SEBUAH HISTORI

Tulisan sepanjang lebih kurang 200 halaman ketik folio ini berkisah tentang sebuah fakta kekerasan negara yang dialami oleh seorang anak bangsa dari sekian banyak anak bangsa yang mengalami mimpi buruk

DISARANKAN

Membacalah sesuai dengan urutan yang tercantum pada kolom MASTERPIECE. Sebab, anda akan bingung mengikuti kisah ini jika membaca sesuai dengan urutan posting yang tertera

23 July 2008

Hari-hariku Dalam Ruang Jeruji Besi


Para tahanan kriminal segera mengelilingi aku. Mereka berkerumun dalam jumlah yang tak sedikit, di hadapanku.
            “Celanannya dilepas….!” Kata salah seorang dari mereka, yang berbadan kekar dan berkulit gelap. Nada suaranya kasar dan berat.
            Aku segera melepas celana jins-ku, dan menggantinya dengan celana pendek. Baru kutahu bahwa memang di penjara tidak diperbolehkan memakai celana panjang. Celana jins itu segera kuberikan Pakde Didik yang masih menunggu di luar penjara ini.
            “Kasus apa…..?!” tanya seorang lelaki berkepala gundul dan berbadan besar, kepadaku.
            “Kasus PRD…!” jawabku tegas, dengan maksud membalas ucapan mereka yang bernada gertakan itu.
            Setelah mendengar jawabanku itu. Seorang lelaki segera berkata dengan suara lantang, seolah hendak memberitahukan kepada kawan-kawannya.
            “Anak PRD…., ayo sudah-sudah…bubar..!”
Satu persatu dari mereka segera meninggalkan aku dengan wajah kecut penuh kekecewaan, lantaran mereka tak bisa memberikan ‘sambutan’  terhadapku. Mereka tahu bahwa tahanan politik bukanlah tahanan yang bisa diperlakukan semau mereka seperti tahanan kriminal lainnya pada umumnya.
Tiba-tiba suara tipis kudengar memanggilku.
“David, ya….?”
Ternyata seorang lelaki muda sebayaku. Aku tak mengenalnya, hanya saja aku pernah bertemu dengannya. Dia pun aktivis PRD.
“Hai…!” balasku kepadanya.
Seseorang yang bertubuh bak raksasa mengantarku menuju ke arah lelaki yang memanggilku tadi.
Aku dan lelaki muda itu saling bersalaman, dan melepas senyum. Aku pun diajaknya masuk ke sebuah ruangan paling ujung, dan bernomor 1. Rupanya inilah kamarku yang baru, blok A kamar nomor 1.
“Mana kawan-kawan…?” tanyaku kepadanya.
“Oh sebentar lagi juga datang. Mereka masih dibezuk….,” jawabnya.
“Eeee…yang di kamar ini siapa saja ?”
“Aku, Zainal, Agung sama Ganjar…”
“Eee..sorry..aku lupa, kamu siapa…?”
“Aku.., aku Rizal, SMID cabang Malang,” jawabnya dengan senyumannya yang khas. Lelaki yang berkulit kuning ini memang murah senyum.
“Lalu yang sebelah sana ?” tanyaku sembari menunjuk ke arah blok yang terletak di sisi blok tempatku.
“Itu blok B. Di sana itu ada Wiwin, Ana, Icha, Trio, Brewok, sama Arindra yang baru masuk kemarin.”
 “Banyak sekali….”
“Iya. Tapi enak di sini. Di blok B, kamarnya disebut kamar kecoak. Soalnya sempit dan sumpek..,” sela seseorang yang berbadan  bak raksasa, memotong pembicaraan kami.
Aku kemudian dikenalkan oleh Rizal,  kepadanya. Ternyata lelaki itu bernama Adan Topan.
“Kasusnya apa, Mas…?”
“Pembunuhan…,” ujarnya sambil tersenyum kecil. Entah kenapa Rizal pun turut tersenyum kecil. Ternyata baru beberapa hari kemudian aku mengetahui bahwa lelaki itu masuk penjara karena dituntut oleh istrinya, sebab dia telah menjual adik istrinya seharga satu setengah juta rupiah, untuk dinikmati  si hidung belang.
Aku melanjutkan pembicaraanku dengan Rizal.
Sekitar pukul 16.45, datanglah kawan-kawanku memasuki kamar ini; Zainal, Agung, dan Ganjar. Suasana ini bertambah riuh penuh kegembiraan yang terluap begitu saja. Meski sesungguhnya ‘kemerdekaan’ kami dibelenggu oleh terali-terali besi yang hitam berkarat. Kami saling menceritakan pengalaman kami masing-masing sambil sesekali diiringi tawa kami bersama.
Kemudian seseorang tahanan lalu memanggilku. Aku pun keluar dari kamarku. Ternyata aku dipanggil oleh Trio, dari blok B. Tetapi untuk bertemu muka dengannya, tidaklah mudah. Aku harus terlebih dulu bisa memanjat tembok setinggi kurang lebih 2, 5 meter untuk bisa meraih jendela berterali di sebuah kamar di blok B. Aku dibantu oleh beberapa tahanan lain, dan aku akhirnya bisa melakukannya.
Aku menggantung, dengan berpegangan di terali jendela. Dari sinilah aku bisa melihat wajah-kawan-kawanku; Trio, Arindra, Brewok, Wiwin, dan Icha. Aku tak melihat Ana.
Kami pun saling bercerita dan menanyakan kabar diri masing-masing.
“Gimana…, kamu tidak apa-apa kan…?” tanya Trio menanyakan keadaan diriku.
“Vid, kamu nggak tahu kabarnya Heru…? Kapan terakhir kamu ketemu Heru….?” tanya Icha seolah sangat mengharapkan jawabanku.
Sayang, tanganku sudah terlalu lelah untuk berpegangan pada terali jendela ini. Terpaksa aku harus turun kembali.
Sesampai di bawah, tiba-tiba seseorang lelaki kurus mendekatiku. Rupanya dia hendak mem ‘plonco’ aku. Tetapi niatnya segera diurungkan oleh seseorang yang gendut dan berkulit kuning.
“Sudah, sudah…ayo masuk, Vid…”
Aku segera masuk ke kamar.
Saat Magrib pun tiba. Satu persatu kawanku mulai menyiapkan diri untuk berdoa (sholat). Secara bergantian mereka bersembahyang di atas dipan ini. Pada saat yang sama itu pula aku turut sembahyang, menurut imanku. Aku duduk bersila di lantai tanpa alas, menghadap dinding sebelah barat yang penuh coretan. Aku berusaha berdoa dengan tenang, meski di luar kamar ini riuh obrolan para tahanan. Tetapi aku berusaha untuk tidak terganggu oleh apa pun dan siapa pun.

No comments: