga. Aku menulis di kamar Ali, kamar nomor 3.
Kamar ini lebih aman, sebab tidak terlihat oleh para petugas jaga.
No comments:
Post a Comment