SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

27 July 2008

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (5)


Saat-saat setelah makan pagi adalah saat dimana tidak aktifitas yang berarti yang bisa kami lakukan. Paling-paling, kami secara bergantian untuk mandi, sekedar membasahi badan agar tak terlihat kusam, atau buang air besar di kamar nomor 7. Sebenarnya di masing-masing ruang sel ini terdapat kamar mandi dan tempat buang air besar. Namun kenyataannya, semua itu, dari kamar nomor 1 hingga nomor 6, sudah tak berfungsi lagi. Justru terlihat menjadi tempat bertumpuknya sampah. Tempat buang air besar yang berfungsi baik hanya ada di kamar nomor 7. Terkadang dari kami, biasanya Rizal, sudah terlihat tidur kembali dengan bertelanjang dada. Tampak buliran keringatnya deras menetes dari lehernya. Sedangkan aku sendiri beserta yang lainnya, hanya sekedar menonton acara tv. Terkadang pula membuka satu dua problem politik untuk kami diskusikan bersama. Biasanya aku, Zainal, dan Ganjar, yang terlihat sering larut dalam diskusi tersebut. Sementara Agung tampak enggan dan meninggalkan diskusi tersebut. Hanya dengan diskusi, sembari menghabiskan berbatang-batang rokok, tanpa terasa kami mampu melewati saat-saat yang menjemukan itu. Hingga tanpa teras waktu bezukan mulai tiba.
            Kami berlima selalu mencari kesibukan masing-masing yang bisa membuat waktu berjalan tanpa terasa hingga pukul 14.30 kala keluarga kami datang membezuk. Itulah saat menggembirakan. Kami saling mencurah cerita rindu pada orang tua, sanak saudara, bahkan kekasih. Semua aktifitas yang coba kami lakukan sembari menunggu bezukan datang, biasanya; sholat, berdiskusi, main catur, nonton acara tv mulai dari film India sampai berita nasional, atau hanya tiduran, bahkan sekedar nongkrong di WC sambil buang air besar.
Di hari-hari berikutnya, aku mengisi waktu menjemukan itu dengan menulis. Aku tuliskan segala apa yang telah kulalui selama aku dalam tempaan sejarah. Tetapi persoalan awalnya adalah bagaimana aku bisa menulis, sementara di penjara ini kami tak diperbolehkan membawa alat tulis (pena dan kertas). Aku paling membenci hari yang berlalu tanpa tulisan. Itu sebabnya aku diam-diam meminta kepada Ibu, saat bezukan tiba, agar beliau membawa pulpen dan sedikit kertas kosong (biasanya dua carik kertas folio). Akhirnya tanpa sepengetahuan petugas jaga, aku bisa memperoleh alat tulis itu. Meski hal ini beresiko besar bila diketahui petugas jaga. Sehingga aku bisa meluapkan hasratku menulis. Hanya dengan menulislah aku berani bercermin pada kehidupan yang telah kulalui dengan berbagai pengalaman sepahit apa pun, aku pun berani menjadi diriku sendiri, dan aku bisa berefleksi dengan lebih manusiawi, serta memberikan sesuatu yang bisa menjadi semangat bagi perjuanganku.
            Pernah satu kali, sebelum aku memperoleh ‘selundupan’ alat tulis dari Ibu, aku sangat ingin menuliskan sesuatu. Tapi harus bagaimana lagi, sedangkan pulpen pun tak ada, apalagi secarik kertas. Lalu aku baru ingat, bukankah Parmin menyimpan pulpen yang disembunyikan di bawah dipan. Segera aku meminjam pulpen itu padanya. Maka tak harus menunggu lama, aku pun mulai mencorat-coret setiap bagian sudut dinding kamarku, karena aku tak punya selembar kertaspun. Aku tumpahkan segala hasratku dalam tulisan yang menghiasi di tembok kamar ini. Salah satunya coretan dinding hasil tulisanku, yang membuatku terkesan dan hingga kini masih kuingat, adalah tulisan;

Disini, di kamar ini, pernah berdiri tegar lima mahasiswa;
1.      Zainal Abidin,
2.      M.Rizal,
3.      Agung Hardana,
4.      Ganjar Krisdiyan,
5.      David Kris,
Yang telah dituduh menghina pemerintah yang sah.

Pada hari-hari selanjutnya, saat aku telah memiliki pulpen dan beberapa lembar kertas pemberian Ibu, yang tanpa diketahui petugas jaga,  aku mulai menuliskan segalanya. Tetapi  aku tidak menulis di kamar ini, sebab kamar nomor 1 ini terletak di lokasi yang paling mudah dilihat oleh para petugas jaga. Aku menulis di kamar Ali, kamar nomor 3. Kamar ini lebih aman, sebab tidak terlihat oleh para petugas jaga. 

No comments: