Aku sungguh geli sendiri bila
melihat dinding ini bukanlah lagi dinding kamarku yang penuh poster dan buku,
tapi di sini adalah dinding kamar baruku ; penjara. Seperti biasanya, aku ingat
Ibu, Mbak’i, atau Wawan, dan semua
orang-orang yang kucintai; yang kini tengah menikmati apa yang tidak bisa aku
nikmati dalam penjara ini. Kucoba meruntut kembali perjalanan kisahku yang
akhirnya mengantarku pada ruang berterali besi ini. Ternyata semuanya masih
terekam dengan bagus, tak ada yang terlupakan. Aku tetap masih bersyukur bahwa
Tuhan memberiku kekuatan atas keyakinan perjuanganku selama ini, dan pula kini
tidak tersesat lagi dalam perangkap belantara Deninteldam V/Brawijaya.
Kedua mataku menerawang
memandangi seluruh tembok yang kotor melegam penuh tulisan ini. Begitu banyak
asap rokok dan debu menempel di sudut-sudut atas kamar ini. Coretan kemarahan,
kebencian, kegagahan, serta kesombongan, bahkan kenikmatan, tertera tanpa malu
di tembok kamar ini. Beberapa tulisan yang membuatku tak lelah memandanginya; Sugik
Jagal Empat Nyawa, dan Sugik Jagal Jojoran. Tulisan itu ditulis
dalam ketegasan warna hitamnya, seolah ingin menunjukkan kepada setiap pembaca
tulisan itu, bahwa sekalipun dalam penjara tak harus orang menghilangkan
kekuatan dalam dirinya.
Dugaanku, mungkin kamar ini pernah dihuni
oleh Sugik; seorang pembunuh berusia belia yang telah menewaskan sebuah
keluarga (ayah, ibu, dan 2 orang anak), yang terjadi di kawasan Jojoran
Surabaya. Ah entahlah, mungkin pula kelak aku pun berteman dengannya. Toh aku
dan Sugik pun kini sama-sama orang terpenjara. Hanya tempat dan kasus yang
membedakan kami.
Tetapi
kian lama kantukku menjelang dan aku tertidur melewati hari pertamaku di dalam
penjara.
Entah
pukul berapa saat ini, mataku telah terbuka membangunkan aku dari tidur. Aku
beranjak dari dipan, melihat ke arah luar kamarku. Keadaan masih gelap, dan
suasana malam masih terasa. Dalam kegelapan aku melihat Ali dan Parmin sibuk
mengambil air dari kucuran air pipa ledeng. Sementara kulihat Agung pula yang
rupanya barusan mandi. Aku melangkah ke luar kamarku. Untung saja pintu sel
kami tidak pernah dikunci, demikian pula
ruang-ruang sel yang lain. Aku melongok ke arah jam dinding yang tergantung di
dekat ruang penjagaan. Rupanya masih
pukul 3.00 dini hari.
Terbersit
olehku untuk mandi, dan setelah tubuhku segar, aku akan berdoa. Segera aku
melakukan niatku itu.
Aku
mandi di dekat pipa ledeng tersebut, bukan di kamar mandi utama. Jadi, aku
mandi di ruang terbuka. Sebab hanya pipa ledeng yang terletak di koridor ini
yang mengucurkan air. Sedangkan di kamar mandi utama, bak-nya hampir tak pernah
penuh terisi air. Pada awalnya, aku merasa risih untuk telanjang di tempat terbuka
ini. Bagaimana tidak, tak lebih 2 meter
dari tempat di mana aku berdiri telanjang, terlelap kawan-kawan para tahanan
kriminal yang merebahkan tubuh di lantai
dengan hanya beralaskan tikar. Mungkin mereka merasa pengap dan panas
bila tidur di dalam kamar. Tetapi akhirnya toh aku bisa mandi dengan leluasa,
meski kadang cipratan air mandiku mengenai wajah salah satu dari mereka yang
membuat terbangun sejenak.
Lalu
seusai mandi, aku siap untuk berdoa. Aku menuju kamar nomor 3, kamar Ali dan
Parmin. Di kamar itulah aku tadi melihat Parmin, Ali dan Agung sedang sholat.
Aku pun turut berdoa bersama mereka. Lirih suaraku membaca doa Rosario, di tengah keheningan dini hari.
Senyap, dan hanya terdengar sesekali dengkuran kawan-kawan yang nikmat dalam
tidur. Aku berusaha tenang dan khusuk dalam doaku hingga sekitar hampir satu
jam lamanya. Sungguh, aku tak pernah melakukan hal ini di waktu-waktu lalu.
Semua yang kini sedang kulewati, demikian dashyatnya terjadi dalam jiwaku.
Sebuah kesempatan yang tak mungkin kulewati, untuk berdoa kepada Tuhan. Aku
bertobat padanya atas semua dosaku, yakni aku belum mampu memberikan
perjuanganku yang terbaik buat orang-orang yang kucintai; Ibu, saudara-saudara,
kawan-kawan, dan rakyat negeriku. Aku tidak bertobat atas kesalahanku terhadap
negara ini yang telah memenjarakan harkatku sebagai manusia, sebab apa yang
kulakukan selama ini hingga menyeretku masuk penjara bukanlah dosa yang harus
kutanggung.
Hari-hari
berikutnya, aku telah menjadikan doa di dini hari tersebut sebagai sebuah
aktifitas yang tak pernah kulalaikan sehari pun, hingga aku dikeluarkan dari
ruang berterali besi ini.
Setelah hampir satu jam
lamanya aku hening dalam doa, aku pun beristirahat sejenak dalam kamar Ali.
Kunyalakan rokok dengan bara api milik rokok Ali. Maklumlah, di dalam penjara
ini sangat dilarang membawa korek api apa pun bentuknya. Kami berempat; Aku,
Agung, Ali dan Parmin; ngobrol seadanya.
Sekitar
hampir jam 5.00, aku pamit untuk kembali ke kamarku, melanjutkan tidurku.
No comments:
Post a Comment