SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

24 July 2008

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi (3)

Malam pun beranjak menghampiri pukul 22.00, aku tiduran di dipan yang terbuat dari papan ini, di sisi paling kiri. Terkadang aku bangun sejenak, melihat ke arah luar. Kulihat Rizal sedang mengetik Daftar Tahanan di Polwiltabes Surabaya. Rupanya belakangan hari kuketahui bahwa ini merupakan ‘tugas rutin’ para tahanan politik di blok A ini, dan sebagai gantinya kami bebas untuk tidak terkena jadwal piket kebersihan blok A. Sementara Zainal masih asyik bermain catur dengan Ali. Kulihat di dekat kamar mandi utama, Parmin sibuk mengambil air dari kucuran air pipa ledeng. Sekitar lima orang tahanan duduk di lantai dengan menghadap terali-terali besi pintu masuk, hanya sekedar untuk menonton acara tv. Di kamar ini, hanya ada Ganjar dan Agung, selain aku.
Aku sungguh geli sendiri bila melihat dinding ini bukanlah lagi dinding kamarku yang penuh poster dan buku, tapi di sini adalah dinding kamar baruku ; penjara. Seperti biasanya, aku ingat Ibu, Mbak’i, atau  Wawan, dan semua orang-orang yang kucintai; yang kini tengah menikmati apa yang tidak bisa aku nikmati dalam penjara ini. Kucoba meruntut kembali perjalanan kisahku yang akhirnya mengantarku pada ruang berterali besi ini. Ternyata semuanya masih terekam dengan bagus, tak ada yang terlupakan. Aku tetap masih bersyukur bahwa Tuhan memberiku kekuatan atas keyakinan perjuanganku selama ini, dan pula kini tidak tersesat lagi dalam perangkap belantara Deninteldam V/Brawijaya.
Kedua mataku menerawang memandangi seluruh tembok yang kotor melegam penuh tulisan ini. Begitu banyak asap rokok dan debu menempel di sudut-sudut atas kamar ini. Coretan kemarahan, kebencian, kegagahan, serta kesombongan, bahkan kenikmatan, tertera tanpa malu di tembok kamar ini. Beberapa tulisan yang membuatku tak lelah memandanginya; Sugik Jagal Empat Nyawa, dan Sugik Jagal Jojoran. Tulisan itu ditulis dalam ketegasan warna hitamnya, seolah ingin menunjukkan kepada setiap pembaca tulisan itu, bahwa sekalipun dalam penjara tak harus orang menghilangkan kekuatan dalam dirinya.
                Dugaanku, mungkin kamar ini pernah dihuni oleh Sugik; seorang pembunuh berusia belia yang telah menewaskan sebuah keluarga (ayah, ibu, dan 2 orang anak), yang terjadi di kawasan Jojoran Surabaya. Ah entahlah, mungkin pula kelak aku pun berteman dengannya. Toh aku dan Sugik pun kini sama-sama orang terpenjara. Hanya tempat dan kasus yang membedakan kami.
            Tetapi kian lama kantukku menjelang dan aku tertidur melewati hari pertamaku di dalam penjara.
            Entah pukul berapa saat ini, mataku telah terbuka membangunkan aku dari tidur. Aku beranjak dari dipan, melihat ke arah luar kamarku. Keadaan masih gelap, dan suasana malam masih terasa. Dalam kegelapan aku melihat Ali dan Parmin sibuk mengambil air dari kucuran air pipa ledeng. Sementara kulihat Agung pula yang rupanya barusan mandi. Aku melangkah ke luar kamarku. Untung saja pintu sel kami  tidak pernah dikunci, demikian pula ruang-ruang sel yang lain. Aku melongok ke arah jam dinding yang tergantung di dekat ruang penjagaan. Rupanya  masih pukul 3.00 dini hari.
            Terbersit olehku untuk mandi, dan setelah tubuhku segar, aku akan berdoa. Segera aku melakukan niatku itu.
            Aku mandi di dekat pipa ledeng tersebut, bukan di kamar mandi utama. Jadi, aku mandi di ruang terbuka. Sebab hanya pipa ledeng yang terletak di koridor ini yang mengucurkan air. Sedangkan di kamar mandi utama, bak-nya hampir tak pernah penuh terisi air. Pada awalnya, aku merasa risih untuk telanjang di tempat terbuka ini. Bagaimana tidak, tak lebih  2 meter dari tempat di mana aku berdiri telanjang, terlelap kawan-kawan para tahanan kriminal yang merebahkan tubuh di lantai  dengan hanya beralaskan tikar. Mungkin mereka merasa pengap dan panas bila tidur di dalam kamar. Tetapi akhirnya toh aku bisa mandi dengan leluasa, meski kadang cipratan air mandiku mengenai wajah salah satu dari mereka yang membuat terbangun sejenak.
            Lalu seusai mandi, aku siap untuk berdoa. Aku menuju kamar nomor 3, kamar Ali dan Parmin. Di kamar itulah aku tadi melihat Parmin, Ali dan Agung sedang sholat. Aku pun turut berdoa bersama mereka. Lirih suaraku membaca doa  Rosario, di tengah keheningan dini hari. Senyap, dan hanya terdengar sesekali dengkuran kawan-kawan yang nikmat dalam tidur. Aku berusaha tenang dan khusuk dalam doaku hingga sekitar hampir satu jam lamanya. Sungguh, aku tak pernah melakukan hal ini di waktu-waktu lalu. Semua yang kini sedang kulewati, demikian dashyatnya terjadi dalam jiwaku. Sebuah kesempatan yang tak mungkin kulewati, untuk berdoa kepada Tuhan. Aku bertobat padanya atas semua dosaku, yakni aku belum mampu memberikan perjuanganku yang terbaik buat orang-orang yang kucintai; Ibu, saudara-saudara, kawan-kawan, dan rakyat negeriku. Aku tidak bertobat atas kesalahanku terhadap negara ini yang telah memenjarakan harkatku sebagai manusia, sebab apa yang kulakukan selama ini hingga menyeretku masuk penjara bukanlah dosa yang harus kutanggung.
            Hari-hari berikutnya, aku telah menjadikan doa di dini hari tersebut sebagai sebuah aktifitas yang tak pernah kulalaikan sehari pun, hingga aku dikeluarkan dari ruang berterali besi ini. 
Setelah hampir satu jam lamanya aku hening dalam doa, aku pun beristirahat sejenak dalam kamar Ali. Kunyalakan rokok dengan bara api milik rokok Ali. Maklumlah, di dalam penjara ini sangat dilarang membawa korek api apa pun bentuknya. Kami berempat; Aku, Agung, Ali dan Parmin; ngobrol seadanya.
            Sekitar hampir jam 5.00, aku pamit untuk kembali ke kamarku, melanjutkan tidurku.

No comments: