Para tahanan kriminal segera mengelilingi aku. Mereka
berkerumun dalam jumlah yang tak sedikit, di hadapanku.
“Celanannya
dilepas….!” Kata salah seorang dari mereka, yang berbadan kekar dan berkulit
gelap. Nada suaranya kasar dan berat.
Aku
segera melepas celana jins-ku, dan menggantinya dengan celana pendek. Baru
kutahu bahwa memang di penjara tidak diperbolehkan memakai celana panjang.
Celana jins itu segera kuberikan Pakde Didik yang masih menunggu di luar
penjara ini.
“Kasus
apa…..?!” tanya seorang lelaki berkepala gundul dan berbadan besar, kepadaku.
“Kasus
PRD…!” jawabku tegas, dengan maksud membalas ucapan mereka yang bernada
gertakan itu.
Setelah
mendengar jawabanku itu. Seorang lelaki segera berkata dengan suara lantang,
seolah hendak memberitahukan kepada kawan-kawannya.
“Anak
PRD…., ayo sudah-sudah…bubar..!”
Satu persatu dari mereka
segera meninggalkan aku dengan wajah kecut penuh kekecewaan, lantaran mereka
tak bisa memberikan ‘sambutan’
terhadapku. Mereka tahu bahwa tahanan politik bukanlah tahanan yang bisa
diperlakukan semau mereka seperti tahanan kriminal lainnya pada umumnya.
Tiba-tiba suara tipis
kudengar memanggilku.
“David, ya….?”
Ternyata seorang lelaki muda
sebayaku. Aku tak mengenalnya, hanya saja aku pernah bertemu dengannya. Dia pun
aktivis PRD.
“Hai…!” balasku kepadanya.
Seseorang yang bertubuh bak
raksasa mengantarku menuju ke arah lelaki yang memanggilku tadi.
Aku dan lelaki muda itu
saling bersalaman, dan melepas senyum. Aku pun diajaknya masuk ke sebuah
ruangan paling ujung, dan bernomor 1. Rupanya inilah kamarku yang baru, blok A
kamar nomor 1.
“Mana kawan-kawan…?” tanyaku
kepadanya.
“Oh sebentar lagi juga
datang. Mereka masih dibezuk….,” jawabnya.
“Eeee…yang di kamar ini siapa
saja ?”
“Aku, Zainal, Agung sama
Ganjar…”
“Eee..sorry..aku lupa, kamu
siapa…?”
“Aku.., aku Rizal, SMID
cabang Malang,” jawabnya dengan senyumannya yang khas. Lelaki yang berkulit
kuning ini memang murah senyum.
“Lalu yang sebelah sana ?”
tanyaku sembari menunjuk ke arah blok yang terletak di sisi blok tempatku.
“Itu blok B. Di sana itu ada
Wiwin, Ana, Icha, Trio, Brewok, sama Arindra yang baru masuk kemarin.”
“Banyak sekali….”
“Iya. Tapi enak di sini. Di
blok B, kamarnya disebut kamar kecoak. Soalnya sempit dan sumpek..,” sela
seseorang yang berbadan bak raksasa,
memotong pembicaraan kami.
Aku kemudian dikenalkan oleh Rizal, kepadanya. Ternyata lelaki itu bernama Adan
Topan.
“Kasusnya apa, Mas…?”
“Pembunuhan…,” ujarnya sambil
tersenyum kecil. Entah kenapa Rizal pun turut tersenyum kecil. Ternyata baru
beberapa hari kemudian aku mengetahui bahwa lelaki itu masuk penjara karena
dituntut oleh istrinya, sebab dia telah menjual adik istrinya seharga satu
setengah juta rupiah, untuk dinikmati si
hidung belang.
Aku melanjutkan pembicaraanku
dengan Rizal.
Sekitar pukul 16.45,
datanglah kawan-kawanku memasuki kamar ini; Zainal, Agung, dan Ganjar. Suasana
ini bertambah riuh penuh kegembiraan yang terluap begitu saja. Meski
sesungguhnya ‘kemerdekaan’ kami dibelenggu oleh terali-terali besi yang hitam
berkarat. Kami saling menceritakan pengalaman kami masing-masing sambil sesekali
diiringi tawa kami bersama.
Kemudian seseorang tahanan
lalu memanggilku. Aku pun keluar dari kamarku. Ternyata aku dipanggil oleh
Trio, dari blok B. Tetapi untuk bertemu muka dengannya, tidaklah mudah. Aku
harus terlebih dulu bisa memanjat tembok setinggi kurang lebih 2, 5 meter untuk
bisa meraih jendela berterali di sebuah kamar di blok B. Aku dibantu oleh
beberapa tahanan lain, dan aku akhirnya bisa melakukannya.
Aku menggantung, dengan
berpegangan di terali jendela. Dari sinilah aku bisa melihat wajah-kawan-kawanku;
Trio, Arindra, Brewok, Wiwin, dan Icha. Aku tak melihat Ana.
Kami pun saling bercerita dan
menanyakan kabar diri masing-masing.
“Gimana…, kamu tidak apa-apa
kan…?” tanya Trio menanyakan keadaan diriku.
“Vid, kamu nggak tahu
kabarnya Heru…? Kapan terakhir kamu ketemu Heru….?” tanya Icha seolah sangat
mengharapkan jawabanku.
Sayang, tanganku sudah
terlalu lelah untuk berpegangan pada terali jendela ini. Terpaksa aku harus
turun kembali.
Sesampai di bawah, tiba-tiba
seseorang lelaki kurus mendekatiku. Rupanya dia hendak mem ‘plonco’ aku. Tetapi
niatnya segera diurungkan oleh seseorang yang gendut dan berkulit kuning.
“Sudah, sudah…ayo masuk,
Vid…”
Aku segera masuk ke kamar.
Saat Magrib pun tiba. Satu
persatu kawanku mulai menyiapkan diri untuk berdoa (sholat). Secara bergantian
mereka bersembahyang di atas dipan ini. Pada saat yang sama itu pula aku turut
sembahyang, menurut imanku. Aku duduk bersila di lantai tanpa alas, menghadap
dinding sebelah barat yang penuh coretan. Aku berusaha berdoa dengan tenang,
meski di luar kamar ini riuh obrolan para tahanan. Tetapi aku berusaha untuk
tidak terganggu oleh apa pun dan siapa pun.
No comments:
Post a Comment